SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-95


__ADS_3

Sumi pulang ke rumah dengan hati nelangsa. Selama ini, saat Bima masih menjadi suami Ningrum, Ia tidak pernah pulang dengan dengan tangan hampa, namun kini Ia harus menerima kenyataan jika menantunya yang saat ini adalah wanita super pelit dan juga tidak berakhlak.


Sumi bingung harus kemana lagi untuk mencari pinjaman. Ia menghubungi Ady yang bekerja di kota sebelah, dan meminta tolong kepada Ady agar mencarikannya uang sebesar 200 ribu untuk membeli beras dan keperluan lainnya.


Setelah menerima keluhan ibunya, akhirnya Ady mengupayakan meminjam kepada Bos-nya meskipun baru beberpa hari bekerja, dan beruntungnya si Bos lagi berbaik hati dan memberikannya pinjaman.


Sementara itu, Gibran tampaknya semakin mulai intens memberikan perhatian kepada Ningrum. Tak hanya itu, Luccy juga sepertinya sebagai jembatan untuk meraih hati Ningrum.


Namun rasa trauma di hati Ningrum tidaklah mudah untuk dilupakannya begitu saja. Apalagi Ia sudah dua kali mengalami kegagalan dalam berumah tangga dan itu tidak mudah baginya.


Keluarga Ningrum yang mengetahui perceraian yang terbilang sangat tiba-tiba itu membuat mendapat cecaran dan cibiran. Dimana mereka menyalahkan Ningrum jika Ia adalah wanita yang egois dan yang membuat kegagalan rumah tangganya untuk yang kedua kalinya.


Namun kedua orangtuanya tetap memberikan dukungan kepada puterinya, sebab yang menjalani biduk rumah tangga itu adalah Ningrum, maka yang lebih tau apa yang terjadi didalamnya hanyalah Ia dan Bima, sedangkan orang lain hanya mengomentari saja.


Ningrum kembali menata hidupnya. Ia tidak ingin perceraiannya dengam Bima menjadikan mimpi buruk, tetapi justru menjadi cambuk untuknya bangkit dan meskipun Ia hidup sendirian.


Satu panggilan masuk dari Luccy. Gadis itu selalu menghubunginya setiap pukul 8 malam dan mengajaknya berbicara dengan panggilan vedeo call, dan itu mengusir rasa sepinya.


"Hallo, Tan.." sapanya dari seberang telefon.


"Iya, Sayang.. Kamu kenapa wajahnya pucat begitu?" tanya Ningrum yang melihat wajah Luccy tampak tak biasanya.


"Lagi demam, Tan.." jawab Luccy jujur.


"Papa kamu kemana?" tanya Ningrum.


"Papa ada pekerjaan diluar kota, Tan.. Besok baru pulang" jawab Luccy.


"Astaghfirullah.. Berarti kamu sendirian?" tanya Ningrum tercengang.


Luccy menganggukkan kepalanya "Sama asisten rumah tangga, Tan" jawab Luccy.

__ADS_1


Ningrum tak habis fikir mengapa tidak ada satupun keluarga yang tinggal bersama Gibran agar Luccy tidak sendirian.


"Ya sudah.. Tante kesana, ya.." ucap Ningrum tanpa banyak berfikir. Bagaimana mungkin Ia tega melihat gadis berusia 6 tahun itu harus sendirian dirumah dan dalam kondisi sakit.


Ningrum mematikan panggilan phonselnya, lalu bergegas menuju ke rumah Luccy yang memakan waktu sekitar 20 menit perjalanan.


Sesampainya dirumah mewah milik Gibran, Ia memencet bell. Lalu seorang asisten rumah tangga yang diperkirakan berusia 55 tahun itu membuka pintu dan Ningrum memberi salam, lalu bergegas meminta diantar ke kamar Luccy.


Sesampainya dikamar tersebut, Ia melihat gadis kecil itu menggigil kedinginan, namun suhu tubuhnya yang sangat tinggi.


Ningrum berinisiatif membawa Luccy ke dokter anak dan memeriksakan kondisi gadis kecil tersebut.


Seaampainya di klinik paraktik khusus anak, Luccy mendapatkan pemeriksaan. Suhu tubuhnya sangat mengejutkan, karena mencapai 37 derajat lebih, sehingga membuatnya menggigil.


Dokter memberikan obat penurun panas paracetamol dan juga antibiotik serta vitamin dan sebotol madu untuk menjaga daya tahan tubuhnya.


