SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-134


__ADS_3

"hueeeq...huuueeeq..."


Andini berlari ke washtafell dan memuntahkan isi perutnya. Hari masih terlalu pagi, tetapi rasa mual itu memaksanya untuk berlari ke luar dari kamar.


Rendy mengusap kedua matanya. Rasa kantuk masih menggelayutinya. Namun ia beranjak bangkit dari ranjangnya untuk menemui Andini yang tampak begitu pucat wajahnya.


Rendy menghampiri sang istri yang terus memuntahkan isi perutnya meskipun tidak ada lagi yang harus dimuntahkannya.


Hingga sebuah cairan berwarna kekuningan dan rasanya sangat pahit saat melewati tenggorokannya, dan membuatnya berhenti untuk muntah.


Rendy membawa sebotol minyak kayu putih digenggamannya dan mengoleskannya di bagian tengkuk dan juga perut untuk mengurangi rasa mual tersebut.


Wajah Andini memucat dengan tatapan begitu sayu. Rendy dengan sigap menggendonggnya dan membawanya ke kamar.


"Apakah kamu mengandung kembali, Dik?" ucap Rendy penasaran.


Andini tidak menjawab ucapan suaminya. Ia masih merasa lemah.


Rendy melirik jam di phonselnya. Masih pukul 6 pagi. Ia harus menggu sekitar 3 jam lagi untuk membawa Andini berobat ke puskesmas, sebab jika ke klinik, mereka buka pukul 4 sore.


"Mas belikan alat penedeteksi kehamilan, ya?" ucap Rendy kepada sang istri.


Andini hanya menatap sayu, dan menganggukkan kepalanya. Saat ini ia ingin bersandar dibahu sang suami, sembari meminta perutnya dibelai-belai lembut untuk mengurangi ras mulasnya.


Ditempat lain. Ningrum bersama.Gibran dan juga Luccy sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk liburan mereka.


Mereka menyambut liburan sekolah Luccy untuk berlibur ke luar negeri seperti janji Gibran waktu dan mereka akan bermain salju dibenua Australia-Victoria.


Gibran sudah memesan penginapan dan juga jadwal penerbangan yang disesuaikan oleh waktu pengambilan cuti dikantor.


Mereka melakukan perjalanan menuju bandara, dan nantinya akan memakan waktu perjalanan 13 jam perjalanan menggunakan pesawat terbang tanpa hambatan.


Ketiganya tampak bahagia. Karena hari liburan yang sudah lama mereka nantikan akhirnya tiba juga.

__ADS_1


Sementara itu. Rendy akhirnya membawa Andini ke puskesmas terdekat. Setelah melewati serangkaian pemerikasaan dan cek laboratorium, akhirnya Andini dinyatakan positif mengandung dan usia kandungannya memasuki 3 minggu.


Karena riwayat pernah mengalami keguguran. Maka dianjurkqn Andini untuk tidak melakukan pekerjaan yang berat dan terlalu banyak berfikir yang membuatnya stres.


Bahkan Keduanya dilarang melakukan hubungan suami istrri hingga usia kandungan Andini dinyatakan kuat, minimal usia kandungan 4 bulan, dan itu juga harus dilakukan dengan sangat hati-hati.


Rendy menganggukkan kepalanya saat petugas kesehatan memberikan informasi tersebut. Tidak masalah baginya untuk menahan hasratnya demi untuk keaehatan dan keselamatan calon buah hati mereka.


Rendy tidqmak ingin melihat wajah sedih Andini, maka ia harus mengikuti anjuran petugas kesehatan, sebab sudah sangat lama Andini menantikan kehadiran buah hati mereka. keberkahan setelah mengangkat anak kang Yamink menghampiri kehidupan mereka, dan ini merupakan kabar yang sangat membahagiakan.


Ningrum-Gibran-Luccy sudah sampai di Australia-Victoria. Mereka beristirahat disebuah resort yang sudah dipesan secara online.


Keesokan paginya, mereka menuju Mount Hotham untuk bermain salju. Menempuh perjalana hingga 4 jam dari penginapan, akhirnya mereka tiba ditempat destinasi wisata bermain salju tersebut.


Mereka bermain ski dan membuat boneka salju. Ketiganya begitu tampak bergembira.


"Pa.. Lihat, boneka salju buatan Luccy cantik-bukan?" ucap Gadis kecil dengan wajah yang sangat sumringah.


Ningrum mengabadikan moment mereka dengan siaran langsung dan vedeo sebagai kenang-kenangan liburan mereka.


"Pa... Kita main ski lagi, yuk..!!" Pinta Luccy dengan merengek.


