
"Ma.. Bangun, Ma..!!"
Luccy mengguncang tubuh Ningrum dengan sedikit kencang. "Ma, bangun... Kita shalat subuh, sudah adzan," ucap Luccy, mencoba membangunkan wanita yang kini menjadi ibu pengganti.
Ningrum mengerjapkan kedua matanya. Ia melihat Luccy sudah mengenakan mukena dan bersiap untuk shalat berjamaah bersamaah.
Wanita itu tersentak, kemudian bangkit dari tidurnya. "Jam berapa, Sayang?" tanya Ningrum dengan parau, sebab ia masih sangat mengantuk.
Masih ada waktu untuk shalat subuh, Ma!" jawab Luccy. Kemudian ia mencoba menepuk lembut pipi Ningrum , dan membuat wanita itu kembali membuka matanya.
Ningrum menghela nafasnya. Kemudian ia beranjak bangkit dari tidurnya dan menuju kamar mandi.
Ia membersihkan dirinya, dan ia tersentak saat melihat dirinya sedang datang tamu bulanan, yang mana artinya ia tidak dapat shalat untuk waktu seminggu ini.
Ningrum keluar dari kamar mandi, dan melihat Luccy sudah duduk diatas sajadah yang ia bentangkan dan satu untuknya.
Ningrum menghela nafasnya. Ia harus mencari alasan untuk membuat gadis kecil itu mengerti. Ia berjalan menghampiri Luccy yang sedang menatapnya.
"Sayang.. Kamu shalat sendirian, Ya.. Mama lagi libur, sebab mama lagi sedang libur yang dapat langsung dari Rabb," ucap Ningrum.
Luccy terdiam, ia merasa bingung dengan apa yang diucapkan oleh Wanita yang menjadi ibu pengganti.
"Kamu shalat saja, dulu, sebab waktunya akan habis, nanti mama jelaskan!" Ningrum mencoba memberi pengertian kepada Luccy.
Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya, pertanda ia mematuhi apa yang diucapkan oleh Ningrum.
Luccy shalat sendirian. Saat seperti inj, ia teringat akan Almarhum Papanya yang tidak pernah libur dalam shalatnya. Mungkin ia masih terlalu dini untuk memahami apa itu baligh.
Setelah selesai akan shalatnya, ia melupakan tentang libur shalatnya Ningrum. Kuccy menghampiri mamanya yang tampak mempersiapkan peralatan make up, sepertinya wanita itu mendapatkan job untuk sebuah acara resepsi.
"Mama sedang apa?" tanya Luccy.
"Mama ada dapat job untuk merias pengantin dikota sebelah. Karena jaraknya lumayan jauh, kurang lebih 2 jam perjalanan, maka kamu boleh ikut, sebab ini hari libur!" ungkap Ningrum.
"Beneran boleh ikut, Ma?" ucap Luccy senang. Sebenarnya ia bisa saja tinggal disalon bersama Sary dan karyawan lainnya, akan tetapi ia lebih senang jika ikut dengan Ningrum, sebabhanya wanita itu yang membuatnya merasa tenang.
"Luccy boleh bawa pakaian ganti, Ma?" tanya gadis kecil itu sekali lagi.
Ningrum menganggukkan kepalanya, sembari terus membenahi semua peralatan tempurnya.
Mereka harus segera berangkat agar tidak kesiangan sampai ditempat tuan rumah.
Ningrum mengemasi barang-barangnya dan membawanya turun ke lantai dasar. Luccy mencoba membantu dengan membawa peralatan yang sangat mudah dibawanya.
Ningrum mengemudikan mobilnya. Jalanan masih sangat sepi saat mereka berjuang dijalanan aspal dan ini akan menjadi awal bagi Luccy untuk merasakan bagaimana perjuangan sang mama untuk mendapatkan pundi-pundi uangnya.
Keduanya bercanda selama perjalanan, dan ternyata Ningrum memiliki teman dalam perjalanannya mencari nafkah.
