
Nora sang janda aduhai sudah terpu-askan oleh Bima. Ia mengakui jika Bima memang bisa diandalkan dalam urusan ranjang, dan tentu saja pujian itu membuat Bima sangat senang. Sebab selama ini para wanita selalu memujanya.
Setelah bercinta dengan dua wanita malam ini. Akhirnya Bima tersenyum dengan sangat sumringah dan Ia mengantarkan Nara kembali ke simpang jalan dimana mereka tadi bertemu janji.
Setelah menurunkan Nora dari mobl, Bima menuju ke rumah paman dari ayahnya.
Ia ingkn segera bertemu dengan pria itu untuk meminta bantuan. Meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, tak perduli, Ia harus bertemu pamannya malam ini juga.
Bima merasakan jika Ningrum mulai berani membantahnya dan menolak keinginannya.
Tak ingin kehilangan Ningrum sebagai aset berharganya, maka Ia harus membuat Ningrum kembali patuh padanya. Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit lamanya, Ia akhirnya tiba dirumah pamannya.
Bima mengetuk pintu rumah tersebut meskipun sudah ditutup dan pemilik rumah sudah tertidur. Namun Bima harus tetap menemui pamannya malam ini juga.
Suara ketukan dipintu itu membuat pemilik rumah terpaksa kembali turun dari ranjangnya dan membuka pintu.
"Heem..masuklah" ucap pria berusia 60 tahunan itu. Ia berjalan dengan sedikit sempoyongan karena baru saja hendak tidur.
Ia duduk di sofa dan tampak Ia masih sangat mengantuk dan tetap dipaksakan untuk bangun.
"Ada perlu apa?" tanya pria senja itu kepada Bima. Sebenarnya Ia tahu apa tujuan dari ponakannya itu, namun Ia berbasa-basi untuk sekedar untuk bertanya.
Bima mendekatakan dirinya kepada sang paman.
"Paman.. Aku butuh penambahan ramuan pengasihan untuk menaklukan istriku. Ia sudah mulai membantahku sekarang" ujar Bima menjelaskan.
Seketika pria tua itu memejamkan matanya. Ia tidak berbicara dalam waktu yang cukup lama, lqlu kembali membuka matanya.
"Mana semar mesem yang paman berikan waktu itu?" tanya pria tua itu dengan nada selidik.
Bima tersentak, lalu meraih dompetnya dan mengeluarkan sebuah benda logam kuningan pipih berbentuk semar "Ini , Paman" ucap Bkma sembari menyerahkan logam kuningan tersebut.
__ADS_1
Dengan cepat pria tua meraihnya dari tangan Bima. Ia mengkomat-kamit membacakan mantra yang mana akan bertujuan untuk membuat pengaruh pengasih itu semakin kuat.
"Setiap malam Jum'at kliwon, maka kamu sajikan kembang mawar putih dan kembang melati agar pengaruhnya tidak memudar" ucap Sang paman kepada Bima, sembari menyerahkan benda pipih berwarna kuning dan berbentuk semar tersebut.
Lalu pria tua itu mengajarkan rafal mantra untuk melukuhkan hati sang wanita yang dituju, bahkan bukan hanya wanita, tetapi juga untuk siapapun yang Ia inginkan.
Bima meraih benda semar mesem tersebut, dan memeberikannya uang satu lembar dengan nilai seratus ribu rupiah.
Bima berpamitan pulang dan bergegas menuju ke rumah Ningrum. Ia tidak ingn jika wanita itu kini membantahnya. Ia harus mematuhi Bima.
Sesampainya dihalaman depan rumah. Bima langsung menuju garasi dan memarkirkan mobilnya.
Setelah itu Ia membuka pintu dengan kunci cadangan dan bergegas naik ke lantai dua dimana kamar Ningrum berada.
Setelah membuka pintu kamar, Ia melihat Ningrum sedang tertidur lelap dan Ia naik ke atas ranjang, menatap wajah Ningrum, lalu merafalkan mantra dari pengasihan dari semar mesem tersebut.
Setelah itu Meniupkankannya kepada Ningrum yang sedang tertidur lelap. Lalu Ia berbaring disisi Ningrum, agar nanti wanti terbangun Ia sudah berada disisinya dan hati wanita itu akan kembali luluh.
