
Hari ini Ningrum tampak sibuk dengan pernikahan Andini sahabatnya. Sejak pagi Ia sudah datang tanpa diantar oleh Bima, sebab memakai mobil sendiri.
Ia merias sahabatnya secantik dan seanggun mungkin.
"Waah.. Kamu cantik banget, Ndin.." puji Ningrum saat memakaikan pakaian adat untuk Andini.
Andini tersipu malu dan tampak sangat menggemaskan "Siapa dulu donk Make up artis nya..? Mbak Ningrum.." Andini balik memuji.
Ningrum tersenyum dengan sumringah.
Hari ini Andini akhirnya melepas masa lajangnya dan akan memulai hidup baru dengan gelar seorang istri.
Ia harus tahu bagaimana rasanya menjadi seorang istri yang mana hidup dengan pria yang Ia cintai dan tentunya tanpa bergantung pada kedua orangtuanya.
Andini bersanding dipelaminan, dengan pakaian adat Minangkabau berwana hijau botol yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih.
Yamink datang dengan membawa calon pasangannya, lalu menggoda Andini.
"Wah.. Selamat ya, Ndin.. Moga sakinah, mawaddah dan Warrahmah." ucap Yamink dengan tulus.
"Makasih ya, Kang.. Moga Kang Yamink juga cepetan nyusul" balas Andini.
"Amiin.. Doain lancar segalanya , Ya... Kenalin, Nih.. Syahfitri, calon istri soleha" ucap Yamink dengan sumringah.
Lalu Ningrum dan Andini memeprkenalkan diri kepada Syahfitri dan mereka melakukan foto bersama sebagai kenang-kenangan.
Ningrum kembali ke kamar pengantin. Ia tampak gelisah karena Bima belum tampak hadir ke acara nikahan Andini, apalagi Rendy suaminya Andini sahabatnya, masa iya Bima tidak hadir.
Ditempat lain "Adi menunggu Bima dipersimpangan, dan Bima menghentikan mobil barunya "Bang.. Ini berkas- berkasnya, sekalian punya Yudi.. Jangan lama-lama ya, Bang.. Capek nganggur." pesan Adi, yang merupakan adik bungsu Bima.
"Iya.. Iya.." jawab bima, lalu meraih semua berkas yang diserahkan oleh Adi. Kemudian mengemudikan mobilnya menuju perusahaan untuk menngatarkan berkas milik kedua adik lelakinya dan membuat kartu nama agar dapat bekerja bersamanya menjadi peserta kontraktor alias pekerjanya dibawah naungan CV yang Ia kendalikan.
Sesampainya diperusahaan..Ia memasuki ruangan CEO dan menyerahkan berkas tersebut kepada seorang karyawan yang bertugas membuat namecard dan segera menuju kantin.
__ADS_1
Ia memasuki kantin yang mana menjadi langganannya selama Ia memasuki perusahaan tersebut.
"Hai.. Mbak Raini.. Buatin kopi satu dan sarapan nasi uduknya, serta rokoknya, Ya.Mbak" ucap Bima, sembari mencomot satu bungkus kacang goreng.
"Iya, Mas.." jawab Mbak Raini lalu meminta kepada seorang karyawatinya untuk membuatkan pesanan milik Bima, sebab Ia masih sibuk dikasir.
Seorang pelayan wanita yang tampaknya seorang janda dengan body aduhai membawa pesanan untuk Bima.
Saat ia menyajikan pesanan untuk Bima, tentu saja dengan jarak yang begitu sangat dekat, dan membuat Bima melihat jelas isi buah melon pelayan tersebut yang seakan tumpah saat merunduk untuk menyajikan hidangan kepadanya.
Bima menelan salivanya, lalu mencolek bokong sang pelayan saat meninggalkan meja Bima.
Tampak pelayan itu tersenyum nakal dan membuat Bima semakin berani untuk menggodanya.
Bima menyantab hidangannya, lalu mengahbiskannya dalam sekejab saja. Tampak beberapa karyawan perusahaan dan juga kontraktor lainnya yang masuk ke kantin milik Mbak Raini, dan tampaknya pelayan tersebut menjadi primadona di kantin ini, karena banyak kontraktor yang menggodanya.
