SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-154


__ADS_3

"Reza...!! Ka..." ucapan Nora tercekat ditenggorakannya, saat Reza menatapnya.


"Ada apa, Bu? Reza belum sarapan pagi, apakah ibu membawa makanan buat Reza?" tanyanya dengan wajah tanpa dosa dan penyesalan.


Saat bersamaan, orangtua siswa yang anaknya di aniaya oleh Reza datang dengan wajah tak suka. Ia menatap pada Nora yang saat itu rambutnya tampak acak-acakkan.


"Kamu ibunya Reza, ya? Sepertinya kamu ibu sosialita yang suka pamer harta di media sosial itu, ya?" ucap Wanita tersebut dengan nada sinis.


Nora tersentak kaget dan menatap pada wanita tersebut, ia mencoba menelisik lebih jauh wajah wanita yang menyebutnya ibu sosialita itu.


"Lihat ini, anakmu telah memukul anak saya, maka kamu harus membayar biaya perobatannya, atau saya tempuh jalur hukum!" ancam wanita bernama Wati tersebut.


Nora membolakan kedua matanya. "Enak saja! Apa gak lihat jika hidung anak saya berdarah? Itu juga dipukul oleh anak kamu, dan saya juga minta uang perobatan!" nora balik menyerang.


Wati yang berpenampilan kece badai, tidak terima jika harus membayar biaya perobatan. Sebab anaknya mengalami luka lebam dibagian pundak kanan, tetapi Reza juga mengalami luka dibagian hidungnya dan mengalami mimisan.


Kepala sekolah yang melihat perseteruan ke duanya mencoba menengahinya.


"Sudah.. Sudahlah cukup sudah..! Biar kita selesaikan semuanya secara damai. Panggil Budi kemari, dan kita hadapkan pada Reza, biar kita tanya apa permasalahannya," ucap Kepala sekolah dengan menegaskan.


Kedua wanita itu tampak terdiam, lalu Budi muncul didepan pintu kantor, dan kini sedang menjadi perhatian semua yang ada diruangan itu.


Anak lelaki itu mengalami luka dibagian sudut bibir dan pundak kanannya. Ia berjalan seolah orang paling teraniaya sejagat raya.


"Mama, sakit sekali ini, Ma..!" rengek anak berusia 10 tahun tersebut, sembari memeluk ibunya.


"Sayang.. Mana yang sakit?" tanya Wati penuh drama kolosal.


"Budi.. Duduk kamu disini! Kita selesaikan secara musyawarah semua masalah ini! Kita ingin mendengar alasan dari kalian berdua," ucap kepala sekolah dengan nada penuh ketegasan.


Budi melepaskan dekapannya dari sang mama, kemudian duduk dikursi persidangan yang disaksikan para guru dan juga orang tua mereka.


Disini kepala sekolah berindak sebagai hakim. sedangkan para guru sebagai jaksa penuntut, dan ibu mereka sebagai pengacaranya.


"Budi, jelaskan mengapa kamu sampai berkelahi dengan Reza yang merupakan adik kelasmu?" tanya guru penjas yang saat ini sedang menatapnya.


Budi melirik pada Reza sejenak, kemudian menatap guru penjasnya. "Aku tidak sengaja menyenggolnya, eh dia langsung main gampar saja!" ucap Budi beralibi.


Reza mengerutkan keningnya, ia merasa tidak terima dengan pengakuan Budi yang terkesan menyudutkannya.


Sementara itu, Ningrum merasakan hatinya begitu berdebar, ia masih penasaran dengan apa yang sedang berlangsung.


Semua siswa berbaris rapih, dan menghadap kepada para guru dan kepala sekolah yang juga sudah berbaris rapih, tak lupa dengan Ningrum dan dua wali siswa lainnya.


Setelah suasana tertib, kepala sekolah berdiri dipodium dan tampak begitu bersahaja.


Setelah membuka acara pagi ini, ia mengumukan sesuatu, yang mana membuat Ningrum semakin penasaran.


"Disini kami akan mengumumkan pemenang lomba tata rias dan tata boga yang diadakan antar siswa untuk tingkat provinsi dan dilaksanakan di kota kita. Maka pemenang dan juara satunya adalah..." Kepala sekolah menggantung ucapannya.


