
Melihat penghuni kontrakan lain berkerumun didepan teras rumahnya, Nora semakin kesal.
Ia menutup pintu rumah dan menggendong Reza, kemudian masuk kedalam kamar dan menghempas pintu dengan sangat kuat.
Nora mendekam dalam kamarnya. Ia sepertinya sudah kehabisan cara untuk mengusir Elly dari rumahnya. Ia bisa strees jika serumah dengan adik iparnya tersebut.
Setelah mendengar suara para tetangga membubarkan diri. Ia keluar dari kamar. Ia melihat adik iparnya sedang duduk dikursi tamu dan bervedeo call dengan seorang pria.
Dengan rasa kesal, ia meraih tas berisi pakaian milik Elly, kemudian menentengnya dan dengan cepat melemparkannya keluar rumah.
Melihat hal tersebut. Elly mematikan panggilan vedeonya, kemudian beranjak bangkit dan menghampiri kakak iparnya, kemudian ingin kembali mencakar wajah wanita tersebut.
Akan tetapi, Nora yang memiliki tubuh tinggi sekitar 179 dengan bobot 85 kg sangat mudah baginya menepis serangan Elly yang mana ia sudah sangat waspada sedari tadi.
Nora menangkap pergelangan tangan Elly, kemudian menyeret Elly keluar dari rumah dan melemparkan tubuh mungil Elly ke arah luar, dan...
Buuuuuuggh...
Elly terlempar melewati teras rumah dan mendarat dihalaman bersanding dengan tas berisi pakaiannya.
Pinggang dan bokongnya terasa sakit. Ia meringis sembari mengusap siku tangannya yang juga lecet.
Dengan cepat Nora mengunci pintu rumahnya. Ia sudah sangat strees menghadapi kelakuan adik iparnya tersebut.
Elly memungut phonselnya yang juga terlempar. Ia mencoba menghubungi Bima, namun nomornya tidak tersambung. Sepertinya Bima sengaja mematikan phonsel agar tidak dapat dihubungi oleh oleh siapapun.
Para penghuni kontrakan melihat apa yang terjadi pada Elly, mereka hanya menjadi Tim pemonton dan juga tim horee dengan pertikaian antara Nora dan adik iparnya.
Elly merasa kesal dijadikan tontonan. Ia mencoba menghubungi Ady karena merasa terpaksa. Ia meminta untuk dijemput adiknya karena sepertinya Nora tidak membuka pintu untuknya.
__ADS_1
Dengan perasaan puas. Nora kembali ke dapur. Ia sudah sangat lapar. Tetapi apapun tak dapat ia temukan. Bahkan Bima lupa membeli beras untuk dimasak, dan mie instan yang hanya tinggal satu juga habis dimakan oleh Elly, dan ini sangat mengesalkan.
Jika ia membuka pintu untik membeli mie instan, maka Elly akan kembali masuk ke rumahnya, dan ia tidak ingin melihat adik iparnya masuk ke dalam rumahnya.
Nora mengintai adik iparnya dari balik tirai jendela, ia melihat wanita itu masih berada didepan teras, sepertinya sedang menunggu seseorang.
Perut Nora sudah sangat perih, sebab ia menyusui. "Sialaaan! Kenapa dia masih disitu terus, Sih?" Nora menggerutu dalam hati, sebab ia sangat kesal karena Elly yang tak kunjung pergi.
Tak berselang lama, tampak Ady mengendarai motor menuju kedepan rumahnya. Norak bersorak riang dalam hatinya, ia sangat bersuka cita, sebab Elly akhirnya pergi juga.
Nora terburu-buru menuju kamar, ia meraih phonselnya dan mengunggah postingan yang ditujukan untuk adik iparnya.
"Akhirnya si benalu pergi juga, ciiih! Najis" caption yang diunggahnya penuh kekesalan.
Sementara itu, Elly terpaksa harus tinggal bersama keluarganya. Ia membayangkan jika kengerian akan semakin parah jika tinggal bersama mereka. Namun untuk mengontrak rumah ia akan merasa rugi juga, semua menjadi serba salah.
Sesampainya dirumah sangat sederhana milik Sumi, yang sejatinya atas nama Ady, sebab pemuda itu yang membeli dengan uangnya, dan surat-suratnya telqh diselamatkan di safe devosite box pada sebuah bank, agar tidak lagi kecolongan seperti waktu itu saat digadaikan oleh Yudi.
Sesampainya didepan rumah, Ady kembali pergi untuk bekerja dan meninggalkan kakak perempuannya yang tampak kesal dan berjalan dengan langkah malas memasuki rumah.
