
Kini Ningrum tinggal menunggu Bima yang juga belum muncul, saat Ia merasa kesal, Bima keluar dari salon, dan Ningrum berdecak kesal.
Bima menghampiri Ningrum yang sudah berwajah kesal.
"Maaf, Sayang.. Perut Mas rasanya mulas banget, maaf ya, buat Kamu lama menunggu" ucap Bima dengan actingnya yang sangat luar biasa.
"Ya sudah. Ayo, sudah sangat terlambat!" ucap Ningrum, lalu menuju pintu depan mobil dan Bima menuju kemudi mobil dan melajukan mobilnya.
" Arahnya kemana, Sayang? Tanya Bima berpura-pura tidak mengetahui dimana rumah Andini yang baru.
Ningrum membuka aplikasi maps go-ogle untuk melihat alamat Andini yang dishare kepadanya.
"Menurut panduannya kita maju kedepan, dan sepertinya tidak begitu kauh paling lama juga 15 menit, jawab Ningrum.
Bima menganggukkan kepalanya, berakting seolah Ia memang belum mengetahui dimana rumah Andini.
Tak berselang lama, mereka menemukan alamat yang dishare oleh Andini.
"Sepertinya ini deh alamatanya" Ucap Ningrum mencoba meyakinkan jika alamat yang dituju.
"Iya.. Ini alamatnya" ucap Bima membenarkan.
Ningrum mengerutkan keningnua "Koq, Mas tahu dan yakin?"
"Emmm.. Ya coba kamu lihat itu, ada ramai-ramai didalam gang dan juga musik qasidah" jawab Bima dengan sedikit tergagap.
Ningrum mencoba mempercayai ucapan Bima, dan mereka memasuki gang, dan benar saja, ternyata sudah banyak tamu yang hadir.
Tampak Rendy dan juga Andini yang duduk dikursi sedang melayani tamu yang hadir.
Ningrum turun dari mobil dan diikuti oleh Bima. Ningrum membuka bagasi mobil dan membawa cake buatannya dan menghampiri Andini yang tampaknya wajahnya sangat pucat sekali.
"Mbak Ningrum?!" ucap Andini beranjak bangkit dan memeluk sahabatnya.
"Selamat, Ya sayang.. Semoga rumahnya membawa keberkahan" doa Ningrum tulus.
"Makasih, Mbak.." jawa Andini dengan sangat penuh kebahagiaan saat melihat temannya datang dalam memenuhi undangannya.
Andini melepaskan pelukannya, dan Ningrum memberikan buah tangan yang dibawanya.
"Wah.. Repot-repot, Mbak" ucap Andini dengan senyum sumringah.
Tampak Bima ikut mmeberikan buah tangan yang dibawa oleh Ningrum.
"Selamat, Ya Ren. Sudah dapat beli rumah, meskipun masih sangat kecil" ucap Bima dengan nada cibiran.
__ADS_1
Rendy tersenyum datar "Makasih buat doa dan kehadirannya" jawab Rendy mencoba menutup telinganya dari apa yang diucapkan oleh Bima kepadanya.
Saat Bima menjabat tangan Andini, tiba-tiba tatapan Andini berubah sinis dan rasanya pengen menonjok wajah Bima saat ini juga.
Namun Ia mencoba mengabaikan tatapan Bima yang tampaknya sangat mengintimidasi Andini agar tidak membocorkan apa yang tidak dilihatnya malam itu.
Andini menyunggingkan senyum sinis kepada pria brengsek tersebut.
Saat ketidaknyamanan terjadi, Yamink datang bersama dengan istrinya membawa bingkisan.
"Waah.. Datangnya bisa bersamaan, Ya" sapa Yamink dengan mengagetkan keduanya.
"Eh, kang Yamink.. Ya ampun, senengnya kalian bisa datang" ucap Andini manja.
"Ya, Iyalah.. Masa buat teman sendiri gak disempatkan hadir. Selamat ya , Andin.. Semoga rumahnya membawa keberkahan" Doa kang Kang Yamink.
"Aamiin... Makasih doanya ya, Kang.." jawab Andini.
"Iya.. Andin.. Yang doyan makan cilok" jawab Yamink seenaknya.
Seketika ketiganya tertawa.
"Ya udah, silahkan nik-mati hidangannya, Kang, Mbak.." ucap Andini kepada kedua sahabatnya.
Lalu keduanya menuju prasmanan saat untuk menik-mati jamuan yang disediakan oleh tuan rumah.
Ningrum dan juga kang Yamink terlibat perbincangan yang saling canda, dan begitu juga istri kang Yamink yang ternyata gak kalah gokilnya dengan kang Yamink.
