
Ningrum merasakan hatinya sangat kesal karena Bima ternyata bukan hanya tidak memberinya 30% bagian dari hasil proyeknya, namun juga tidak mau membayar hutang-hutangnya pada orang lain. Ia tidak mengerti mengapa sikap Bima seperti itu.
Ningrum kembali ke rumah, Ia sangat pusing dengan apa yang baru saja terjadi.
Sesampainya di rumah, Ia melihat Yudi sedang duduk santai dan hal itu membuat Ningrum bertambah kesal dengan pemuda itu.
Ningrum bergegas menaiki anak tangga dan memasuki kamarnya, lalu menguncinya.
Bima melajukan mobilnya, menuju salon Ningrum, namun setelah bertanya pada Jenny, ternyata Ningrum berada disalon.
Kemudian Bima menuju ke rumah, dan sesampai di rumah, Ia bertanya kepada Yudi "Yud..ada lihat Ningrum pulang, Gak?"
"Ada tuh, dikamar!"
Bima bergegas menuju kamar, mencoba membuka pintu kamar, namun ternyata dikunci oleh Ningrum.
Bima menggedornya berulang kali, dan menimbulkan kebisingan.
Akhirnya dengan perasaan kesal, Ningrum membuka pintunya.
"Apa sih maumu?! Mengapa kamu selalu saja mengungkiinapa yang sudah kamu berikan?!" cecar Bima dengan kesal.
Ningrum memasang wajah kesal dan penuh amarah.
"Apa? Mengungkit?! Aku hanya meminta hakku! Laku mengapa kau tak memberikannya? Sudah 4 bulan kita menikah, dan sebutir beraspun belum pernah kamu berikan kepadaku, Mas! Bahkan Aku terus yang selama ini menanggung hidup kamu dan juga keluargamu, bahkan hutang-hutangmu!!" sergah Ningrum dengan nada tinggi.
Buuuuuughh..
Bima meninju pintu kamar hingga membuat jemarinya terluka, sebab pintu itu terbuat dari kayu jati dan tentunya sangat kuat.
"Stooop!! Jangan hancurkan segala barang-barangku! jika Kau ingin mengahancurkan suatu barang, maka hancurkan barang yang Kau beli" teriak Ningrum dengan emosi yang sudah tidak terkontrol.
"Dasar, Perempuan breeengseeek.!!! Aku sangat jijik melihatmu!" balas Bima dengan sengit dan ingin berlalu dari kamar.
Ningrum sangat hati mendengar ucapan Bima "Apa?! Kamu jijik denganku?! Katakan sekali lagi!!"
"Aku jijik melihatmu..!!" ucap Bima dengan sengit.
__ADS_1
Ningrum menatap tajam dan tersenyum sinis "Baiklah! Serahkan kunci mobil sekarang juga, cepat!! jika Kau jijik melihatku, maka jangan pakai barang-barangku.. Dan sekarang keluar dari rumahku, bawa adik-adikmu, sekarang!!" hardik Ningrum dengan sangat kesal dan penuh amarah.
Bima membolakan matanya, lalu dengan kesal melemparkan kunci mobil kepada Ningrum dan hampir saja mengenai Ningrum.
"Nih, Makan pencarianmu!!" ucap Bima dengan kesal dan meruni anak tangga menuju lantai dasar.
"Yudi! Ady! Bawa pakaian dan barang-barang kalian sekarang, dan Kembali ke rumah ibu!" ucap Bima dengan penuh amarah.
Lalu keduanya mengemasi barang-barang mereka dan berjalan kaki menuju pulang ke rumah ibunya.
Ningrum menangis sejadinya. Ia tak pernah menduga jika pernikahannya yang hanya seumur jagung telah membuatnya begitu menderita.
Begitu penderitaan dan air mata yang didapatkan selama menikah dengan Bima. Ia mengira pernikahannya akan menjadi penyembuh luka dalam kegagalanya yang pertama, namun yang kedua justru membuatnya semakin parah.
Ningrum menyeka air matanya, lalu mengambil kunci mobil dan menuruni anak tangga untuk memeriksa surat-surat mobil dan ternyata BPKBnya sudah ditebus Bima, dan Ia segera menuju Bank untuk membuka loker safe deposit booksnya untuk menyimpan surat--surat berharganya.
Ningrum melihat surat rumahnya, ia membawanya pulang, berniat akan menemui pengacara dan akan membuat surat wasiat untuk nantinya jika Ia tiada dan tidak memiliki keturunan maka akan diwariskan kepada ayahnya atau adik lelakinya.
Ningrum membawa surat rumah itu kembali pulang dan menyimpannya didalam lemari pakaiannya.