Sesampainya di lokasi diadakannya acara resepsi, mereka disambut dengan begitu suka cita, sebab penata rias adalah pemeran utama dalam mempercantik sang pengantin.
Luccy mulai membiasakan dirinya untuk membantu sang mama. Ia membawakan peralatan itu ke dalam kamar pengantin.
Ningrum membuka koper alat-alat make up, kemudian memulai pekerjaannya.
Perlahan Luccy mulai mempelajari nama alat yang digunakan oleh Ningrum dan melihat berbagai jenis kosmetik dan tahapan yang harus dilalaui untuk membuat seseorang yang di make up berubah menjadi cantik.
Terkadang Luccy menanyakan berbagai alata yang membuatnya merasa penasaran, dan dengan kesabaran Ningrum menjelaskan nama alat atau kosmetik serta keguanaannya.
__ADS_1
Perlahan Luccy menyerap senua apapun yang dijelaskan oleh Ningrum, dan wanita itu tampaknya sangat senang jika Luccy tampak berminat dengan pekerjaan yang dilakoninya.
Pukul 10 malam, mereka akhirnya menempuh pulang sebab Luccy akan bersekolah esok harinya.
Saat dalam perjalanan, Luccy sudah tertidur karena waktu sudah larut malam.
Saat memasuki kota dan dipertengahan jalan. Tiba-tiba ban mobil mengalami pecah ban. Meskipun suasana masih ramai, Ningrum tampak sedikit takut jika ada rampok yang tiba-tiba saja datang.
Saat Ningrum dalam kondisi kebingungan, tampak dikejauhan sebuah mobil memperlambat lajunya dan menepi didepan mobilnya.
Seorang pria turun dari dalam mobil. Ningrum menghela nafasbya saat tahu siapa yang turun dari dalam mobil itu.
Pria yangbtak lain adalah Bima berjalan menghampirinya dengan berkacak pinggang dan menatapnya dengan sinis.
"Apa yang Kau lakukan dipinggir jalan dan ditengah malam seperti ini? Apakah dengan kematian suami barumu, kamu merasa kesepian dan ingin menjual apemmu? Tapi sangat sayang sekali, aku tidak berminat dengan apemmu! Mungkin saja ada pria tua yang berminat padamu!" cibir Bima dengan sangat tajam.
Seketika Ningrum merasa sangat panas mendengar ucapan Bima. Meskipun ia wanita kesepian, pantang baginya memberikan apemnya kepada pria hanya deni kesenangan sesaat, kecuali saat itu ia terjebak oleh Pria brengsek tersebut karena pengaruh ilmu pengasihnya.
Ningrum tak ingin meladeni pria tersebut. Meskipun Bima pernah singgah didalam hidupnya, akan tetapi pria itu adalah benar-benar mimpi buruk baginya.
"Pergilah, Kau..!! Aku lagi tidak ingin berdebat denganmu!" jawab Ningrum, mencoba tidak terpancing dengan segala ucapan Bima.
Pria itu tertawa merendahkan. Tatapannya seolah mencibir Ningrum. Kemudian ia beranjak dari hadapan wanita itu. Tetapi ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Ningrum yang menatapnya dengan kesal.
"Oh, Iya.. Kalau nanti dagangan apemmu tidak laku, maka kau bisa menghubungiku.. Mungkin aku bisa membelinya dengan harga lima ribu rupiah!" ucap Bima sebelum ia benar-benar pergi, lalu menaiki mobilnya dan melaju dengan kencang.
Hati Ningrum bagaikan tertusuk duri tajam. Sungguh perih hinaan bagi dirinya yang dilontarkan oleh pria yang tidak memiliki hati nurani.
Setelah Bima pergi dari hadapannya, Ningrum melihat kanan dan kiri, terkadang ia menoleh ke arah belakang, berharap ada yang dapat membantunya.
Tak berselang lama, motor itu menepi, dan ternyata itu adalah Rendy. Ningrum menarik nafas lega.
"Ada apa, Mbak?" tanya Rendy dengan penasaran.
