
Ningrum terbangun dari tidurnya. Ia merasakan kepalanya sangat pusing dan melihat jam diphonselnya menunjukkan pukul 3 dini hari.
Perutnya sangat lapar dan melihat satu porsi nasi goreng yang ternyata dihidangkan Bima diatas meja nakas lengkap dengan segelas air putih.
Meskipun sudah sangat dingin karena terkena pendingin ruangan, Ningrum tetap menyantabnya karena sangat lapar.
Ia melirik Bima yang tampak terlelap diranjang. Ningrum merasakan jika Bima begitu sangat perhatian padanya.
Ningrum tersenyum sangat bahagia melihat perhatian Bima yang begitu sangat manis padanya.
Setelah menyelesaikan makan malamnya yang tertunda, Ia kembali tertidur dan menghadap pada wajah Bima yang tertidur disisinya.
Ia memandang wajah tampan itu,dan itu yang membuatnya sangat lemah. Lalu dengan perlahan Ia kembali tertidur pulas dan kembali menjemput mimpinya.
****
Pagi menjelang, Ningrum beranjak bangkit dari ranjangnya, dan Ia melihat Bima sudah bersiap untuk bekerja.
"Sudah mau berangkat, Mas?" tanya Ningrum dengan senyum sumringah melihat Bima yang tampak semangat untuk pergi bekerja dan itu membuat Ningrum sedikit lega dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.
"Iya Sayang.. Hari ini Mas akan mulai mengerjakan proyek pertama Mas" jawab Bima dengan senyum yang terus mengembang "Mas berangkat duluan, Ya Sayang" ucap Bima sembari mengecup ujung kepala Ningrum.
Wanita itu menganggukkan kepalanya dan menatap kepergian Bima yang tampak terlalu pagi untuk mengurus proyeknya.
Bima bergegas ke garasi dan mengendarai mobilnya. Ia menuju ke rumah ibunya dan ingin menjemput ke dua adiknya yang akan ikut bekerja dengannya pagi ini.
Sesampainya dirumah sang Ibu, Ia melihat jika kedua adiknya masih tertidur dan belum juga bangun. Dengan perasaan kesal Ia membangunkan keduanya.
"Adi, Yudi.. Bangun kalian..!! Apa-apaan sih, sudah siang bemum juga bangun, gak tau apa ini sudah jam berapa?!" hardik Bima kepada kedua adiknya.
Adi segera tersentak dan ngacir ke kamar mandi, sedangkan Yudi tampak ogah-ogahan, lalu beranjak dan mencuci mukanya lalu memakai pakaian kerjanya.
__ADS_1
Setela bersiap dan menggunakan perlengkapan safety seperti helm dan sepatu saftey, mereka akhirnya berangkat untuk bekerja.
Sesampainya disana, mereka mengeluh karena belum sempat sarapan dan akhirnya Bima membawa kedua adiknya ke kantin Mbak Raini dan memesan sarapan untuk mereka bertiga beserta rokoknya.
Setelah selesai sarapan, lalu Bima beranjak pergi dan Mbak Raini menahannya, lalu memperlihatkan nota bon yang sudah menumpuk dan Mbak Raini ingin pelunasannya segera.
"Ini bagaimana, Mas? Hutang makan dan juga hutang rokok Mas Bima sudah sangat banyak, saya butuh putaran modal" ucap Mbak Raini meminta kepastian dari Bima.
"Sabarlah, Mbak.. Ntat proyek saya selesai akan saya bayar, takut banget sih gak dibayar" ucap Bima sembari berlalu pergi.
Mbak Raini menatapnya dengan pandangan kesal dan Ia merasa jika Bima hanya beralasan saja, dan Ia juga bingung jika Bima memesan makanan dan rokok, Ia tidak bisa menolaknya.
Bima menuju lokasi kerjanya, saat Ia akan menuju plant 4, Ia harus melewati plant 2 tempat Rendy mendapatkan proyek, Ia melihat jika yang sedang dikerjakan oleh Rendy nilaiannya lebih besar dibanding miliknya, namun Ia tak bisa menolak keputusan perusahaan, dan Ia terus menuju plant 4 tempat Ia mendapat proyek dan ingin mengawasi pekerjaannya.
Sepuluh orang pekerja sedang mengambil material dan melakukan pengukuran alat elevator yang akan mereka ganti, Bima berjalan layaknya seorang bos yang akan memantau pekerjanya, dan begitu juga kedua adiknya.
