
Bima tampak gelisah. Ia masih berada dikamar menanti Ningrum yang sedang berada dikamar mandi.
Ia harus mendapatkan uang hari ini, jika tidak maka mobilnya terancam tidak dapat dikendarai karena kehabisan bahan bakar, dan juga para pekerjanya akan terancam mogok kerja karena tidak mendapatkan pinjaman gaji.
Ningrum tampak baru selesai dari mandinya. Ia terus-menerus merafalkan mantra pengasih semar mesemnya kepada Ningrum agar Wanita itu tunduk dan patuh padanya serta memberikan apapun yang Ia inginkan.
Bima beranjak dari ranjangnya, menghampiri Ningrum yang masih memakai handuk dan berdiri didepan lemari pakaian untuk mengambil pakaian yang akan digunakannya menghadiri acara syukuran Andini.
Ia memeluk pinggang Ningrum "Sayang, kamu cantik sekali hari ini" bisiknya ditelinga Ningrum sembari terus merafalkan mantranya dalam hati.
Seketika hati Ningrum lemah, dan Ia menggelinjangkan tubuhnya.
Melihat hal tersebut, Bima melancarkan jurus mautnya "Mas sudah kangen dengan rintihan manja kamu, sudah lama sepertinya kita tidak memadu kasih" bisik Bima yang dengan cepat meraih tubuh ramping berisi Ningrum dan membopongnya ke atas ranjang.
Ningrum tak dapat mengelak, saat ini hatinya begitu lemah menghadapi Bima. Ia tidak dapat berkata apapun saat pria itu mulai mencumbunya.
Keahlian Bima dalam hal urusan ranjang membuat wanita manapun akan merasa kecanduan dan ini adalah sebagai salah satu jurus jitu meluluhkan hati Ningrum untuk kembali memorotin uangnya. Lagi pula Ningrum sudah terpengaruh oleh ilmu pengasih semar mesemnya, maka wanita itu akan menuruti apapun keinginannya.
"Tapi Ningrum sudah mandi dan mau ke acara Andini" kilah Ningrum saat Bima sudah menjelajahi tubuhnya.
"Masih lama acaranya, Mas kangen sama rintihan kamu" balas Bima sok romantis, sebab selama ini Ia sudah menggunakan Nora sebagai tempat pelampiasannya.
Ningrum yang mulai terbakar hasrat hanya pasrah mendapatkan perlakuan itu dari Bima.
Pria itu mencoba mmeberikan pelayanan yang membuat Ningrum akan kecanduan padanya, dan nantinya akan merelakan apapun yang Ia minta.
Ningrum yang mulai terlena tidak menyadari jika Ia hanya sebuah ATM bagi Bima yang harus terus mengeluarkan uang untuknya.
Bima terus mencumbu Ningrum hingga wanita itu merasakan puncaknya berulang kali dan terkapar diatas ranjang.
"Bagaimana, Sayang? Kamu suka dengan service yang Mas berikan?" bisik Bima ditelinga Ningrum, sembari memeluk tubuh Wanitanya yang kini masih lemah karena berulang kali mendapatkan pelepasannya.
Ningrum menganggukkan kepalanya lemah dan menatap pada Bima.
__ADS_1
Saat kedua bola mata mereka beradu, maka kesempatan inilah yang dimanfaatkan oleh Bima untuk menembus hati dan perasaan Ningrum agar tunduk dan patuh padanya.
"Sayang, Mas pinjam uang kamu 5 juta boleh, Ya?" ucap Bima dengan selembut mungkin dan terus merafalkan mantranya.
Antara sadar dan tidak, Ningrum menganggukkan kepalanya dengan lemah, lalu beranjak menarik laci nakasnya dan meraih dompetnya, lalu dengan mudahnya memberikan uang penghasilan salon dan transferan Uang muka Gibran untuk acara ulang tahun luterinyan yang digelar 2 hari lagi.
"Ini, Mas uangnya" ucap Ningrum sembari menyodorkan uang tersebut.
Bima tersenyum licik, dan meraih cepat uang itu, lalu memberikan pagutan lembut dan bonus service sekali lagi sehingga membuat Ningrum benar-benar terpedaya oleh pesona Bima.
Setelah berhasil memorotin uang Ningrum dan membuat wanita itu kehabisan tenaga, Ia beranjak dari ranjangnya, membersihkan diirnya diakmar mandi dan bergegas turun untuk menuju tempat bertemunya Ia dan 5 pekerjanya.
