
Para pekerja itu pulang dengan senyum sumringah karena membawa hasil dari pejuangan mereka yang tak sia-sia.
Namun sebaliknya, Ningrum harus kembali kehilangan uangnya hari ini.
"Ya.. Rabb.. Apa salahku hingga harus kau uji seperti ini" guman Ningrum lirih sembari memejamkan kedua matanya.
Ia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, Ia masih begitu sangat kacau dengan fikirannya.
"Karena kamu sanggup, makanya Aku uji" jawab Andini sembari mengunya bakso bakarnya yang super ekstra pedas.
Seketika Ningrum membuka matanya dan melirik pada Andini lalu menatap nanar pada langit-langit salonnya.
Andini menghampiri sahabatnya, lalu duduk disisi kiri Ningrum, sembari menyodorkan bakso bakar ekstra pedas dan juga satu cup es boba yang dibawanya.
Ningrum mencomot bakso bakar tersebut dan menyeruput es boba milik Andini tanpa permisi hingga habis setengahnya.
Andini terperangah melihat sahabatnya yang tampak berbeda dar biasanya.
"Laper nih, Mbak?" ucap Andini berkelakar.
"Keluar bentar yuk.. " Ucap Ningrum yang menarik pergelangan Andini tanpa menunggu persetujuan dari sahabatnya itu.
Andini hanya menurut saja tanpa protes. Lalu mereka menju keluar salon dan Ningrum menuju parkiran dan mengemudikan mobilnya menuju sebuah cafe yang tak jauh dari kantor Andini bekerja.
Sesampainya di cafe tersebut, Ningrum memesan smoothies buah naga dengan serutan keju yang melimpah, dan Andini ikut dengan pesanan yang sama.
Lalu dua porsi seblak ekstra pedas menjadi pilihan mereka dan topping ceker bakso.
Ningrum yang sedang galau tampak begitu lahab memakan pesanannya. Andini hanya mengernyitkan keningnya dan tak ingin kalah juga menyantab pesanannya.
"Mbak.. Kamu kenapa sih? Kalau ada masalah itu jangan dipendam sendiri, cobalah berbagi, mungkin bisa mengurangi beban fikiran yang kini sedang melanda".
Andini mencoba membuka pembicaraan, karena sedari tadi mereka hanya diam dan menikmati pesanannnya.
Setelah menghabiskan pesanannnya, Ningrum merasa sedikit baikan, dan memandang Andini yang masih mencoba menghabiskan sisa suapannya.
"Mbak lagi dilema, Ndin" ucap Ningrum yang saat ini mulai terbuka dengan apa yang sedang Ia alami.
__ADS_1
Andini menatap sahabatnya, Ia tampak begitu penasaran dengan apa yang kini dialami oleh sahabatnya.
Andini mencoba menduga apakah Ningrum sahabatnya itu itu sudah mengetahui perselingkuhan Bima, suaminya.
"Ceritakan saja, Mbak.. Aku siap menjadi pendengar untuk semua masalah yang sedang kamu hadapi" ucap Andini mencoba serius kali ini.
Ningrum menghela nafasnya dengan berat, ada beban begitu berat dihatinya yang kini harus Ia pikul.
"Mbak bingung dengan pernikahan ini, apakah kedepannya Mbak sanggup untuk menjalaninya atau harus berhenti ditengah jalan" Ningrum menjeda ucapannya, Ia tampak begitu sedang sangat kacau.
Andini masih terdiam, mencoba menjadi pendengar untuk saat ini.
"Setiap saat ada saja masalah yang selalu datang silih berganti. Ingin mengakhirinya, namun Mbak merasa malu karena baru berapa bulan menikah dan ini akan menaruh image buruk pada Mbak sebagai wanita yang gagal dalam membina rumah tangga, sedangkan Rifky masih baik-baik saja rumah tangganya dan tampak bahagia.
Andini menggenggam jemari tangan sang sahabat, menatapnya dengan penuh makna.
"Jika masih sanggup bertahan, maka bertahanlah, dan jika tidak sanggup, maka lepaskanlah.. Karena yang menjalani hidup yang saat ini adalah Mbak sendiri yang tau bagaimana rasanya" Andini mencoba memberikan sedikit solusinya.
"Tapi Mbak sangat malu jika sampai menyudahinya dipertengahan jalan yang terbilang masih seumuran jagung" ucap Ningrum lirih.
