
Ningrum menjemput Luccy. Ia kini harus dapat menjaga malaikat kecil untuk terus kuat dan bertumbuh kembang dengan baik, Luccy adalah amanah dari Gibran dan juga sang Rabb yang tanpa sengaja ia temukan.
Ia menatap sang gadis kecil yang berlari ke arah mobilnya. Ningrum keluar dari dalam mobil dan berdiri menyambut kedatangan sang gadis kecil yang kini hanya memiliki dirinya dan juga Rabb-Nya sebagai gempat bergantung.
Luccy tak lagi memiliki keluarga. Ia terputussari saudara ibunya, sebab ibunya tidak pernah membawanya kekerabatnya, sehingga ia tidak pernah tahu siapa saja kerabat dari ibunya.
Sedangkan untuk sang papa, ia adalah anak tunggal dan kedua orangtuanya telah meninggal dunia, sehingga Luccy juga tidak memiliki opa dan oma yang ia tahu hanya batu nisan yang terpasang disebuah makam mewah dikota kelahirannya.
"Mama.." teriaknya, sembari berlari menghampiri Ningrum. Sebuah panggilan yang sangat menyayat hati. Seorang gadis kecil yang harus kehilangan kedua orangtuanya dalam sekejap saja, sedangkan ia masih sangat membutuhkan kasih sayang dari mereka.
Ningrum menjulurkan kedua tangannya. Menyambut kehadiran Luccy yang berlari lecil. Tas ransel burguncang dipunggungnya mengikuti irama gerak tubuhnya.
"Mama.." ucapnya sekali lagi, saat tubuh kecilnya sudah semakin mendekat dan Ningrum menyambutnya dalam sebuah dekapan kepedihan. Rasa sesak menggelayuti hatinya, ia harus kuat, dan ia akan tetap berdiri kokoh demi untuk malaikat kecil yang kini mendekapnya erat dengan penuh harapan.
Ningrum mengusap lembut ujung kepala Luccy, kemudian keduanya masuk ke dalam mobil.
Ningrum mengemudikan mobilnya, membelah jalalan yang terlihat padat, karena aktifitas masyarakat yang sangat sibuk pada jam menjemput anak pulang sekolah.
"Ma.. Kita mau kemana? Sepertinya bukan arah pulang?" cecar sang gadis kecil.
"Kita akan menemui seseorang, Sayang!" jawab Ningrum.
Luccy terdiam memandang wajah wanita yang kini disisi kanannya dan sedang fokus menyetir.
Mereka memasuki sebuah parkiran yang bertuliskan nama seorang Advokad yang mengurus tentang hukum.
"Ini tempat apa, Ma?" tanya Luccy penasaran.
"Ini pengacara yang mengurus semua biaya pendidikan kamu!" jawab Ningrum seadanya. lagipula untuk menjelaskan secara detail, maka gadis tidak akan mengerti.
Keduanya berjalan memasuki kantor berlantai dua yang menjadi tempat untuk pengacara Alexander membuka jasa hukumnya.
Sesampainya didalam ruangan tempat Alex bekerja, tampak dua orang pria sudah lama menunggu mereka.
Seorang diantaranya bernama Alexander-Pengacara, dan seorang lagi memperkenalkan diri dengan nama Badhi.
"Perkenalkan, saya Alexander yang menangani semua harta Almarhum Pak Gibran dalam urusan hak dan wasiat,"
"Dan disini hadir pak Badhi yang mengaku sebagai ahli waris dari sepupu Pak Gibran, yang mana Ayah Almarhum pak Gibran dengan Ayah pak Badhi saudara kandung. Karena Almarhum Pak Gibran tidak memiliki anak laki-laki, maka saudara sepupunya berhak mendapatkan harta bagiannya," ungkap sang Pengacara.
Ningrum terdiam. Ia menatap pada Badhi yang tampak tersenyum licik menatapnya.
"Maaf, sebelumnya Pak Gibran tidak pernah mengatakan jika ia memiliki saudara sepupu, lalu mengapa tiba-tiba ada yang datang mengaku sebagai saudara sepupunya?"
Badhi menatap tak tak suka. "Eh.. Kamu itu orang luar! Apa yang kamu tahu tentang silsilah keluarga kami?"jawab Badhi dengan sengit.
Ningrum terdiam, lalu ia menghela nafasnya berat, ia tidak ingin berdebat, karena Luccy tampak ketakutan saat melihat Badhi meninggikan suaranya kepada Ningrum.
"Harap jangan bertengkar! Duduklah dengan tenang."Alexander mencoba menenangkan kedua belah pihak.
__ADS_1
Ningrum mencoba tenang dan ia berusaha menghargai Alexander sebagai pengacara yang ditunjuk oleh Gibran.
"Disini saya akan membacakan apa yang diwasiatkan kepada saya untuk Luccy.
