
Dua hari berlalu. Pencairan dana proyek telah masuk ke rekening Bima. Mbak Raini yang bekerja sama dengan beberapa karyawan maintenent yang sering membeli kekantinnya mengetahui hal tersebut.
Mbak Raini menghampiri Bima yang saat itu melintas didepan kantinnya "Eh, Bima.. Mana jamjimu? Katanya mau lunasin hutangmu!" ucap Mbak Raini dengan nada kesal.
"Sabar kenapa sih! Brisik banget jadi orang! Ntar nuga aku bayar!" jawab Bima yang merasa kesal dengan pemilik kantin tersebut.
Mbak Raini mengerutkan keningnya, dan menatap geram pada Bima "Saya sudah cukup sabar, Ya! Tapi kamunya seperti memancing kesabaran saya!" ucap Mbak Raini semakin kesal.
Bima menatap tajam "Jangan sampai tidak saya bayar, baru tau kamu, Mbak!!"
Mbak Raini membolakan matanya "Saya sumpahi kena bala kamu jika gak mau bayar!!" ucap Mbak Raini yang sudah habis kesabarannya, lalu beranjak pergi meninggalkan Bima dan karena rasanya meladeni orang tersebut membuatnya sport jantung.
Dengan rasa kesal dan juga sakit hati, Mbak Raini merutuki Bima yang Ia rasa tidak memiliki rasa malu.
Sedangkan Bima melangkah pergi dengan santai dan seperti tak ada masalah.
Lalu phonselhnya berdering saat Ia akan memasuki mobilnya, satu nama dari Julian.
"Heeem.. Ini orang juga tau saja kalau uangku sudah cair!" gerutu Bima dan memblokir nomor kkntak Julian.
Tak berselang lama, panggilan masuk dari pusat pembiayaan tempat Ia menggadaikan mobil juga menelefonnya dan Bima merasakan kepalanya pusing saat mereka menagih semua hutang secara bersamaan.
Karena merasa kesal, Ia menon-aktifkan phonselnya.
"Siaalaaan.!! Mengapa mereka bisa menagih hutang secara bersamaan?!" gerutu Bima.
Namun masalah Mobil, Ia harus membayarnya, sebab jika mobil disita, maka Ia harus naik apa? Masa iya naik motor? Gak level dong.
Dengan bergegas Ia meng-aktifkan kembali phonselnya, lalu membuka sebuah aplikasi penyimpanan uang dan mentransfer uang pelunasan pinjamamnnya yang bungannya setengah dari apa yang pinjam. Namun mau tidak mau Ia harus membayarnya.
Setelah itu kembali ke mobilnya untuk menemui Nora yang hari ini sedang tidak berkerja dan sengaja menunggunya.
__ADS_1
Sementara itu, para pekerja yang gajinya belum dilunasi oleh Bima sedang berharap-harap cemas menantikan hak mereka yang belum juga dilunasi oleh Bima, sedangkan informasi pencairan Dana proyek sudah masuk hari ini.
Sebab mereka membutuhkan uang tersebut untuk biaya kebutuhan hidup sehari-hari dan juga membayar hutang warung.
Bima meminta Nora untuk menunggunya disuatu tempat, sebab Ia tidak ingin ketahuan Andini jika sampai menghampiri kerumah Nora langsung.
Lalu mereka berjanji bertemu disuatu tempat dan Nora sudah menunggunya.
Setelah menemukan lokasi janji bertemu, Bima membuka pintu mobil dan janda tersebut memasuki mobil dengan cepat.
Seperti biasa, Bima tidak akan mengeluarkan uang sepeserpun hanya untuk menyewa sebuah penginapan, jika dapat gratis kenapa harus bayar? Itu adalah prinsip dalam hidupnya.
Bima membawa Nora ke tempat biasa Ia menggarap para korbannya dan baginya Nora hanyalah sebuah pelampiasan dan sama seperti yang lainnya.
Ditempat lain, Gibran masih terus gencar memberikan perhatian kepada Ningrum. Sesaat wanita itu teringat akan masalah pencairan dana proyek, dan kebetulan Gibran salah satu orang yang menandatangani pencairan dana tersebut.
"Oh, ya.. Aku mau tanya sedikit, Bran!"
"Kamu tahu gak masalah proyek suamiku? Apakah sudah cair atau belum? Soalnya sudah sangat lama sekali" ucap Ningrum keceplosan. Buak karena Ia kekurangan uang, tetapi sepantasnya Bima harus memberinya nafkah meskipun Ningrum memiliki banyak uang dan juga Ia sudah investasi banyak uang untuk proyek Bima, masa iya, jika Ia tidak mendapatkan hasilnya.
