SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
eoisode-138


__ADS_3

Budi merasakan sakit yang luar biasa. Ia sudah berusaha untuk menjadi suami yang bertanggungjawab, namun semuanya dibalas dengan pengkhianatan.


"Ibu. !" teriak seirang bocah perempuan berusia lima tahun yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan keluar dari kamar untuk melihat apa yang terjadi.


Elly beranjak ingin meraih puterinya. "Nisa!" ucapnya, sembari menjulurkan kedua tangannya ke depan untuk meraih puterinya.


Gadis kecil itu akan berlari ke arahnya, namun dengan cepat Budi menghadang langkah Nisa. Ia tidak ingin puterinya dibawah asuhan wanita yang tidak memiliki akhlak tersebut.


"jangan sentuh puteriku dengan tangan kotormu!" Ucap Budi dengan kalimat yang menyayat hati.


Pria itu dengan cepat menggendong Nisa dan menjauhkannya dari wanita yang dianggapnya sangat menjijikkan.


"Tetapi dia puteriku-Juga! Aku memiiliki hak yang sama!"


"Simpan semua alibimu untuk dipersidangan esok,"


Elly menatap pada pria yang berdiri dengan tatapan penuh kebencian. Sinar matanya yang dulu penuh cinta kini berubah menjadi sebuah boomerang dan penuh amarah, tidak ada jalan untuk kembali pada semula.


Susasana semakin penuh dengan keriuhan. Warga yang menonton peristiwa itu sebenarnya ingin mengarak Elly karena telah mencemari gang dilingkungan mereka tinggal, akan tetapi Budi masih berbaik hati tidak ingin mempermalukan ibu dari puterinya.


Rasa sakit dihatinya begitu sangat kentara saat cinta dan ketulusannya dibalas dengan pengkhianatan.


"Ibuuu...!" panggil Nisa dengan air mata yang mulai mengalir dari sudut matanya. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada hubungan kedua orangtuanya. Namun sepertinya ia akan kehilangan kasih sayang itu dalam waktu dekat.


Tangisan Nisa yang memanggilnya ibunya, tal membuat hati Budi luluh, ia sudah sangat penuh tekad untuk mengakhiri hubungannya dengan Elly.


"Cepat pergi! Atau aku perlu menyeretmu keluar dari rumah ini!"


Sumi menarik nafasnya dengan berat. Ia tahu Budi adalah pria yang baik dan bertanggungjawab, dan sikapnya yang berubah saat ini karena sudah memasuki fase dibatas sabar.

__ADS_1


Siapa mengira, ternyata Budi sudah mencium aroma perselingkuhan Elly dengan pria idaman lain sejak lama. Ia mencoba mencari buktinya dan bersabar, berharap Elly berubah dengan berjalan seiring waktu. Sehingga pada puncaknya ia melihat dengan kepalanya sendiri wanita yang menjadi istrinya itu bercinta dengan tetangganya tanpa sehelai benangpun.


Bima membawa Elly sang adik keluar dari rumah tersebut. Ia tidak memiliki pilihan lain, sebab malam semakin larut, dan Budi belum dapat diajak untuk musyawarah karena hatinya masih panas terbakar emosi.


Bima dan Elly memasuki mobilnya bersama dengan Sumi. Wanita itu mencoba menulikan panggilan puterinya yang meraung memintanya kembali, dan Budi juga bersikap ego dengan mengeraskan hatinya untuk tidak peduli pada tangisan buah hatinya.


Suara mesin mobil menderu meninggalkan perkarangan rumah Budi, dan didiring tangisan Nisa yang membayangkan malam ini tidur tanpa sang ibu.


Mobil sudah melaju membelah jalanan, sedangkan Ady mengikuti dari arah bekakang.


Elly tampak berfikir ditengah perjalanan. Ia tidak mau jika harus tinggal bersama ibunya. Sebab dirumah itu ada ayahnya dan juga Yudi yang terkadang pulang ke rumah itu tanpa merasa bersalah karena telah menjual rumah lama kedua orangtuanya.


"Bang.. Aku gak mau kerumah ibu, aku tinggal dirumah kamu saja!" ucap Elly dengan ketus.


Bima membolakan matanya. "Tidak.. Kamu tinggal bersama ibu. Jika kamu tinggal bersama abang, maka kamu akan berseteru dengan Nora setiap hari.!" Bima menolak keinginan Elly, sebab ia tahu bagaimana perangai istrinya dan juga perangai Adiknya yang mana nantinya tidak akan menemukan kecocokan.


