SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-145


__ADS_3

Bima merasa kikuk saat berhadapan dengan Ningrum barusan. Bukankah waktu itu ia yang mengatakan kepada Ningrum untuk menjual apemnya jika sudah tidak tahan akan kesepian, namun dirinya telah menjual jagungnya hanya karena tidak ada uang untuk membayar kontrakan.


Pria bertubuh kekar itu memasukkan amplop berwarna coklat tersebut ke dalam saku celananya. Ia mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Ningrum yang sudah menghilang ditelan keramaian pengunjung.


"Apa yang dilakukannya ditempat ini? Apakah ia juga menjual dirinya karena kesepian?' gumannya dalam hati.


Ia masih diam terpaku dan berfikir keras untuk menemukan jawabannya.


Bima mengambil sebungkus rokok yang ditadi ditraktir oleh wanita paruh baya yang menyewa jasa layanannya. Ia mengeluarkan sebatang dari bungkusnya dan menyulutnya dengan pemantik api.


Kepalanya begitu pusing dengan semua permasalahan hidup yang dialaminya. Ia menghi-sap nikotin tersebut dan menghembuskan racun monoksida ke udara dengan kasar.


Ia masih mencari keberadaan Ningrum. Sepertinya ia tidak dapat memungkiri jika wanita itu masih cantik seperti dulu, dan tidak pernah berubah.


Setelah lama mencari dan tidak menemukan jejak tentang wanita itu, akhirnya ia memutuskan untuk kembali pulang.


Sementara itu, Nora masih mondar-mandir didalam ruang tamu. Ia melirik ke arah depan melalui kaca jendela yang masih ia biarkan gordennya tersingkap.


Matanya terus mengawasi untuk melihat tanda-tanda kepulangan Bima malam ini, sebab ancama dari bu Lany tidaklah main-main.


Nora tidak ingin jika sampai nantinya ia akan diusir paksa dari rumah kontrakan, dan hal ini sangat akan memalukan.


Para tetangganya tentu akan bersorak dengan ria dan mentertawakannya karena telah diusir paksa sebab tidak mampu membayar kontrakan.


Mereka pasti akan menggunjingnya dengan kalimat 'Biar punya mobil, meskipun ngontrak!'. Kata-kata itu sudah sangat sering ia dengar. Mereka selalu jika rumah adalah yang utama dibanding mobil, sebab harga rumah pastinya akan naik, dibanding mobil yang akan mengalami penyusutan nilai karena pemakaian.


Nora masih mondar-mandir dan merasa tak tenang karena masih belum melihat lampu sorot dari mobil Bima.


Malam semakin larut, dan Nora merasa semakin mengantuk karena terlalu lama menunggu kepulangan Bima.


Wanita itu memutuskan untuk tidur dan ia tidak lagi dapat menahan kantuknya lebih lama.


Sementara itu, Rendy tampak begitu sangat bahagia, sebab kehamilan Andini sudah semakin membesar. Ia begitu sangat menanti kehadiran sang calon buah hati.


Ia begitu sangat serius dalam mengikuti setiap anjuran bidan yang harus menjaga kehamilan itu hingga usia tri semester yang merupakan masa rentan keguguran bagi seorang wanita yang sedang mengandung.


Mengingat Andini pernah mengalami keguguran, ia rela berpuasa tidak menyentuh Andini untuk jatah malamnya, sebab ia takut akan kejadian waktu itu terulang lagi.


"Mas.. Kamu mau anak perempuan atau anak laki-laki?" tanya Andini, saat melihat Rendy-suaminya membelai lembut perutnya yang sudah tampak membuncit.


Apapun yang dititipkan akan diterima, yang penting adalah sehat dan tidak kekuarangan apapun," jawab Rendy dengan tenang.


Andini merasa lega, sebab ia dan Rendy ternyata sama-sama tidak menargetkan jenis kelamin anak mereka kelak, sebab apapun itu adalah anugerah terindah yang diberikan Allah padanya.


"Mas.. Kondisi toko bagaiamana?" tanya Andini penasaran.

__ADS_1


Rendy menengadahkan kepalanya. Ia memandang sang isteri dengan penuh keteduhan.


