
Ningrum terbangun dari tidurnya, Ia merasakan tubuhnya masih lelah, dan ternyata Ia tertidur saat Bima memijatnya malam tadi.
Waktu menunjukkan pukul 8 pagi, dan Buma sudah tidak ada diatas ranjang, Ningrum menduga jika Bima sudah berangkat bekerja.
Ningrum tersentak saat menyadari malam tadi Ia tertidur ranpa busana, lalu perlahan memungut handuknya dan beranjak ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan juga sikat gigi.
Setelah selesai, Ia mengenakan pakaian santai, Ia berniat tidak masuk ke salon hari ini, Ia ingin bersantai sejenak dirumah, dan memanjakan dirinya.
Ningrum memunguti pakaian kotor untuk dilaundry asisiten rumah tangga yang biasanya sudah datang saat-saat jam seperti ini.
Saat memungut celana Bima, Ia melihat ada cairan kental yang sudah mengering yang menempel di celana Bima.
Ningrum mengendusnya, mirip cairan milik wanita saat mengalami puncak surgawi, namun milik siapa? Tidak mungkin miliknya, sebab Ia tertidur saat Bima memijatnya.
Namun lagi-lagi Ia berusaha menepisnya, dan tak ingin berfikir jauh yang mana akan menambah beban fikirannya.
Dan saat Ia akan meraih kemeja milik Bima, sda aroma parfum yang berbeda dari yang pernah Ia rasakan waktu itu.
Ningrum mendenguskan nafasnya dengan berat. Haruskah Ia mencurigai Bima? Sedangkan mereka baru saja berbaikan. Ningrum lelah untuk bertengkar, Ia menatap nanar dan tak tau harus berbuat apa.
Ia memungut kembali semua pakaian kotor dan membawanya ke tempat laundry dilantai dasar. Ningrum mencoba melupakan tentang semua kecurigaannya dan Ia memilih untuk membuat sarapan dan meminum segelas susu tanpa lemak untuk merilekskan tubuhnya.
Keinginannya untuk bersantai dirumah harus ditundanya, Ia ingin melakukan spa di salon dan meminta Sary untuk melakukan perawatan untuknya.
Setelah selesai sarapan, Ningrum teringat ingin membawa beberpa bungkus sereal yang akan dibawanya ke salon, dan sebagai camilannya. Ia banyak menyimpannya dilemari kitchen setnya.
Ia membukanya dan melihat masih ada beberapa bungkus disana.
Saat mengambil sereal tersebut, tanpa sengaja Ia menyentuh kotak cooper pencincang dagingnya, terasa kosong. Ningrum mengerutkan keningnya. Seingaynya Ia sudah lama sekali tidak memasak daging cincang, atau sekedar membuat olahan bola-bola daging ataupun steak daging.
Terakhir Ia memasaknya sekitar 6 bulan yang lalu saat sebelum menikah dengan Bima. Ia mengingat jika sudah menyimpannya dikotaknya, namun mengapa kotak itu kosong? Ningrum merasa bingung.
__ADS_1
Ia mencoba mencarinya ke tempat rak piring yang mungkin saja Ia lupa atau apapun itu, namun tak ada jua Ia temukan.
Bahkan Ia sempat bertanya kepada Bik Iyem yang merupakan asisten rumah tangganya, dan Bik Iyem mengatakan jika Ia tak melihatnya.
Ningrum menarik nafasnya dengan berat, Ia merasa ada kejanggalan didalam rumahnya. Ia sebenarnya merasa keberatan jika kedua adik iparnya itu tinggal dirumahnya, tetapi Bima tetap bersikeras jika adiknya tinggal bersamanya dengan alasan agar memudahkan saat pergi bekerja.
Ningrum menggaruk kepalanya yang tak gatal dan beranjak dari dapur. Ia memilih ke salon untuk melakukan perawatan tubuhnya dan ini sangat membantunya untuk rileks.
Terlalu banyak beban fikirannya yang harus ditanggungnya saat menikah dengan Bima, dan Ia ingin menghilangkan sejenak semha tentang permasalahan rymah tangganya.
Ningrum mengendari mobilnya dengan kecepatan biasa, dan sesampainya di salon, Ia melihat Sary masih sibuk melayani pelanggan yang melakukan perawatan tubuh.