Ningrum mengangkatnya dan melakukan panggilan vedeo. Tampak mata Ningrum begitu sembab.
"Kamu kenapa menangis terus? Lihatlah kedua matamu sudah seperti orang yang tersengat lebah" ledek Andy.
Ningrum masih tersedu, dan pundaknya terguncang.
"Kamu tau gak? Cinta itu tanpa air mata, dan yang ada hanya senyum bahagia" Andy mencoba menghiburnya. Namun Ningrum masih tergugu.
"Dia katakan jijik melihatku" ucap Ningrum terbata.
"Tetapi aku tidak! Ayolah, jangan menangis seperti itu, jelek tau!" ucap Andy mencoba membuat Ningrum tersenyum.
Ningrum menyeka air matanya, dan mencoba tersenyum meskipun hatinya masih terasa sangat sakit.
Sesaat tampak seseorang memasuki ruangan kerja Andy "Sudah dulu ya, Aku masih ada pekerjaan, ntar kalau tidak sibuk aku telefon balik" ucap Andy dan mengakhiri panggilan telefonnya.
Dan seperti biasanya Andy akan mentransfer uang secara cuma-cuma lalu menghilang begitu saja.
__ADS_1
Tak berselang lama, Notif transfer masuk kerekeningnya dengan nominal 10 juta rupiah.
Ningrum menatapnya nanar. Mengapa Andy selalu mengiriminya uang dengan cuma-cuma? Bahkan menghilang setelah mengirimkannya. Sungguh pria misterius.
Ningrum mengunci pintu kamar dan Ia ingin menenangkan dirinya tanpa ada gangguan apapun lagi.
Namun baru saja akan bersantai, Sary menghubunginya karena ada seseorang yang memesan jasa WO-nya datang untuk mempertanyakan model gaun pengantin dan juga pakaian adat untuk pernikahan anaknya yang sebentar lagi akan digelar.
Dengan keterpaksaan, akhirnya Ningrum berangkat ke salon dan menemui pelanggannya yang akan memesan jasa WO-nya.
Ningrum membubuhkan foundition untuk menyamarkan kantung matanya yang membengkak karena menangis sejak tadi. Setelah memastikan penanmpilnnya tidak berantakan, Ningrum menuju salon.
Sesampainya disalon Ia melihat seorang wanita yang berpakaian elegant sudah menunggunya dan Ia menemuinya diruang tunggu.
Lalu mereka membahas tentang semua yang diinginkan oleh calon pengantin. Dari mulai pakaian dan warnanya hingga sampai decor dan juga harga yang disepakati.
Sesudah menemukan kecocokan, akhirnya wanita itu memberikan uang muka sebagai tanda jadi, dan Ningrum mencatatnya dan membuat kwitansinya.
Setelah itu, wanita tersebut pergi meninggalkan salon.
Ningrum bersandar di sofa, dan meraskan kepalanya masih pusing atas pertengakarannya dengan Bima.
Tampak Jenny berbalas chat, entah dengan siapa. Lalu Ia meletakkan phonselnya diatas rak salon, lalu melanjutkan pekerjaaannya merebonding pelanggan dengan alat pelurus rambut.
Tak berselang lama, tampaknya Ia akan ke kamar mandi untuk ke toilet, sebab Ia memegangi perutnya.
Saat itu phonselnya terus berdering dan Ningrum mencoba mengangkatnya. Alangkah kagetnya Ia saat melihat satu nama "Ayank' namun foto profil itu milik Bima. Ningrum mengerutkan keningnya, dan mencoba mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo Jenny, sayang. Jangam lupa pulang kerja saya tunggu ya? Katanya kamu dah gatal ingin dirudal" ucap seseorang dari seberang telefon dan itu membuat jantung Ningrum seakan ingin meledak. Ningrum mematikan sambungan telefon dan merasa penasaran membuka pesan percakapan keduanya.
Mata Ningrum membola saat melihat foto-poto vul-gar Jenny dan juga Bima tanpa sehelai beangpun dan bahkan Jenny ada merekam perzinahan mereka didalam mobil, mobil Yang Ia beli sebagai tranportasi bekerja namun digunakan untuk me-sum juga.
Ningrum merasakan dunianya runtuh. Selain tidak memberi nafkah dan menguras uangnya, ternyata Bima berselingkuh dibelakanngnya selama ini.
Saat itu Jenny baru keluar dari kamar mandi dan mata Jenny membola melihat Ningrum memegang phonselnya dengan tatapan berkaca-kaca dan juga penuh amarah.
Jenny tertunduk lemah dan Ia tidak tahu harus memberikan penjelasan apapun.
__ADS_1