
Sumi mengusap dadanya, rasanya hatinya sangat hancur atas ucapan Nora yang sangat tajam, Ia menatap suaminya, meminta sang suami bertindak, namun apalah daya, jika sang suami tak dapat diandalkan sebab kerjanya hanya bermain judi dan mabuk-mabukkan.
Nora kembali kedalam rumah, sedangkan Bima tak dapat mengatakan apapun, Ia seperti kerbau yanv dicocok hidungnya dan tak dapat membantah ucapan Nora, berbeda dengan saat Ia bersama Ningrum yang selalu ringan tangan setiap kali Ningrum berusaha untuk protes atas segala sesuatu yang dirasanya tidak sesuai dengan hatinya.
Kini Bima mendapatkan karma dari perbuatannya yang mana Ia sendiri yang mengalami bungkam dan tidak berkutik atas perbuatan Nora terhadap dirinya dan juga keluarganya.
Bima berpamitan kepada Sumi-ibunya dan juga ayahnya untuk berangkat ke proyek.
Setelah kepergian Bima, suasana semakin terasa tidak nyaman, sebab Kini hanya ada Nora yang menjadi duri bagi hubungan Sumi dan Bima.
Sumi masuk ke dalam rumah, Ia tidak memperdulikan tatapan Nora yang begitu sinis padanya dan Ia meraih tas tempat Ia meletakkan barang-barang berharganya. Sumi meraih sebuah phonsel yang hanya bisa digunakan untuk menelefon dan pesan saja. Sumi beranjak keluar dan berjalan hingga menjauh dari rumah tersebut.
Setelah menemukan tempat nyaman untuk menelefon, Sumi mencari sebuah nama yang akan dihubunginya dan menjadi satu-satunya harapan yang Ia punya.
Satu nama yang Ia cari telah ditemukan. Ia menekan tombol berwarna hijau untuk melakukan panggilan. Namun jawaban operator sangat menyedihkan [Pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini, silahkan tekan 1, lalu tinggalkan pesan,]
Sumi menarik nafasnya dengan berat, rasanya hidupnya begitu sangat menderita dan sial, memiliki suami dan anak yang tidak dapat diandalkan. Bahkan Yudi adalah anak yang sangat membawa kesialan baginya.
Sumi terus berulang-ulang melakukan panggilan darurat tersebut sehingga membuat Ady merasa sangat penasaran. Lalu Ia menghubungi ibunya.
"Hallo.. Assalammualaikum, Bu.. Ada apa, Bu?" tanya Ady dari seberang telefon.
Seketika Sumi merasakan sebuah oase yang menyirami hatinya yang sangat gersang dan hampir berputus asa.
__ADS_1
"Waalaikum salam Ady. A-Ada hal penting yang ingin ibu bicarakan!" jawab Sumjli dengan hatinya yang pilu. Ia begitu sangat merasakan hatinya sangat sakit saat mengingat ucapan Nora.
"Ada apa itu, Bu?" tanya Ady yang tentunya sudah dapat menebak jika ujung-ujungnya adalah uang. Namun bagaimana lagi, sebab Ia juga tidak dapat mengelak karena Ibunya tidak ada lagi tempat meminta uang kecuali padanya. Sebab saudaranya yang lain tidak dapat diandalkan. Terutama Yudi, yang selalu saja membuat ulah.
"Ady.. R-rumah kita sudah tidak ada! Yudi menggadaikannya kepada penjual narkoba denganharga murah untuk menutupi hutang-hutangnya" Sumi menjelaskan dengan nada yang terbata, sebab sangat begitu sakit jika mengingatnya hingga Ia menjadi luntang-lantung tidak ada tempat berteduh karena anak sialannya itu.
Ady terperangah. Ia bagaikan menerima pukulan dipundaknya saat mendengar berita itu. Selama ini ibunya bekerja serabutan untuk tetap membuat dapurnya ngebul dan sesekali meminta bantuan kepadanya jika sudah tidak lagi mendapatkan uang, namun Ia masih berfikir tenang karena ada rumah tempat ibunya bernaung.
Namun tempat satu-satunya yang menjadi naungan ibunya kini sudah hilang dan tentu itu membuat Ady sangat khawatir.
"Jadi ibu sekarang tinggal dimana?!" tanya Ady penasaran dan tentunya dengan darah yang mendisih
"Ibu tinggal dikontrakan kakakmu, Bima. Tetapi mulut istrinya sangat jahat, ibu gak betah!" Sumi mengadukan perihal masalahnya.