Setelah itu Ningrum membawa Luccy kembali pulang ke rumah dan merebahkan tubuh gadis kecil diranjang tidur. Ia menyuapi Luccy dengan bubur ayam yang dibelinya saat menuju pulang dari klinik tadi.


Setelah itu, Ia memberikan obat yang dianjurkan oleh dokter.


Luccy menatapnya "Tante tidur disini malam ini, Ya?" ucapnya lirih dengan nada memohon.


Ningrum merasa serba salah. Bagaimana mungkin Ia akan tidur dirumah seorang pria yang tidak memiliki hubungan apapun dengannya.


Namun melihat kondisi Luccy yang mengalami demam tinggi dan tidak ada yang menemaninya, akhirnya Ningrum berdamai dengan hatinya untuk menemani Luccy malam ini, dan esok Gibran juga sudah pulang dan tentunya ada yang menemani gadis itu.


"Baiklah.. Tante temani kamu tidur malam ini, dan kamu harus janji cepat sehat, Ya?" ucap Ningrum dengan lembut.


Gadis kecil itu hanya menganggukkan kepalanya lemah. Lalu Ningrum duduk ditepian ranjang, membelai lembut kepala gadis itu, hingga akhirnya tertidur pulas.


Ningrum juga mulai mengantuk dan tertidur disisi gadis itu.

__ADS_1


Saat tengah malam, Luccy tampak mengigau, mungkin karena suhu tubuhnya yang masih tinggi. Ningrum terbangun dan Ia merasakan jika Luccy mencengkram pergelangan tangannya sembari mengigau.


"Tante jangan pergi.. Jangan tinggalin Luccy, tante tinggal disini dengan Luccy" ucap Gadis kecil dalam igauannya dengan mata yang terpejam.


Ningrum menatap bingung, mengapa Luccy sampai mengigau seperti itu. Ia menyentuh kening Luccy dengan punggung tangannya, ternyata masih sangat tinggi panasnya.


Lalu Ia mengambil kompres instan dan merobek bungkusnya, lalu mengganti kompres yang sudah tidak merekat lagi dengan yang baru.


Ningrum membelai ujung kepala gadis itu, lalu mengecupnya lembut, dan perlahan igauannya mereda lalu kembali tertidur lagi dan merasa tenang.


Ningrum menatap gadis kecil yang kini sedang tertidur dengan wajah pucat tersebut.


Ia masih bingung memikirkan ucapan Luccy dalam igauannya barusan.


Bagaiamana mungkin gadis itu mengharapkannya harus tinggal dirumah itu, sedangkan Ia dan Gibran tidak memiliki hubungan apapun.


Untuk saat ini, Ningrum belum berani untuk melangkah lebih jauh dalam membina hubungan dengan pria manapun. Ia masih ingin menikmati kesendiriannya. Karena baginya tidak ada yang perlu untuk diburu-buru.


Saat ini Gibran terlihat sering memberikan perhatian kepadanya, namun Ia belum dapat membuka hatinya, sebab itu sangat dini baginya. Perceraiannya dengan Bima juga masih beberapa bulan, dan Ia tidak ingin mendengar cibiran dari keluarganya yang suka berganti pasangan dan menikah berulang kali.


Ningrum menghela nafasnya. Memandangi Luccy yang masih belum melepaskan cengkraman tangannya pada jemarinya.


Ia meraih botol minyak kayu putih, lalu meneteskannya pada ubun-ubun Luccy dan membalurkannya pada sekujur tubuh gadis itu untuk membantu menurunkan suhu panas tubuhnya.


Setelah itu Ia kembali berbaring disisi Luccy, dan baru kali ini Ningrum merasakan bagaimana merawat seorang anak yang sedang sakit.


Selama ini Ia hanya mendengar cerita dari berbagai sahabatnya yang bagaimana repotnya merawat anak yang sedang sakit.


Meskipun bukan darah dagingnya, ini merupakan pengalaman pertama baginya merawat rewelnya seorang anak saat sedang sakit, dan harus rela berjaga malam hari dan terganggu saat tidur nyenyak.


Ningrum tertidur sembari memeluk tubuh gadis itu. Ia merasakan sebuah kenyamanan saat tidur sembari memeluk seorang anak, dan inikah rasanya? Sebuah rasa yang lama Ia rindukan.

__ADS_1


__ADS_2