SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode 23


__ADS_3

Bima memeluk Ningrum dengan begitu hangat. semalaman Ia baru saja memberikan service yang memuAskan untuk Ningrum. Ia akan membuat wanita itu melayang dalam genggamannya.


"Sayang, bangun.. Sudah pukul 8 pagi nih. Katanya mau ke showroom" bisik Bima sudah tak sabar.


Ningrum menggeliatkan tubuhnya yang terasa lelah karena dihajar Bima semalaman. Ia mengerjapkan kedua matanya dan beranjak dari ranjangnya.


Ia tersentak saat melihat Bima sudah rapi dan sedang menunggunya.


Ningrum ke kamar mandi dan membersihkan dirinya, sesuai janjinya Ia akan membelikan mobil untuk Bima sebagai tranportasi untuknya bekerja.


Setelah selesai mandi, Ningrum menyalin pakaiannya dengan gaya modis. Ya karena Ia pekerja seakligus pemilik salon, maka Ia selalu menjaga staylisnya dan memakai make up ringan.


Ningrum menuju dapur membuat sarapan dan juga dua gelas teh hangat. Keduanya menyantabnya dengan cepat.


Setelah selesai sarapan, keduanya akan menuju showroom dan memakan waktu perjalanan 2 jam perjalanan untuk mencapai showroom yang terbesarnya.


Bima bagaikan seorang yang sangat kemaruk dan tak sabar ingin segera memiliki mobil impiannya.


"Sayangku, makasih banget ya, Sayang sudah mau belikan Mas mobil" ucapnya dengan nada yang terlalu romantis.


Ningrum tersenyum, mencoba berfikir positif terhadap suaminya, Ia berharap setelah pembelian mobil ini Bima akan bersungguh bekerja.


Setelah menempuh perjalanan 2 jam. Akhirnya mereka sampai di Showroom terbesar yang letaknya dilur kota.


Keduanya memasuki showroom dan Ningrum berbisik pada Bima "Bagdet hanya 400 juta, jangan lewat dari yang sudah Ningrum sudah tentukan" ucap Ningrum dengan sedikit penuh penekanan.


Bima menganggukkan kepalanya, lalu memilah dan memilih untuk yang mana sesuai keinginannya.


Setelah menemukan satu mobil impiannya, Ia pun memberitahu kepada Ningrum. lalu Ningrum menuju administrasi untuk mengurus semuanya, dan setelah menawar harga, masih ada sisa uang dari hasil penjualan kebun sawit tersebut, dan Ningrum berniat untuk menambah modal usaha salonnya.


Setelah menyelesaikan semuanya, Ningrum dan juga Bima kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan, Bima tampak sangat sumringah.


Sesampainya di rumah, Ningrum meminta untuk diantrakan ke salon, sebab Ia akan mengkordinasi para anggotanya untuk membawa semua alat decor ke rumah Andini agar segera membenahi dan menata decor pelaminan.


Kali ini Ningrum ikut langsung terjun ke rumah Andini yang saat ini sedang di pingit.


Ningrum merias kamar Andini yang dibantu oleh dua pekerjanya. "Wah.. Yang dipingit" sapa Ningrum dengan nada kelakar.


Andini cengengesan dan merupakan salah satu ciri khasnya.

__ADS_1


"Iya Nih, Mbak.. Bosen juga dikurung nih.." jawab Andini dengan cepat.


"Huuus.. Namanya juga sudah adat budaya, ya kamu harus patuhi. Besok malam mau diheina.. Mau pilih motif yang mana dan warna apa?" tanya Ningrum sembari membuka menu berbagai motif dari heina yang Ia kumpulkan dari berbagai artikel.


Andini meraih album tersebut dan melihat-melihat motif yang Ia sukai. Warna gold dengan gliter menjadi pilihannya. "Yang gold pakai gliter ini Mbak" ucap Andini sembari menunjuk motif tersebut.


"Ok.. Besok Mbak persiapkan bahannya, dan untuk kamu harga diskon" ucap Ningrum.


"Gak gratis, Mbak" jawab Andini berkelakar.


"Aiiih.. Neh anak doyannya gratisan mulu" ucap Ningrum.


Andini terkekeh, lalu sesaat terdiam "Mbak.."


"Ya.."


"Kata Mas Rendy kalau Ia dan Mas Bima satu pekerjaan, dan ambil proyek yang sama di perusahaan itu" ungkap Andini.


Seketika Ningrum menoleh ke arah Andini, Ia mengerutkan keningnya "Mkasudmu? Mereka saling kenal?" tanya Ningrum penasaran.


Andini menganggukkan kepalanya "Bahkan pernah tinggal satu kos bareng" jawab Andini.