"Tolongin Mbak, Ren.. Ban mobil bagian belakang pecah!" jawab Ningrum.
Rendy mencoba mengecek kebenarannya. Kemudian ia menelefon sebuah bengkel langganannya dan meminta membawa mobil derek.
"Tenang saja, mbak.. bentar lagi mobil dereknya datang. Emangnya Mbak darimana malam-malam?" tanya Rendy penasaran.
"Dari kota sebelah, merias pengantin, kemalaman pulangnya!" jawab Ningrum.
"Oh.. Kalau sering pulang malam hati-hati, Mbak. Apalagi perempuan, banyak tindak kejahatan. Jangan lupa selalu membawa botol spray berisi parfum atau bubuk merica yang dicampur air, simpan didalam tas sebagai senjata jika ada yang berniat jahat, maka semprotkan ke wajahnya.!" ucap Rendy menyarankan.
Ningrum menganggukkan kepalanya. Ada benarnya saran yang diucapkan oleh Rendy, apa salahnya untuk mencoba.
"Kamu darimana malam-malam begini?"
"Heeem.. Biasalah, Mbak.. Andini lagi ngidam ayam geprek, jadi harus keturutan. Tadi sudah mencari keliling kota, dan nemunya diujung simpang sana!" jawab Rendy yang tampak menenteng satu porsi ayam geprek.
Ningrum tersenyum mendengar ucapan Rendy. Lagian Andini tidak ngidam juga emang doyan ngemil, apalagi ngidam, penyakit ngemilnya pasti double.
Tak berselang lama, tampak mobil derek datang menghampiri mobil Ningrum..kemudian mobil itu diderek menuju bengkel, dan Rendy terus membuntutinya dari arah belakang, ia ingin memastikan sahabat istrinya itu aman sampai ke bengkel.
Melihat malam yang semakin larut, Rendy tidak mungkin membiarkan Ningrum dibengkel bersama beberpa pria, ia mencoba menemaninya.
Ningrum memangku Luccy yang sedang tertidur. Sebab tidak mungkin ia terkurung didalam mobil.
__ADS_1
Rendy memandang Luccy yang terlelap dalam pangkuan Ningrum. Rendy tidak dapat membayangkan bagaimana nasib gadis kecil itu jika saja tidak bertemu dengan wanita itu.
Rendy sangat kenal dengan Gibran. Seorang pria yang begitu baik dan juga setia, namun siapa sangaka jika ia harus pergi secepat itu.
Setelah beberapa saat kemudian, semua selesai dengan sempurnah. Sebenarnya Ningrum sangat segan ditemani oleh Rendy, akan tetapi ia merasa lebih aman jika suami sahabatnya menemaninya dibanding para pekerja bengkel.
"Terimakasih, ya Ren.. Sampaikan salamku untuk Andini!" ucap Ningrum, kemudian berpamitan untuk pulang.
Rendy menganggukkan kepalanya, dan beranjak pulang.
*****
Bima tiba dirumah kontrakannya. Ia memarkirkan mobilnya didepan teras, tidak ada garasi, sebab ia hanya mengontrak rumah.
Ia duduk terdiam didalam mobil. Ia teringat akan pertemuannya dengan Ningrum. Tak dapat dipungkiri, jika mantan istrinya itu tetap cantik seperti awal bertemu. Berbeda dengan Nora yang kini bertambah bobotnya menjadi 80 kg setelah melahirkan.
Bima menghela nafasnya, kemudian turun dari mobilnya. Saat akan memasuki teras rumah, Sebuah panggilan telefon berdering. Satu nama dari ibunya, Sumi.
"Hallo, Bu.. Ada apa tengah malam menelfon?" tanya Bima penasaran.
"Bim.. Cepat ke rumah adikmu Elly, ibu dan Ady sekarang sedang menuju ke sana, ada masalah yang sangat darurat!" ucap Sumi dalam sambungan telefonnya dan segera mematikan pbonselnya.