"Disini disebutkan jika rumah, mobil, dan juga tabungan deposite diserahkan kepada Luccy, sedangkan usaha garmen akan dikelola oleh orang yang mengasuh Luccy." Alexander membacakan semua wasiat yang tertulis.
Badhi tersenyum sumringah "Saya pamannya, maka saya yang berhak mengasuhnya, dan usaha garmen, mobil serta rumahbserta deposite juga akan dalam pengawasan saya!" Badhi langsung menjawab.
Ningrum terperangah. jika apa yang dikatakan oleh Badhi itu benar, maka artinya Luccy akan diasuh oleh Badhi, dan itu belum tentu sesuai dengan keinginan Almarhum Gibran.
Luccy tampak takut mendengar jika ia akan diasuh oleh Badhi. Sosok yang mengaku sebagai paman sepupunya, bahkan ia tidak pernah mengenal pria tersebut.
Luccy mencengkram peregelangan tangan Ningrum. Ia menatap wanita itu, Ia tidak ingin jika diasuh oleh orang lain.
Tatapan gadis kecil itu menghiba, ia meminta Ningrum membawanya.
"Tidak!! Luccy akan tetap berada dibawa asuhanku!!" jawab Ningrum dengan tegas.
Badhi membolakan kedua matanya. "Heei!! Wanita licik. Apakah kau ingin menguasai harta Luccy, sehingga kamu bersikeras untuk merawatnya, hah!"
Ningrum merasa tersinggung dengan ucapan pria tersebut. Ia bukanlah wanita penggila harta yang ingin menguasai milik seseorang, sebab ia bersikeras karena merasa ini adalah amanah dari Gibran sendiri saat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
"Aku hanya ingin menjalankan amanah dari almarhum, bukan dengan niat lain!" jawab Ningrum.
Badhi semakin merasa emosi, ia tidak ingin semua yang terpampang nyata didepan matanya harus hilang begitu saja, ia harus mendapatkannya.
Badhi menarik paksa Luccy untuk mendekat padanya. Gadis kecil itu meronta dan menangis. "Tidak, Luccy tidak mau ikut paman, KmLuccy tidak kenal paman!" ucap gadis itu sembari menangis.
Seketika Badhi mendorong Ningrum hingga terpental dilantai, dan merintih kesakitan. Kemudian Pria itu mengeluarkan sepucuk senjata api, Ia menodongkannya kepada Ningrum dan juga pengacara tersebut.
"Berani kamu melangkah, maka peluru ini akan menembus kepalamu!" ancam Badhi dengan menarik pelatuk dan ia tidak main-main dengan ancamannya.
Ningrum terperangah dengan apa yang dipegang oleh Badhi yang sudah dibutakan oleh harta benda.
Ningrum berusaha untuk berdiri, ia tidak dapat bertindak gegabah, sebab jika sampai Pria itu benar- benar menembaknya, maka tidak akan ada yang merawat Luccy.
Sementara itu, Luccy menangis dengan rasa ketakutan yang sangat membuatnya trauma. Gadis kecil itu sangat takut dengan ancaman Badhi yang mengaku sebagai pamannya. Ia tidak dapat membayangkan jika sampai ia dibawah asuhan pria itu, entah bagaimana nasibnya kelak.
"Cepat alihkan nama kepemilikan pabrik garmen dan juga aset lainnya sebelum peluru ini juga menembus kepalamu!" ancam Badhi pada Alexander.
Wajah pengacara itu memucat ketakutan. Ia melirik pada Ningrum yang saat ini juga sama takutnya. "Berikan Luccy padaku, dan silahkan ambil semua harta yang kau inginkan, semoga saja harta anak yatim itu tidak membawa kesialan bagimu. Jikapun benar kamu adalah pamannya, maka kewajibanmu menafkahinya, namun itu tidak perlu, aku masih dapat menghidupinya tanpa semua harta itu!!" Ningrum mencoba bernegosiasi.
Badhi tersenyum sinis, lalu melihat pengacara itu sedang mengerjakan pengalihan nama untuk semua aset yang ditinggalkan Gibran.
Setelah selesai, maka penandatangan dimulai, dan kini Badhi menjadi pemilik dari semua aset yang dimiliki Gibran dengan dalih jual beli palsu, namun Deposite tidak dapat ia cairkan, sebab hanya Luccy yang dapat mengambilnya.
Setelah semua berpindah tangan padanya, Badhi mendorong Luccy kepada Ningrum. "Nih.. Bawa anak ini untukmu, aku tidak membutuhkannya!" ucap Badhi, kemudian berlalu pergi.
Luccy memekuk Ningrum dengan sangat erat. Ia begitu sangat ketakutan. Perustiwa barusan membuat sangat syok. Ia tidak ingin diasuh oleh siapapun, dan ini sangat menakutkan baginya.
__ADS_1
Lalu Pengacara itu memberikan surat deposite yang akan ditarik oleh Luccy sesuai tanggal penarikan yang tertera dengan semua persyaratan yang ada.
