
Ningrum sedikit geli membaca chat Nora kepada Andini-sahabatnya. Ia bingung mengapa wanita itu bagitu sangat busuk hatinya. Sehingga yang Andini yang menjadi sasarannya karena ia tahu jika ia bersahabat dekat.
Namun yang membuat Ningrum heran ialah, mengapa. kehidupan Bima begitu terus tanpa ada kemajuan apapun, yang ada hanya hutang yang terus keliling pinggang demi sebuah gaya hidup yang berlagak seperti ibu sosialita.
Bagi sebagian orang, mobil adalah sesuatu yang harus, namun sebagian orang berprinsip jika rumah adalah sesuatu yang harus dimiliki oleh seseorang sebelum mobil.
Baru-baru ini Ningrum tanpa sengaja memergoki Bima beradu mulut dengan Anton disebuah parkiran. Ternyata Anton menagih hutang Bima yang semakin menumpuk hingga 300 juta. Anton beserta anak buahnya, memberikan bogeman diwajah Bima hingga membiru.
Ternyata kebiasaan Bima yang suka berhutang tidak hilang dari dulu, bahkan bertambah parah.
Kini Bima mencari pemodal lain untuk menjadi pendana untuk proyek barunya. Proyek yang dikerjakannya selalu saja bermasalah dan tidak memberi keutungan, jikapun beruntung ia hanya dapat membayar gaji pekerjanya, dan terkadang juga tidak lunas.
Uang yang didapatnya hanya bagaikan singgah sebentar, lalu menghilang begitu saja.
"Sudah, jangan manyun terus, ntar hilang cakepnya!" goda Ningrum kepada sahabatnya yang tampak ngedumel.
"Isiin dulu pulsa listrik ma pulsa phonsel-mbak, nomornya sudah ada-kan?" ucap Ningrum, sembari membuka lemari pendingin, mengambil satu kotak susu steril dan meneguknya.
"Mbak... Mantanmu itu kenapa hidupnya dari dulu gitu-gitu saja, Sih?" Andini tampaknya masih kesal dengan isi chat Nora.
Ningrum menghela nafasnya dengan berat. "Ya begitulah jika dalam kehidupan kita tidak pernah ada kejujuran, berniat menipu orang lain, maka tanpa ia sadari, ia telah menipu dirinya sendiri!" jawab Ningrum, mencoba tenang.
"Kalau dilihat gaya istrinya melebihi artis. Sindir orang terus! Hidupnya bagaikan seolah paling sempurnah,"
"Biarkan saja. Segala sesuatunya itu ada balasannya tinggal menunggu waktu saja." Ningrum sebenarnya sangat enggan untuk membahas tentang pria itu, namun terkadang entah apa yang membuat pria itu terkadang harus ia lihat tanpa sengaja.
Setelah semua pembelian vouchernya berhasil, ia berpamitan untuk pulang, sebab ada pekerjaan yang harus ia kerjakan. Sebuah orderan wedding cake dari seorang pengusaha ternama dikota mereka tinggal.
Setelah kepergian Ningrum, Andini melayani pembeli yang datang silih berganti.
Saat bersamaan, ia melihat sebuah mobil berwarna hitam berhenti didepan tokonya. Andini tidak begitu memperdulikannya, sebab pembelinya juga biasa menggunakan mobil.
__ADS_1
Tampak seorang pria turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam toko.
"Mbak, bisa transfer uang-tidak?" tanyanya dengan nada santai.
"Berapa yang mau ditransfer, mas? Limit hanya seratus juta!" jawab Andini tanpa menoleh ke lawan bicaranya, sebab ia masih sibuk melayani pembeli yang sudah terlebih dahulu datang untuk mentransfer uang juga.
"Maunya kamu berapa?" pria itu bertanya balik.
Andini mengerutkan kepalanya, lalu menengadakan kepalanya dan melihat lawan bicaranya, sebab suara pria itu tidak asing baginya.
Ia terperangah melihat pria dihadapannya. "Mas Rendy? Kamu membeli mobil?" tanya Andini dengan rasa tak percaya.
Rendy tersenyum sembari menaikkan kedua alisnya ke atas. "Iya, Sayang.. Biar kamu tidak lagi kepanasan ataupun kehujanan saat saat berpergian," ucap Rendy dengan nada penuh semangat.
Andini terdiam sejenak. "Katanya mau bangun rumah kontrakan ditanah sebelah!" ucap Andini datar, sembari menaikkan manik putih matanya.
