
Nora mencoba menggerakkan kakinya, namun terasa sangat sakit dan Ia meringis karena urat tubuhnya terasa kaku.
Lalu dengan bersusah payah Ia meraih phonselnya dan menghubungi tukang urut. Beberapa luka lecet dibagian tubuhnya terasa sangat menyiksanya.
Nora meringis kesakitan, karena setiap Ia bergerak, rasanya bagaikan seperti dipukuli.
Sementara itu, Bima menuju lokasi proyeknya. Ia harus mencari donatur untuk menjadi pendana proyeknya. Saat bersama Ningrum, Ia dengan mudah mendapatkan uang, namun saat sekarang, Ia harus memutar otaknya mencari seseorang yang dapat mendanainya.
Bima mencoba mengingat nama siapa saja yang dapat Ia jadikan sebagai pemodalnya, sebab Ia saat ini sudah kehabisan modal dan proyeknya terus berjalan, sebab nantinya untuk membayar pekerja mingguannya harus ada.
Selain itu, Ia harus membeli gas elpiji, oksigen, dan juga kawat las. Semua itu memerlukan dana yang ditanggungnya sampai proyeknya dapat dicairkan.
Sementara itu, Ia juga harus mengisi bahan bakar untuk motornya berangkat setiap harinya ke proyek, rokok, sewa rumah, dan juga kebutuhan lainnya.
Bima duduk tempat istirahat yang disediakan oleh perusahaan. Ia mengamati setiap orang yang berlalu lalang dari hadapannya.
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Dari kejauhan tampak sebuah mobil mewah sedang melintas dan menuju ke arahnya. Bima mengetahui siapa pemilik mobil tersebut, dan tentunya itu adalah salah satu dari kontraktor yang juga bermain proyek diperusahaan ini.
orang tersebut merupakan pemain proyek yang sukses dan memiliki sumber kekayaan yang cukup berlimpah.
Dengan cepat Ia merafalkan mantranya dan menyebut nama orang tersebut.
Setelah mobil mendekat, Bima beranjak dari tempat duduknya dan menghentikan mobil tersebut.
Lalu pemilik mobil itu menghentikan mobilnya dan membuka kaca pintu mobil "Ada apa, Bim?" ucapnya mencoba bertanya.
"Emm.. Bisa ngobrol sebentar, Bos?" ucap Bima mencoba memanggil kata Bos kepada sesama rekan proyeknya karena ada sesuatu yang diinginkannya dari orang tersebut.
__ADS_1
Pria itu menghela nafasnya "Nanti malam saja, Ya.. Aku tunggu dirumah. Datanglah sekitar puku 8 malam, saat ini aku sedang sibuk" ucap Pria tersebut dengan datar
"Baiklah.. Aku akan datang malam nanti, sebab ini sangat penting"ucap Bima.
Pria itu menganggukkan kepalanya, lalu menaikkan kaca mobil dan mengemudikan mobilnya.
Bima bersorak riang karena akan menemukan mangsa baru yang akan dijadiaknnya sebagai tempat untuk menggerogoti harta seseorang.
Setelah kepergian Pria yang tak lain adalah Anton, kemudian Bima beranjak melihat proyeknya. Ady tak lagi beekrja dengannya setelah gajinya untuk bulan yang lalu tak Ia bayar, dan Yudi juga sudah tak lagi ikut dengannya sebab Nora tidak mengijinkan kedua adik lelakinya apalagi keluarga Bima untuk tinggal bersama mereka dengan alasan jika kehidupan Bima dan Nora masih mengontrak.
Sesampainya diproyek, Ia mendapati tak satupun pekerjanya yang datang, dan hal ini membuatnya sakit kepala. Lalu Ia memutuskan untuk kembali pulang dan akan menuju ke rumah pamannya untuk meminta bantuan agar mendapatkan pekerja yang nantinya dapat dikendalikannya dan mematuhinya.
Bima melintasi proyek Rendy di plant-2 tampak tak ada kegiatan dilantai dasar, sebab Rendy melakukam fabrikasi di lantai delapan, sehingga lantai dasar tampak lengang.
Bima menuju parkiran dan tanpa sengaja berpapasan dengan Gibran, namun Ia tak ingin mencari masalah dengan pria itu, sebab pekerjaannya berurusan dengan Gibran.
