
"Andy.. Oh Andy.. Makhluk seperti apa kamu? Datang mengirimkanku Uang, lalu pergi menghilang begitu saja. Andai saja kamu dekat disini, kungkin sejak janda aku akan memilihmu.. Namun Kau begitu jauh berasa disana" guman Ningrum lirih.
Seketika Ningrum berinisiatif untuk membeli perhiasan dari uang yang diberi oleh Andy.
Ia bergegas beranjak kursi kerjanya, lalu menuju ke luar salon.
Saat Ia berpapasan dengan Jenny, entah mengapa aroma parfum itu selalu mengganggunya.
Namun Ningrum tak ingin mengambil pusing, Ia turun menapaki menyusuri anak tangga dengan tampak terburu-buru, lalu menuju keluar dan menyusuri trotoar untuk menuju toko yang menujual perhiasan emas ataupun berlian.
Salah satu toko langganannya yang selalu menjadi tujuannya, karena toko itu banyak menjual model dan ukiran yang sangat indah.
Sesampainya ditoko tersebut, Ningrum memilih beberapa model cincin berlian yang akan menjadi pilihannya.
Setelah lama memilih, akhirnya Ia jatuh hati pada berlian berwarna hitam.
"Berapa harganya, Ci" tanya Ningrum kepada pemilik toko perhiasan yang seorang warga Tionghoa.
Cici tersebut meraih cincin berlian tersebut, lalu memberikan harganya "ini 25 juta saja, Mbak" ucap si Cici kepada Ningrum.
Dengan menganggukkan kepalanya, Ia membayar dengan menyerahkan kartu Debitnya dan memberikannya kepada Si Cici.
"Pakai ini saja, Ci.." ucapnya sembari menyerahkan kartu Debitnya, dan si Cici meraihnya.
Setelah proses pembayaran selesai, Ningrum kembali ke rumah, Ia ingin menyimpannya sebagai barang invesatasi untuk sewaktu-waktu jika dibutuhkan.
Sesampainya di rumah, Ia bergegas menuju kamarnya di lantai dua dan Ia mencari kotak perhiasannya. Setelah menemukannya, Ia mencoba membukanya, dan alangkah terkejutnya Ia, Saat melihat isi kotak perhiasannya telah hilang dua perhiasan emasnya.
__ADS_1
"Haah..? Kemana perhiasanku? Kemana sebuah cincin dan kalung emas yang ku beli setahun yang lalu? Mengapa hilang? Apakah ada yang mencurinya?" Guman Ningrum dengan lirih.
Namun Ia bingung harus mencurgai siapa, sebab Ia tidak ada bukti.
"Ini tidak benar. Aku harus menyelamatkan Asetku sebelum habis dicuri oleh maling yang bisa saja ada dalam rumahku sendiri.." guman Ningrum, lalu meraih kotak perhiasannya dan beberpa surat penting lainnya.
Ningrum bergegas turun ke bawah dan membawa semua asetnya. Ia bergegas menuju halaman dan mengendarai mobilnya menuju Bank, dimana Andini, sahabatnya bekerja.
Tampak antrian panjang, Ningrum mengambil antrian untuk bagian penyimpanan Safe devosite box yang merupakan tempat penyimpanan barang penting milik nasabah dan hanya nasabah itu sendiri yang mengetahui apa barang yang disimpannya dan pihak Bank tidak tahu menahu tentang barang itu.
Setelah mendapatkan antriannya, Ningrum menyelesaikan berkas-berkasnya dan persyaratan yang di minta, lalu menyimpan perhiasan dan berkas-berkas yang Ia rasa harus diamankan. Entah mengapa merasa jika perasaannya mengatakan ada sesuatu yang tidak baik dengan pernikahannya.
Ningrum menyimpan kunci loker itu dengan sangat baik dan tidak akan ada yang menemukannya kecuali Ia seorang.
Semenjak Bima sering marah dan menghancurkan barang-barang apa saja, hal itu membuatnya sangat merasa jika Bima seorang yang arogan.
Dan kini Ia kehilangan dua perhiasannya, Ia merasa ada pencuri yang mengincar perhiasanya dan tentunya orang tersebut adalah orang yang berada tinggal dirumahnya, sebab tidak ada kerusakan pintu dan sebagainya.