Ningrum masih belum mengerti dengan apa.yang terjadi, namun berbeda dengan dua wali siswa lainnya yang tampak sumringah, seolah mereka sudah mengetahui apa yang terjadi, kemungkinan mereka mendapat surat pemberitahuannya.


"Luccy binti Gibran!" seru kepala sekolah dengan lantang, sehingga membuyarkan lamunan Ningrum.


Wanita itu seolah tak percaya dengan apa yang barusan saja didengarnya. Bagaiamana mungkin Luccy dapat memenangkannya, sebab selama ini ia tidak pernah mengajarkannya kepada Luccy. Hanya saja anak itu sering ikut ia jika merias ke lokasi resepsi jika sedang liburan.

__ADS_1


Sedangkan setiap saatnya, ia hanya memperhatikan Mbak Sary yang sudah bekerja menjadi karyawannya dengannya selama puluhan tahun.


Ningrum menduga jika Luccy selama ini diam-diam mencuri ilmu darinya dan juga para karyawannya.


Suara riuh dari tepuk tangan dan gumanan selamat menggema diudara.


Ningrum menutup mulutnya saat melihat Luccy berjalan ke arah podium, lalu menatapnya dengan senyum kebahagiaan. Tanpa ia sadari air mata Ningrum mengalir dari sudut matanya yang sedari tadi sudah ia tahan.


Lalu seorang siswa laki-laki sebagai jura ke dua, dan juara ketiga seorang siswa perempuan berjalan mengekori Luccy setelah nama mereka disebutkan.


Disisi lain, Reza seolah disudutkan, ia tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Budi. "Itu bohong! Dia yang terlebih dahulu mengejek saya. Terus mendorong saya hingga jatuh, ya saya gamparlah! Masa iya saya mau diam saja dibully. Emangnya saya harus ikutin anjuran dari negeri konoohaa, seperti korban begal, dimana kalau ada yang begal harus pasrah saja? Gak gitu juga kalle konsepnya," Sela Reza, sembari mencebikkan bibirnya.


Semua orang yang berada diruangan tereperangah memandang ke arah Reza. "Eh.. Kamu itu denger dari mana, sampai bisa ngomong seperti itu?" tanya kepala sekolah menyela.


"Ya, Ampuun, pak. Kan ada media sosial gitu-lho..!" jawabnya dengan mengedipkan mata kanannya.


"Kamu ini, Reza. Kalau ditanya itu jawabnua yang sopan!" sergah guru penjas dengan nada penuh penekanan.


Sementara itu, Luccy berdiri dengan dengan senyum yang terus mengembang dipipinya, ia berhasil membuat praank kepada mamanya yang begitu penasaran atas pemanggilannya ke sekolah.


Kepala sekolah memberikan piala, sertifikat dan juga hadiah uang tunai kepada para juara.


Setelah itu, para orang tua diminta untuk memberikan ucapan selamat kepada putera puteri mereka.


Lalu diikuti para guru dan siswa lainnya.


Ningrum menatap dua bola mata Luccy yang tampak berbinar. "Mengapa kamu tidak berterus terang jika mendapatkan prestasi ini?" tanya Ningrum, lalu memeluk puterinya.


"Luccy ingin memberikan kejutan kepada mama."


"Tetapi mengapa mama tidak tahu jika kamu ikut lomba?"


Ningrum mencoba mengingat tentang apa yang dikatakan oleh Luccy. Sekitar beberapa hari yang lalu, ia melihat Luccy ingin mengatakan sesuatu, namun ia begitu sibuk melayani calon pengantin yang ingin fitting baju pengantin. Maka Luccy hanya memperhatikannya saja.


"Tetapi kamu belajar dari mana?" tanya Ningrum penasaran.


"Mama, donk.. Selama Luccy ikut mama merias, Luccy selalu memperhatikan apapun yang mama lakukan, bahkan Luccy bertanya apa nama dan fungsi dari semua alat make up dan kosmetik tersebut, sebagai bekal untuk diimpletasikan!" jawab Luccy.


Ningrum mendekap erat puterinya. "Kamu dewasa terlalu cepat, bahkan rasanya baru kemarin mama merawatmu dan mengantarkanmu ke sekolah Dasar. Dan Kamu, si pencuri ilmu!" ucap Ningrum, kemudian mengecup pipi kiri dan kanan puterinya.


Kembali ke Reza.