Ia tersentak kaget mendapati pria itu sudah tidur disisinya. Ia memandangi wajah Bima, dan entah mengapa Ia merasa bersalah sudah mengabaikan nya dua hari ini.
Akhirnya hati Ningrum tak tega melihat suaminya dan Ia memilih untuk mengalah.
Setelah puas memandangi Bima, Ningrum beranjak dari ranjang dan menuju ke kamar mandi untuk berwudhu, lalu shalat subuh dan menyelesaikannya.
Bima terbangun, Ia melirik ke arah Ningrum yang baru saja menyelesaikan shalat subuhnya. Wanita itu tampak melipat sejadah dan mukena.
Bima kembali berpura-pura untuk tidur dan tidak melihat Ningrum.
Wanita itu berjalan ke tepian ranjang, lalu duduk bersandar dan meraih phonselnya. Tiba-tiba Bima berpura-pura bangun dan menatap Ningrum, pandangan mereka beradu, dan Bima menatap manik hitam mata tersebut. Ia merafalkan manyranya dan membuat Ningrum seketika menjadi luluh total.
"Maafin, Mas ya?" ucap Bima lirih, seolah pria paling menyesal dijagad raya karen Ia merasa khilaf telah berkata kasar pada istrinya.
__ADS_1
Hati Ningrum yang sudah terluluhkan oleh rafal mantra semar mesem milik Bima, seketika menganggukkan kepalanya.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Bima. Ia beranjak bangkit ke kamar mandi, membersihkan dirinya, lau bergegas ke krmbali ke ranjang.
Ia meraih kepala Ningrum yang kini sudah berhasil diluluhkannya dengan mudah. Ia mulai mencumbu rayu Ningrum. Memberikan sentuhan terbaiknya, memagut bibir nan lembut dan seolah-olah Ningrum adalah wanita satu-satunya yang Ia cintai.
Ningrum mulai tersengal. Bima sepertinya begitu mengerti dengan sikap yang ditunjukkan oleh Ningrum. Ia terus memberikan cumbuannya hingga akhirnya Ningrum tak menyadari jika Bima sudah melucuti pakaiannya.
Subuh ini Ningrum merasakan dirinya melayang karena sentuhan Bima yang memabukkan. Pria itu sengaja membuat wanitanya terpu-askan berkali-kali hingga tak berdaya.
Ya.. Itulah seorang Bima, yang dapat meluluhkan siapa saja, termasuk wanita dengan segala pesona dan juga tentunya pengasihan semar mesemnya.
Melihat Ningrum yang terus melenguh dan tampak bergelinjangan, Bima tertawa dalam hatinya, sebab Ia akan menjadikan Ningrum mesin ATM-nya kembali.
"Kamu suka, Sayang..?" bisik Bima ditengah percintaan mereka.
Ningrum tak mampu menjawabnya. Ia mengakui jika urusan ranjang Bima memang memiliki perbedaan dengan mantan suaminya dan Ia tidak memungkirinya.
Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab apapun. Bima akhirnya memberikan puncak surgawinya kepada Ningrum entah sudah yang kesekian kalinya.
Setelah merasa cukup membuat Ningrum kelelahan. Bima berbaring disisi Ningrum, mendekap tubuh wanita itu, seolah menjadikan Ningrum sebagai ratu dalam hatinya.
"Maafin semua sikap kasar Mas selama ini" bisik Bima dengan segala rasa penyesalan palsunya yang seolah-olah itu tulus dari hatinya.
Ningrum hanya menganggukkan kepalanya, Ia tak dapat menjawab dengan kata-katanya. kini merasa jika Ia harus memaafkan Bima, karena pria itu sudah menyesali perbuatannya.
Melihat Ningrum yang sudah memaafkannya, tanpa wanita itu sadari, Bima bersorak riang penuh kelicikan, karena kini sang mesin ATM-nya sudah terluluhkan.
Kini tinggal bagaimana caranya agar Ia dapat membuat Ningrum kembali dapat Ia poroti. Mungkin Ia harus menjaga tidak meminta uang beberapa hari ini.
Ningrum menghela nafasnya, Ia sudah mencoba berdamai dengan hatinya dan memaafkan Bima.
__ADS_1