SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
Episode-84


__ADS_3

Seketika suasana hening saat Ningrum menatap tajam pada Jenny.


"Katakan! Ini apa?" tanya Ningrum dengan nada bergetar dan amarah yang coba Ia tahan.


Seketika Sary menjadi kepo dan mencoba menguping pembicaraan ke duanya antara majikan dan karyawan.


Jenny terdiam, membeku. Ia tidak tahu jika harus secepat itu ketahuan, dan Ia menggerutu dalam hati sebab mengapa harus seceroboh itu meninggalkan phonselnya.


"Mengapa kamu terdiam?! Katakan yang sesungguhnya! Apa yang sudah kamu lakukan dibelakang saya?!" cecar Ningrum dengan hatinya begitu sangat sakit.


"Ma-maaf, Bu.. Saya menyukai Pak Bima dan kami sudah sering melakukan hal itu" jawab Jenny dengan nada bergetar.


Seketika Ningrum bagaikan serasa disambar petir disiang bolong, hatinya hancur berkeping bagaikan serpihan kaca yang jatuh terhempas.


Buliran bening yang sedari tadi Ia coba tahan tak dapat lagi bertahan dengan segala upayanya, ia kembali terjatuh membasahi pipi putihnya.


Sary terperangah mendengar pengakuan dari rekan kerjanya, bagaimana mungkin Jenny melakukan hal tersebut? Ini sangat menyakitkan bagi Ningrum, sang majikan.


Ningrum menarik nafasnya yang terasa berat. Dadanya bagaikan dihimpit batu besar yang membuatnya terasa sesak.


"Mengapa seperti ini jalan hidupku, Ya Rab? Apa salahku?" Rintih Ningrum dalam kesakitannya yang tepatnya sakit tak berdarah.


Ningrum meletakkan phonsel itu rak salon.


"Pulanglah! Dan jangan pernah kembali ke salon ini lagi, sisa upahmu akan saya titipkan kepada Sary, dan kamu dapat mengambil padanya" ucap Ningrum tanpa menoleh pada Jenny yang masih merundukkan kepalanya.


"Maafkan saya, Bu. Saya khilaf!" ucap Jenny dengan rasa takutnya.


"Pergilah! " ucap Ningrum sembari mencoba menahan air matanya agar tak lagi merembes keluar.


Jenny berjalan merunduk, meraih phonselnya serta tas sandang miliknya.


Ia masih mernudukkan kepalanya, bahkan saat Sary menatapnya, Ia mempercepat langkahnya dan menuju parkiran menuju sepeda motor maticnya untuk segera pergi.


"Sary"


"Ya, Bu"

__ADS_1


"Tutup salon, hari ini kita tutup cepat, dan libut dua hari kedepannya" ucap Ningrum.


Sary menganggukkan kepalanya, lalu mengabarkan kepada karyawan yang lainnya untuk menutup salon dan Ningrum memeriksa uang pendapatan, lalu meraihnya dan segera keluar dari salon setelah mengetahui Jenny pergi.


Hati Ningrum sangat rapuh. Hatinya begitu hancur, dan saat ini Ia ingin pergi ke rumah sahabatnya Andini.


Ningrum mengemudikan mobilnya menuju rumah sahabatnya, hatinya rapuh, sungguh sangat rapuh.


Saat memasuki gang rumah Andini, ternyata Bima sedang berada dirumah Nora, niat hatinya ingin keluar untuk meminjam motor Nora tertahan. Ia mengintintai mobil Ningrum, dan setelah Ningrum menghilang didalam gang, Bima bernafas lega.


Sesaat phonselnya berdering. Satu panggilan masuk dari manteinent.


"Hallo, Ya Pak!"


"Hallo, Pak Bima! Harap segera ke proyek karena ada masalah besar dengan proyek yang baru saja bapak selesaikan!" ucap seorang karyawan maintenet tersebut.


Bima terperangah, dan Ia masih belum jelas dengan apa yang dikatakan oleh karyawan maintenent tersebut.


"Nora, saya pinjam motor kamu, ya.. Ada keperluan mendadak di proyek" ucap Bima.


Lalu Nora keluar dari kamar dan memberikan kunci motornya kepada Bima.


Sementara itu, Ningrum keluar dari mobil dan menuju teras rumah Andini.


Mendengar suara mesin mobil Ningrum, Andini yang masih berbaring diranjang segera keluar dan menemuinya.