"Pokoknya aku tinggal sama abang!" ucap Elly bersikeras. Tentu hal itu membuat Sumi merasa tersinggung mendengar ucapan Elly yang menolak untuk tinggal bersamanya.


Sumi menatap tajam pada Elly. Ia tidak mau ke rumah Bima, sebab ia merasa trauma jika melihat menantu perempuannya itu.


"Bim... Ibu tidak mau ke rumah kamu, turunkan ibu disini, biar ibu pulang bersama Ady!" ucap Sumi.


Bkma saat ini merasa pusing dengan sikap keluarganya, apalagi Elly yang keras kepala. Jika saja Elly tidak membuat masalah dengan berselingkuh, maka hal ini tidak akan membuatnya pusing.


Bima menepikan mobilnya, dan Sumi turun tanpa melihat Elly yang bersikeras ingin tinggal bersama Bima. Jika saja ia tahu akan begini, maka ia tidak akan repot-repot datang.


Ady yang mengekor darinarah belakang merasa bingung karena melihat ibunya yangbturun ditepi jalan.


"Kenapa turun ditepi jalan, Bu?" tanya Ady penasaran.

__ADS_1


"Sudah.. Usah banyak bertanya, sebaiknya kita pulang. Ini sudah pukul dini hari, besok ibu akan kesiangan bekerja!" ucap Sumi, lalu naik ke atas jok boncengan.


Ady tak ingin protes. Ia tahu jika ibunya pasti sedang ribut dengan kakak perempuannya yang terkenal dengan keegoisannya.


Lalu Ady mengendarai motornya dan menembus jalanan sepi dan juga udara yang sangat dingin karena waktu sudah menunjukkan pukul dini hari.


Bima menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia sangat sakit kepala melihat ulah adik perempuannya yang sulit untuk diberitahu.


Dengan perasaan kesal, ia membawa Elly pulang ke rumah kontrakannya dan melajukan mobilnya.


Tak berselang lama, mereka tiba dirumah kontrakan. Keduanya turun dari mobil dan menuju teras rumah. Bima berulang kali mengetuk pintu dan berharap Nora segera membuka pintu untuknya. Ia sangat lelah dan mengantuk.


Hampir setengah jam lamanya mereka berdiri didepan pintu, dan akhirnya Nora terbangun juga, sebab ia mendengar Reza-bayinya menangis dengan keras karena ingin disusui.


Mendengar suara Bima mengetuk pintu, dengan rasa kesal ia membukanya. Ia melirik sudah pukul.2 dini hari, dan saat ia ingin mengomel, ia melihat Bima datang bersama adik perempuannya yang sangat kacau. Ada terlihat beberpa luka bekas sabetan dibagian pipinya dan matanya sedikit membengkak karena habis menangis.


Tanpa mengucapkan salam, Elly menerobos masuk ke dalam rumah dan menuju sifa, lalu mencari posisi enak untuk tidurnya tanpa memperdulikan sikap Nora yang tidak menerima kehadirannya. Ia dengan cepat tertidur pulas sebelum mendengar Nora mengomelinya.


Bima yang melihat Nora memasang wajah kesal, segera masuk dan meninggalkan Nira yang mana masih diliputi beribu pertanyaan dalam hatinya karena kehadiran Elly yang tiba-tiba saja datang membuatnya akan menjadi bencana dalam rumah tangganya.


Nora bergegas menutup pintu dan kembali ke kamar untuk menenangkan Reza yang terus menangis karena merasa haus.


"Breeengseek..!! Itu perempuan kenapa datang kemari, Sih? Buat tambah beban hidupku saja!" guman Nora dalam hatinya. Ia tidak membayangkan jika Elly lama tinggal bersamanya, maka dipastikan ia tidak akan betah tinggal di rumah.


Saat memasuki kamar dan ingin mengomeli Bima, ia melihat suaminya itu sudah tertidur pulas, dan itu membuatnya sangat kesal. Akan tetapi saat ini ia harus menenangkan Reza-bayinya terlebih dahulu.


Sementara itu Nisa terus menangis memanggil ibunya, sehingga membuat Budi kewalahan untuk menenangkan puterinya. Orangtua Budi datang menenangkan sang cucu yang tampak kehilangan sang ibu, dan ingin bersama ibunya.


Berbagai cara dilakukan untuk menenangkan Nisa yang terus menangis. Karena kelelahan menangis, akhirnya Ia tertidur lelap dengan sendirinya.

__ADS_1


__ADS_2