SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode 33


__ADS_3

Rendy masih sibuk dengan pekerjaannya, Ia ikut mengawasi sekaligus menjadi pekerja untuk mendesaian dan pengukuran bahan yang akan digunakan untuk membuat alat penggilingan pupuk yang sudah mengalami kerusakan dan Rendy mendapat proyek tersebut.


Saat itu Bima yang akan menuju plant 4 tempatnya mendapat proyek melintasi plant 2 tempat Rendy bekerja dan Ia melihat Rendy berjibaku ikut turut tangan membuat proyek tersebut, termasuk memomotong plat besi yang akan digunakan sebagai bahan untuk membuat cut penggilingan pupuk itu.


"Heei.. Bro. Masa iya pemborong proyek ikutan kerja, santai dong.." ucap Bima yang kini bersetelan gaya seorang bos yang selalu tampak stylis dan berbeda dengan Rendy yang selalu tampil biasa saja.


Rendy hanya tersenyum menaggapi cibiran dari Bima, dan melanjutkan pekerjaannya tanpa menghiraukan apa yang diocehkan oleh Bima kepadanya.


Bima berlalu, dan menuju lokasi kerjanya. Sesampainya disana, Ia melihat para pekerjanya masih duduk santai dan belum melakukan apapun, dengan wajah emosi, Ia mengomel dan menatap para pekerjanya dengan tatapan kesal.


"Jam segini masih duduk santai, apalagi tidak mulai bekerja, buruan.!!" sergahnya dengan kasar.


Seketika para pekerja itu bernjak bangkit dan mulai mengerjakan pekerjaannya.


"Bos.. Tabung oksigen buat memotong besi sudah kosong dari semalam, makanya kami tidak bisa motong hari ini" ucap seorang pekerja kepada Bima.


Bima berkacak pinggang dan menggaruk kepalanya yang tak gatal "Kenapa gak bilang dari semalam? kalau sudah begini, pesan hari ini datangnya besok!" ucap Bima semakin kesal.


Sesaat Ia teringat akan Rendy yang sedang berada diplant 2 dan Ia kembali tersenyum.


"Bawa tabung oksigen kosong itu, ikutin saya" titah Bima kepada salah seorang pekerjanya, dan berjalan keluar plant menuju ke plant Rendy yang sedang bekerja disana.


Sesampainya diplant tersebut, Ia menghampiri Rendy yang sudah tampak kotor pakaiannya terkena noda pupuk karena ikut berjibaku dengan para pekerjanya.


"Ren.." teriak Bima karena suara bising dari alat pemotong besi yang masih berkerja.


Rendy menoleh ke arah suara seseorang yang memanggilnya dan menghentikan pekerjaannya, laku berjalan menghampiri Bima.

__ADS_1


Ia menyeka keringat yang mengalir dikeningnya "Ada apa, Bim?" tanya Rendy, sembari melirik ke arah tabung oksigen khusus pemotong besi yang dibawa pekerja Bima.


"Ada tabung oksigenmu yang berisi gak? Aku pinjam dulu, besok aku ganti" ucap Bima, sembari menyerehkan tabung kosong miliknya.


Rendy tampak berfikir "Tapi jangan lama-lama gantinya, Ya.. Soalnya aku banyak yang mau dikerjakan" jawab Rendy.


"Iyalah.. Takut banget gak diganti" balas Bima.


Lalu Rendy meminta kepada pekerjanya untuk membawakan tabung oksigen baru dan menyimpan tabung oksigen kosong milik Bima.


"Makasih, ya.. Besok aku ganti" ucap Bima meyakinkan, lalu berlalu pergi meninggalkan Rendy dan membawa tabung oksigen yang baru ke lokasi kerjanya.


****


Seminggu berlalu, Bima tak juga mengganti oksigen yang dipinjamnya dari Rendy, ia tampak biasa saja meskipun berpapasan dengan Rendy, dan itu sudah menajdi ciri khasnya yang tidak pernah menepati janjinya.


"Bos.. Mana pinjaman kami? Ini sudah seminggu dan kebutuhan dapur serta bahan bakar motor juga perlu diisi" ucap seorang welder yang menanti kepastian pinjaman gajinya.


