
Ningrum dan Luccy baru saja selesai shalat isya di mesjid terdekat. Keduanya berencana ingin membeli makan malam, dan tidak sempat untuk memasak.
"Kita beli apa, Sayang? Untuk makan malam," tanya Ningrum sembari menyetir.
Luccy tampak berfikir. "Mie ayam saja, Ma!" sahut gadis kecil itu, sembari tersenyum tipis.
Ningrum menyetir mobilnya, menuju langganan mie ayam yang terkenal sangat enak, dengan kaldu yang sangat kuat.
"Mama tau dimana tempat penjual mie ayam yang enak," ucap Ningrum sumringah.
Luccy mengacungkan dua jempolnyà, pertanda setuju.
"Ma.. Besok mama bisa datang kesekolah?" tanya Luccy ragu.
Ningrum menatap puterinya, ada rasa penasaran yang bergelayut difikirannya. Mengapa tiba-tiba puterinya memintanya untuk ke sekolah, apakah ia memiliki masalah disekolah, apalagi sekarang Luccy sudah beranjak remaja, dengan paras wajahnya yang cantik, dan juga kulitnya yang bersih. Apa sebenarnya masalah yang dihadapi puterinya.
"Siapa yang memanggil?" tanya Ningrum.
"Kepala sekolah," jawab Luccy sembari merundukkan kepalanya.
Deeeegh..
Jantung Ningrum seolah akan lepas. Sebab selama Luccy SD dan hingga memasuki jenjang menengah, baru kali ini Ia dipanggil oleh kepala sekolah, perasaannya bercampur aduk dan ia menjadi sangat takut.
"Kamu tidak membuat masalah disekolakan, Sayang," cecar Ningrum yang sangat penasaran.
Luccy tidak menjawab pertanyaan dari Ningrum, ia hanya membuang pandangannya ke luar melalui jendela kaca.
"Aku ingin mama datang, dan aku sangat berharap," ucapnya lirih.
Hal tersebut semakin membuat Ningrum merasa penasaran, dan ia sangat ambigu dengan ucapan dan sikap Luccy yang tampak begitu berbeda.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 10 menit, akhirnya mereka tiba ditempat mie ayam yang disebut Ningrum paling enak.
Penjual mie ayam yang berada ditrotoar jalan dan menjadi daya tarik tersendiri untuk menikmati mie ayam dan melewati malam yang syahdu.
Keduanya turun dari mobil, dan masih diam, karena larut dalam fikiran mereka masing-masing.
Keduanya mengambil kursi kosong, dan dibelakang mereka ada seorang pria yang sedari tadi duduk dan tidak memesan apapun, meskipun perutnya sangat lapar, sehingga membuat kang mie ayam merasa jengah.
"Kang, mie ayam dua porsi, sekalian juice jeruknya'," ucap Ningrum.
Seketika pria yang berada dibelakang mereka menghentikan aktifitasnya yang sedari tadi bermain phonsel.
Ia ingin melihat wajah dibalik kursi belakang, dan hal itu membuatnya merasa dag dig dug.
"Apakah itu suara Ningrum? Jika benar? maka ini sangat sial, sebab ia akan melihatku yang ke dua kali bersama wanita tua itu," guman pria yang tak lain adalah Bima.
Benar apa yang difikirkannya, baru saja ia menutup layar phonselny, tampak sebuah mobil berwarna kuning berhenti tepat dihadapannya.
Seorang wanita paruh baya membuka pintu mobil dengan senyum sumringah.
"Ayo, masuk!" ajaknya pada Bima.
Bima merasa kikuk, ia terus merundukkan kepqlanya agar tidak terlihat oleh Ningrum, dan berjalan tergesah-gesah.
Ningrum mengerutkan keningnya, dan ia masih mengingat wajah wanita paruh baya yang pernah ia temui dilokasi wisata alam pada minggu lalu.
Lalu Ningrum melihat pria yang berupaya merundukkan kepalanya, namun ia masih dapat mengenalinya.
Kemudian ia tersenyum sinis.
"Eheeem... Ternyata jagungnya laku keras, sampai dipesan berulangkali," sindir Ningrum, ia ingin mengembalikan ucapan Bima waktu itu, yang menyindirnya untuk menjual apem.
Bima mencebikkan bibirnya, ia tahu jika Ningrum sedang menyindirnya, namun ia sudah terlanjur basah dan tidak memiliki pilihan lain.
