SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-150


__ADS_3

Bima dan Rendy tampak diam dan membisu sepanjang perjalanan. Tampaknya mereka sibuk dengan fikirianya masing-masing. Bima sedari tadi melihat kearah luar melalui jendela kaca mobil, ia tidak berani menatap Rendy, rasa sungkan dan juga gengsi menjadi satu dalam dirinya.


Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai disimpang rumah kontrakan Bima. Rendy menepikan mobilnya, lalu Bima turun, dan tidak ingin menoleh ke arah Pria yang sudah memberikannya tumpangan.


"Terimakasih!" ucapnya, dan dengan cepat menutup pintu mobil, sebelum sempat Rendy membalasnya.


Ia berjalan tergesah-gesah dan tidak lagi menoleh kearah belakang.


Rendy tersenyum tipis, menanggapi prilaku Bima yang sudah dikenal dengan gengsi tinggi


Tanpa disadari. Nora yang baru saja pulang dari mini market, melihat Bima turun dari mobil berwarna hitam dengan cat yang masih mengkilap. Setelah memperhatikannya, ternyata itu mobil yang sama dengan yang diunggah oleh Andini. Ia mengerutkan keningnya, sebab penasaran, mengapa Bima menumpang? Kemana mobil mereka?


Rendy sudah mengemudikan mobilnya, menjauh dari simpang tersebut, kemudian menghilang ditengah jalan yang semakin meremang.


Nora bergegas mengendarai motornya. Ia seolah tak sabar untuk menanyai Bima dengan segala pertanyaan yang sudah tersimpan didalam benaknya.

__ADS_1


Bima tiba diteras rumah. Ia melihat pintu rumqh terkunci. "Kamana Nora pergi, dalam kondisi senja," Bima berguman kesal. Ia sudah lelah dan frustasi, namun saat tiba dirumah, justru pintu terkuci.


Bima menghempaskan bokongnya dikursi teras rumah kontrakannya. Ia menyandarkan kepalanya, sembari memejamkan kedua matanya-tampak kalut.


Ia masih mengingat betapa empuknya jok mobil milik Rendy. Mobil yang dibelinya karena dua proyeknya sudah cair, sehingga membuatnya membeli mobil itu secara cash.


Sedangkan Bima, proyeknya masih saja terbengkalai dan jikapun selesai, maka hanya akan untuk menutupi hutang-hutangnya.


Setelah beberapa saat, tampak lampu sepeda motor matic yang digunakan oleh Nora semakin mendekat dan kini tiba didepan rumah.


Bima mendengus kesal, namun tampaknya, Nora lrbih kesal dari dirinya karena ia memergoki Bima menumpang dengan Rendy.


"Kamu kemana saja? Sedari tadi abang hubungi tetapi tidak juga aktif, sampai menumpang dengan Rendy!" Bima balik sengit, dan pertengkaran mewarnai senja hari mereka.


"Aku yang duluan bertanya, mengapa abang balik tanya? Kamu bertanya-tanya!" sergah Nora tak mau kalah.

__ADS_1


Para tetangga sampai merasa terganggu, sebab mereka sedang shalat maghrib sedangkan keduanya justru ribut tanpa mengindahkan kondisi yang ada.


Reza hanya menatap pada keduanya yang setiap saat selalu bertengkar.


"Bunda... Bukain pintunya, Reza mau masuk!" pinta anak berusia 9 tahun itu. Ia sudah bosan melihat keributan kedua orangtuanya, sehingga ia tak pernah merasakan kedamaian.


Nora masih dengan ekspresi marah, membuka pintu yang terkunci, lalu Reza kecil nyelonong masuk, karena nyamuk juga mulai menyerang sebab waktu semakin gelap.


Bima yang sudah sangat lelah, kini harus menerima cecaran pertanyaan dari Nora yang semakin membuat kepalanya pusing.


Begitu melihat Bima sudah memasuki rumah, Nora segera menutup pintu. Ia belum pu-as untuk mendapatkan jawban tersebut.


Nora memutar tubuhnya, ia menatap pada Bima dengan tatapan tajam.


"Katakan yang sebenarnya, dimana mobil?!" tanya Nora penuh penekanan.

__ADS_1


Bima mendengus kesal. Ia sudah sangat pusing dan tidak ingin mendengar omelan Nora.


"Dibengkel!" jawabnya cepat.


__ADS_2