Ningrum membawa Luccy pergi dari ruang sang pengacara. Hatinya begitu hancur saat mengetahui semua hak yang seharusnya menjadi milik Luccy kini dirampas oleh orang yang tiba-tiba saja mengaku sebagai pamannya.
"Mas.. Maafkan aku tidak dapat menjaga hartamu, tetapi ku pastikan Luccy akan aman bersamaku, meskipun tanpa harta yang kau tinggalkan!" guman Ningrum, sembari membawa gadis kecil itu keluar menuju parkiran dan memasuki mobil.
Ningrum membawa Luccy tinggal bersamanya. Sebab rumah peninggalan Gibran kini tak lagi menjadi hak Luccy karena sudah dirampas paksa oleh seorang pemakan harta anak yatim.
Namun bagi Ningrum itu bukanlah masalah, sebab ia juga pernah mengalami rumahnya terjual oleh pria laknat seperti Bima, maka kini nasib Luccy dan dirinya tak jauh beda, yaitu dua wanita yang penuh dengan penderitaan, meski berbeda versi.
"Ma..paman itu tadi siapa?" tanya Luccy penasaran.
"Bukan siapa-siapa, kamu tidak perlu takut, Sayang, ada mama bersamamu!" jawab Luccy sembari mengemudikan mobilnya.
Keduanya tiba dirumah Ningrum yang merangkap sebagai salon. Ia membawa gadis kecil itu memasuki rumah. "Ayo, Sayang.. Mulai saat ini, kamu tinggal dirumah mama dan ini juga rumah kamu!" ucap Ningrum kepada Luccy.
Gadis kecil itu hanya menganggukkan kepalanya saja. Ia masih belum memahami apa yang sebenarnya terjadi. "Ma.. Besok-kan hari libur, kita tidur dirumah Luccy, Ya? Luccy kangen sama kamar papa!"
Deeegh...
Hati Ningrum bagaikan tersayat sembilu. Ia tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan kepada sang gadis kecil, jika rumah itu bukan lagi miliknya.
Ningrum menarik nafas berat dan menghelanya. Pandangan matanya begitu sangat nanar. Ia hanya dapat memeluk erat sang gadis kecil.
Sementara itu. Badhi tertawa dengan penuh kemenangan. Ia merasa jika hari sangat beruntung. Jully sudah menantinya sejak tadi disebuah mobil yang terparkir tak jauh dari kantor pengacara tersebut.
"Bagaimana, Sayang? Apakah kamu berhasil?" tanya wanita berpenampilan stylist dengan gaya sosialita.
"Tentu, Sayang.. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Badhi. Ini nama sungguh keberuntungan. Gibran yang bekerja keras mengumpulkan uang, kita yang menikmatinya!" jawab Badhi, sembari mengecup bibir wanita hang merupakan istrinya.
Ya... Badhi memang adalah saudara sepupu Gibran, yang mana ia juga mendapat bagian dari harta warisan Gibran karena Almarhum tidak memiliki anak lelaki, akan tetapi Badhi lupa jika memakan harta anak yatim akan menjadi malapetaka baginya, dan ia melupakan kewajibannya sebagai penanggung jawab dunia akhirat untuk Luccy yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya.
Keduanya merasa sangat bahagia. Mereka sudah merencanakan semuanya. Merencanakan menjual rumah dan mobil milik Gibran, kemudian menguras pemasukan dari pabrik garmen yang kini dibawah penguasaannya.
Badhi dan Jully akan berlibur ke luar negeri dengan menggunakan uang hasil rampasan yang mereka ambil paksa dari seorang anak yatim piatu.
"Kita berlibur ke Los Angeles, Sayang!" ucap Jully yang sudah membayangkan hidupnya akan menjadi begitu menyenangkan karena ia akan keliling dunia.
"Tentu, Sayangku!! Apapun itu untukmu!" jawab Badhi yang bagaikan kerbau dicocok hidungnya dan akan mengikuti apapun yang dikatakan oleh Jully.
Jully mendaratkan kecupannya pada pipi Badhi dengan sangat licik.
Keduanya memesan tiket perjalanan beserta resort yang akan menjadi penginapan mereka nantinya. Semuanya sudah mereka jadwalkan dan akan menjadi liburan paling mewah untuk mereka.
Setelah itu, keduanya menuju rumah Almarhum Gibran dan mereka menawarkan rumah itu secara online dan juga offline. Mereka menjualnya seharga 4 milyar. Ini adalah modal yang sangat fantastis untuk bersenang-senang.
Lalu keduanya membawa mobil ke showroom untuk menjualnya. Sepertinya mereka melakukan praktik pencucian uang untuk menghilangkan jejak.
Sesudah berhasil menjual mobil tersebut, keduanya pergi ke restauran mahal untuk mengenyangkan perut mereka yang sangat lapar akan hasil yang didapat secara rampasan.
__ADS_1
Kemudian mereka memesan minuman keras sebagai perayaan keberhasilan yang mereka dapatkan.