Ia bergegas masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan cepat, agar tidak lagi melihat wajah Ningrum yang jelas menyindirnya.
Ningrum tertawa geli, bagaimana mungkin apa yang dulunya diucapkan oleh Bima, kini justru berbalik menimpa dirinya sendiri.
Bima mendengus kesal. Ia tahu jika saat ini Ningrum sedang mentertawakan perbuatannya mamun apa hendak dikata, jika ia harus menjalaninya, karena tidak menemukan ide lainnya.
Wanita itu membawa Bima kesebuah penginapan yang sudah dipesannya secara online.
Menjadi simpanan seorang wanita paruh baya, ternyata membuatnya banyak uang dan hanya bermodalkan jagung bakarnya, ia dapat bersenang-senang dan juga taburan uang.
Sementara itu, Nora merasa gelisah. Ia sepertinya tidak mempercayai Bima jika mobil itu dibengkel. Ia takut jika Bima menjualnya secara diam-diam.
Dan kini waktu menunjukkan pukul sembilan malam, namun pria itu juga kunjung kembali, Reza kecil sudah tertidur, ia sepertinya faham akan situasi yang sedang terjadi pada kedua orangtuanya, dan Ia tidak ingin menjadi sasaran amukan Nora-ibunya.
__ADS_1
"Kemana, Bang Bima? Mengapa ia berbalik marah saat aku bertanya? Nika memang benar di bengkel, seharusnya ia memberitahu bengkel yag mana, bukannya balik marah saat ditanya," guman Nora dalam kegelisahannya.
Didalam sebuah kamar hotel, Bima berhasil membuat wanita paruh baya itu bermandikan keringat dan terus merintih menahan gejolak hasratnya.
Bima tak lagi perduli jika wanita itu jauh diatas usianya yang terpenting baginya mendapatkan uang dan juga kesenangan.
Wanita itu tampakanya begitu senang dengan layanan Bima, sehingga ia tertarik untuk memesannya lagi.
Disisi lain, Ningrum dan juga Luccy sudah menghabiskan makan malamnya, ia mencoba tidak memaksa gadisnya untuk menjawab apa yang menyebabkan ia sampai dipanggil ke sekolaj, ia hanya ingin melihat apa sebabnya esok dengan jelas, sebab Luccy masih membisu.
Keduanya pulang menuju rumah. Mereka tidur dalam satu kamar yang sama, sebab Luccy tidak ingin tidur sendiri.
Setelah Bima menyelesaikan tugasnya, wanita itu memberikan sejumlah uang kepada Bima. Bibirnya yang sudah mulai kendur, gak menyurutkan keinginannya untuk menyesab bibir Bima, ia sangat menyukai Bima.
"Terimaksaih, Sayang.. Aku puas dengan layananmu, dan ini sangat fantastis.
Bima menganggukkan kepalanya, dan ia sangat senang jika wanita memujinya.
"Sama-sama, nyonya. Saya juga akan merasa sangat tersanjung, jika Nyonya memberikan tambahan tips untuk saya," ucap Bima dengan penih harapan.
Wanita itu tersenyum sumringah. "Tenang saja, saya akan memberikannya," jawab wanita paruh baya itu, kemudian memberikan tambahan tips kepada Bima.
Kemudian wanita itu mengantarkan Bima pulang, dan sampai dipersimpangan saja.
Bima bersiul dengan girang, dan ia menyusuri gang untuk menuju rumah kontrakannya.
Tok..tok..tok..
Bima mengetuk keras pintu rumah, ia sudah sangat mengantuk dan juga lelah, sebab ia terkuras energinya karena melayani wanita paruh baya itu.
Nora yang sedari tadi menunggunya, bergegas membukakan pintu. Saat ia melihat Bima berdiri diambang pintu, ia melongok keluar, mencari motor matic mereka, dan tidak terlihat.
Bima nyelonong masuk, sedangkan Nora masih sibuk mengedarkan pandangannya untuk mencari motornya yang tidak terlihat.
"Bang.. Dimana motor?" tanya Nora dengan kesal.
Ia sudah kehilangan mobil, haruskan ia kehilangan motornya juga. Ia tidak ingin terjadi.
"Bang, kemana motor kamu buat?" cecar Nora dengan sengit, kali ini nada bicaranya sangat tinggi.