Ady menarik nafas dengan berat, rasanya Ia ingin menghajar Yudi jika jarak mereka dekat. Ia tidak mengerti mengapa kakak laki-lakinya itu sangat begitu menyusahkan ibunya.
Sumi menarik nafasnya dengan berat "Kakak perempuanmu itu sama saja, Dy.. Mulutnya sebelas duabelas sama Nora iparmu!" jawab Sumi dengan hati yang nelangsa.
"Besok Ady usahakan pulang, untuk semenyara waktu, ibu tinggallah dulu dengan Bang Bima, untuk masalah kak Nora, Ibu abaikan saja dulu segala ucapan dan perbuatannya, besok Ady pulang!" Adh mencoba memberikan pengertian kepada Ibunya.
Dengan berat hati, akhirnya Sumi menyetujui ucapan Ady, meskipun Ia tidak berharap banyak pada Adu, namun setidaknya kehadiran anak lelakinya itu membuatnya merasa tenang.
Sumi kembali ke rumah Bima. Perutnya terasa perih, Ia lupa jika tadi tidak sempat sarapan karena sindiran dari Nora.
__ADS_1
Ia kembali masuk ke dalam rumah. Tampak Nora didalam kamar sedang bermain phonsel. Ingin rasanya Ia kedapur untuk mengambil sarapan yang Ia tinggalkan dimeja makan, namun rasanya Ia tak sanggup untuk menelannya.
Ia membuka tasnya. Ia menyibakkan isi barang-barang didalamnya. Ternyata nasibnya masih beruntung, Ia menemukan selembar uang pecahan 10 ribu rupiah dan Ia bergegas meraihnya untuk membeli mie instan ke warung.
Saat Sumi keluar dari pintu rumah, tampak suaminya sedang tertidur pulas dikursi plastik santai dengan begitu tanpa beban. Tidak ada tindakan apapun dari pria tak berguna ith meskipun Ia sudah mengeluh dengan kesusahannya.
Sumi menuju warung yang berada di deretan kontrakan tersebut. Ia membeli dua bungkus mie instan isi dua untuk dimakannya hari ini merangkap makan siangnya.
Setelah mendapatkan mie tersebut, Ia bergegas kembali, dan menuju dapur untuk menuangkan air despenser yang panas untuk merendam mie instannya dan membawanya ke ruang tengah.
Bagaikan seorang maling yang takut kepergok pemilik rumah, Sumi dengan terburu-buru menyantab mienya meski masih setengah matang. Lalu Ia menghabiskannya dengan cepat dan segera mencuci wadahnya.
Ditempat lain. Andini masih tampak bersedih dengan kehilangan janinnya.
Sang Ibu terus menghiburnya. "Sayang.. Ikhlaskan kepergiannya. Ia akan menjadi tabungan kamu disurga jika kamu ikhlas. Beri nama untuknya, dan kelak Ia akan membawakan secawan air untukmu saat kamu kehausan dipadang mahsyar kelak!" ucap Sang ibu memberikan motkvasi kepada puterinya.
Andini menatap sang ibu. Ia menyeka air matanya dan mendekap sang ibu untuk mencari sebuah kenyamanan.
"Mas Rendy kemana, Bu?" tanya Andini lirih.
"Tadi Ia berpamitan untuk ke proyek sebentar, sebab ada pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkannya dan Ibu mengijinkannya," jawab Sang Ibu dengan lembut.
"Mas Rendy ini, Andin sedang berduka masih mikirin pekerjaan!" omel Andini.
__ADS_1
Sang Ibu mengusap lembut ujung kepala puterinya. " Bukannya Ia tidak perduli tentangmu, tetapi hidup berjalan terus, dan jika Ia tidak mengurus pekerjaannya, maka itu akan berdampak pada kelangsungan pekerjaannya, maka dalam berumah tangga harus ada saling memahami satu sama lainnya. Terkadang kita juga harus saling menjaga ego kita. Jika itu dapat diterapkan, maka kehidupan rumah tangga akan langgeng dan tentram." Sang ibu memberikan nasihatnya.
Andini menatap sendu pada ibunya. Ia mencoba meresapi segala ucapan sang ibu yang selalu memberikan ketenangan jiwa padanya.