Sementara itu, Bima dan para kontraktor lainnya sedang mengadakan rapat. Selain pembahasan safety talk, mereka juga mendapatkan SPO (Surat Perintah Operasional) atau pengerjaan proyek yang sudah deal tentang tawaran harga yang diajukan.
Rendy mendapatkan 3 pengerjaan proyek yang ditawarkan, sedangkan Bima hanya satu pekerjaan saja. Ini sesuatu yang tidak adil bagi Bima.
"Siaaal! Jika begini terus, si Rendy bakal bisa beli mobil! Aku tidak mau disaingi olehnya." guman Bima dalam hatinya. Ia sangat merasa khawtir jika Rendy dapat membeli sesuatu yang menyerupainya.
Setelah selesai meeting. Mereka membubarkan diri. Rendy pulang ke rumah dengan membawa kabar gembira kepada Andini.
"Sayang... Jika proyek ini selesai tepat waktu, nanti kita buat acara sedekah untuk anak yatim dan fakir miskin." ucap Rendy sembari memperlihatkan nilaian proyeknya. Meskipun nilainya tidak wow, tetapi tetap mereka syukuri sebagai rezeki yang dititipkan sang Rabb kepada mereka.
__ADS_1
Andini mengusap perutnya yang semakin membuncit. "Ya, semua terserah sama, Mas saja. Lagipula yang kerja juga Mas. Mudah-mudahan keberkahan dilimpahkan kepada Kita, Aamiin.." jawab Andini.
"Aamiin" Rendy menimpali ucapannya.
Rendy adalah pria sekaligus suami yang bertanggungjawab. Posisinya yang sudah menjadi yatim piatu sejak ia masih Sekolah menenga Pertama, membuatnya menjadi seorang pria yang tumbuh mandiri dan penyayang.
Itulah alasan mengapa ia begitu memuliakan istrinya, sebab hanya Andini yang menjadi tempatnya berbagi suka dan duka, sesudah Rabb-Nya.
Tetangga tidak pernah mendengar Rendy mengeraskan suaranya atau bertengkar hingga membuat keributan. Berbeda dengan tetanga sebelah mereka yang jika bertengkar maka akan melayang piring atau panci hingga pecah berderai.
Bisa dikatakan, jika Rendy adalah sosok pria yang sangat didambakan oleh kaum perempuan, sebab semua yang ada pada pribadi Rendy merupakan impian yang diinginkan oleh setiap istri.
Sementara itu, Bima tiba dirumahnya tampak sepi dan sunyi. "Tidak seperti biasanya? Apakah Nora dan juga Elly sudah berbaikan?" Bima berguman lirih. Kemudian ia turun dari mobil dan melangkah menuju teras rumah.
Seperti ada sesuatu yang salah, namun entah apa. Bima membuka pintu rumqh, tidak dikunci dan ia membuka pintu dengan lebar.
Ia melihat Reza sedang tertidur dalam buaian, namun tak terlihat Nora maupun Elly.
Kemana keduanya? Bahkan tas berisi pakaian milik Elly juga tidak ada.
Tak berselang lama, terdengar suara Nora mengomel dari arah luar. Entah apa lagi yang disedang diributkannya.
Sesampai didepan pintu, ia semakin kesal melihat suaminya yang sedang berdiri didalam rumah.
"Eh, Bang. Mana uang belanja? Beras habis dan bumbu dapur juga tidak ada. Bahkan mie instan tinggal sebungkus juga dihabiskan oleh si Elly!" Nora semakin mengoceh dan meluapkan amarahnya.
Bima mendengus kesal. Bahkan ia baru saja teringat jika uangnya juga habis, dan proyeknya belum selesai, esok hari sabtu dan para pekerjanya akan meminjam uang untuk gaji mereka.
Kepala Bima serasa sangat sakit kepalanya. Ia tidak percaya jika akan mengalami hal yang sanga membuatnya pusing. Ditamba lagi Anton yang mendesak meminta persen dari proyek yang disepakati.
__ADS_1
"Abang tidak punya uang untuk saat ini. Coba kamu berhutang saja dulu diwarung, nanti dibayar jika proyek dapat dicairkan," ucap Bima .
Nora membolakan kedua matanya. "Apa? Ngutang?! Sedsngkan uang ku kurang seribu saja si Santi ngomel-ngomel. Apalagi mau ngutang beras, bisa-bisa dia bakal ngomongin aku ke para tetangga. Aku ini emak-emak soaialita, Bang.. Masa iya belanja ngutang?" Nora semakin bengis.