Gibran menganggukkan kepalanya. Namun ada sesuatu yang berbeda, Gibran tampak berwajah datar.


Ningrum melihat hal tersebut, dan menghampirinya. "Mas... Kalau kamu tidak tahan dengan dinginnya, sebaiknya kita pulang saja!" Ningrum menyarankan.


"Tidak apa-apa, Sayang. Ini liburan pertama Luccy. Sudah lama ia ingin bermain salju, dan tidak mungkin ia lewatkan begitu saja!" jawab Gibran.


Ningrum mengerutkan keningnya. "Tetapi wajah kamu pucat, Mas... Takutnya kamu hipotermia!" Ningrum terus mendesak.


"Biar aku saja yang membawa Luccy bermain, kamu istrihat didalam mobil saja!" pinta Ningrum.


Gibran menggelengkan kepalanya. Ia bersikeras untuk dapat bermain ski bersama Luccy. Lalu mereka menuju tempat penyediaan sewa alat bermain ski. Mereka bertiga akhirnya bermain bersama. Ningrum ikut bermain, namun perasaannya tidak nyaman, sedangkan Luccy tampak ceria dengan wajahnya yang berseri.

__ADS_1


Mereka berselancar melewati gunungan salju dan meluncur dengan kegembiraan. Hingga akhirnya, saat pemuncuran melewati sebuah lembah, Gibran jatuh tersungkur, dan tertimbun gundukan salju.


Ningrum menghampirinya. Lalu menggali tumpukan salju yang menimbun tubuh Gibran.


"Mas.. Mas.. Bangunlah! Jangan lakukan ini. Ini hari berbulan madu yang kau janjikan," ucap Ningrum dengan lirih bercampur kalut sembari menarik tubuh Gibran dari tumpukan salju.


Luccy yang sudah meluncur jauh menghentikan ski-nya dan berbalik menghampiri Ningrum.


"Papa kenapa, Ma?" tanya Luccy panik yang melihat nafas papanya tersengal.


Luccy, hubungi pihak medis. Mintalah bantuan kepada tempat dimana kita menyewa alat ski ini, cepat!" titah Ningrum.


Luccy tampak gemetar, tetapi ia harus segera berranjak untuk meminta bantuan. Luccy menatap papanya dengan sudut matanya yang mulai sembab, lalu mengendarai skinya untuk mencari bantuan.


Ditengah perjalanan, Ia ia bertemu dengan rombongan orang dewasa yang sedang bermain ski.


Dengan menggunakan bahas isyarat dan sedikit bahasa inggris yang blepotan, ia mengungkapkan jika papanya mengalami kecelakaan dilembah.


Sementara itu, Ningrum membuka pakaiannya dibagian depan dan juga membuka pakaian Gibran, lalu ia mendekap Gibran untuk memberikan rasa hangat kepada suaminya, hal tersebut dilakukan sebagai pertolongan pertama saat seseorang terkena hipotermia.


Gibran tampak menggigil dan seperti membeku. Dalam ketidakberdayaannya, ia menggerakkan bibirnya. Ningrum mendekatkan telinganya.


"Ada, Apa Sayang? Kamu mau bilang apa?" tanya Ningrum dengan penasaran dan juga takut.


"Aku titipkan Luccy kepadamu! Temui pengacara Alex.!" ucap Gibran dengan kalimat terbata dan perlahan lemah.


Ningrum menepuk pipi Gibran "Mas.. Jangan katakan apapun yang membuatku takut! Bangunlah.. Kita pergi bertiga, dan pulang bertiga, mengapa kau membuatku begitu takut. Bangunlah!! Ku mohon..." ucap Ningrum yang juga sudah merasakan hawa dingin semakin menusuk ketulang.


Gibran menatap nanar pada Ningrum, perlahan menutupka kedua matanya. Seketika Ningrum terbeliak melihat hal tersebut.


"Mas.. Mas.. Please.. Jangan lakukan ini! Mas! Bangunlah..!" teriak Ningrum yang terus mengguncang tubuh Gibran. Bahkan ia memompa detak jantung Gibran menggunakan telapak tangannya yang ditekannya didada kiri Gibran secara berulangkali.


Ningrum masih terus berharap jika ini hanyalah sebuah mimpi. Hingga tampak kereta salju yang datang meluncur bersama dengan Luccy dan kereta itu semakin mendekat bersamaan dengan isak tangis Ningrum yang semakin kencang.

__ADS_1


Saat kereta yang memanfaatkan 8 ekor srigala itu semakin mendekat, tampak Luccy yang terperangah memandang dengan tatapan penuh ketakutan dan wajah yang memucat.


__ADS_2