"Terus gimana, donk? Apakah kita jual lagi mobilnya, dan uangnya buat bangun kontrakan?" Rendy tampak bingung dan bersalah karena membeli mobil tidak bermusyawarah dahulu kepada Andini.
Andini menatap suaminya, namun ia tidak ingjn mengecilkan hati Rendy yang berniat membuatnya bahagia.
"Ya sudahlah, lain kali kalau mau beli sesuatu itu musyawarah dulu," ucap Andini mengingatkan.
"Jadi mobilnya gak dibalikin atau dijual lagi, kan?" tanya Rendy meyakinkan.
Andini menggelengkan kepalanya. Sepertinya ia mendapat ide buat membalas chat Nora barusan. "Aku buka blokirannya bentar, aku kirimkan foto mobil ini atau aku unggah foto diberi kejutan mobil baru oleh suami, pasti ia kejang-kejang," guman Andini dalam hatinya. Ia tampak senyum-senyum sendiri.
Rendy membuka lemari pendingin, meraih satu botol minuman teh madu, saat ingin meneguknya, ia meliahat istrinya senyum-senyum sendiri dengan wajah yang seperti merencanakan sesuatu.
"Adik lagi kenapa? Koq, senyum-senyum sendiri? Lagi kesambet, ya?" cecar Rendy yang masih memegang botol minumannya.
Andini memanyunkan bibirnya. Lalu ia keluar dari toko, dan meraih phonselnya, lalu berselfie ria disisi dan didalam mobil tersebut.
__ADS_1
Rendy merasa bingung dengan sikap istrinya yang tak biasa.
Setelah selesai, ia mengajak Rendy berfoto, meskipun sang suami masih bingung dengan ulahnya.
Setelah mendapatkan foto terbaiknya, dengan cepat ia mengunggahnya, berharap si Nora melihat dan mengkomennya.
'Makasih, Ya Rabb.. Atas berkah yang Kau berikan. Diberi kejutan suami mobil baru, rasanya sesuatu banget! Mungkin ini defenisi tanpa morotin uang suami, tetapi diberi surprise' tulis Andini pada unggahannya, sembari tersenyum-senyum sendiri.
Rendy menggelengkan kepalanya. Ia sangat penasaran dengan apa yang dilakukan istrinya. Ia diam-diam menghampiri Andini yang masih serius menanggapi komenan para detergen alian netizen yang budiman.
Sreeeeegg..
Dengan cepat Rendy menarik phonsel istrinya, sebab ia merasa curiga jika saja sang istri sedang berbalas chat dengan pria lain. Selain sikapnya yang sedikit pendiam, sesungguhnya pria itu memiliki sikap pencemburu yang lumayan besar terhadap istrinya. Melihat pakaian Andini ada yang robek sedikit dan tanpa sengaja terpakai sang istri, maka ia akan memaksa Andini mengganti pakaiannya.
Atau saat melihat Andini keluar rumah tanpa hijab, ia akan mengomel dan meminta sang istri mengenakan hijab.
Andini tersentak kaget saat mendapati suaminya merampas phonselnya, saat ia ingin meraihnya kembali, Rendy menahannya.
Wajah pria itu berubah saat membaca chat Nora dengan istrinya. Ia tidak suka jika ada yang menghina istrinya. Ia membaca keseluruhannya.
"Kamu dihinanya? Dan dengan cepat Allah menggantinya!" jawab Rendy, kemudian membelai lembut ujung kepala istri.
"Sudah, kamu jangan lagi meladeninya, biarkan saja ia dengan kedengkiannya. Penyakit hati yang merusak mental seseorang itu ada iri dan dengki. Maka dari itu, abaikan apapun tentang sindirannya," Rendy menasehati sang istri.
Andini menghela nafasnya dengan berat. Sebenarnya ia sangat malas untuk melayani ocehan Nora. Namun perempuan itu yang mencari masalah terlebih dahulu untuknya.
"Apakah kamu mendengar dengan apa yang Mas katakan?" tanya Rendy dengan penuh penekanan.
Andini menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas!" jawabnya dengan lirih, sembari merundukkan kepalanya.
"Abisnya dia yang terlebih dahulu memancing!" jawab Andini.
__ADS_1
Rendy mendenguskan nafasnya dengan berat, dan ia sudah merasa bagaikan menemukan sikap Andini yang terkadang sedikit menggemaskan.