"Toko sudah beres semuanya, dan untuk saat ini kita kontrakan saja, sebab Mas tidak mau jika sesuatu hal terjadi pada kamu dan membuat kamu kelelahan, yang mana akibatnya akan berpengaruh pada anak kita," jelas Rendy kepada istrinya.


Andini tak dapat membantah. Mungkin ia harus menunda keinginannya untuk membuka usaha dan ia harus istirahat total tanpa harus memikirkan pekerjaan.


"Iya, Mas... Terserah kamu saja gimana baiknya!" ucap Andini pasrah.


Rendy mendekap sang istri, ia tidak ingin sesuatu terjadi pada istrinya, sebab ia berkaca pada kejadian saat Andini mengalami keguguran waktu itu, dan ia berharap tidak akan terulang lagi.


Dilain sisi, Nora terbangun dari tidurnya saat mendengar suara deru mesin mobil yang berhenti tepat didepan rumah kontrakannya.


Ia beranjak dari tempat tidur untuk memastikan jika itu adalah Bima.


Ia mengintai dari balik tirai jendela, dan ternyata benar, itu adalah Bima yang baru saja pulang entah dari mana.


Bima turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah. Sesampainya didalam rumah, ia disambut dengan wajah masam Nora yang sangat kesal menunggu kepulangan Bima.


"Kamu kenapa baru balik, Bang? Darimana saja, sih, Kamu?!" cecar Nora dengan cepat.


Bima sangat tidak tahan dengan segala omelan Nora yang terkadang tidak dapat menahan barang sejenak.


Ia mendenguskan nafasnya dengan cepat, kemudian mencebikkan bibirnya dan menuju kamar mandi, tanpa menjawab pertanyaan dari Nora.


Sesampainya dikamar mandi, ia mengunci pintunya dengan cepat. Ia membuka amplop tersebut, kemudian menghitung jumlah uang yang diberikan oleh wanita itu kepadanya.


Ia menyelipkan 3 lembar uang ratusan ribu untuk membeli bahan bakar mobilnya dan juga rokok yang menjadi menu wajibnya.


Ia keluar dari kamar mandi yang menyatu dengan dapur. Kemudian ia menuju meja makan, dan menyingkap tudung saji, hanya ada mie instan dan telur yang diceplok bersama dengan mie yang sudah tampak mengembang dua kali lipat dan menjadi dingin.


Ia bergidik melihatnya, namun rasa lapar lebih dominan untuk menyantapnya. Ia kemudian menyantab mie yang sudah memiliki rasa hambar tentunya.


Baru saja satu sendok ia menyuapkan mie tersebut ke dalam mulutnya, kini ia sudah dikejutkan oleh suara Nora yang terdengar begitu sangat marah.


"Bang, Mana uangnya?!" tanyanya penuh amarah. Ia sangat begitu kesal, karena Bima enak-enakkan makan dibanding mendengar keluhannya yang penuh dengan tekanan.


Bima menghentikan suapannya. Telinganya terasa pengang mendengar suara Nora yang sangat tinggi. Bahkan bayi Reza sampai tersentak dari tidurnya karena kaget mendengar ucapan Wanita itu.


Ia memutar bola mata malas, dan mendengus kesal. Kemudian meraih uang dari saku celananya dan melemparkannya diatas meja.


"Tuh, ambil!" ucapnya, dan meninggalkan mie instan yang tadi baru dimakannya hanya sesuapan saja, dan pergi meninggalkan Nira yang masih menghitung uang yang baru diberikan oleh Bima.


Mendapati uang tersebut bersisa 200 ribu, ia tersenyum sumringah, setidaknya ia dapat memesan pakaian online untuk dipakainya berselfie dan menjadi unggahan di akun media sosialnya.


Setelah selesai menghitung uang tersebut, ia berjalan menuju kamar, dan melihat Bima sedang duduk diteras rumah menghisap rokoknya.

__ADS_1


Nora tak memperdulikannya, ia masuk kedalam kamar dan mendapati bayi Reza sedang tertidur, meskipun tadi sempat terbangun.


Nora berbaring diatas ranjangnya, ia membuka aplikasi belanja dan mulai berselancar di pencarian untuk mencari barang yang diinginkannya.


Sebuah pakaian one set menjadi pilihannya, tentunya dengan ukuran jumbo yang sangat besar.


Ia memesan barang tersebut, dengan total harga 198 ribu, sehingga menyisakan 2 ribu saja dari uang yang dipegangnya saat ini.


