
Sembilan tahun kemudian...
Luccy kini menjelma menjadi sosok gadis yang cantik. Kemanapun mereka pergi, seakan terlihat seperti kakak dan adik, sebab postur tubuh Luccy yang mengikuti gen papanya tinggi semampai.
Sedangkan Ningrum, lebih terkesan imut dengan tinggi 155 cm saja.
"Ma, Luccy berangkat ke sekolah," ucapnya dengan cepat, karena terburu-buru.
Ia meraih kunci motor maticnya dan mengecup pipi Ningrum dengan cepat.
Ningrum tersenyum datar, ia memandang puterinya yang tanpa terasa sudah tumbuh menjadi remaja. Meskipun cibiran kadang ia terima dari keluarganya, sebab ia membesarkan anak orang lain dan memutuskan untuk tidak menikah lagi, namun ia tetap mengabaikan setiap suara sumbang tersebut, ia meyakini, jika memberikan cinta kasih, meskipun bukan terlahir dari rahimnya, pasti akan berbalas dengan kebaikan.
"Ningrum, apalah yang kau harapkan dari anak itu? Dia bukan darah dagingmu, bahkan kau menghabiskan banyak uang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikannya! Lebih baik kamu menyenangkan dirimu sendiri atau kau bantu keluargamu yang kesusahan!" ujar bibi Rani, adik dari ibunya, disuatu paginsaat ia dan Luccy pulqng kampung saat lebaran.
Mereka mengenal Ningrum memiliki banyak uang, dan seharusnya ia membantu keluarganya juga, bukan semata membesarkan Luccy yang mana habya status anak tirinya.
Ningrum menarik nafas beratnya. "Aku akan membantu bibi, tetapi tidak setiap saat, karena aku memiliki kebutuhan lain. Aku merawat Luccy, karena hanya dia yang mampu menyentuh hatiku, dan aku yakin dialah orang yang kelak akan merawatku saat aku menua nanti!" jawab Ningrum dengan yakin.
"Kita lihat saja nanti, apakah ucapanmu itu akan terbukti atau tidak, sebab kebanyakan orang yang sudah ditolong itu ibarat kacang lupa akan kulitnya!" Bi Rani menegaskan.
Ningrum tersenyum getir mendengar ucapan sang bibi. "Ya, semoga saja bantuan yang selama ini aku berikan kepada bibi menjadi penolongku di akhirat kelak," sela Ningrum.
Seketika Rani membolakan matanya. Ia merasa jika Ningrum sedang menyindirnya, dan itu sangat tidak sopan.
"Dasar, Kamu, Ya! Dinasehati koq, balik menyindir orang!" Bi Rani dengan geram menyela.
Ningrum menarik nafasnya. Ia mencoba untuk tidak lagi berdebat dengan bibinya yang terkesan mengaturnya.
"Da, Ma..." teriak Luccy sembari melambaikan tangannya kepada Ningrum, lalu mengemudikan sepeda motor maticnya.
Hal tersebut membuyarkan lamunan wanita itu, dan ia membalas lambaian tangan anak gadisnya.
__ADS_1
Setelah Luccy menghilang dibalik persimpangan, Ningrum memutar tubuhnya untuk ke kamarnya. Ia ingin berbelanja sesuatu hari ini.
Ningrum meraih sweternya, kemudian mengenakannya dan kembali menuruni anak tangga. Ia pergi berbelanja ke minimarket, dan akan memasak sesuatu untuk diantar ke sekolah sebagai bekal makan siang puterinya.
Dilain tempat, Andini sedang mengunggah foto bersama seorang anak perempuan berusia 7 tahun yang menggunakan seragam sekolah. Tampak ia sangat bahagia dengan puterinya yang gemoy dan juga berparas ayu rupawan, yang mana wajahnya lebih mengarah ke Rendy, dan dapat dikatakan fotocopy sang ayah.
Saat bersamaan, Nora melihat foto tersebut lewat dari berandanya, sebab mereka memakai akun publik, sehingga dapat dilihat siapa saja yang berteman.
Nora yang melihatnya tersenyum sinis. bahkan tampak Andini mengambil foto dengan background di dalam beberpa ruangan rumah mereka.
Nora semakin panas, apalagi Andini tampak sudah memiliki ruko yang mana ia unggah juga dimedia sosialnya sebagai promosi barang dagangannya.
Dengan tangan gatal yang sudah tidak lagi dapat ditahannya untuk mengetik sesuatu, ia-pun akhirnya melakukan apa yang seharusnya tidak ia lakukan.