Bima berpura-pura tak melihat pria dan Ia mengeluarkan motor bebeknya dari parkiran.
"Eh.. Kang Bima! Koq turun gaya? Biasanya naik mobil, ini cuma naik motor bebek butut doank? Kemana mobilnya? Tukar istri tukar turun level, Ya?" ucap Mbak Raini dengan nada sinis.
"Eh.. Mbak! Punya mulut itu di rem, Ya.. jangan urusin kehidupan saya, urusin saja hidup, mbak-nya" jawab Bima jengkel.
Mbak Raini tersenyum geli "Hellleh.. Banyak gaya, tapi kerjanya midal ngutang, gak usah sok ceramahin saya, deh! kalau ternyata istri barumu si Norak itu dulunya suka mencuri rokok dikantin saya hanya demi buat service kamu setiap hari" balas mbak Raini, lalu melenggang pergi meninggalkan Bima yang tampak kesal.
Bima mendengus kesal, lalu Ia meninggalkan parkiran dan menuju tempat pamannya.
Disisi lain. Sumi Ibunya Bima merasa kesal dengan keberadaan Yudi dirumah yang kerjanya hanya malas-malasan saja. Sedangkan Ady bekerja diluar kota karena tidak ingin membebani orang tuanya.
__ADS_1
kekesalan Sumi semakin memuncak saat Yudi ketahuan mencuri uang belanja untuk membeli kebutuhan bahan pokoknya. Sumi mengomel dan selalu bertengkar dengan Yudi.
Setelah gak lagi memiliki sepeser uangpun, Sumi mendatangi rumah istri baru Bima. Ia datang untuk meminta bantuan uang belanja.
Meskipun jarak rumahnya dengan kediaman Bima sedikit jauh, namun Sumi terpaksa malakukannya.
Sesampainya didepan rumah kontrakan Bima, Sumi melihat rumah sangat sepi. Namun Ia mencoba mengetuknya, sebab Ia tahu jika Nora ada didalam rumah karena sudah dipecat oleh Mbak Raini karena ketahuan mencuri rokok selama ini.
Tok..tok..tok..
"Nor.. Nora.." ucap Sumi memanggil menantu barunya itu.
Setelah lama tak mendapat sahutan, Sumi membuka pintu rumah, dan tampak Nora sedang rebahan di sofa sembari bermain phonsel.
"Ya, Salam.. Ternyata kamu ada didalam rumah, tapi Ibu memanggil kamu gak sahutin" ucap Sumi dengan nada kesal.
"Bu.. Kalau bertamu itu pakai etika, dong..! Kalau tuan rumah tidak menyahuti itu tandanya tuan rumah lagi tidak ingin menerima tamu, dan Tamu seharusnya sadar diri dan pulang, ini main nyelonong saja masuk kerumah!" balas Nora dengan nada lebih tinggi.
Sumi terperangah mendengar jawaban dari Nora yang tak pernah diduganya sama sekali.
"Mengapa seperti itu jawabanmu? Aku ini Ibunya Bima, ibu mertuamu!" Ucap Sumi dengan nada jengkel.
Lalu Nora menatap tajam pada Sumi, nakun masih dalam posisi rebahan sebab Ia baru saja selesai urut karena terkilir saat terkena begal malam tadi.
"Terus? Kalau Ibu adalah mertuaku seenaknya mau berbuat apapun dirumahku? apakah Ibu gak tau jika aku dan Bima malam tadi begal?! Dan luka ditubuhku masih terasa sakit, dan aku tau jika kedatangan Ibu kemari untuk meminta uang, Iya kan?!" ucap Nora dengan cepat.
Sumi sebenarnya terkejut mendengar pengakuan Nora jika mereka baru saja terkena musibah. Namun Ia sangat membutuhkan uang tersebut, dan ternyata ucapan Nora sangat tajam menusuk hatinya.
__ADS_1
Sumi beranjak pergi meninggalkan rumah kontrakan Bima dengan perasaan kesal dan Ia tidak menduga jika menantu barunya sangatlah berbeda dengan Ningrum yang dapat dengan mudahnya mengulurkan uang kapanpun Ia membutuhkan.
Namun Nora, jangankan seperti Ningrum yang mengeluarkan uang hingga puluhan juta, seribu rupiahpun Nora tak ingin mengeluarkannya.