Berbalik dengan Bima, Rendy ikut turun tangan mengerjakan proyeknya, baik itu pengukuran ataupun pengerjaan, sebab Rendy memiliki kemampuan dibidang teknik tersebut, sehingga menekan biaya pengeluaran. Bahkan Rendy hanya membutuhkan 6 orang pekerja saja yang mana memiliki keahlian dibidangnya masing-masing.
Sementara itu, Ningrum sedang bertemu dengan Yamink yang membawa berbagai bahan kosmetik dan alat kecantikan yang mana perusahaan mereka sedang mengadakan promo besar-besaran..
Ningrum meraihnya, lalu memeriksa tanggal kadaluarsanya, dan memastikan masih lama lagi.
"Sekalian obat rebonding dan smoothingnya, Kang" ucap Ningrum, lalu memilah berbagai barang kecantikan yang dibawa oleh sahabatnya.
Tak lama Andini datang dengan satu porsi cimol ditangannya. "Eh.. Kang Yamink.. Pengantin baru udah kerja saja" ledek Andini yang mengkunyah camilannya.
Yamink melirik ke arah Andini yang duduk disebelahnya. "Pengantin baru juga butuh biaya hidup, lho Ndin.." jawab Yamink yang mencomot cimol milik Andini.
"Ini lagi promo, ya Kang?" tanya Andini, sembari meraih satu kotak lipstik yang liquid dan juga make up yang tampak berserakan dilantai.
"Iya, Mbak.. Ambillah, Mbak.. Namanya juga pengantin baru harus rajin dandan biar disayang suami. Ingat lho, Mbak.. Diluar sana suami melihat banyak wanita yang lebih glowing" Ucap Yamink dengan taktik marketingnya.
__ADS_1
Andini mencibirkan bibirnya "Laki-laki itu kalau pada dasarnya doyan selingkuh ya sekingkuh jiga mau istrinya secantik dan seglowing apapun" jawab Andini dengan sekenanya.
Seketika Ningrum terdiam. Dalam hati Ia membenarkan ucapan Andini. Sebab jika dilihat dari fisik, Ia termasuk wanita yang menjaga penampilan dan selalu tampil fashion bahkan setiap hari selalu wangi, namun mantan suaminya Riffky berpaling darinya dan memilih janda beranak tiga lalu menikahi sang janda dan meninggalkannya.
"Ya sudah.. Aku ambil lipstik ini satu, sama lulur yang ini ya, Kang. Berapa totalnya?" tanya Andini kepada Yamink.
"Seratus ribu saja, Ndin" ucap Yamink kepada Andini.
Lalu Andini mengambil dompetnya, dan uang didompetnya hanya tinggal 90 ribu saja, sebab Ia sudah beli cimol 10 ribu.
"Uangku kurang 10 ribu kang, besok ku bayar, Ya" ucap Andini menyerahkan uang 90 ribu kepada Yamink.
"Iya, deh.. Ndin" jawab Yamink, lalu mengambil uang tersebut.
"Ntar yang 10 ribunya masukin ke total belanjaanku saja, Kang." jawab Ningrum cepat.
Andini langsung nyengir mendengar jika kekurangan uangnya dibayarin oleh Ningrum.
Yamink langsung menghitung jumlah barang yang diambil oleh dengan mencatatnya ke nota bon penjualan dan memberikannya kepada Ningrum.
"Ini, Mbak.. 2 juta tujuh ratus" ucap Yamink, sembari menyerahkan nota bon penjualan itu kepada Ningrum dan dengan cepat meneliti semua barang dan jumlah uang yang tertera.
Ningrum meraih dompetnya, lalu menyerahkan sejumlah uang itu kepada Yamink.
Andini melirik jam di phonselnya dan melihat jika waktu istirahatnya sudah berakhir.
"Mbak, Kang.. Aku duluan, ya. Jam istirahatku sudah berakhir dari kantor" ucap Andini yang akan menuju kantor cabang per bank-kan tempatnya bekerja yang tak jauh dari tempat Salon Ningrum.
"Mbak Andin" cegah Yamink, saat Andini akan beranjak pergi.
"Ya, Kang.. Ada yang bisa saya banting.. Eh, maksudnya ada yang bisa saya bantu?" ralat Andini sembari nyengir.
__ADS_1
Yamink mendenguskan nafasnya "Ntar kirimkan brosur dana subsidi pinjaman bank ke WA ya" ucap Yamink kepada Andini.
Andini menganggukkan kepala, lalu mengacungkan dua jempolnya "Aman, tu" lalu beranjak pergi meninggalkan keduanya.