Andini mengambil cuti untuk seminggu agar kesehatannya segera pulih.


Andini membuka pintu rumahnya, dan melihat Ningrum berada diterasnya, tanpa berkata apapun, Ningrum menghampiri Andini, dan memeluk sahabatnya dengan erat, lalu menangis dengan tersedu.


Tangisannya terdengar pilu, suara yang tertahan dengan seseunggukan yang menggambarkan hati dan perasaannya yang hancur saat ini.


Andini membimbingnya masuk ke dalam rumah, dan duduk di sofa yang ada diruang tamu.


Sementara itu, Bima melajukan motornya menuju proyek. Ia masih sangat penasaran dengan apa yang terjadi.


Saat dipertengahan jalan, Ia berpapasan dengan mobil ambulance milik perusahaan melaju kencang. Bima mengerutkan keningnya dan merasakan perasaannya tak tenang.

__ADS_1


Sesampainya di proyek, banyak karyawan berkerumun didalam dan diluar plant 4 tempat proyeknya yang baru saja dicairkan dananya.


Saat melihat kehadiran Bima, pihak perusahaan lalu menginterogasi Bima. Sebab proyek pembuatan platpom dan juga cut penggilangan pupuk itu roboh dan menimpa salah satu karyawan perusahaan yang bekerja dibagian produksi hingga tewas.


Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata pekerjaan itu tidak memenuhi standar, banyak pengelasan yang tidak full dan sapot yang berfungsi sebagai penyanggah tidak dipasang oleh Bima.


Maka hal ini menyebabkan proyek roboh dan mencelakai salah satu karyawan hingga tewas.


Setelah mendapatkan semua sebab akibat kesalahan yang ditimbulkan oleh proyekmya, maka Bima dikenakan sanksi membayar denda 250 juta untuk kerugian yang ditimbulkan dan juga santunan untuk karyawan yang tewas.


Jika Bima tidak ingin membayarnya, maka Bima akan dipenjara dan di blacklist dari perusahaan dan CV nya tidak akan pernah lagi mendapatkan proyek diperusahaan manapun.


Bima terperangah. Ia bingung harus mencari kemana uang tersebut, sebab dan yang masuk kedalam rekeningnya dengan cepat dibekukan oleh pihak perusahaan.


Bima melangkah dengan gontai. Lalu Ia teringat akan sesuatu.


Seketika Ia pergi menuju pulang, pulang ke rumah Ningrum, sebab Ia tahu jika Ningrum masih dirumah Andini.


Ia memiliki sebuah rencana untuk menyelamatkan dirinya dari penjara dan juga blacklist atas CV-nya.


Mudah bagi Bima maemasuki rumah itu, karena Ia masih menyimpan kunci cadangannya.


Sesampainya didepan rumah Ningrum layaknya seorang maling, Ia mengendap-endap memasuki rumah. Lalu menuju kamar.


Membongkar seluruh isi kamar untuk mencari barang berharga, mungkin saja perhiasan atau apa saja yang dapat menyelamatkannya dari bayangan jeruji besi.


Seketika tangannya menyentuh sebuah benda yang terbuat dari kertas, sertifikat rumah.


Mata Bima membola, dan sesaat matanya berbinar. Bima segera menariknya dari bawah lipatan pakaian, lalu membawanya kabur.


Bima melajukan motornya menemui Julian. Ia meminta pria tionghoa itu membeli rumah tersebut dengan harga 500 juta, dan dipotong dengan hutangnya.


Tak ingin ditipu lagi oleh Bima, maka Julian membawa Bima hari itu juga ke notaris untuk melakukan trandaksi jual beli dan balik nama.


Karena Julian memiliki relasi di notaris, dalam sekejab saja surat rumah itu sudah berpindah tangan kepada Julian dan Ia membayar uang tersebut kepada Bima.


Dengan mata berbinar, Bima menerima uang tersebut dan menuju perusahaan untuk mengganti rugi atas kecelakaan yang ditimbulkannya.

__ADS_1


Setelah melakukan pelunasan terhadap apa yang dibebankan kepadanya, kini Bima bernafas lega, dan Ia kembali ke rumah Nora untuk mengembalikan sepeda motor janda aduhai tersebut, dan Ia masih bersembunyi dirumah Nora untuk sementara waktu.


Sedangkan Ningrum masih berada dirumah Andini dengan wajah penuh air mata dan kesedihan yang mendalam.


__ADS_2