
Andini baru saja selesai membersihkan diri. Kepalanya terasa pusing dan sedikit lemah, mungkin efek kelelahan melayani tamu undangan.
Sesaat Ia merasakan pandangannya berkunang dan Ia melihat Rendy yang baru saja masuk kedalam kamar seperti berbayang "Mas" ucapnya dengan lirih.
Rendy yang melihat wajah sang istri memucat, bergegaa menangkap tubuh ramping yang hampir saja terjatuh ke lantai.
"Sayang.." suara penuh kekhawatiran terdengar lirih ditelinga Andini, lalu perlahan menghilang, karena Ia sudah tidak dapat lagi merasakan apapun.
Rendy membopong tubuh sang istri keluar dari kamar dan memanggil kbu mertuanya yang masih berada didapur membereskan sisa hajatan .
"Ada apa, Nak Rendy?" tanya wanita paruh baya itu. Ia begitu menyayangi menantu laki-laki satu-satunya itu, karena selain sopan, juga mencintai puterinya dengan penuh ketulusan.
Lalu wanita itu beranjak dari dapur dan menuju ke ruang tengah tempat asal suara Rendy mencarinya.
Mertuanya tampak terkejut melihat Rendy membopong tubuh puterinya "Andini kenapa, Ren?" saat menyadari Andini tampak tak sadarkan diri.
"Gak tau, Ma.. Mungkin kelelahan. Ma, pinjam mobilnya, mau bawa Andin ke klink bersalin agar mendapat pemeriksaan" jawab Rendy. Meminjam mobil mertuanya.
"Iya" lalu wanita paruh baya itu bergegas ke dapur untuk mengambil dompetnya yang tertinggal didapur dan mencari kunci mobil.
"Pak, Bapak.. Tolong setirin mobil" ucap wanita paruh baya itu kepada suaminya yang masih duduk diteras sembari menyeruput kopinya.
Pria paruh baya itu tersentak kaget mendengar suara panik dari istrinya.
"Ada apa, Bu?" tanya Si Bapak.
"Andin pingsan, Pak.. Temenin Rendy ke klinik buat bawa Andin berobat" titah Jumrah, Ibunda Andini.
Lalu Rendy keluar menuju teras. Melihat sang menantu membopong tubuh puterinya, maka dengan sigap Abdullah sang ayah Andini segera bergegas meraih kunci mobil dari tangan istrinya dan menuju mobil, lalu membukakan pintu tengah untuk Rendy memasuki mobil dan Ia bergegas mengemudikan mobilnya.
Mereka mencari klinik terdekat. Setelah membukan panduan maaps goo-gle, akhirnya mereka mendapatkan klinik yang buka dihari libur. Lalu Abdullah memarkirkan mobilnya didepan halaman klinik, Rendy bergegas turun dari mobil lalu keduanya memasuki klinik dengan sangat tergesah-gesah.
__ADS_1
Rendy mendaftar diruang receptionist dan memberikan kartu identitas milik Andini lalu tanpa menunggu antrian karena dalam kondisi sepi, maka Rendy memasuki ruangan praktik dan meletakkan tubuh sang istri diatas ranjang pasien.
Sedangkan Abdullah menunggu diruang tunggu dengan penuh kecemasan. Sebab Andini adalah puteri satu-satunya.
Lalu dokter melakukan serangkaian pemeriksaan dan melihat hasilnya, kondisi janin dalam keadaan normal dan baik-baik saja. Hanya saja kondisi ibunya yang lemah karena kelelahan dan butuh banyak istirahat serta asupan yang seimbang.
Sebab selama mengalami morning sicknees, Andini hanya bertahan dengan susu formula ibu hamil saja, karena Ia menolak makanan lainnya yang masuk kedalam mulutnya.
Rendy bernafas lega mendengarnya dan dokter menyarankan agar Andini tidak terlalu beraktifitas untuk tiga bulan ditrisemester pertama, karena ink fase yang sangat rentan akan keguguran, ditambah kondisi Ibu yang lemah.
Rendy mennganggukkan kepalanya, dan mencoba memahami apa yang disarankan oleh sang dokter.
"Ini resep yang harus ditebus diapotik ya, Pak.. Ini obat pengu-at kandungan dan usahakan diminum sesuai anjuran" ucap Dokter Obgyn tersebut.
