
Setelah Bima pergi dari ruangannya, Ningrum terhenyak dalam keheningan. Semakin lama sikap Bima yang memperlihatkan karakter buruknya terlihat jelas.
Bagaimanapun Riffky saat marah, tidka pernah membanting atau merusak barang, namu Bima dengan sangat mudahnya merusak barang yang Ia beli dengan hasil jerih payahnya.
Akhirnya air mata itu tumpah setelah Ia berada diruang itu sendiri. Air mata yang tak lagi dapat Ia tahan.
Tanpa sengaja Yamink datang membawa semua pesanan dari Ningrum, Ia melihat sahabatnya menangis dalam kesedihan dengan sesenggukkan.
Yamink berdiri terpaku, menatap sang sahabat yang bahkan tak menyadari kehadirannya.
Yamink meletakkan tas kopernya dan berjalan perlahan mendekati Ningrum yang masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Melihat kehadiran Yamink, Ningrum tersentak karena kaget, lalu menatap sahabatnya dengan tatapan nanar dan beranjak bangkit, lalu memeluk sahabatnya, menumpahkan segala tangisnya yang selama ini Ia coba pendam.
Yamink hanya terdiam, membiarkan hati wanita yang rapuh itu meluapkan segalanya.
Isak tangisnya terdengar pilu, menyayat hati dan menggambarkan luka hatinya yang begitu dalam.
Sementara itu Bima kembali memutar arah mobilnya, lalu menuju rumah Ningrum. Ia berniat mengambil surat BPKB mobil tersebut dan menggadaikannya untuk mendapatkan uang dan mengurus semua keperluan proyeknya.
"Kenapa Kita balik lagi, Bang?" tanya Ady penasaran.
"Dkam sajalah kamu, gak usah banyak tanya" jawab Bima yang saat ini sangat kesal. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Setelah sampai di rumah Ningrum, Ia menapaki anak tangga dan menuju ke lantai dua kamarnya, lalu mulai mencari surat BPKB mobil yang akan Ia gadaikan.
Setelah berusaha mengacak isi lemari, akhirnya Ia mendapatkannya dan pergi secepatnya.
Bima kembali menyetir dan menuju lokasi proyek. Sesampainya dilokasi proyek, Bima menitahkan kepad Ady dna juga Yidi agar segera mengerjakan pekerjaannya, dan Ia akan keluar sebentar untuk mengurus keperluannya.
Saat melintasi plant dua tempat proyek Rendy, tampak pekerja Rendy yang saat semalam menawarkan 5 orang pekerja kepada Bima. Ia menghampirinya dan mempertanyakan berkas-berkasnya.
__ADS_1
""Hei.. Kang.. Yang mau ikut kerja semalam ada gak berkasnya? Biar saya urus sekarang" ucap Bima dengan tak sabar.
Pekerja itu tersentak kaget karena kehadiran Bima yang tiba-tiba saja mengagetkannya.
"Eh, Pak Bima, ngagetin saja. Iya, ini ada berkasnya.." jawabnya, lalu beranjak menuju tas bekalnya yang lusuh dan mengeluarkan kantong kresek tempat beberpa berkas yng dibutuhkan dan menyerahkannya kepada Bima.
Rendy memperhatikan dari tempatnya sedang bekerja, Ia hanya mendenguskan nafasnya yang terasa berat, dan berusaha tidak begitu menggubrisnya.
Bima meraih kantong kresek itu, dan setelah memeriksa kelengkapannya, Ia beranjak ke ruang CEO untuk memberikan semua keperluannya dan mengurus semua surat ijin masuk perusahaan sebagai kontraktor proyek.
Setelah selesai, Bima kini merasakan mulutnya sangat masam karena belum merokok , dan Ia menuju kantin mbak Raini untuk mengutang rokok.
Sesampainya dikantkn, Ia melihat Mbak Raini tidak ada, tetapi pekayannya yang sangat aduhai itu sedang melayani pelanggan yang sedang sarapan karena ini jam sarapan.
"Heei.. cantik.. " ucap Bima dengan nada semanis mungkin dan menatap kedua bola mata pelayan itu yang membuat sang pelayan merasa bawa perasaan.
"Ih.. Pak Bima.. Ada apa sih, Pak..?" tanya pelayan tersebut dengan senyum yang begitu genitnya.