Bima mendenguskan nafasnya kesal, lalu mengeluarkan uang 2 lembar ratusan ribu kepada welder tersebut dan 9 pekerja lainnya.


Mereka saling tatap dan memandang penuh protes kepada Bima.


"Uang segini mana cukup buat kebutuhan dapur dan bahan bakar selama seminggu, Bos. Setidaknya 500 ribu lah" protes welder dan para helver tersebut.


Bima memandang kepada para pekerjanya "Hei.. Sudah mending saya kasih pinjaman, kalau gak kalian mau apa? Sudah sana kerja.! Jangan banyak protes" jawab Bima dengan kesal, lalu meninggalkan lokasi pekerjaan dan menuju kantin Mbak Raini.


Para pekerja itu tampak sangat kesal. Bagaimana mereka harus mengatur uang 200 ribu seminggu untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka, bahkan diantara mereka ada yang memiliki bayi dan minum susu formula.

__ADS_1


Hutang diwarung sembako juga sudah menumpuk motor mereka juga harus diisi setiap hari untuk sampai ke lokasi kerja, sungguh Bima tidak pernah memikirkan nasib mereka.


para pekerja itu bekerja dengan mood yang sangat buruk, dan mereka bekerja malas-malasan, karena upah yang mereka terima tidak sesuai dengan yang dijanjikan oleh Bima saat merekrut mereka untuk ikut bekerja dengannya.


Bima menjanjikan upah yang sangat menggiurkan. Namun setelah seminggu bekerja, mereka hanya mendapatkan upah mereka yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan.


Bima berjalan menuju kantin dan Ia tanpa sengaja bertemu Rendy disana. Lalu Ia menghampiri meja Rendy dan tanpa basa-basi mencomot sebatang rokok milik Rendy lalu menyulut pemantiknya dan menghi-sapnya dengan dalam.


"Bim.. Botol oksygenmu sudah dipesan apap belum? Kalau sudah botol yang kemari kamu anterin ke plant 2" ucap Rendy sembari menyeruput kopi ginseng dinginnya.


Bima melirik kepada Rendy "Satu botol oksygen saja kamu perhitungan banget" jawab Bima dengan tatapan mencibir, membuat Rendy tersentak. Tak ingin berdebat, Ia pun menyeruput habis kopi dinginnya, dan meraih bungkus rokoknya, lalu meninggalkan kantin dan membayar pesanan sebelumya.


"Mbak.. Kopi susu dingin satu" teriak Bima kepada Mbak Raini.


Sebenarnya Raini sudah sangat malas untuk melayani Bima, namun Ia masih menunggu iktikad baik pria itu agar memnayar semua hutang makannya.


Bima membuka layar phonselnya, dan membuka aplikasi sosial medianya dan berbalas chat dengan para wanita selingkuhannya.


Tak berselang lama, pesanannya datang dan Ia menyeruputnya. Sesaat perutnya merasa mulas dan ingin ke toilet, tanpa sengaja Ia meninggalkan phonselnya dimeja, dan ngacir ke toilet.


Mbak Raini yang tanpa sengaja melihat phonsel Bima tertinggal saat ke toilet, merasa ingin melihatnya. Ia membuka phosel itu yang belum sempat terkunci dan mencari kontak yang Ia inginkan dan dengan cepat mencatatnya, lalu meletakkan kembali phonsel tersebut ditempatnya semula dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


Lalu Bima kembali ke mejanya, dan melanjutkan chat bersama para wanita pengagumnya, yang mana salah satu diantaranya mengajak temu janji disuatu tempat.


Dengan senang hati Bima menanggapinya dan Ia melirik jam di phonselnya. Lalu menyeruput habis kopi susu dinginnya, dan beranjak pergi dari kantin Mbak Raini.


"Mbak.. Masuk nota bon dulu ya.." ucap Bima dengan tanpa merasa malu ataupun segan, lalu bergegas pergi untuk bertemu dengan wanita yang tadi bebrbalas chat dengannya dan dengan cepat mengendarai mobilnya untuk menemui wanita tersebut.

__ADS_1


Raini mendenguskan nafasnya dengan sangat kesal, Ia masih memberikan waktu 2 minggu lagi untuk Bima melunasi segala hutang makan, minum dan juga rokoknya yang sudah mencapai 2 juta rupiah.


__ADS_2