"Berarti setidaknya Rendy tau segala hal tentang Bima gimana orangnya" cecar Ningrum.


Jangankan Rendy, bahkan Andini sendiri sudah mengetahuinya siapa Bima sebenarnya, namun tidak memiliki keberanian untuk memberitahunya.


Ningrum hanya tersenyum miris. Terkadang ada rasa lelah harus menanggung semua keinginan Bima, tetapi saat berhadapan dengan pria itu, Ia tak mampu untuk menolak apapun yang diminta sang pria.


"Ya, baguslah jika mereka satu pekerjaan, setidaknya bisa saling kontrol" jawab Ningrum.


Andini tersenyum tipis, ada rasa bersalah dihatinya, namun Rendy selalu menghalanginya untuk memberitahu semuanya.


Sementara itu, Bima yang tak sabar dan dan seolah menghitung waktu untuk menununggu datangnya mobil dari showroom, tampak gelisah tak menentu.


Ia membuka aplikasi akun medianya. Dan Ia melihat notif chat pribadinya, seorang wanita kenalannya mengirimkan pesan vedeo vulGar sang wanita.


Melihat hal tersebut, Bima tersenyum sumringah. Ia menelefonnya, dan telefon tersambung melalui aplikasi tersebut.


Tampak dalam panggilan tersebut mereka mengubah menjadi panggilan vedeo. Sang wanita dalam vedeo tersebut sudah tampak tanpa busana, dan akhirnya melakukan obrolan yang menjurus pada hal negatif dan tak bermoral.

__ADS_1


Keduanya melakukan janji temu untuk kopi darat dan tentunya dengan waktu yang disepakati.


Setelah saling menuntaskan hasrat melalui panggilan vedeo tersebut. Bima merasa bosan dikamar, Ia berniat keluar untuk menemui Leli disimpang tempatnya berjualan ayam geprek.


Bima menggunakan motor matic milik Ningrum, lalu menuju ke lokasi.


Sesampainya dilokasi ayam geprek milik Leli, Ia meminta dibuatkan 1 porsi untuk makan malamnya. Tampak dari arah simpang, dua orang pemuda menghampirinya, dan ternyata itu adalah dua adik lelakinya yang keduanya pengangguran.


"Eh, Bang Bima.. Gimana rasanya nikah ma janda tajir?" tanya Yudi yang langsung duduk disisinya, dan meraih rokok milik Bima, lalu menyulutnya.


Tampak Ady ikut juga nimbrung, namjn Adi tidak perokok, dan Ia memilih minta dtraktir ayam georek oleh Bima. "Kak, Lely. Ayam geprek satu porsi, Bang Bima yang bayar" teriak Ady kepada Lely.


Leky menganggukkan kepalanya, dan membuatkan satu porsi ayam geprek.


"Bentar lagi mobil baru untuk Abang datang, paling sejam lagi" ucap Bima.


Yudi membolakan matanya "Wah.. Gila, cepet banget abang morotinya. Tapi atas nama siapa?" cecar Yudi sembari menarik hisaPan rokoknya.


"Atas nama Dia, sih.. Kalau atas nama Abang, ntar kelihatan banget morotinya.." jawab Bima sembari menyuapkan ayam gepreknya.


"Bang.. Bagi duit, 5 juta.. Ada barang mau masuk.." pinta Yudi dengan berbisik.


Bima melirik ke arah Yudi "Gila, Kamu.." maki Bima.


"Ayolah.. Sama adik sendiri masa tegaan" rayu Yudi.


"Seminggu lagi Abang dapat proyek, sebaiknya kalian siapkan berkas-berkas untuk membuat badg" pinta Bima.


"Aku ikut, Bang" jawab Ady yang akalnya masih normal dan lurus hatinya dibanding ketiga saudaranya.


"Ok.. Siapkan berkasmu dan besok pagi abang urus keperusahaan" jawab Bima.


Ady menganggukkan kepalanya, dan menyantab amkan malamnya.


"Cepatlah, Bang.. Mereka sudah menunggu" desak Yudi tak sabar.


"Brengsek.." maki Bima, lalu mengeluarkan uang 2 juta rupiah "Nih.. Besok siapkan berkasmu" ucap Bima kesal.


"Mana cukup segini, bang?" Yudi protes.

__ADS_1


Bima menatap tajam dan membuat Yudi beringsut pergi.


"Siaallan..!! Mana cukup beli barang segini, mana hutangku masih ada lagi sama pemasok" gerutu Yudi. Lalu keluar dari warung dan menuju simapng. Lalu Ia menghubungi seseorang untuk memesan barang serbuk putih yang dijanjikan.


__ADS_2