SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode 65


__ADS_3

Ningrum menghela nafasnya dengan berat. Ia merasa lapar dan ingin mencari makan diluar. Namum belum sempat Ia beranjak dari kursinya, pintu ruangan kerjanya terbuka dan tampak kepala Andini menyembul darj balik pintu dan membawa dua porsi makanan.


"Makan, Yu Mbak" ucap Andini yang berjalan menghampiri meja kerja Ningrum dan meletakkan dua porsi boks serofon berisi nasi padang dengan potongan ayam rendang dan lalapan.


"Tau saja kalau Mbak lagi lapar" oceh Ningrum yang meraih boks serefon tersebut, dan membukanya.


Lalu Andini beranjak dari kursi, mengambil dua buah gelas kosong dan mengisinya dengan air putih dari dispenser, lalu membawanya ke meja kerja Ningrum.


"Ada acara apa, Nih?" tanya Ningrum yang merasa ini tak biasa, karena biasanya Andini cuma bawa cimol atau bakso bakar ke jika berkunjung ke salonnya.


"Lagi seneng saja, Mbak. Alhamduillah proyek Mas Rendy berjalan lancar"


"Wah.. Alhamdulillah.." jawab Ningrum tulus.


"Aku mau undang Mbak hari minggu ini karena Aku buat acara syukuran kecil-kecilan sebab mau pindahahn ke rumah baru" ucap Andini sembari menyuapkan makan siangnya.


Ningrum terperangah "Wah.. Alhamdulillah.. Selamat ya, Ndin. Mbak senang banget dengarnya, akhirnya kamu dapat membeli rumah" ucap Ningrum merasakan kebahagiaan sahabatnya.


Andini tersenyum sumringah "Iya, Mbak, Alhamdulillah. Tapi rumahnya sederhana, koq" jawab Andini dengan lirih.


"Sederhanapun yang penting punya rumah, dari pada ngontrak. Kamu harus bersyukur" ucap Ningrum memberikan semangat kepada sahabatnya.


Andini menganggukkan kepalanya, menyetujui apa yang diucapkan oleh sahabatnya.


"Oh iya, Kang Yamink. Aku mau undang juga" ucap Andini yang meraih phonselnya.


Sembari menguyah makan siangnya, Ia mencari nama Yamink diphonselnya.


Andini melakukan panggilan suara, dan tampak berdering, lalu Ia mendengar suara dari seberang telefon, namun terdengar jelas.


"Hallo, Kang"

__ADS_1


"Ya.. Ada apa, Ndin?" jawab Yamink dengan cepat.


Namun Andini merasa suara itu begitu terdengar jelas, dan benar saja, ternyata kang Yamink muncul dari balik pintu ruang kerja Ningrum.


Seketika Andini memutuskan panggilan telefonnya "Yaelah, panjang umur, Kang.. Baru saja disebut orangnya langsung muncul" ucap Andini.


Yamink menaikkan ke dua alisnya dan menatap pada keduanya "Eh, masa sih? Ada apaan kalian nyebutin namaku?" tanya Yamink dengan santainya, lalu mencomot ayam rendang milik Andini.


Seketika Andini mendenguskan nafasnya, lalu Yamink meletakkan kembali potongan ayam rendang milik Andini, lalu mencomot nasi milik Ningrum, yang membuat Ningrum menggelengkan kepalanya.


"Kang, hari minggu aku mau mengundang akang bersama istri untuk menghadiri syukuran pindahan rumah kami. Ntar alamatnya aku shareloct ya" ucap Andini memberitahu.


"Wah.. Alhamdulillah ya, Ndin.. Moga rumahnya membawa keberkahan" ucap Yamink turut bahagia.


"Aamiin..." jawab Ningrum dan Andini bersamaan.


Sesaat Yamink teralihkan dengan wajah Ningrum yang tampak seperti membiru "Pipinya kenapa, Mbak?" tanya Yamink merasa curiga.


Seketika Ningrum terdiam. Ia baru sadar pagi tadi jika tamparan tangan Bima memberikan bekas biru diwajahnya. Itu menandakan jika Bima begitu sangat keras saat menamparrnya.


Ningrum terdiam, Ia menggigit bibirnya, mencoba melupakan kejadian itu, namun karena Yamink bertanya membuatnya kembali teringat akan perlakuan Bima padanya.


Seketika Ia kembali tak mampu menahan air matanya yang jatuh dari sudut matanya dan membasahi pipinya.


