SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-109


__ADS_3

Luccy sudah diperbolehkan pulang. Untuk membuat gadis itu bersemangat, Ningrum mengantarkannya pulang dan memberinya sarapan serta obat, lalu berpamitan pulang.


Luccy memandang papanya, dan memohon sesuatu kepadanya.


"Ada apa, Sayang? Mengapa menatap papa seperti itu?" tanya Gibran dengan lirih.


"Jadikan tante Ningrum Mama buat Luccy, Pa" pinta Luccy dengan menghiba.


Gibran menelan salivanya. Bagaimana mungkin Ia mewujudkan keinginan Luccy dengan begitu cepat. Sedangkan Ia sendiri belum pasti apakah Ningrum menerima dirinya atau sebaliknya.


"Sabar Ya, Sayang.. Papa tidak janji, tetapi papa akan berusaha untuk mewujudkan keinginanmu.." jawab Gibran lirih, tak ingin memberi janji yang terlalu tinggi untuk puterinya.


Sementara itu, Ningrum menuju ke salon sekaligus rumahnya. Hari ini Ia ada pekerjaan untuk merias pengantin dari kalangan elite dan Ia harus segera sampai dilokasi sebelum pukul 9 pagi.


Setelah mengganti pakaiannya, Ia segera pergi menuju lokasi acara resepsi untuk merias pengantin yang meminta Ia sendiri sebagai periasnya.


Ningrum membawa Sary dan dua anggota lainnha untuk membantunya merias anggota keluarga yang akan tampil menggunakan pakaian couple mereka.


Bima kembali pulang kerumah. Ia semakin kesal dengan Nora yang juga berulah hari ini. Sesampainya di rumah Ia melihat Nora masih memasak mie instan dan rumah masih berserakan yang semakin membuat Bima merasa bosan dengan apa yang yang dialaminya saat ini.


Kakinya yang sakit juga masih terasa berdenyut, namun semuan orang terasa menyebalkan hari ini.


Nora melihat kepulangan Bima yang terlalu pagi dan Bima duduk diteras, menyulut sebatang rokok dan menghisapnya dengan dalam.


"Sudah pulang saja, Kau Bang?" tanya Nora dengan sepiring mie instan ditangannya.


Bima melirik pada Nira yang perutnya saat juga keroncongan.


"Masakkan dulu abang mie instan, tu. Perut abangpun lapar belum sarapan dari tadi" ucap Bima dengan cepat.


Nora melirik malas. "Belikan dulu mie-nya biar ku masakkan" jawab Nora.


"Kau sajalah yang beli, kaki abang sakit ini untuk jalan!" ucap Nora.


"Tak abang lihat mukaku yang lebam ini? Apa abang fikir aku ini tak malu pergi ke warung?" jawab Nora sengit.

__ADS_1


Akhirnya karena mie instan keduanya kembali bertengkar pagi ini.


Tetangga sebelah yang anaknya masih deman dan rewel akhirnya keluar dari rumah dan menatap kesal kepada keduanya.


"Tolonglah, Mbak Nora.. Anak saya itu masih demam dan rewel, janganlah ribut kali" ucap Susi tetangga yang baru 3 bulan lalu selesai melahirkan, lalu mendengus kesal dan kembali masuk ke dalam rumah.


Nora menatap sinis dan juga masuk kedalam rumah. Akhirnya Bima mengalah dan berjalan ke warung untuk membeli mie instan mwski harus terseok.


Sesampainya diwarung yang berada ditengah rumah kontrakan itu, Bima membeli 2 bungkus mie instan, dan kebetulan pemilik warung seorang wanita genit yang sudah bersuami.


"Eh.. Mas Bima. Mau beli apa, Mas?" tanyanya ramah namun bernada genit.


"Mie instan dua, Mbak" jawab Bima dengan meringis karena kakinya yang terkilir.


"Pakai telur dua gak, Mas.. mie instsan itu paling enak dimasak pakai dua telur, Mas" balas si pemilik warung sembari mengambilkan mie instan isi dua dua bungkus.


"Sudah ada telurnya, Mbak.. jadi gak beli telur lagi" jawab Bima menimpali genit, karena melihat gelagat si pemilik warung yang tampaknya tertarik padanya.


