
Ningrum tersentak dari tidurnya. Ia terkejut saat melihat dirinya masih berendam didalam buthtub, lalu Ia bergegas mempercepat ritual mandinya.
Saat Ia berada didepan pintu lemari pakaian, Ia mendengar suara pintu dibuka, tampak Bima baru pulang, entah darimana.
"Hai, Cantik.. Sudah wangi saja" ucap Bima yang berpura-pura sok romantis dan perhatian.
Ia menghampiri Ningrum, lalu mendaratkan kecupan lembut dipundak Ningrum, sebab Ningrum saat hanya berbalut handuk saja.
"Emmm... Harum sekali kamu, Sayang" puji Bima dengan segala kemunafikannya sembari mendekap pinggang ramping Ningrum.
"Kamu kemana saja, Mas? Mengapa jam segini baru balik?" tanya Ningrum, lalu mengambil kimononya.
"Cari tukang jamu keliling tadi, Sayang. Soalnya pagi tadi habis gempur kamu, Mas sedikit oleng" ucapnya meyakinkan hati Ningrum.
Ningrum mengerutkan keningnya "Cari jamu kenapa lama sekali?"
"Ya, karena sehabis cari Jamu, Mas nemuin para pekerja buat bahas pekerjaan selanjutnya." jawab Bima berbohong.
Tak berselang lama, terdengar suara adzan maghrib berkumandang.
"Ya, sudahlah.. Aku mau shalat maghrib dulu, Mas gak shalat?" tanya Ningrum dengan penuh selidik.
"Kamu saja, Sayang.. Mas lagi capek banget" jawab Bima yang melepaskan dekapannya.
Ningrum mendenguskan nafasnya, dan menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Setelah selesai berwudhu, Ia mulai menggelar sajadahnya, dan menuanikan kewajibannya, sedangkan Bima menuju kamar mandi untuk membersihkannya dirinyga. Sepertinya hari ini Ia sudah bercinta dengan 4 wanita yang salah satunya istri sahnya sendiri.
namun itulah Bima, bahkan mungkin jika ada wanita yang menyodorkan diri lagi padanya, Ia tidak akan menolaknya.
Setelah selesai mandi, Ia keluar dari kamar mandi, dan tak melihat Ningrum berada didalam kamar. Ternyata Ningrum sedang bertelefon dengan seseorang.
Bima mengerutkan keningnya, samar Ia mendengar tentang masalah decor. Bima menaikkan satu alisnya, lalu meraih satu pasang pakain kaos oblong dengan celana pendek dibawah lutut dan memakainya.
Ia dapat membayangkan jila istrinya ini benar-benar banyak uqng, karena ada saja orang yang memakai jasa decornya.
Bima turun ke lantai dasar untuk menuju dapur dan Ia sudah sangat lapar, sebab energinya terkuras habis karena menggempur Mbak Jamu.
__ADS_1
Saat Ia sedang makan, Yudi tampak berjalan dengan tergesah-gesah menuju kamar.
Ia melirik jika ada seauatu yang mencurigakan digenggaman tangannya. Bima meyakini jika itu adalah barang haram yang akan dikonsumsi oleh Yudi.
Bima mendenguskan nafasnya dengan kesal.
Lalu tampak Ady keluar dari kamar dan menghampiri Bima "Bang.. Pinjam uang. Aku butuh buat beli sabun dan sebagainya" ucap Ady yang meminta haknya karena Ia bekerja untuk Bima selama ini.
Bima meraih dompetnya, dan menyerahkan 2 lembar searatusan ribu.
"Nih.." ucap Bima sembari meletakkan uang tersebut ke atas meja.
Lalu Ady meraihnya dan bergegas keluar menuju minimarket terdekat untuk membeli sabun dan perlengkapan lainnya.
Ia berjalan kaki menuju minimarket diujung gapura dan membeli keperluan secukupnya dan uang masih tersisa 150 ribu dan Ia berniat untuk menyimpannya.
Saat dalam perjalanan pulang ke rumah Ningrum, Ia mendengar suara sepeda motor ibunya berada tak jauh dari arah belakang dirinya.
Ketika melihat Ady, ibunya segera menghentikan motornya.
"Ada, dirumah, Mbak Ningrum baru balik. Emangnya ada apa, Bu? Tanya Ady penasaran.