Ningrum masih terkulai lemah diranjang. Ia benar-benar merasa linglung dengan apa yang terjadi. Ia tertidur sesaat karena merasa kelelahan sebab tenaganya dan juga ta pa sadar uang terkuras oleh Bima.
Bima melajukan mobilnya dan tentunya Ia mengisi bahan bakarnya dengan full setelah berhasil memperdaya Ningrum. Ia menuju sebuah lokasi tempat berjanji bertemu dengan para pekerja.
Sesampainya dilokasi itu, Bima melihat ke lima pekerjanya sudah menunggunya.
"Lama sekali, Bos.. Kita sudah tadi nunggunya" omel tukang itu dengan kesal, sebab beras dirumahnya sudah habis dan hutang pada warung juga sudah menumpuk.
"Saya mau ajukan pinjaman 1 juta bos, soalnya banyak keperluan, anak mau masuk sekolah dan butuh biaya untuk membeli seragam sekolah dan kebutuhan lainnya" ucap tukang tersebut.
Bima membolakan mata "Gak ada 1 juta, hari ini rata dapat 500 ribu semua" sergah Bima.
Sang Tukang terperangah "Mana cukup uang segitu, Bos?! Itu hanya cukup buat bayar hutang warung dan listrik, terus untuk keperluan sekolah anak harus pakai apa?" bantah tukang tersebut.
Bima menatap geram "Sudah mending saya kasih pinjam, tapi banyak permintaannya" jawab Bima kesal.
Tukang itutampak membolakan matanay "Eh, Bos.. Saya pinjam segitu juga karena saya tau sisa gaji saya dua minggu ini masih banyak!" balas Tukang tak mau kalah.
Lalu perdebatan mulai panas, dan membuat Bima semakin kesal.
Lalu Ia meraih dompetnya dan memberikan uang dalam amplop sebesar 500 ribu kepada para pekerjanya.
__ADS_1
Saat tukang itu menghitungnya dan hanya sebesar 500 ribu, terjadi percekcokan yang sengit.
"Mau jadi Bos itu punya modal dong!" ucap tukang itu sengit.
Seketika Bima meraih dompetnya dan menbambil uang 200 ratus dan melemparkannya pada tukang itu.
"Nih, Ambil.. Jangan banyak omong lagi, Kamu!!" ucap Bima kesal, lalu meninggalkan lokasi dan mengendarai mobilnya dengan melaju kencang.
Para pekerja itu memandang kepergian Bima dengan hati nelangsa. Mereka tidak pernah menyangka jika mendapatkan bos proyek yang sangat arogan dan juga perhitungan bahkan pelit bin kedekut.
Namun mereka hanya pasrah melihat tingkah Bos proyek mereka.
Tukang itu terpaksa memunguti uang yang dilemparkan oleh Bima kepadanya dan berserekan ditanah.
"Ini bagaimana, Kang? Kira-kira kita lanjut apa tidak kerja dengan pak Bima? Aku melihat ada ada gelagat yang tidak baik dari Bos proyek kita" ujar seorang Welder pengganti.
"Saya juga merasakan hal yang sama. Jika dilihat dari bentuk matanya yang menyipit ke ujung, dia ini memiliki sifat licik" Seorang helver menimpali.
Lalu mereka saling pandang dan akan mencoba mempertimbangkan apakah mereka akan melanjutkan pekerjaan mereka atau tidak.
Sementara itu, Bima menuju lokasi proyek. Ia menemui ruang CEO untuk mengurus segala keperluan penandatanganan proyeknya yang sudah selesai.
Bima menyiapkan segala berkas yang diperlukan sebagai persyaratan untuk mencairkan dana proyeknya.
Ia memasuki ruang CEO, dan melihat tampak sepi, hanya karyawa bagian produksi saja yang tampak berseliweran diaepanjang perusahaan dan juga cleaning servise.
Lalu tanpa sengaja Bima bertemu dengan karyawan maintenen yang tak lain adalah Gibran.
"Pak.. Mau tanya, orang CEO kenapa tidak ada ya?" tanya Bima merasa penasaran.
"Ini kan hari libur, hari minggu. Mana ada orang CEO yang hadir, dan saya juga sebentar lagi maun pulang, karena ada sesuatu kepentingan" jawab Gibran dengan tenang.
Bima terperangah "Oh, iya.. Ya.. Saya sampai lupa jika hari ini hari minggu" ucapnya sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
Gibran hanya menggelengkan kepalanya dan meninggalkan Bima yang masih terlihat bengong.