Ningrum menatap Andini dengan sendu. Kini hatinya benar-benar dilema dan tak mampu mengungkapkan lagi apa yang kini sedang terjadi padanya.
Wanita itu menarik nafasnya dengan sangat berat dan menghelanya dengan berat.
Andini merlirik jam diphonselnya dan melihat waktu istirahatnya hampir habis.
"Kita pulang yuk, Mbak.. Jam istirahat hampir habis" ucap Andini mengingatkan.
Ningrum menganggukkan kepalanya, lalu pergi ke kasir dan membayar pesanan mereka.
Sementara itu, Bima memasuki kantin Mbak Raini, dan Ia memesan pesanan makan siangnya. Meskipun kesal, namun Mbak Raini tak dapat menolak apa yang dipesan oleh Bima.
"Mbak.. Nasi soto ayamnya satu porsi, sama rokok sebungkus" teriak Bima.
"Iya.. " jawab Mbak Raini dengan ketus, namun tak dapat menolak permintaan dari seorang Bima.
Menunggu pesanannya datang, Bima membuka aplikasi media sosialnya dan mulai ber chat ria dengan berbagai wanita yang menjadi penggemarnya.
__ADS_1
Untuk mengelabui Ningrum, Bima memiliki 3 akun yang berbeda yang mana dua akun lainnya tidak berteman kepada Ningrum, sehingga wanita itu tidak mengetahui apa yang selalu dilakukan oleh Bima. Bahkan Ningrum bukan type seorang wanita yang suka memeriksa phonsel Bima, Ia begitu terlalu mempercayai Bima dengan segala pesona dan juga problemanya.
Pesanan pun datang, Bima menghentikan chatnya, dan menyantab pesanannya
"kapan rencananya hutang Mas Bima dibayar? Ini sudah sangat banyak, Mas.. Saya butuh perputaran modal" ucap Mbak Raini mencoba menahan emosinya.
Bima menghentikan suapannya "Mbak.. Saya sedang makan ya.. Kalau mau ngomel itu nanti tunggu saya selesai makan dulu kenapa" jawab Bima yang balik ngomel, membuat Mbak Raini meras kesal dan meninggalkan Bima begitu saja.
Namun bukan Bima namanya jika wajahnya sudah seperti tembok yang tidak memiliki rasa malu sedikitpun.
Setelah menyelesaikan makannya, Bima pergi melenggang begitu saja dan membuat rasa geram pada Bima.
"Emang tu orang muka dah tebel banget seperti tembok yang ditempelin kotoran sekalipun gak ada malunya" gerutu Mbak Raini yang sangat kesal.
Bima menyalakan pemantik api dan menyulut rokoknya. Ia berjalan bagaikan seorang pemborong proyek yang sangat besar dan bos yang sangat hebat.
Ia berjalan menuju lokasi proyek dan melihat Ady memakan makan siangnya yang Ia bawa dari rumah. Bahkan air minumpun Ady membawanya dari rumah, sebab waktu pertama kali Ia ke proyek dan dibawa sarapan ke kantin Mbak Raini, dan pemilik kantin itu menagih hutang kepada abangnya, sehingga membuat Ady berfikir tidak menambah beban hutang abangnya dengan membawa sisa sarapan yang dibuat oleh kakak iparnya.
Bima memperhatikan progres pekerjaannya yang tampak belum juga menunjukkan hasil. Ia berencana untuk mencari pekerja lainnya agar pekerjaannya segera selesai tepat waktu.
Ia keluar dari plant dan menuju plant 2 tempat Rendy bekerja.
Ia melihat pekerjaan Rendy sudah 75% saja, dan tampak jika Ia sangat begitu iri hati.
Bima menghampiri Rendy yang baru saja selesai makan siang.
"Waaah.. Bawa bekal, Nih" ucap Bima dengan nada cibiran.
Rendy tak menghiaraukan ucapan Bima, Ia menyimpan tempat bekalnya dan mencuci tangannya karena sudah selesai dengan makan siangnya.
"Ada apa?" ucap Rendy sembari meneguk air dari botol minuman yang disiapkan oleh Andini dari rumah.
Bima melirik malas "Kamu ada orang yang mau diajakin kerja gak? Kalau ada aku butuh lima orang" ucap Bima sembari menghisap rokoknya.
"Aku tidak punya, cari saja sendiri" jawab Rendy malas.
"Saya ada pak, lagi nyari kerjaan" sahut salah seorang pekerja Rendy yang mendengar percakapan keduanya.
__ADS_1