"Memang anak sialaan..!! Dia tadi datang ke rumah sebentar, dan sepertinya dia yang mencuri uang belanja ibu, mana beras sudah habis, ayahmu berjudi saja kerjanya tidak pulang-pulang!" omel Sumi dengan nada ketus.
Ady menghela nafasnya. Ia akan sangat malu jika sampai ibunya datang ke rumah Ningrum lalu mengomel kepada Yudi dan pastinya Mbak Ningrum yang akan membereskan kekacauan ini.
"Bu.. Ini ada 150 ribu, pakai saja buat belanja. Ntar 3 hari lagi gajian, Ady tambahi lagi uang belanjanya" ucap Ady mencoba menenagkan ibunya sembari menyodorkan uang tersebut.
Sumi meraihnya dan memandang pada puternya yang memiliki watak berbeda dari ke tiga saudaranya.
"Makasih, Ya.. Kalau beneran gajian, jangan lupa bagi sama ibu" ucap Sumi mencoba menenangkan hatinya yang terasa kesal karena ulah Yudi.
Ady menganggukkan kepalanya dan Sumi berpamitan untuk pulang karena Ia akan membeli beras untuk masak malam ini.
"Hati-hati, Bu.." ucap Ady kepad ibunya yang sudah menarik gas motornya dan meluncur pergi.
Ady memandang kepergian sang Ibu lalu beranjak pulang ke rumah Ningrum.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Ningrum, Ia melihat Bima masih duduk dikursi makan dan menghisap rokoknya.
Ady memasuki kamar dan melihat Yudi sedang menghi-sap barang haram tersebut dengan alat yang dimodifikasinyanya.
Tanpa berkata apapun, Ady melayangkan tinjunya ke wajah Yudi.
Buuuuuuk...
"Aaaarrrggggh.."
Erang Yudi kesakitan yang terpental dan terjatuh di lantai sembari memegangi hidungnya yang berdarah.
"Heeei.. Apa salahku?!" tanya Yudi yang dengan pandangan sayu.
"Apa salahmu?!! Coba tanyakan lagi!" ucap Ady yang sudah mengepalkan tinjunya dan akan melayangkannya kepada Yudi. Namun sebuah tangan kekar menangkapnya dan itu adalah tangan Bima.
"Apa-apaan ini?!" tanya Bima kepada Ady yang baru kali ini melihatnya marah selama ini Ady adalah pria yang selalu sabar dan tidak pernah terpancing emosi.
Ady menepis cengkraman tangan Bima dipergelangan tangannya.
"Tolong nasehati adik kesayanganmu ini! Jika ingin memakai barang haram ini jangan dirumah Mbak Ningrum, silagkan pakai diluar jika ingin mammpuss sekalian juga diluar! Dan satu lagi, jika aku mendengar sampai kau mencuri uang belanja ibu lagi, maka aku akan menghancurkan wajahmu!" ancam Ady dengan nada penuh penekanan.
Yudi menyeka hidungnya yang berdarah, sedangkan Ady keluar dari kamar dengan kondisi yang penuh emosi.
Ady menuju sofa, lalu berbaring disana. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu. Iabtidak mungkin selamanya menumpang dirumah Ningrum, dan selama bekerja dengan Bima, Ia juga kesulitan uang. Ia ingin melakukan sesuatu yang tidak ingin membebani siapapun.
Sementara itu, Bima meraih tabung bekas Yudi yang menghi-sap barang haram itu. Ia meraihnya dan membawanya keluar lalu membakakarnya dihalaman belakang dapur
Setelah memastikan barang itu musnah, Ia kembali ke dalam kamar dan memperingatkan Yudi agar tidak menggunakan barang haram lagi dirumah Ningrum.
Yudi hanya menatap dengan tatapan nanar, dan Ia meracau tak jelas.
Bima hanya mendenguskan nafasnya dengan kesal, lalu kembali keluar dari kamar tersebut.
Saat melintasi ruang televisi, Ia melihat Ady sedang tiduran disofa, Ia tak ingin menegur adiknya tersebut, sebab Ia tidak pernah melihat Ady semarah itu, dan ini sangat terlihat mengerikan jika seseorang yang tampak pendiam dapat begitu sangat marahnya.
Bima menuju keluar rumah dan memasukkan mobilnya kedalam garasi. Dari bawah halaman rumah, Ia melihat Ningrum tampak duduk diatas balkon dan sepertinya sedang memikirkan suatu hal. Namun Ia tak mengjiraukannya.
__ADS_1