"Dasar Norak, baru punya rumah segitu saja pamer banget!" cibir Nora dengan nada oenuh sindiran.
Andini mencoba mengabaikannya, ia bahkan menyembunyikan balasan tersebut.
"Yang baru punya toko, tapi gayanya selangit," tulisnya dengan penuh emosi.
Andini mencoba menahannya. Namun semakin lama, tampaknya Nora semakin menjadi dan keterlaluan.
"Saya yang posting kenapa situ yang panas? emangnya saya pernah urusin hidup kamu?!" balas Andini mulai terpancing emosinya. Ia bukanlah Ningrum yang terkadang dapat mengendalikan emosinya.
Nora mencebikkan bibirnya, kemudian masuk ke dalam chat inbox-nya. "Heei, perempuan norak. Jangan hanya memiliki rumah yang kecil segitu saja sudah sok paling kaya, dan sok paling yes!" tulis Nora dalam pesan chatnya.
Andini mengerutkan keningnya. Sebenarnya ini orang kenapa? Tiba-tiba ngajak ribu dan seperti tidak punya kerjaan.
"Lha, emang masalah buat kamu, ya? Meskipun kecil tapi ini rumah kami beli sendiri, dan tidak mengontrak!" balas Andini.
Nora semakin terbakar, sebab ia disindir masih masih mengontrak. "Makanya, jadi istri jangan mata duitan, sampai suaminya tidak bisa beli mobil! Lihat kami, punya mobil, punya motor!" balas Nora tidak mau kalah.
__ADS_1
Andini semakin bingung dengan perempuan yang dikenalnya hanya sekilas itu saja. Namun ia sering mendengar cerita dari Rendy suaminya tentang bagaimana Bima. Sebab Bima sudah berulang kali meinjam oksigen dan gas elpiji 50kg, tetapi tidak pernah dikembalikan.
"Bagiku yang utama itu rumah untuk berteduh, sebab membeli mobil hanyalah sebuah kebutuhan yqng tidak terlalu penting, sebab mamaku juga punya mobil, maka kami harus membeli sesuatu yang lebih penting!" balas Andini.
"Halaah, bilang saja kamu gak sanggup beli mobil, sebab kamu itu suka morotin duit suami, alias mata duitan!" Balas Nora lagi.
Andini semakin kesal, ia sepertinya sudah kehabisan kesabarannya.
"Heei, aku beritahu kamu, ya... Aku itu mata duitan tapi duit suamiku! Emangnya kalau aku morotin duit suamiku apa masalahnya sama kamu? Kecuali aku morotin uang suamimu baru kamu bisa ngoceh!" balas Andini kesal.
Setelah memastikan pesannya terkirim, Andini segera memblokir akun Nora. Baginya hanya membuang energi dan tenaga melayani waniya gila itu.
Nafas Andini memburu, ia tidak mengira akan seemosianal sepagi ini, karena ulah Nora yang sangat menyebalkan.
Sementara itu, Nora ingin membalas kembali apa yang tulis oleh Andini, namun akunnya telah diblokirnya.
Andini baru saja sampai ditokonya. Ia membuka usaha phonselnya, meskipun mood-nya buruk karena ulah Nora barusan, namun ia tidak ingin larut dalam kekesalan dan dengan membuka toko ia akan berinteraksi dengan oramg banyak dan mengembalikan moodnya.
Saat bersamaan, tampak Ningrum berhenti didepan tokonya. Sepertinya ia ingin membeli pulsa prabayarnya.
Ia berjalan memasuki toko Andini, dan tampak wajah sahabatnya itu seperti ditekuk dengan bibir manyun.
" Kamu kenapa, Say? Kenapa wajahmu begitu sangat kusut?" tanya Ningrum dengan hati yang penasaran.
Melihat sahabatnya datang, ia pun bersemangat ingij mengadukan prihal Nora yang membuatnya sangat kesal dipagi hari ini.
"Coba Mbak baca ini apa yang dikirim Nora kepadaku? Bukankah ini sangat menyebalkan??" ucap Andini sembari memperlihatkan chat-nya dengan Nora.
Ningrum membaca semua chat sahabatnya dengan wanita bernama Nora, lebih tepatnya pelakor yang telah menyelamatkannya dari kehancuran. Sebab jika bukan karena dia, Ningrum masih terbelenggu oleh pria sampah tersebut.
"Kamu juga, nagapain diladeni orang seperti itu, ikutan strees tau!" jawab Ningrum santai.
__ADS_1
Andini tampak mendengus kesal. "Abisnya ngeselin..!" balas Andini dengan bibir manyun..