"Baru saja, pagi tadi!! Emangnya kenapa?" tanya Gibran penuh penasaran.
Ningrum tergagap "Tidak mengapa! Terimakasih informasinya, Ya. Oh, ya.. Sudah dulu, Ya. Soalnya aku lagi mengeurus WO digedung hotel" ucap Ningrum mengakhiri percakapan mereka.
Ningrum mengehela nafasnya dengan kesal. Mengapa Bima tidak memberitahunya? Dan terkesan merahasiakannya.
Lalu Ka menekan tombol atas nama suaminya, tersambung, namun tidak diangkat.
Bagaimana Bima akan mengangkatnya, sedangkan Ia masih sibuk bercinta dengan Nora.
Ningrum melakukan panggilan hingga sepuluh kali, namun tak satupun yang diangkat oleh Bima, Karena merasa kesal, Ia mematikan panggilannya.
__ADS_1
Setelah bermandikan keringat dan pu-as mencumbu Nora yang siap melayaninya secara gratis, Bima tersentak melihat panggilan masuk dari Ningrum. Ia tidak ingin ATM-nya ngambek, lalu dengan cepat kembali menghubungi Ningrum.
"Hallo, Cantikku, Sayangku.. Ada apa, Sayang? Tadi Mas gak dengar karena sedang nyetir" ucap Bima berbohong.
Ningrum menghelan nafasnya dengan berat "Mas, aku dapat informasi jika uang proyek sudah keluar! Aku ingin kamu membagi sepertiganya kepadaku atas kepengurusan pembuatan CV yang sedang kamu jalanka. Anggap saja itu untuk nafkah yang sudah lama tidak kamu berikan padaku!" ucap Ningrum.
Seketika Bima terperangah mendengarnya "Kamu kenapa jadi hitung-hitingan begini sih, Sayang? Berarti kamu tidak ikhlas dengan apa yang kamu berikan selama ini?" tanya Bima mulai kesal.
Ningrum mengerutkan keningnya "Kenapa kamu jadi sewot sih, Mas? Kan aku cuma minta hakku? Sudah hampir 4 bulan kamu tidak memberiakn nafkah untukku, bahkan aku yang menanggung hidup kamu dan dua adikmu itu!" ungkit Ningrum dengan kesal.
"Ooo.. Jadi mengungkit ceritanya ini?! jawab Bima yang kesal dengan ucapn Ningrum.
Ningrum membolakan matannya, awalnya Ia hanya ingin meminta haknya karena selama pernikahannya Bima tidak pernah memberikannya nafkah, namun mengapa berbalik Bima yang ketus?
Ningrum yang kesal mematikan phonselnya dan rasanya ingin menangis dan berteriak sekencangnya. Semua menjadi rumit dan serba salah.
Tak berselang lama, Mbak Raini menghubungi Ningrum.
"Hallo, Ya, ada apa, Mbak?" tanya Ningrum mencoba bersikap tenang.
"Maaf, Mbak mengangganggu. Bagaimana oni ya, Mbak? Saya bingung menghadapi Bima suami, Mbak. Susah sekali menagih hutang padanya" ucap Mbak Raini yang juga sudahbtidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi Bima.
Ningrum terperangah dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Mbak kejar saja sampai Dia mau membayar hutangnya, Mbak.. Saya juga pusing menghadapinya. Jadi saat ini kita sama-sama pusing, Mbak..! Maaf ya, Mbak.. Bukan saya tidak mau bantu, tapi coba Mbak paksa agar Ia mau membayarnya!" ucap Ningrum dengan nada lirih.
Sebenarnya Ia juga kasihan dengan Mbak Raini, namun jika Ia yang membayarnya, maka Bima akan melunjak dan membebankan semua hutang yang diciptakannya kepada diirnya, sepertinya kali ini Ningrum akan bersikap tega.
Mbak Raini mendengar nada bicara Ningrum tampak pusing, akhirnya Ia menutup Panggilannya.
Namun Ia akan mencari cara agar Bima membayar semua hutangnya, sebab Ia pedagang dan butuh perputaran modal.
__ADS_1
Sementara itu, Bima mengenakan pakaiannya yang berhamburan dilantai mobil, dan mengantarkan Nora ke tempat tadi bertemu, dengan menyelipkan uang 50 ribu rupiah dibalik bra Nora.