Wanita itu tertawa genit. Lalu menyerahkan dua bungkus mie instan isi dua dengan kantong kresek kepada Bima.


Dalam hati Bima mencari kesempatan dalam kesempitan.


"Wah.. Suaminya kemana, Mbak?" tanya Bima yang tidak bisa membiarkan apem nganggur sedikitpun.


"Kerjalah, Mas. Diluar kota, besok baru pulang" jawab Susi nakal.


Otak Bima lalu berjalan dan memanfaatkan situasi.


"Wah.. Sudah lama gak kena telur dua, Nih?" ucap Bima mulai memancing.


Susi tersenyum genit "Emangnya kenapa, Mas? Mas Bima mau kasih dua telurnya sama saya?" sambar Susi cepat.


Mendengar pancingannya berhasil, Bima tak lagi menyiakan keadaannya yang ada.


"Mbak-nya mau cobain? Kalau mau buruan, sebelum dilihat orang" bisik Bima yang celingukan melihat kanan kiri dan merasa aman, sebab suasana sedikit sunyi karena jam kerja dan anak-anak sekitar masih bersekolah semua.

__ADS_1


Entah syeetan apa yang merasuki Susi, akhirnya menggiring masuk Bima ke rumahnya, dan dengan segera diikuti oleh Bima, lalu ke duanya menuju kamar dan mencangkul sawah dipagi hari.


Nora menyantab mie istannya, dan melihat Bima sudah tidak ada di kusri depan.


"Kemana Bang Bima? Apakah dia pergi warung Susi? Tetapi kenapa lama sekali?" Nora berguman sembari menghabiskan mie instannya.


Nora berjalan menuju dapur dan meletakkan mie piring kotor diwashtafel lalu menyeduh teh manis dan kembali duduk di ruang tamu, lalu menghidupkan televisi. Ia belum berani membuka phonselnya karena takut para teman sosialitanya menelefonnya, dan lebih memilih menonton acara televisi.


Hampir 20 menit lamanya, tapi Bima juga belum kembali dari warung. Perasaan Nora kembali merasa curiga dan rasanya Ia ingin pergi ke warung itu.


Sementara itu, Bima dan Susi baru selesai mencangkul dengan bermandikan keringat.


"Terimakasih, Ya Mas.. Kamu memang hebat" bisik Susi sumringah.


Dengan bangga Bima tersenyum sumringah "Kasih bonus dong, Mbak.. Gratis mie-nya" jawab Bima cepat.


Susi menganggukkan kepalanya dan tersenyum malu-malu.


"Terimakasih ya, Mbak.. Kapan-kapan kalau pengen dicangkul lagi sawahnya tingal kasi isyarat saja" bisik Bima yang beranjak pulang sembari berjalan terseok.


Nora yang penasaran akhirnya keluar dari rumah dan ingin menghampiri Bima yang tak pulang-pulang dari warung Susi dan hanya membeli mie instan saja.


Namun Ia terdiam saat melihat dari jauh jika Bima sudah menuju arah pulang dengan terseok-seok


Wajah Bima tampak cerah, karena mendapatkan lahan sawah baru untuk digarap secara gratis, dan itu menambah semangatnya.


Nora tampak aneh dengan perubahan wajah Bima yang tampak sangat senang. Saat Bima hampir sampai didepan teras, Nora berkacak pinggang "Cerah banget wajahnya, Mas? Trus beli mie saja koq sampai 20 menit gak pulang-pulang?!" cecar Nora yang mencurigai Bima.


"Tadi ada dua emak-emak yang belanja, Sayang. Abang jadi tungguin mereka duluan selesai baru giliran Abang" Bima berbohong.


Nora membolakan matanya, Ia merasa curiga kepada Bima dan berwajah masam.


"Awas saja, Ya kalau sampai Abag main gila dengan wanita lain, akan aku potong itu burung, abang" ancam Nora kesal, lalu merampas kantong kresej berisi dua bungkus mie instan dari tangan Bima dan menuju dapur untuk memasaknya sembari menggerutu.


Bima menatap punggung Nora yang berjalan sembari menghentakkan kakinya dengan perasaan kesal.

__ADS_1


__ADS_2