
"Maaf, bapak-bapak ini datang ke salon saya ada keperluan apa ya sampai ramai-ramai begini, seperti mau demo saja" ucap Ningrum mencoba sesopan mungkin.
"Bukannya saya sudah katakan jika Kami ingin mengambil hak kami, mbak" ucap Kepala tukang tersebut.
Ningrum mengerutkan keningnya "Hak? Hak apa yang bapak maksudkan?" Tanya Ningrum penasaran.
Ia merasa ini erat kaitannya dengan Bima.
"Pak Bima tidak membayar upah kami yang seminggu, dan kami hanya diberi pinjaman 200 ribu untuk seminggu dapat apa coba?" Ucap kepala tukang tersebut.
"Mana anak saya sakit lagi, buat beli obat demam saja tidak ada, hutang diwarung sudah menumpuk" ucap Salah seorang helver.
Ningrum terperangah mendengarnya. Ia baru menyadari ucapan Bima pagi tadi saat ribut dengan Yudi karena bolos masuk kerja dan mengatakan tidak ada pekerja.
"Biasanya jika bapak bekerja ditempat lain dapat pinjaman berapa per minggunya?" Tanya Ningrum mencoba menata hatinya.
Karena seingatnya Ia sudah menitipkan modal 150 juta untuk Bima sebagai biaya untuk akomodasi selama pengerjaan proyek sebelum BA ditandatangani perushaan.
"Biasanya sih rata-rata 500 ribu per minggu, Mbak.. setelah proyek selesai baru hitungan" ucap kepala tukang itu mewakili rekannya.
Ningrum mendenguskan nafasnya dengan berat, Ia mencoba memahami keluhan para pekerja proyek suaminya.
Ningrum meraih phonselnya, lalu menghubungi Bima.
"Hallo, Mas.. bisa ngokong sebentar" ucap Ningrum saat panggilannya tersambung.
"Hallo, Sayang.. ada apa nelfon siang-siang?" Sambut Bima semanis mungkin dari seberang telefon.
"Ini , Mas.. ada sepuluh pekerja mendatangi salon Ningrum, dan mereka bilang ingin meminta haknya selama bekerja seminggu dengan Mas.." ucap Ningrum menjelaskan.
Lalu agar membuat Bima percaya, Ningrum mengalihkan panggilan suara menjafi panggilan vedeo.
Ningrum sengaja mengarahkan kameranya kepada 10 orang pria yang menggeruduk salonnya.
Tampak Bima sangat berang "Breengsekk..!! Katakan pada mereka, jika Mas tidak mau bayar uang mereka karena meninggalkan pekerjaan begitu saja, dan sisa uang mereka dianggap hangus. !!" Ucap Bima dengan nada yang sangat kasar.
Seketika Ningrum kaget dengan ucapan Bima yang sangat kasar dan mengatakan jika sisa uang gaji pekerjanya hangus begitu saja.
__ADS_1
"Itu hak mereka, Mas.. terlepas mereka tidak ingin bekerja lagi dengan kita, namun kewajiban memberikan upah sesuai hari kerja mereka tetap harus dibayar" ucap Ningrum dengan lirih.
"Halllaah.. tau apa apa kamu tentang proyek.!!" Tiba-tiba Bima menyergah ucapan Ningrum dan membuat hatinya tiba-tiba tergores dan rasanya ingin menangis saat itu juga.
Namun Ningrum mencoba menahan bulir bening yang hampir jatuh disudut matanya, dan Ia segera mematikan phonselnya dan menon-aktifkannya.
"Bagaimana ini, Mbak? Mungkin nilaiannya kecil buat Mbak.. tapi bagi kami itu sangat besar, setidaknya bisa mengganjal perut anak dan istri dari kelaparan.." ucap salah seorang helver.
Hati Ningrum terenyuh mendengarnya. Bagaimana mungkin Ia dalam keadaan kenyang sedangkan ada 10 kepala keluarga dalam keadaan kelaparan.
Meskipun bukan seorang yang faham akan ilmu agama, namun Ia masih faham menahan hak seseorang adalah dosa besar. Meskipun berat rasa hatinya untuk harus merogoh koceknya lagi, namun ini berhubungan dengan perut seseorang.
"Berapa per orang yang harus saya bayar?" Tanya Ningrum dengan lirih.
Ia mencoba berdamai dengan hatinya dan berharap suatu saat akan ada keberkahan yang datang dalam hidupnya.
