SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-125


__ADS_3

Ningrum sampai tiba dirumah bersama dengan Luccy.


"Kamu naik ke kamar dan salin pakaian, ya Sayang. Setelah itu makan siang dan nanti kita kerjakan PR-nya,"Titah Ningrum kepada Luccy.


Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya dan beranjak ke lantai dua untuk menyalin pakaiannya.


Ningrum menyediakan makan siang untuk Luccy dan beranjak kedapur.


Ada soup daging yang diolahnya khusus untuk Luccy, karena bocah itu tidak tahan pedas.


Tak berselang lama, Luccy turun dari lantai dua dan menghampiri Ningrum yang tampak berada di meja makan.


"Mama masak apa?" tanya Luccy, sembari menarik kursi kosong dan duduk dengan santai.


"Mama masak dendeng daging balado dan buat kamu khusus yang tidak tahan pedas, mama masakin soup daging," ucap Ningrum.


Luccy memandangi wajah Ningrum "Apapun yang mama masak, Luccy akan memakannya, dan mulai saat ini Luccy akan belajar untuk memakan makanan pedas," balas Luccy bersungguh.


Ningrum tersenyum tipis. "Baiklah.. kamu memang anak pintar! Ini makan soupnya, dan ini dendeng baladonya" ucap Ningrum dengan menyodorkan seporsi soup daging dan juga dendeng balado.


Luccy meraihnya dan kemudian memakan keduanya. "Emmm.. Masakan mama memang enak" ucap Luccy memuji masakan Ningrum.


"Makasih, Sayang.. Kamu mau belajar memasak? jika mau setiap minggu mama akan mengajarimu memasak" ucap Ningrum.


Luccy menganggukkan kepalanya. "Mau, Ma.. Mau banget!" jawabnya dengan penuh semangat.


Seketika Ningrum merasakan jika Luccy begitu sangat menyenangkan hati dan menjadi pelipur lara didalam kehidupannya yang sepi.


Keduanya menyantab makanannya dengan begitu lahab dan setelah menyelessaikan makan siangnya, Ningrum membersihkan piring kotor yang mana Luccy ikut membantunya.


Setelah selesai, mereka mengerjakan PR Luccy secara bersama. Ningrum memberikan penjelasan yang mudah di mengerti untuk anak seusianya dalam memahami setiap materi ajar yang mana Luccy akan dengan mudah mengerti.


Sementara itu, Bima masih didalam proyek untuk mengerjakan proyeknya. Dan satu panggilan masuk dari Sumi-ibunya.


"Hallo, Bu.. Ada apa? Bima masih di proyek!" ucap Bima dengan keras, sebab suara mesin penggiling pupuk sedang hidup dan sangat bising.


"Bim.. O-orang yang membeli rumah Ibu karena ulah Yudi datang dan meminta ibu untuk pergi mengosongkan rumah," ucap Sumi sembari tersedu.


Seketika wajah Bima berubah menjadi panik. Ia meletakkan alat pemotong besinya dan meminta kepada ke dua pekerjanya untuk memotongnya sesuai dengan yang sudah diberinya tanda


"Benyar, Bu.. Bima segera ke sana!" ucap Bima, lalu beranjak pergi.


Bima menggunakan mobil yang baru dibelinya pergi menuju pulang ke rumah ibunya.


Sesampainya didepan rumah ibunya, Ia melihat 3 orang berpakaian preman tengah mengeluarkan barang-barang milik ibunya secara paksa.


Bima melihat hal itu dengan tatapan sangat marah. Sedangkan Yudi tampak santai merokok dibawah pohon mangga depan rumahnya, dan Ibunya menangis meratapi nasibnya.

__ADS_1


Ayahnya tampak tak dapat berbuat banyak, sebab ke tiga pria bertubuh kekar itu membawa senjata api untuk berjaga-jaga jika saja diantara mereka ada yang mencoba menghalangi keinginann mereka.


"A-apaan ini? Mengapa seluruh barang milik ibu saya dikeluarkan?!" ucap Bima dengan nada yang tinggi.


Salah satu pria itu menatap pada Bima dengan tatapan sarkas dan menghujam, sembari mencengkram kerah baju dan menodongkan senjata api ke perut Bima "Jangan banyak ba-cot!! Rumah ini sudah dijual oleh Yudi kepada kami, maka kami berhak untuk memilikinya!" ucap Pria itu dengan nada penekanan.