Bocah itu sudah sangat kesal. Ia tidak lagi ingin dituduh sebagai pelaku utama, ia hanyalah korban, dan tampaknya keoala sekolah mulai mempertimbangkan sikap Reza yang terkesan urakan dan juga kasar.


"Sudah.. Kalian berdua sama-sama salah! Maka kalian harus saling meminta maaf, dan ingat! Jangan lagi mengulangi kesalahan yang sama!" kepala sekolah menegaskan ucapannya.


Nora dan Wati sama-sama tidak terima dengan keputusan kepala sekolah. Mereka merasa jika anaknya menjadi korban, bukan pelaku.


"Saya tidak terima, Pak. Wati harus membayar biaya perobatan anak saya!" ucap Nora dengan nada kesal.


Sementara itu, wati juga tidak terima jika anaknya dijadikan pelaku. "Enak saja, apa gak lihat sudut bibir anakku lebam?" Wati menyela dengan nada tinggi.


Nora membolakan matanya. "Heei.. Anak kamu yang mendorong anakku terlebih dulu, makanya Reza memukulnya! Enak saja kamu mau mengelak!" ucap Nora yang mulai tersulut emosi.


Kepala sekolah mulai memandangi keduanya, lalu menggebrak meja untuk menghentikan pertikaian keduanya.

__ADS_1


Braaaaak...


Suara gebrakan itu mengagetkan semua orang. "Diam! Bisa gak sih, ini kita selesaikan dengan kepala dingin?! Jika tidak bisa dan kalian tetap ingin biaya perobatan, dan kebetulan keduanya terluka, maka saya putuskan untuk ibu Nora memberi biaya perobatan Budi lima ratus ribu kepada ibu Wati dan ibu wati juga memberi biaya perobatan Reza kepada ibu Nora, dan keputusan ini sudah deal, tidak dan tidak dapat diganggu gugat.!"ucap Kepala sekolah dengan nada penekanan.


"Setuju!!" jawab keduanya, namun jawaban mereka justru menjadi bahan tertawaan oleh para tenaga pendiidk diruangan kantor.


Sepwrtinya mereka belum memahami apa yang diucapkan oleh kepala sekolah tersebut. Mereka hanya menyimak angka 500 ribunya saja, tan mengerti maksud dan tujuannya.


Melihat para tenaga pendidik mentertawakan mereka, keduanya terdiam sejenak.


"Bentar.. Maksudnya saya harus mengeluarkan uang 500 ribu untuk Nora, dan dia juga mengeluarkan uang 500 ribu untuk saya?" tanya Wati mencoba mengulangi ucapan kepala sekolah.


Secara bersamaan tenaga pendidik menganggukkan kepalanya.


Wati menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Bukankah itu sama saja dengan bohong?" tanya Wati lagi.


Tenaga pendidik menganggukkan kepalanya serempak, dan menatap pada Wati juga Nora yang masih belum faham dengan apa yang dikatakan oleh Kepala Sekolah.


"Huuh..!!" Wati menggerutu, lalu berniat keluar dari ruangan kantor.


"Tunggu, ibu tidak dapat pulang begitu saja, sebelum menandatangi surat perjanjian diatas materai. Yang mana isinya Budi tidak akan lagi mengulangi perbuatannya, jika sampai mengulangi perbuatannya, maka akan meneriam sanksi dari sekolah, begitu juga dengan Reza. Ini sekolah, buka arena tinju!" ucap kepala sekolah sembari menatap kedua muridnya.


Kedua bocah itu merundukkan kepalanya, dan salingelirik satu sama lainnya. Nora masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya, jika pada kenyataannya ia harus menerima ia tidak mendapatkan apapun dalam kasus anaknya.


Dengan terpaksa ia menandatangani surat perjanjian damai dan juga sanksi jika anaknya melakukan pelanggaran lagi.


Disisi lain, Ningrum berpamitan pada tenaga pendidik setelah acara pemberian hadiah selesai, mereka memuji dedikasi Ningrum yang telah membentuk Luccy menjadi siswa berbakat dan perlu diapresiasi.


"Selamat ya, Bu.. Anak anda memiliki nilai akademik dan ektrakurikuler yang baik, semoga kedepannya semakin baik lagi, dan terus dipertahannkan. Sebab mendapat juara itu sangat mudah, namun mempertahankannya yang sulit!" ucap Kepala sekolah dengan menegaskan.