Lalu para pekerja itu memperlihatkan daftar hari kerja yang mereka telah mereka catat dan sesuai dengan harga jasa perhari mereka sesuai dengan tingkat keahliannya.
Ningrum sedikit lemah membaca nilai nominal uang yang harus dikeluarkannya untuk membayar sisa upah dari para pekerja tersebut.
"Sebentar ya, Pak.. Saya ke Bank depan dulu buay narik uangnya" ucap Ningrum sembari beranjak dari tempat duduknya.
Wanita itu menyeberangi jalan dan menuju bamk dimana Andini bekerja.
Sesampainya ditempat itu, sepertinya hanya satu pengantri saja yang menuju teller, karena sebagian orang menggunakan mesin ATM ataupun transfer online.
Melihat Mingrum datang, Andini tertawa nyengir "Hello, say.. gak biasanya nongol dimari" ucap Andini yang melirik jam makan siangnya sebentar lagi akan tiba.
Setelah nasabah yang mengantri itu pergi, kini giliran Ningrum yang menuju teller.
"Ndin.. Mbak ingin tarik tunai" ucap Ningrum dengan wajah sedikit lesu.
Seketika Andini yang berniat bercanda berubah jadi serius, karena saat ini wajah sahabatnya sepertinya sedang ada masalah berat.
"Berapa yang mau ditarik tunai, Mbak? Biasanya via transfer ataupun ATM..?" ucap Andini sedikit penasaran.
Ningrum mendenguskan nafas beratnya "Ambilkan sekitar 9 juta" Ningrum menyerahkan buku tabungannya dari dalam dompetnya.
__ADS_1
"Ok, Mbak.." jawab Andini tanpa banyak canda, sebab penarikan tunai via ATM hanya dapat 5 juta per harinya untuk satu nasabah.
Andini lalu meraihnya dan memprosesnya, danntak membutuhkan waktu lama Ia sudah menyerahkan uang yang diinginkan sahabatnya .
"Ini, Mbak uangnya" ucap Andini yang sudah memasukkan uang tersebut kedalam kantong kresek berwarna hitam.
Ningrum meraihnya "Makasih, Ya Ndin.. Mbak buru-buru" ucap Ningrum dengan wajah yang masih tidak bersemangat.
Andini hanya menganggukkan kepalanya, dan menatap punggung sahabatnya yang menuju keluar dari pintu Bank tempat Ia bekerja.
Ningrum menyeberangi jalan dengan perasaan yang sangat galau, dan hampir saja Ia terserempet motor yang melaju kencang dari arah yang berlawanan karena Ia tidak fokus.
Seketika jantungnya bedegub kencang, dan Ia mempercepat langkahnya untuk mencapai trotoar.
Sesampainya didalam salon, Ningrum berjalan menuju ruang tunggu san menemui para pekerja tersebut.
"Sari.. Ambilkan saya kwitansi pembayaran di laci meja kerja saya" teriak Ningrum kepada Sary.
"Ya, Bu.." jawab Sari dan bergegas menuju lantai dua untuk mengambil kwitansi pembayaran sebagai bukti.
tak berselang lama, Sary datang dengan membawa kwitansi dan juga pena yang diminta oleh Ningrum.
Lalu Ningrum meminta catatan hari kerja ke sepuluh pekerja itu dan mulai menghitungnya dengan potongan 200 ribu yang telah diberi pinjaman oleh Bima.
Para pekerja itu tampak sumringah dan akhirnya mereka mendapatkan hak nya meskipun melalui Ningrum, karean jika bersikeras kepada Bima mereka tidak akan mendapatkannya.
Ningrum memanggil satu persatu pekerja tersebut, lalu memberikan upah sesuai hak mereka.
Setelah selesai, mereka berpamitan dan mengucapkan ribuan terimakasih kepada Ningrum.
"Terimakasih, Ya Mbak.. Semoga Mbak selalu diberikan keberkahan dalam menjalani senua usaha Mbak" ucap kepala tukang tersebut.
Ningrum hanya dapat tersenyum pasrah, Ia bagaikan buah simalakama yang harus menjajalani kehidupan rumah tangganya yang penuh dengan permasalahan setiap saatnya.
Ningrum merasa mengapa Rabb-Nya begitu kejam mengujinya dengan semua masalah yang terus datang silih berganti.
Wanita itu menatap nanar dengan pandangan yang sangat kosong.
__ADS_1