"Bawakan saya rokok satu bungkus, tulis di nora bon, ya.." ucap Bima kepada pelayan tersebut.
Bima tersenyum senang, lalu tanpa terlihat sesiapapun, Ia mere- mas bokong pelayan itu dengan cepat.
"Makasih ya, Cantik.. Kapan-kapan kalau kamu butuh kehangatan tinggal bilang saja" bisik Bima dengan nada nakalnya, lalu pergi melenggang begitu saja, sedangkan Mbak Raini masih berada dikamar mandi karena perutnya mulas pagi ini dan si pelayan tidak memasukkannya dalam nota bon, namun mengambilnya begitu saja.
Bima menuju lokasi parkir dan memasuki mobilnya. Ia menyesap racun nikotin tersebut denvan sangat dalam dan menghabiskan sebatang rokok itu dalam sekejab saja.
Bima akan menuju sebuah koperasi simpan pinjam dan akan menggadaikan buku BPKB mobil milik Ningrum yang saat ini sedang dikendarainya. Ia meminjam pada koperasi dengan bunga berjalan yang sangat mencekik leher.
Ia harus mendapatkan uang itu secepatnya karena batas waktu proyek yang ditentukan akan segera habis masa tanggangnya dan diberi penangguhan hingga batas seminggu saja dsri jadwal waktu pengerjaan.
Bima memasuki kantor koperasi simpan pinjam milik seseorang yang terkenal dengan sistem bunga berjalannya, namun Ia tidak perduli, karena baginya saat ini Ia harus mendapatkan uang untuk keperluannya.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya seorang pekerja koperasi tersebut.
"Saya mau mebggadaikan buku BPKB mob" jawab Bima cepat, sembari memberikan buku BPKB yang dibawanya dan duduk dimursi kosong didedan meja kerja seorang wanita yang berada didepannya.
Bima menatap lekat mata wanita itu, dan terus membacakan mantra pengasihnya agar si wanitu itu menyetujui semua apa yang diinginkannya.
Dan benar saja, Sang wanita dengan cepat memproses pencairan dana yang akan diajukan eh Bima.
"Berapa dana yang bapak butuhkan?" tanya pekerja itu dengan cepat.
"100 juta saja" jawab Bima cepat.
Pekerja adiministrasi itu mengerutkan keningnya "limit yang bapak miliki untuk pinjaman pertama hanya 10 juta saja, Pak.. Karena ini peminjaman bapak yang pertama di koperasi kami, Apakah bapak bersedia atau bagaimana?" tanya wanita itu cepat.
Bima menggaruk kepalanya yang tak gatal, dan tak memiliki pilihan lain.
"Baiklah.. Yang penting cepat segera prosws pencairannya" jawab Bima yang tak lagi dapat berfikir.
"Baik, Pak.. Akan segera saya proses.." jawab Pekerja wanita itu cepat, lalu memproses pencairannya dan dalam sekejab saja sudah memperoleh ijinnya dan pencairan telah dilakukan.
Pihak administrasi itu dengan membawa buku BPKB mobil Ningrum kepada atasannya dan meminta tanda tangan pencairan.
Setelah menunggu beberapa saat, Pekerja itu datang dengan membawa satu amplop berwarnabcoklat berisi uang tunai 10 juta rupiah.
Pekerja itu meminta tanda tangan diatas materai kepada Bima sebagai sayarat terakhir pencairan dan Bima dengan sangat cepat membubuhkannya tanpa ragu.
Setelah proses itu selesai, Bima menerima uang tersebut dan segera beranjak pergi.
Bima mengendarai mobilnya sembari tersenyum tidak jelas.
Dan tak berselang lama, Ia mendapat notif pesan teks WA dari nomor yang tidak dikenalnya.
__ADS_1
Setelah membacanya, ternyata dari pelayan kantin Mbak Raini yang merupakan janda muda itu.
Ia mengirmkan pesan teks jika saat ini Ia sedang menunggu di toilet umum perusahaan dan siap untuk meminta Bima melahabnya karena sudah berbulan-bulan tidak pernah disentuh pria, dan saat ini rasanya Ia sangat gatal sekali dan menginginkan seseorang untuk menggaruknya.