Bima berjalan ke arah kamar, kemudian berbaring diatas ranjang, sebab ia sudah sangat lelah dan juga mengantuk.
"Bang, kemana motor?!" ulanginya lagi dengan nada semakin tinggi.
"Sial, kau! Bisa diam tidak mulutmu, aku muak dengan segala ocehanmu!" maki Bima, kemudia meraih botol body lotion, dan melemparkannya ke arah Nora yang masih menatapnya tajam. Kemudian ia kembali mmebaringkan tubuhnya, ia sudah sangat mengantuk.
Nora memiringkan tubuhnya, sehingga membuat botol tersebut meleset dari sasarannya dan mengenai dinding.
"Kamu yang siaal!!" maki Nora tak mau kalah. Melihat Bima tertidur, ia semakin kalut, dan pertanyaannya belum tuntas terjawab.
Nora menyusul ke dalam kamar, dan mendapati Bima sudah tertidur pulas. Namun ekor matanya menatap pada saku celana Bima yang tampak menyembul.
"Apa itu?" Nora berguman lirih, dan ia mencoba mendekatinya dengan rasa penasaran.
Saat ia mendekati saku tersebut, ia melihat jika sepertinya tumpukan uang.
Nora merogoh saku celana tersebut, kemudian ia menemukan amplop berwarna coklat, dan ia dengan cepat mengambilnya.
Nora mmebukanya, dan ternyata uang senilai dua juta setengah, dan ia membolakan matanya.
"Brengseeek! Jadi Bang Bima menjual motor itu dengan harga segini? Atau dia telah menyelipkan sisanya?" Nora terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Tanpa sengaja, ia melihat noda lipstik berwarna nude yang menempel di kerah kemeja Bima.
Nora terperangah dan ia menduga jika motor dan juga mobil dijual oleh Bima.dan uangnya dipakai untuk bersenang-senang.
"Dasar sialaaan kamu, Bang!" makinya berulang kali, ia sangat kesal. Kepalanya sangat pusing membayang apa yang terjadi. Ia berharap jika ini hanyalah sebuah mimpi belaka, ia tidak ingin ini nyata.
kepalanya semakin terasa pusing, dan ia merasakan semakin berat saja, dan...
Braaaak..
Nora terjatuh dan ia tak sadarkan diri karena merasa sangat tertekan akan semua kejadian yang baru saja menimpanya.
Ia harus kehilangan aset yang selalu dibanggakannya.
Mobil dan motor merupakan barang yang sangat ia banggakan, namun kini semuanya hilang.
*****
__ADS_1
Pukul 6 pagi, Ningrum sudah bersiap dan ia akan memenuhi panggilan kepala sekolah seperti yang dinyatakan oleh Luccy, meskipun Ningrum meminta surat pembritahuannya, dan Luccy bersikeras tidak ingin memperlihatkan padanya.
Sementara itu, Bima terbangun dari tidurnya dan mencoba mengguncang tubuh Reza agar segera bangun dan berangkat ke sekolah. Ia tidak mendapati Nora diatas ranjang, dan ia mengerutkan keningnya.
Saat ia menurunkan satu kakinya, ia merasa jika sedang menginjak sesuatu.
Saat Ia melihat kebawah, tampak Nora sudah terlen-tang diatas lantai sembari memegaang uang hasil dagang jagungnya.
"Mengapa dia tidur dilantai? Dan itu uangku mengapa bisa dipegangnya? Dasar Nora, mata duitan!" omel Bima, dan dengan cepat mengambil kembali uang yang digenggam oleh Nora.
Setelah berhasil mengambil uangnya kembali, ia membangunkan Nora.
"Heei.. Bangun! Reza mau ke sekolah, anterin itu!" ucap Bima, sembari mengguncang tubuh Nora.
Berulang kali Bima mengguncangnya, dan akhirnya berhasil juga, Nora mengerjapkan kedua matanya, dan merasakan pusing dikepalanya.
Saat melihat Bima duduk diatas ranjang dan menatapnya dengan tatapan tanpa dosa, ia bergegas bangkit, dan menarik kerah baju Bima.
"Kemana mobil dan motor? Abang menjualnya dan abang bersenang-senang dengan wanita pela-cur, iyakan?!"cecar Nora dengan nada penuh emosi, raut wajahnya tampak begitu penuh amarah.