Seaat Bima mendapat notif pesan dari Nora, yang memintanya untuk datang ke rumahnya.
Bima mengahabiskan makanannya. Lalu mencolek lengan Ningrum "Sayang, Mas cari rokok dulu ke depan gang, Ya" ucap Bima ke pada Ningrum. Ningrum hanya menganggukkan kepalanya.
Lalu Yamink dan Ningrum kembali mengobrol dan Bima beranjak berjalan ke depan gang untuk menemui Nora yang sudah gatal menunggunya didalam rumah.
Bima berjalan dan mengetuk pintu Nora. Sang janda dengan cepat membuka pintu rumahnya, saat bersamaan Gibran menumpang parkir dihalaman rumah Nora.
Tanpa sepengetahuan Bima dan Nora, Gibran memasuki memergoki keduanya dari dalam mobil.
Ia mengerutkan keningnya, Ia mengetahui jika Nora adalah karyawan dikantin Mbak Raini, dan Bima kontraktor di perusahaan tempatnya bekerja.
Namun Gibran merasa masa bodoh, Ia melihat keduanya memasaki rumah dengan gelagat yang tampak mencurigakan.
Swtelah keduanya menutup pintu, Gibran keluar dari pintu mobil dan menuju lokasi rumah Rendy dan memasuki gang dengan berjalan kaki.
Sesampainya dilokasi tersebut, Gibran menghampiri Rendy dan mengucapkan doa terbaik, lalu menuju prasmanan dan mengambil hidangan yang disediakan.
__ADS_1
Tanpa sengaja Ia melihat Ningrum sedang terlibat obrolan dengan Yamink dan istrinya.
Gibran menghampiri meja Niingrum dan menyapanya.
"Heei.. Sudah lama?" tanya Gibran dengan nyelong duduk di meja mereka.
"Eh.. Gibran.. Baru datang? Tanya Ningrum dengan ramah.
"Baru saja datang.."
"Eh, kemari juga Bos?" ucap Yamink dengan sumringah.
Seketika Gibran membolakan matanya, agar Yamink tak mengatakan apapun tentangnya dihadapan Ningrum. Seketika Yamink mengerti maksudnya.
"Lho.. Kang Yamink kenal juga sama Gibran? Koq bisa?" tanya Ningrum penasaran.
Seketika Gibran menekan kaki Yamink agar tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Emm.. Ya kenal dipasaran, Mbak.. Namanya juga pria, biasakan?" jawab Yamink berbohong.
Ningrum menganggukkan kepalanya.
"Mbak kenal juga dengan Bos, eh maksdunya Pak Gibran?" ucap Yamink meralat ucapannya.
"Gibran teman sekampus saya" jawab Ningrum jujur.
Namun Gibran melihat pandangan mata Gibran tampak begitu dalam untuk sahabatnya, ada sesuatu yang disembunyikan oleh Gibran dalam tatapannya.
"Kang.. Kita duluan yuk, mau belanja bahan pokok" ucap Syahfitri merengek kepada Yamink.
Ningrum memandang keharmonisan Yamink dan istrinya dengan begitu bahagia. Layaknya seperti Andini dan Rendy, mereka begitu tampak bahagia dalqm biduk rumah tangganya meskipun tak bergelimang harta seperti dirinya, namun mereka hidup penuh kebahagiaan dengan ketulusan cinta yang didapat dari pasangannya.
Yamink berpamitan kepada Ningrum dan Gibran, serta menghampiri Andini dan juga Rendy, lalu berpamitan pulang.
Kini tinggal Ningrum dan Gibran yang berada satu meja makan dan mereka mulai berbincang tentang masalah decor puteri Gibran dan sampai kisah saat berada dikampus.
Sesaat Ningrum melirik jam diphonselnya, Ia merasa Bima telah terlalu lama yang membeli rokok kedepan gang, dan belum juga kembali.
"Kamu kenapa, tampaknya sangat gelisah sekali?" tanya Gibran penasaran.
"Suamiku beli rokok, tapi sampai sekarang belum balik lagi, padahal warungnya didepan gang" ucap Ningrum dengan jujur.
Seketika Gibran tersenyum miris. Ia lupa jika Ningrum telah berumah tangga, namun Ia tidak mengetahui jika Bima adalah suami keduanya.
"Jadi kamu datang kemari bersama suamimu?" tanya Gibran dengan nada yang datar.
__ADS_1
"Iya.. Tapi beli rokok koq sampai lama banget" ucap Ningrum kesal.