Saat ini Jenny yang masih terlihat santai, Ia tampak sibuk berbalas chat yang entah dengan siapa. Terkadang Ia tersenyun sendiri saat chat tersebut berbalas.
"Jenn" panggil Ningrum.
"Iya, Bu.." Jenny menoleh dan menutup layar phonselnya.
Jenny beranjak dari duduknya dan menghampiri Ningrum.
"Ada apa, Bu?" tanya Jenny dengan sesopan mungkin karena Ia menyadari jika Ningrum adalah majikannya.
"Ayo.. Ibu mau pijat rileksasi dan juga spa" ucap Ningrum sembari melangkah memasuki ruang pijat.
Jenny menganggukkan kepalanya dan mengikuti kearah tempat Ningrum menuju ruang pijat.
Ningrum sudah menggunakan kain jarik untuk melakukan pijat rileksasi dan dan nantinya juga berlanjut untuk spa dan juga luluran.
Jenny mulai memijat Ningrum dengan sebaik mungkin, namun sebenarnya Ia sangat gelisah karena saat ini Ia masih berbalas chat dengan Bima yang mana akan berjanji temu malam ini.
Ningrum merasakan Jenny mulai tidak fokus untuk memijatnya. "Kamu kenapa, Jenn? Kelihatannya gelisah sekali?" tanya Ningrum yang melihat Jenny tampak melirik phonselnya.
__ADS_1
"Anuu, Bu.. Itu.." ucap Jenny tergagap.
Ningrum mengerutkan keningnya "Kalau ngomong yang jelas.. Kenapa jadi ngawur gitu, sih?" Ningrum merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh Jenny.
Sesaat phonselnya berbunyi dan satu pabggilan masuk atas nama dari 'Ayank' yang tak lain adalah Bima.
Jenny gelagapan karena foto profil itu tak dapat disembunyikan, dan dengan cepat Jenny mer riject-nya..
Karena rasa takut ketahuan, akhirnya Jenny memilih untuk menon-aktifkan phonselnya karena untuk mencari aman, dan Ia mencoba kembali memijat Ningrum dengan benar agar Sanga Majikan tidak mencurigainya.
Sementara itu, Bima merasa sangat kesal karena Jenny menolak panggilannya dan Ia mengerutu sembari menyimpan phonselnya kembali.
Bima kembali meninjau proyeknya. Saat akan melintas menuju plant, tanpa sengaja Ia melihat Rendy memasuki ruang CEO. Bima menduga jika Rendy sedang mengurua proyek barunya. "Siaal.. Aku bisa kalah saing jika begini..!! Jangan sampai Rendy bisa mobil dati hasil proyek..!" gerutu Bima dalam hatinya.
Bima bergegas ke plant 4 menuju proyeknya masih progres 40% sedangkan Rendy sudah pencairan BA dari proyek lamanya dan kini sudah mendapat proyek baru lagi.
Bima berkacak pinggang menatap para pekerjanya "Heeii.. Buruan kerja, jangan kebanyakan istirahat, kapan kelarnya kalau begini" omel Bima yang melihat salah seorang diantara pekerja sedang menghi- sap rokoknya.
"Baru saja istirahat sebentar, Pak.. Capek habis ngatrol material.." jawab helver tersebut.
"Eeeh.. Pakai ngejawab lagi..!! Saya potong gaji kamu baru tau rasa..!!" ancam Bima dengan sangat ketus.
Ucapannya yang menggema itu terdengar keseluruh pekerja yang masih berada di lantai atas dan sedang mendudukkan barang yang sudah dirakit tersebut dan akan melakukan pengelasan. Mereka saling tatap dan hanya terdiam saja.
"Sudah.. Buruan..kerja lagi....!!" ucap Bima dengan kasar.
"Pak.. Kami baru siap ngatrol, ini beratnnya 10 ton.. Tolonglah belikan kami kopi dingin" pinta seorang welder kepada Bima.
"Heei.. Manja banget.. Gak ada kopi-kopian.. buang-buang uang saya saja.!! kalau mau ngopi itu bawa dari rumah, jangan manja banget jadi orang" balas Bima yang merasa sangat kesal, lalu pergi meninggalkan lokasi proyek.
Selama ini, didalam pekerjaan proyek, setiap siang para pekerja akan diberi kopi atau minuman dingin yang ditanggung oleh kontraktor atau pemborong proyek, namun hal itu tak berlaku bagi seorang Bima.
__ADS_1