Reza yang kembali mendengar pertengkaran kedua orangtuanya, merasa sangat tertekan. Ia keluar ke depan teras, dan saat melihat tetangganya akan pergi mengantar kesekolah yang sama dengannya, ia berinisiatif untuk menumpang, meskipun ia belum sarapan dan tanpa uang saku.
"Om, numpang, ya?" ucapnya dengan lirih, penuh harapan.
Pria yang dipanggil om tersebut mendengar pertengkaran kedua orangtua Reza, lalu mengamggukkan kepalanya, sebab jam sudah menunjukkan pukul tujuh.
"Ayolah..!" jawab pria itu, kemudian Reza naik ke atas boncengan.
Para tetangga sebenarnya sangat terganggu dengan drama pertengkaran Nora dan juga Bima yang setiap saat tiada habisnya.
Sesampainya dipintu gerbang sekolah, kedua bocah laki-laki itu turun dari boncengan.
"Reza..." panggil pria itu.
"Ya, Om.."
"Kamu sudah sarapan?" tanya pria yang merupakan tetangganya.
Reza menggelengkan kepalanya, dengan sangat lemah.
Pria itu mendenguskan nafasnya dengan berat. Ia sangat kesal terhadap kedua orangtua Reza yang terkesan egois, dan selalu bertengkar hampir setiap saat.
Peia itu meogoh saku celananya, dan mengeluarkan dompet kulit yang sudah sangat tua, sebab sudah banyak mengelupas disana-sini.
Ia mengeluarkan uang selembar lima ribu rupiah, sebagai uang satu-satunya yang menjadi penunggu isi dompetnya, bahkan uang itu tampak lusuh dan menggambarkan sang pemiliknya yang sangat tidak bersemangat.
"Ini ada uang lima ribu, semoga cukup buat kamu beli sarapan!" ucap Pria itu, dengan ikhlas.
Reza mengambilnya dengan sumringah. "Makasih ya, Om.." ucapnya dengan rasa bahagia yang tidak terkira.
"Sama-sama," kemudian Reza dan juga anak dari pria itu berpamitan dan berlari memasuki pintu gerbang.
Sementara itu, Ningrum sudah tiba disekolah, hatinya sangat gelisah saat memasuki pintu gerbang.
Tampak para siswa sedang berbaris, dan sepertinya ada sesuatu yang sangat penting.
Ningrum memasuki ruang kantor, dan tampak semua guru sudah berkumpul, begitu juga dengan kepala sekolah, dan sedang menanti Ningrum.
Kemudian kepala sekolah meminta para guru dan juga Ningrum untuk berbaris dihalaman, dibagian depan.
Ningrum semakin bingung, sebenarnya apa yang sedang terjadi.
disisi lain, Nora yang terus mencecar Bima tidak menyadari jika Reza sudah pergi ke sekolah dengan cara menumpang.
"Katakan, Bang.. Pela-cur mana yang sudah kamu bayar sampai kamu tega menjual mobil dan motor!" cecar Nora dengan kesal.
"Mobil masuk bengkel, dan motor dibegal dijalan!" jawab Bima beralibi.
Nora merogo saku celana Bima, lalu menrik uang yang tersimpan didalamnya.
"Ini apa? Jawab!! Uang ini sisa dari menjual mobil dan juga motor, jangan mengelak kamu, Bang. Uang itu kamu pakai untuk bersenang-senang dengan pela-cur, dan ini buktinya!" tunjuk Nora pada bekas noda lipstik yang ada di kerah kemeja Bima.
Bima terdiam. Ia bingung, itu nosa lipstik wanita paruh baya atau lipstik Jenny.
"Kamu salah faham, ini bukan seperti yang kamu fikirkan!" Bima mulai mencari alasan yang logis, agar Nora dapat memahaminya.
"Aku tidak bodooh, Bang! Jadi jangan coba-coba kamu menipuku! Kembalikan motor dan mobil, aku yakin mobil juga kamu jual, ya-kan?!" teriak Nora dipagi hari yang diwarnai oleh cekcok dan beradu urat leher.
Bima sudah lelah mencari alasan, dan mungkin ia lebih memilih untuk bungkam, meskipun Nora terus mendesaknya.
__ADS_1
Saat bersamaan, mbak Feny menghampiri Rumah keduanya, dengan perasaan was-was, sebab suara kedua orang itu adalah sepasang suami istri yang selalu membuat huru-hara.
"Mbak.. Mbak Nora!" teriak Feny dari ambang pintu