SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
eoisode 63


__ADS_3

sNingrum akhirnya pulang kerumah. Meskipun sebenarnya merasa sangat malas jika nantinya harus berhadapan dengan Bima saat dirumah.


Sesampainya dirumah, Ia menuju lantai dua kamarnya. Saat melintasi dapur, Ia melihat Ady sedang memasak makan malam.


"Kakak mau dimasakin apa?" tanya Ady dengan sopan. Ia tampaknya sedang membuat mie instan tumis.


Ningrum menghela nafasnya, Ia tidak dapat mengaitkan masalahnya dengan Bima, sebab selama ini Ady selalu bersikap sopan padanya.


"Tinggalkan seporsi satu buat Mbak, Ya" ucap Ningrum dengan lirih.


Ady menganggukkan kepalanya, lalu kembali melanjutkan masakannya.


Ningrum tidak melihat mobil Bima terparkir dihalaman rumah ataupun garasi, itu tandanya Bima tidak sedang dirumah.


Ningrum melirik Yudi yang duduk disofa sembari menonton televisi, entah mengapa Ia tidak begitu suka dengan pemuda itu, ada rasa jengkel jika melihatnya. Sebab sudah beberapa kali Ia harus kehilangan uang untuk menutupi kejahatannya yang mana ibu mertuanya merengek untuk membebaskannya dari tuntutan hukum.


Ningrum menapaki anak tangga dan memasuki kamarnya, lalu bergegas membersihkan diri dikamar mandi.


Setelah selesai, Ia mengenakan pakaia tidurnya yang berbahan satin. Tak berselang lama, Ia mendengar ketukan pintu dari arah luar, saat Ia membukanya, ternyata itu adalah Ady yang membawa mie instan tumis buatannya.


"Ini, Mbak. Sudah masak dan jangan lama-lama makannya, ntar mengembang tidak enak" ucap Ady mengingatkan.


Ningrum tersenyum tipis "Makasih ya, Dy. Sampai repot-repot segala dianterin ke kamar" ucap Ningrum sungkan.


"Gak apa, Mbak.. Ady pamit dulu mau makan" ucap Ady sopan.


Lalu dengan cepat Ningrmu meraih piring tersebut dan menutup pintu kamar serta tak lupa menguncinya.


Ningrum mencoba mencicipi masakan Ady, ternyata anak itu pandai juga memasak, dan Ningrum menghabiskannya.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, dan Bima belum juga pulang.


Ningrum tidak begitu perduli dan Ia mencoba untuk tidur dan melupakan sejenak beban fikirannya. Ningrum sengaja mengunci pintu kamar karena karena Ia tidak ingin Bima tidur malam dikamarnya.


Sementara itu, Bima mengerjapkan kedua matanya. Ia melihat dirinya didalam ruangan karaoke seorang diri, dan ternyata dua pemandu lagu itu sudah kabur setelah memorotinya.

__ADS_1


Ia memegangi kepalanya yang terasa pusing karena pengaruh dari minuman alkohol yang Ia teguk saat bersama dua pemandu lagu itu.


Ia berusaha beranjak bangkit dari duduknya dan dengan tubuh yang sempoyongan Ia berjalan menuju keluar dari ruang karaoke dan menuju keluar ruangan.


Lalu kasir menghampiri Bima karena belum membayar tagihannya.


Bima yang setangah sadar meracau tak jelas dan menolak untuk membayar tagihannya.


Karena merasa dirugikan, pihak pengelola karaoke meminta dua orang pegawai laki-lakinya untuk mengguyur Bima di toilet agar pria itu sadar dari pengaruh alkohol tersebut.


Setelah mengguyur Bima hingga basah kuyup, perlahan membuat kesadaran Bima sedikit berangsur pulih.


Ia menggelengkan kepalanya untuk mengumpulkan kesadarannya. Saat pandangannya mulai menajam, Ia menyadari jika Ia berada didalam toilet dan dengan kondisi basah tak karuan.


Bima berusaha untuk kembali beranjak bangkit dan berjalan dengan kondisi yang tak karuan. Lalu pihak pengelola karaoke menghampirinya kembali dan meminta Bima membayar tagihannya.


Dengan terpaksa Bima mengeluarkan kartu debitnya lalu membayar tagihan sebesar dua juta rupiah dengan waktu yang sudah dihabiskannya katena dihitung perjam.


Tanpa terasa, dalam sekejap saja Bima sudah menghabiskan uang 7 juta dalam sekian jam saja dan dengan hasil yang sia-sia belaka.