Estimasi pengiriman barang akan sampai selama 3 hari, dan Nora menyiapkan uang tersebut untuk membayarnya.


Dengan perasaan senang ia memejamkan matanya, membayangkan akan berselfie dengan pakaian tersebut dan pastinya akan membuat rasa percaya dirinya dan mendapatkan like yang banyak.


*****


Pagi menjelang. Sinar mentari bersinar cukup terang. Andini berjalan santai sepanjang 20 meter dan balik lagi selama 2 kali.


Ia sudah memasuki bulan ke 5 dan setidaknya ia harus rajin bergerak untuk agar bayinya juga sehat.


"Sayang, ini susunya, diminum! Mas mau berangkat ke proyek," ucap Rendy sembari membawa segelas susu formula khusus ibu hamil dan dua potong roti panggang yang yang sudah diolesi selai nenas, sebab Andini menyukai rasa asam pada masa kehamilannya.


Andini berjalan dengan nafas tersengal menuju teras. Ia mengatur nafasnya yang masih terasa berat, kemudian duduk dikursi teras sembari meminum susu yang baru saja dibuat oleh suaminya, dan menggigit sepotong roti lalu mengunyahnya.


"Doain ayah, ya sayang.. Agar proyek ayah cepqt selesai dan mendapat proyek baru lagi. Nanti kita buatin acara untuk aqiqahan kamu," bisik Rendy pada perut Andini, mengajak janin itu berbicara.


"Ya, Ayah.. Doa terbaik untuk kamu!" sahut Andini dengan senyum sumringah.


Rendy beranjak bangkit, kemudian mengecup ujung kepala sabg istri dan berpamitan pergi bekerja.


Andini memandang sang suaminya dengan iringan doa yang penuh kebaikan, hingga motor yang dikendarai oleh Rendy menghilang, ia masih dalam mengucapkan doa yang begitu tulus. Rendy adalah suami terbaik yang dikirim Rabb kepadanya.


"Ya, Rabb..Lindungilah suami hamba dalam segala gerak dan langkahnya, dan mudahkanlah urusannya, aamiin.." doa nya lirih dan penuh harapan.


Rendy telah sampai di proyek. Ia memarkirkan motornya. Tanpa sengaja ia bertemu dengan Bima yang juga sedang memarkirkan mobilnya. Tampak Anton, pemilik PT, Raksasa yang mengambil proyek didermaga menghampirinya. Rendy tidak ingin mendengar apa yang menjadi urusan keduanya, namun yang jelasnya, ia melihat wajah masam Bima saat melihat kedatangan Anton yang menuju padanya.


Rendy segera beranjak dari parkiran. Samar-samar ia mendengar suara perdebatan antara keduanya dan Anton meninggikan nada bicaranya.


Ia segera mempercepat langkahnya, tak ingin mendengar ataupun melihat semua perdebatan itu.


"Bima.. Ini sudah sangat terlalu lama aku menunggu semua janjimu, aku ingin kau segera membayar persen dari keuntungan proyek kau janjikan?!" sergah Anton dengan nada penuh penekanan.


"Bima mengacak rambutnya. Ia sangat frustasi dengan semua masalah yang sedang dihadapinya.


"Sabarlah dulu. Sudah ku bilang pekerjaan masih ada masalah!" jawab Bima dengan nada yang sangat kesal.


Anton mengacak pinggangnya. Menatap Bima dengan penuh amarah. Raut wajah pria betubuh kekar itu benar-benar ingin menelan Bima bulat-bulat.

__ADS_1


"Sepertinya aku salah memberi modal.kepadamu! Sudah banyak yang mengatakan kepadaku jika kamu itu adalah seorang pecundang! Jika sampai tiga hari lagi.kamu tidak membayar persennya, maka kau harus membayar keseluruhannya, beserta persennya juga! Jika tidak, maka lihat saja apa yang terjadi padamu!" ucap Anton mengancam, sembari menujuk wajah Bima dengan tatapan penuh amarah.


Bima mencebikkan bibirnya. Ia merasa sangat frustasi dan belum lagi permasalahannya dengan Nora yang setiap hari selalu memintanya untuk membawa uang dan tidak perduli dengan apa yang sedang dialaminya kini.


__ADS_2