Ningrum tersenyum bahagia. Bagaimana mungkin ia tidak sebahagia ini, jika Luccy berkembang menjadi anak yang dibanggakan. "Ini semua adalah hasil kerja keras Luccy, ke ridhaan Allah, dan juga doa yang tulus dari mamanya!" jawab Ningrum, yang membuat Luccy semakin terharu dan menyayangi mamanya. Ia sudah berjanji dalam dirinya, tidak akan mengecewakan wanita yang telah membesarkannya dengan penuh cinta, dan juga penuh pengorbanan.


Sementara itu, Nora pulang kerumah dengan wajah yang penuh amarah dan kesal. Belum selesai urusannya dengan Bima, kini ditambah lagi dengan Reza yang juga berulah, namun ia tidak menyalakan Reza, sebab jika ada yang membully harus beranu melawan, jika tidak akan menjadi bulan-bulanan si pembully.


Sesampainya dirumah. Nora memasuki rumah dengan kondisi kesal. Tetapi ia tidak menemukan Bima berada dirumah, sepertinya Bima sudah memilih pergi ke proyek, dibanding mendengar segala ocehannya.


"Brengseek si Bima.. Mana lagi uang cum segini!" ucapnya yang pagi tadi merogoh saku celana Bima dan mendapatkan uang 400 ribu, sebab Bima sudah menyimpan sisanya, dan Nora sedang terburu-buru ke sekolah.


Benar saja, Bima sedang berada didalam mobil tanki yang pagi tadi ia tumpangi.


Ia menuju ke proyek dengan cara menumpang mobil yang lewat dan mengarah ke perusahaan.


Bima merasakan kepalanya ingin meledak. Ia harus mendapatkan kendaraan untuk bekerja, sebab ia akan mengalami penurunan harga diri, sebab Rendy dan Andini sudah memiliki mobil baru.


"Siaaal.. Kenapa aku setelah menikah dengan Nora terus mengalami nasib sial?! Sedangkan bersama Ningrum aku selalu bermandikan kemewahan. Ah!..bodohnya aku yang bercerai dengan Ningrum. Mana dia mergoki aku jualan jagung bakar lagi!" gerutu Bima dalam hatinya.


Sesampainya didalam pabrik, Bima bergegas menuju ke plant 4 tempat proyeknya, dan ia melirik plant 2 saat melewatinya.


Progres yang dikerjakan oleh Rendy sudah mencapai 50 persen, dan ini semakin membuatnya takut, sebab ia akan kalah saing lagi.


Disisi lain, Ningrum pulang ke rumah dengan perasaan yang cukup bahagia. Membesarkan seirang anak dengan cinta dan ketulusan, akan mendapatkan balasan dari apa yang kita perbuat, saat ia dikecewakan oleh suami, namun dibahagiakan oleh seorang malaikat kecil yang kini menemani hari-hari dan hidupnya.


Ningrum menatap piala dan sertifikat, juga uang tunai yang diberikan untk Luccy dari pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Bukan tentang hadiahnya, tetapi hal positif yang dilakukan oleh Luccy telah membuatnya merasa sangat bahagia.


Saat ini, begitu banyak pria yang mencoba mendekatinya, namun hatinya seolah mati untuk menerima cinta yang hadir, sebab selama ini ia mengira cinta yang datang adalah sebuah rumah untuk berteduh, namun kenyataannya hanyalah sebuah kandang sapi, namun bukan untuk Gibran, yang memberikan titipan terindah.

__ADS_1


Sesampainya dirumah, Ningrum merencanakan akan memberikan kejutan kepada puterinya untuk menghargai prestasi yang telah dicapainya. Ia memasak makanan kesukaan anak gadisnya, dan mereka akan melewatinya dengan penuh kehangatan sebuah keluarga kecil yang jauh dari segala masalah.


Bima berjalan menyusuri koridor pabrik sembari memijat keningnya yang sakit. Ia sangat kesal dengan semua permasalahn hidupnya. Ia ingin melaporkan kasus pencurian sepeda motornya kepihak berwajib, namun ia tidak ingin repot dengan segala persyaratannya. Apalagi negeri waka waka, yang penuh dengan aturan membingungkan.


__ADS_2