Bima kembali menyimpan kartu debitnya kedalam dompetnya dan beranjak pergi keluar dari lokasi tersebut dan menuju parkiran.


Ia tiba dirumah Ningrum saat waktu menunjukkan pukul 11 malam.


Ia terkapar disofa karena tidak sanggup menapaki anak tangga, dan kembali tertidur pulas.


Saat pagi menjelang. Bima belum juga terbangun. Ningrum yang sudah bersiap akan ke salon, mendapati Bima tertidur di sofa. Ia bergegas pergi dan tidak ingin berbicara ataupun bertatapan muka dengan Bima.


Ia meninggalkan rumah dan mencari sarapan diluaran saja.


Bima mengerjapkan kedua matanya saat Ady mencoba membangunkannya.


"Bang.. Kerja tidak harinini? Sudah pukul 8 pagi" ucap Ady mencoba menyadarkan abangnya.


Ia mencium aroma sisa alkohol yang masih melekat bau nafas Bima, dan Ia menduga jima abangnya pergi mabuk-mabukkan malam tadi.

__ADS_1


Bima beranjak bangkit dan dengan sempoyongan menuju kamar mandi yang ada diruangan dekat dengan dapur.


Setelah selesai mandi, Ia menuju kamar dan mendapati Ningrum tidak ada didalam kamar. Ia menduga jika Ningrum sudah berada disalon karena waktu sudah hampir mendekati pukul 9 pagi.


Sebuah panggilan masuk dari penyuplai tabung gas elpiji dan juga tabung oksigen yang dipesannya.


Dengan tergesah-gesah Ia menuju lokasi proyek. sesampai dilokasi proyek, penyuplai sudah lama menunggunya dan menyerahkan nota bon pembeliannya.


Harga satuan tabung gas elipiji 50 kg dengan isi adalah 2 juta lebih dan 6 tabung berserta tabung oksigen, Bima dikenakan biaya 13 juta rupiah. Maka uang yang dipinjamnya dari Julian habis sudah tanpa sisa.


Lalu Ia memerintahkan kepada pekerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya secepatnya, sebab Ia tidak ingin lagi rugi banyak dengan waktu yang tersisa tinggal beberapa hari lagi.


Setelah menyelesaikan urusannya, Bima menuju kantin ingin sarapan, sebab Ia belum sempat sarapan karena terburu-buru saat tadi.


Ia memasuki kantin Mbak Raini dan tentunya akan kembali menambah beban hutangnya sebab Ia sudah kehabisan uang.


"Mbak, buatkan sarapan dan rokok satu bungkus" ucap Bima yang duduk dimeja sudut.


Seketika Mbak Raini membolakan matanya "A-apa? Saya gak salah dengar? Hutang lama juga belum kamu bayar mau berhutang lagi? Tidak.. Lunasi dulu hutang kamu dulu baru bisa ngutang lagi..!" ucap Mbak Raini dengan kesal.


Bima beranjak bangkit dari duduknya "Reseek.. Tidak saya bayar sekalian baru tau..!" ucap Bima dengan kesal, lalu meninggalkan kantin Mbak Raini dengan perasaan yang sangat jengkel bin kesal.


Sesaat tampak Nora mengejarnya ketia sudah berada diluar kantin.


"Mas.. Mas Bima, tunggu" panggil Nora yang berlari menuju kepadanya.


Nora membawa satu porsi nasi soto yang dibungkusnya dan juga sebungkus rokok.


"Nih, buat sarapan.. Nora yang traktir. tapi nanti sore jangan lupa singgah dirumah Nora ya" ucap janda aduhai itu kepada Bima.


Seketika Bima tersenyum sumringah, dan Ia mencubit bokong Nora dengan gemas.


"Tentu, Sayang.. Terimakasih buat sarapan dan rokoknya" ucap Bima dengan tatapan menggodanya.


Hal tersebut membuat Nora semakin sumringah, Ia bahkan bagai wanita bodooh yang tidak mengerti jika Ia hanya dimanfaatkan saja oleh Bima.

__ADS_1


Nora kemudian kembali ke kantin agar tidak ketahuan oleh Mbak Raini.


Siapa sangka jika Nasi soto dan rokok yang diberikan oleh Nora kepada Bima adalah hadil mencuri dari kanti Mbak Raini yang pastinya pemilik kantin tersebut tidak menyadarinya.


__ADS_2