Bima belum sempat bertanya, namun sepertinya masalah yang dihadapi oleh adik perempuannya sangat berat, sehingga ibunya terlihat panik.
Bima kembali memasuki mobil dan menuju ke arah rumah adik perempuannya.
Nora yang sudah sempat membuka pintu rumah tampak kebingungan mengapa suaminya kembali pergi, dan ini membuatnya sangat kesal dan juga curiga.
Sesampainya dirumah Elly sang adik, tampak wanita itu meringkuk disudut ruangan dengan tubuh memar seperti terkena sabetan tali pinggang. Sedangkan warga tampak banyak yang berkerumun, mereka mencoba melerai pertikaian yang terjadi diantara pasangan suami istri itu.
Tampak Budi begitu emosi dan itu terlihat jelas dari raut wajahnya. Nafasnyanya tersengal menahan gejolak amarah yang bersarang didadanya.
"Ada apa ini?! Mengapa kau melakukan kekerasan dalam rumah tangga?" tanya Bima dengan kesal, sebab ia tidak terima jika Budi menghajar adik perempuannya, tetapi ia lupa, jika pernah melakukan hal itu pada Ningrum.
"Tanyakan pada adik perempuanmu! Apakah ia seorang istri yang murahan sehingga menjual apemnya dengan seharga lima ribu rupiah! Sangat murahan bukan? Apakah nafkah yang ku berikan dengan berjualan ayam geprek tidak membuatnya cukup?!" ucap Budi dengan kesal.
Elly menatapnya dengan tatapan yang sangat kesal. Ia bercinta dengan tetangganya bukan karena kekurangan nafkah, akan tetapi karena rudal milik Budi yang dianggap tidak dapat memuaskannya.
Bima tersentak mendengar ucapan Budi. Bukankah ia baru saja menghina Ningrum? Lalu mengapa hinaannya berbalik ke keluarganya sendiri? Begitu cepatkah karma itu berjalan?
Bima terdiam tak dapat mengatakan apapun. Ia menoleh ke arah Elly yang kini dalam dekapan ibunya.
"Aku menceraikan Elly. Tak sudi bagiku memiliki istri yang sudah dijamah oleh pria lain! Sekarang tinggalkan rumah ini, aku tak sudi melihatmu lagi!" ucap Budi dengan nada sangat kesal. Beberpaa warga mencoba menenangkan pria yang saat ini sedang dikuasai oleh amarah.
"Sabarlah, Budi. Bagaimanapun ia ibu dari anakmu!" Ucap Pak RT yang mencoba menenangkan pria itu.
Akan tetapi Budi sudah tidak lagi menggubris apa yang diucapkan oleh siapapun, ia sudah bulat tekadnya, tidak akan menerima Elly kembali.
"Budi.. Jangan mengambil keputusan dalam kedaan panas, coba tenangkan hatimu!" ucap Bima, mencoba menenangkan adik iparnya tersebut.
Budi menoleh ke arah Bima, kemudian dengan tatapan sinis ia tersenyum mencibir. "Tahu apa kamu tentang sabar? Jika kamu tahu tentang maknanya, maka tidak nungkin kamu akan menikah sampai tiga kali. Mungkin Elly mengikuti jejakmu yang suka bergonta-ganti pasaangan! Dasar kalian sama saja, murahan dan menjijikkan!!"
Bima menatap dengan kesal. Ia melayangkan tinjunya kepada Budi, tubuhnya yang tinggi tegap, tentulah tidak seimbang dengan Budi.
Pria itu ambruk dilantai, kemudia warga melerai dan menyeret Bima agar keluar dari rumah Budi, jika perlu membawa Elly sekaligus, sebab takutnya Budi akan menyiksa Elly kembali jika nantinya tidak ada yang menemani.
Bima mendenguskan nafasnya. Akhirnya ia memilih membawa Elly pulang ke rumah Sumi-ibunya, sebab tidak mungkin ia bawa pulang, karena akan terjadi pertengkaran dengan Nora nantinya.
__ADS_1