Andini dan Yamink saling pandang, dan keduanya merasakan ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Ningrum dari mereka.


Andini beranjak dari duduknya, lalu menghampiri Ningrum dan membawa kepala sahabatnya itu kedalam pelukannya.


Seketika tangis Ningrum pecah dan Ia tak sanggup lagi menahan rasa sakit hatinya yang Ia pendam sendirian. Luka hatinya begitu dalam dan Ia tak tau harus mencurahkannya kepada siapa, bahkan kepada keluarganya juga Ia tak mampu mengatakannya.


"Breengseek..!! Dia berani main tangan, Ya?" ucap Yamink geram dan mengepalkan tinjunya. Ia sangat membenci jika laki-laki sudah main tangan kepada wanita, karena laki-laki sejati itu Ialah yang mampu menahan tangannya saat marah.

__ADS_1


Meskipun Ningrum tidak memberitahu apa yang terjadi, namun Yamink dan Andini dapat menebak jika Bima telah melakukan kekerasan terhadap sahabat mereka.


Andini membelai lembut ujung kepala Ningrum, mencoba memberikan kenyamanan dan rasa perhatian pada hati yang saat ini sedang patah dan mungkin saja hancur.


Andai saja Bima berada diruangan kerja Ningrum saat ini, mungkin Yamink sudah menonjokjya hingga babak belur.


"Jika sekali lagi Ia main tangan, maka laporkan saja, Mbak ke kantor polisi, biar tau rasa dia!" ucap Yamink geram bin kesal.


Ningrum yang tadi tersedu, kemudian mulai mereda setelah Andini mmeberikan sentuhan ketulusan kepadanya.


"Makasih, buat semuanya" ucap Ningrum yang mencoba menyeka air matanya yang terkadang masih jua menetes jika Ia mengingat kejadian.


Andini menatap nanar sahabatnya, Ia dapat merasakan jika hati Ningrum saat ini seperti apa.


"Ini sudah sangat diluar batas jika Ia sudah menggunakan tangannya" ucap Yamink yang masih geram.


"Entahlah, Kang. Terkadang ingin mengakhiri pernikahan ini, namun terkadang juga bertahan. Aku merasakan jika akal dan hati terkadang bertentangan" ucap Ningrum dengan hati yang begitu nelangsa.


Andini menghela nafasnya, Ia tidak dapat membayangkan jika sampai itu padanya. Namun selama pernikahannya, Ia tidak pernah melihat Rendy marah apa lagi sampai main kasar, sebab yang Ia tahu selama ini jika dibalik sikap dingin Rendy, sebenarnya Ia orang yang suka bercanda, dan bahkan Andini yang selalu menjadi bahan candaannya setiap pulang bekerja.


Maka dari itu, Andini tidak dapat membayangkan jika sampai tangan seorang suami singgah ke pipi istrinya saat dalam keadaan marah, apalagi sampai membiru itu menandakan betapa kuatnya tenaga yang dilayangkan oleh Bima saat menampar sahabatnya.


Selain suka selingkuh, ternyata Bima juga ringan tangan dalam hal kekerasan rumah tangga. Jika sudah seperti ini, maka apalagi yang harus diharapkan oleh Ningrum dari seorang Bima yang hanya menjadi farasit dalam kehidupan rumah tangga mereka.


Andini melirik jam istirahatnya yang sudah habis. Ia harus kembali ke kantornya dan ini sangat membuatnya begitu tak tega meninggalkan sahabatnya yang masih larut dalam kesedihan.


"Mbak, yang sabar ya. Minta petunjuk kepada sang Rabb tentang permasalahan hidup yang mbak alami saat ini. Jika dia bukan yang terbaik, maka berikan jalan yang tepat, dan jika dia yang terbaik, maka mintalah agar diperlihatkan" Andini memcoba memberikan sugesti kepada sahabatnya.


Ningrum menganggukkan kepalanya dan mencoba tersenyum meski getir.


"Aku balik ke kantor, ya Mbak" waktu sudah hampir habis dan sebentar lagi masuk kerja" ucap Andini berpamitan.

__ADS_1


"Iya.. Makasih traktir nasi padangnya, Ya" ucap Ningrum dengan senyum yang dipaksanya.


Andini mengerjapkan kedua matanya dan memandang Andini yang beranjak keluar dari ruang kerjanya.


__ADS_2