"Iya, Dok.. Terimakasih" ucap Rendy, lalu meraih resep obat tersebut dan kembali membopong tubuh Andini yang masih tak sadarkan diri dan membopongnya kembali keluar dari ruang pemeriksaan.
Rendy menghampiri ayah mertuanya yang duduk dikrsi tunggu, dan Ia duduk disisi ayah mertunya sembari masih memangku sang istri.
"Alhamdulillah baik, Yah.. Butih istriahat dan asupan makanan, sebab Andin sering muntah jika ada makanan yang masuk kemulutnya.
"Syukurlah jika baik-baik saja. Mungkin bawaan sang calon bayi, kamu kan tau sendiri kalau sebelum mengandung Andini doyannya makan dan ngemil setiap saat" jawab Ayah mertua, yang membuat Rendy sedikit tersenyum mendengar ucapan ayah mertuanya, sebab Ia juga tau kalau istrinya itu doyan ngemil sebelum memasuki masa rentan seperti ini.
lalu Rendy duduk disisi sebelah kiri ayah mertuanya. Ia tampak ingin mengambil dompetnya. Namun Ia kesulitan meraih dompetnya yang berada disaku celananya.
"Kamu mau ambil apa, Ren?"
"Dompet, Yah.. buat bayar uang pemeriksaan" ucap Rendy yang tampak ingin beranjak bamgkit dari duduknya untuk memudahkannya meraih dompetnya.
"Sudah, duduk saja, biar ayah yang bayar!" ucap Abdullah lalu beranjak bangkit menuju meja recepsionist.
"Tapi, Yah"
__ADS_1
"Sudah! Kamu diam saja disitu, bagaimanapun Andini puteri Ayah.." sergah Abdullah yang terus berjalan ke meja recepcionist.
Wajah Rendy rasanya sangat malu mendapati ayah mertuanya yang membayar biaya pemeriksaan sang istri, namun Ia berjanji akan mengembalikan uang tersebut setelah sampai dirumah.
Setelah selesai membayar biaya pemeriksaan, Abudulllah beranjak dan melihat ke arah Rendy "Ayo, Kita pulang!"
Rendy menagnggukkan kepalanya dan membopong tubuh Andini menuju mobil.
"Kita singgah ke apotik, Yah.. Buat beli resep obat dari dokter tadi" ucap Rendy kepada ayah mertuanya.
Abdullah menganggukkan kepalanya dan membukakan pintu tengah untuk menantunya.
Setelah Rendy memasuki mobil dan duduk dengan benar, Ia menutup pintunya dengan lembut.
Saat menyetir mobil dan mencari apotik, Abdullah melirik dari kaca dashbor mobil jok tengah mobil tempat Rendy memangku puterinya.
Entah mengapa Ia merasa tenang dan sangat bahagia melihat puterinya mendapatkan seorang suami yang begitu tulus mencintai puterinya.
Kebahagiaan terbesar seorang ayah ialah ketika melepaskan puteri yang dibesarkan dengan cinta kasih dan dinikahi seorang pria yang bertanggungjawab dan memiliki kesabaran serta cinta yang luas dari suaminya, dan satu hal lagi, tanpa adanya perselingkuhan.
Seseorang yang senang berselingkuh bukan berarti karena pasangannya memiliki kekurangan, namun karena itu semua adalah penyakit yang dimana Ia tidak pernah merasakan bersyukur atas apa yang Ia miliki.
Secantik dan sebo-hai apapun istrinya dirumah, jika jiwa selingkuh dan rasa syukur itu tidak pernah ada dalam dirinya, maka itu tidak akan membuatnya merasa pu-as dan terus merasa kekurangan.
Sedangkan jika seorang merasakan bersyukur dengan apa yang Ia miliki, meskipun istrinya tidak cantik dan seindah wanita diluaran sana, maka Ia tidak akan pernah tergiur atau tergoda dengan wanita lain, sebab cintanya hanya tertuju pada pasangan sah-nya saja.
Abdullah merasakan hatinya begitu sangat lega, meskipun nantinya Ia tak lagi didunia ini, Ia akan merasa lega dan tenang meninggalkan dunia dengan puteri tercintanya yang berada ditangan pria yang tepat.
Bahkan Abdullah belum pernah mendengar Rendy meninggikan suaranya saat dari mulai menikah dengan Andini hingga sekarang.
Ia berharap dan terus berdoa, agar Rendy terus menjadi Suami sekaligus Imam yang baik untuk puterinya.
__ADS_1