Seketika Bima menciut nyalinya. Ia melirik pada Yudi yang tampak santai duduk dibangku santai diabwah pohon mangga.


Lalu Bima menarik cengkraman kedua tangan pria itu, lalu membalas dengan tatapan sinis dan Ia beranjaak menghampiri Yudi, lalu meninju wajah adik lelakinya yang selalu menimbulkan masalah untuknya.


Buuuuugh..


"Aaaarrrgh..!" teriak Yudi yang meringis kesakitan dan pelipisnya membengkak dan membiru.


"Brengsek, Kau!!" maki Bima kesal. Dan sekarang Ia baru tau bagaimana rasanya saat Ia menjual rumah Ningrum secara diam-diam dan memalsukan tanda tangan wanita. Maka Ia bersiap menerima karmanya.


Para tetangga menonton kejadian tersebut. Mereka tampaknya sangat senang jika Yudi tidak lagi tinggal dilingkungan mereka, sebab Yudi sering kali dituding sebagai penyebab hilangnya barang-barang rumah tangga mereka, namun mereka belum menemukan buktinya.


Meraka sangat bersuka ria jika keluarga itu tak lagi berada dilingkungan mereka dan sebuah keberkahan bagi warga sekitar.


Secara terpaksa Bima membawa ibunya dan juga ayahnya pulang kerumah kontrakannya tanpa memberi tahu Nora terlebih dahulu.


Sedangkan Yudi Ia tinggalkan begitu saja.


Beberapa barang dan pakaian Ia angkut terlebih dahulu dan membawa keduanya ke rumah kontrakannya.


Nora yang merasa penasaran keluar dari kamar dan Ia terperangah melihat kehadiran Ibu dan ayah mertuanya yang membawa barang pindahan.


"A-apa-apaan ini? Mengapa Ibu dan ayah datang dengan membawa semua barang-barang?! Apa maksudnya semua oni, Mas?!" tanya Nora dengan nada tak suka.


Bima mendenguskan nafasnya dengan berat. "Nanti akan Mas jelaskan!" jawab Bima yang kemudian kembali lagi ke rumah ibunya untuk menjemput barang-barang ibunya yang lain yang masih tertinggal dirumah itu.


Sesampainya dirumah itu, Ia tak lagi melihat keberadaan Yudi. Entah dimana adik lelakinya itu sekarang, dan Ia juga tak perduli.


Setelah mengumpulkan barang-barang yang bisa dibawanya, Bima kembali ke rumah kontrakannya dan menurunkan semua barang-barang tersebut.


Ia melihat Ayah dan Ibunya masih diteras. sedangkan Nora sudah masuk ke kamar dan tampak tak memperdulikan mertuanya. Ia begitu sangat kesal membayangkan jika kedua mertuanya akan tinggal bersamanya.


Bima hanya bisa mendenguskan nafas kesalnya dan duduk di kursi teras.


"Dik.. Dik Nora.." panggil Bima dengan nafas yang tersengal karena kelelahan memindahkan barang-barang milik ibunya.


Nora yang mendengar suara panggilan Bima memutar bola mata malas.


"Ada apasih, Bang?" sahut Nora dengan kesal.


"Buatkan abang Kopi dan teh buat ayah dan ibu!" titah Bima kepada Nora.

__ADS_1


Nora terperangah. Ia merasa kehadiran keduanya akan menambah beban baginya. Baik beban belanja ataupun tenaga. Ia sangat kesal karena Bima sudah mengganggu kesenangannya berselancar didunia maya.


"Dik.. Dik Nora..!" teriak Bima dengan kesal.


"Sudahlah, Bim. Biarkan saja. Ibu yang akan buat!" ucap Sumi lalu beranjak ke dapur.


Wajah wanita itu masih tampak sembab dan air matanya masih mengalir disudut matanya membayangkan Ia yang baru saja kehilangan rumahnya.


Lalu Ia berjalan menuju dapur lalu menyeduh segelas kopi dan dua gelas teh manis.


Nora mendengar suara orang berada didapur dan bergegas keluar dari kamar, lalu menuju dapur. Saat berada diambang pintu, Ia membolakan matanya saat melihat Sumi menyendokkan gula ke dalam teh tersebut.