Sesampainya di salon, Ia melihat Jenny tampak sedang ber chat ria di media sosialnya, karena waktu menunjukkan pukul 12 siang, dan waktu untuk beristirahat, sehingga Ningrum tidak menggubris urusan pribadi pekerjanya, yang terpenting baginya jangan molor saat jam kerja.
"Sary.. Tolong belikan ibu makan siang di depan sana, tadi Ibu lupa belinya" ucap Ningrum kepada Sary yang tampak baru selesai makan siang.
Gadis itu menganggukkan kepalanya dan segera bergegas pergi meninggalkan salon untuk membelikan makan siang Ningrum majikannya.
Sementara itu, Bima menuju ruang CEO untuk mengurus berkas 5 pekerja yang akan direkrutnya untuk mendapatkan surat ijin masuk dan bekerja diperusahaan tersebut.
Setelah selesai dengan urusannya, Ia meninjau lokasi proyeknya di plant 4. Sesampainya disana, Ia melihat Ady sedang makan siang dengan bekal yang dibawanya, sementara Yudi tampak mengomel sendiri. Bima menduga jika Yudi memakai barang haram sabu malam tadi, sehingga membuatnya meracau tak jelas seorang diri.
__ADS_1
Bima menghampiri kedua adiknya dan melihat pekerjaan yang masih sangat terbengkalai. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Ia memastikan jika Ia akan ketinggalan proyek dan pastinya Rendy akan mendapatkan pekerjaan proyek baru lagi jika pekerjaannya cepat selesai.
Ia tidak ingin jika Rendy menyainginya apalagi sampai dapat membeli mobil dari proyek yang dikerjakannya.
"Bang, Aku lapar, aku mau makan" ucap Yudi menatap Bima yang tampak berkacak pinggang memperhatikan pekerjaan proyeknya.
Bima menoleh ke arah Yudi "Ambil saja di kantin Mbak Raini, masukin bon Abang" ucap Bima dengan seenaknya.
Yudi beranjak bangkit dan menuju kantin Mbak Raini yang ditunjuk sebagai tempat untuk makan siangnya.
Sesampainya di kantin Mbak Raini, Yudi memesan satu porsi ayam sambal cabe ijo, teh manis dingin yang dibungkus saja dan juga sebungkus rokok.
Setelah pesanannya datang, Yudi mengatakan jika pesanannya masuk nota bon Bima. Seketika Mbak Raini membolakan matanya "Ya Salam.. Tolong bilangin ya, sama abangmu. Hutangnya sudah menumpuk dan saya perlu pemutaran modal" omel Mbak Raini kesal.
Yudi yang masih terpengaruh sakau dari sabu yang dihisapnya malam tadi hanya tersenyum dan menyahuti ucapan Mbaki Raini dengan kalimat yang tidak nyambung dan ngelantur.
Melihat hal tersebut, Mbak Raini hanya menggelengkan kepalanya dan menganggap jika Yudi sudah setengah tidak waras.
Setelah mendapatkan omelan Mbak Raini, Yudi kembali ke plant tempat proyek dimana Bima mendapatkan pekerjaannya.
Saat itu Bima melihat Yudi membaw makan siang dan juga sebungkus rokok. Ia membolakan matanya "Heeii.. Abang bilang itu, kamu ngutang makan siang saja, kenapa sampai ngutang rokok juga?!" omel Bima yang kesal melihat ulah Yudi.
Yudi hanya tertawa tidak jelas dan tak memperdulikan ocehan Bima yang baginya hanya angin lalu.
Bima menggaruk kepalanya yang tak gatal, Ia sangat pusing memikirkan pekerjaannya dan juga Yudi yang sepertinya mengulangi memakai sabu.
__ADS_1
Tiba-tiba Ia teringat akan Ningrum. Ia baru mengingat jika Ningrum masih marah dengannya dan bahkan sudah berani menolaknya saat Ia meminta uang.
"Heeemm.. Aku harus pergi ke rumah paman untuk meminta bantuan agar Ningrum kembali mengikuti semua apa yang ku ingknkan. Aku merasa jika Ningrum mulai memberontak dan bisa jadi pengaruh pengasihan itu sudah mulai luntur" Bima berguman dalam hatinya.