"Eeh..eh.. Gula untuk tehnya sesendok saja. Lagian sudah tua jangan banyak-banyak konsumsi gula, nanti kena diabetes. Lagian kalau setiap saat minum teh, gula cepat habis dan menambah biaya pengeluaran hidup!" ucap Nora sembari merampas tempat toples gula pasir dari tangan Sumi.


"Sudah sana!! Bawa ke depan!" ucap Nora dengan nada kesal dan wajah masam, lalu kembali ke kamar.


Jantung Sumi rasanya bagaikan digores ribuan silet, sakit.. Ya sangat sakit.


Dahulu Ia dengan mudah memoroti uang Ningrum, jangankan sekilo gula pasir, Uang puluhan juta saja Ia dengan mudah mendapatkannya. Kini Nora berbanding terbalik dengan Ningrum. Sumi sangat menyayangkan mengapa sampai Bima bercerai dengan Ningrum yang jelas sangat baik dan juga tajir.


Dengan hati yang sangat sakit, Sumi membawa nampan berisi minuman tersebut ke teras depan, lalu menyajikannya kepada Bima dan mereka berdua.


"Bima.. Ibu kontrakan rumah sendiri saja. Ibu tidak bisa tinggal satu atap dengan Nora, tidak ada kecocokan diantara kami" ucap Sumi dengan lirih.


"Kalau untuk sementara ini, Ibu dan ayah tinggalah disini dulu, sebab Bima belum ada uang untuk membayar kontrakan." Bima menyarankan.


"Berapa lama?" tanya Sumi dengan meminta kepastian.


"Nanti kalau proyek Bima selesai, sekitar satu bulan" jawab Bima.


Seketika wajah Sumi berubah menajdi mendung. Setengah jam saja tinggal dirumah ini bagaikan neraka, konon untuk sebulan, bisa mati berdiri Sumi menghadapi sikap Nora setiap saat yang jelas memperlihatkan ketidaksuakaannya kepadanya.


Namun Sumi bisa apa? Sebab Ia juga tak memiliki uang untuk pindah rumah sendiri. Mungkin Ia harus bekerja untuk menghasilkan uang agar dapat segera pindah rumah sendiri.


"Dasar Yudi anak brengseek!! Tega-teganya Ia menjual rumah satu-satunya yang kita miliki, hingga membuat Ibu terlantar seperti ini!" isak Sumi yang masih belum ikhlas dengan kehilangan rumahnya.


Bima hanya terdiam membisu. Ternyata sakit hati Ningrum yang selama ini Ia perlakukan begitu Dzhalim dapat dirasakan oleh ibunya yang saat ini hidup bagaikan tiada tempat berteduh.


Sedangkan Ningrum berbeda nasibnya. Meskipun rumahnya Ia jual dengan penipuan, namun Ningrum masih memiliki banyak aset yang dapat membuatnya masih tetap santai dan dapat hidup layak.


Sedangkan dirinya dan keluarganya hanya tinggal menatap masa depan penuh kengerian. Bagaimana seseorang dimasa tuanya hidup tanpa rumah? Karena prinsip hidup seseorang, biarpun rumah itu gubuk, tetapi jika rumah sendiri akan merasa aman karena rumah adalah aset yang harus dimiliki seseorang dibanding barang mewah lainnya.


Kini aset yang menjadi satu-satunya milik Sumi harus hilang begitu saja dalam sekejap mata.


Jika Ningrum kini masih dapat menikmati kehidupannya dengan mudah, maka Sumi sebaliknya dan Ia tampak sangat takut memandang masa depannya dimana suaminya adalah seorang pemalas dan senangnya hanya berjudi dan mabuk-mabukkan, sehingga tak dapat diandalkannya.


Disisi lain Bima juga memiliki pemikiran yang tidak sesuai keinginannya. Dimana Bima lebih memilih membeli mobil ketimbang rumah. Sebab harga mobil semakin lama akan mengalami penyusutan dan berbeda dengan harga rumah atau tanah yang akan semakin tinggi tiap tahunnya.

__ADS_1


Sumi melihat jika Bima lebih mementingkan gaya hidup daripada masa depannya.


__ADS_2