Setelah selesai menghabiskan sebatang rokoknya, Bima pergi ke kasir, lalu membayar sarapannya.
"Loh.. uang rokoknya mana, Mas?" tanya Mbak Raini kepada Bima.
"Waah.. Jangan lama-lama, Mas. Modal saya terpendam nantinya, soalnya mau saya putarkan lagi" Mbak Raini mengingatkan kepada Bima.
"Yaelah, Mbak.. Gak percayaan banget, sih.. Baru juga 10 bungkus" protes Bima, lalu beranjak pergi dan meninggalkan kantin mbak Raini.
Mbak Raini menatap punggung Bima sembari menggelengkan kepalanya.
"Gayanya saja yang macho, tapi doyan ngutang" gerutu Mbak Raini dengan nada kesal.
Ditempat lain, Suasana pernikahan Andini tampak begitu sangat meriah dan keluarga begitu berbahagia, terutama Andini yang terus menyunggingkan senyum bahagianya.
Ningrum yang berada didalam kamar pengantin tampak gelisah karena Bima tak juga membalas pesannya. Sepertinya Ia menon-aktifkan WA-nya.
Sementara itu, Bima berjalan menuju parkiran dan memasuki mobil untuk menemui seorang wanita yang dikenalnya di media sosial waktu itu untuk melakukan kopi darat.
__ADS_1
Mereka telah menentukan tempat bertemu janji. Bima melajukan mobil yang dikemudikannya dan menuju sebuah hotel tempat sang wanita menunggunya.
Sesampainya ditempat yang dituju, Ia sengaja menelfon tanpa roaming, agar Ningrum tak mencurigainya.
Wanita memberikan informasi jika Ia berada di cafe yang berada tak jauh dari ruang loby hotel.
Bima bergegas menuju ke tempat yang dimaksud oleh sang wanita.
Sesampainya ditempat tersebut, seorang wanita dengan penampilan serba terbuka dan memperlihatkan segala tonjolan tubuhnya, membuat mata Bima berbinar.
Keduanya saling berkenalan, lalu ngobrol sebentar dan akhirnya memutuskan untik chek in kamar.
Setelah menyepakatinya, mereka segera memasuki kamar dan melakukan mandi peluh bersama, dan tak lupa Ia membuat pengaturan phonselnya agar tak dapat dihubungi oleh siapapun.
Sementara itu, Ningrum terus gelisah melihat pesan WA-nya yang tak juga terlihat centang dua.
"Kemana sih, Mas Bima? Dari tadi phonselnya tidak bisa hubungi" Ningrum mulai kesal, namun Ia tak tahu haruskah marah atau apa, sebab saat bertatatpan dengan pria itu Ia akan luluh.
Setelah selesai bermandikan peluh bersama wanita yang dikenalnya di media sosial, wanita itu tampaknya puas dengan apa yang diberikan oleh Bima kepadanya "Wah.. Kamu hebat juga, ya Mas.. Lain waktu kita ketemu lagi, ya" ucap Wanita itu sembari merapikan pakaiannya.
Bkma tersenyum bangga setiap kali wanita yang bercinta dengannya memujinya.
Lalu Ia berpamitan pergi menknggalkan wanita itu, dengan alasan ada pekerjaan.
Setelah keluar dari hotel, Ia kembali mengubah pengaturan phonselnya, lalu tampak oesan Ningrum masuk kedalam aplikasi WA-nya, dengan cepat Ia menghubunginya "Hallo, Cantikku, sayangku.. Maaf, tadi lagi ada meeting, Sayang.." ucap Bima dengan alibi yang meyakinkan Ningrum.
Terdengar suara helaan Nafas Ningrum yang tampak sedikit kesal.
"Kalau sudah selesai buruan datang ke acara Andini, Mas.. Aku segan jika Mas gak datang. Lagipula Rendy itu juga sahabatmu, masa iya kamu tidak datang" ucap Ningrum mengingatkan.
"Iya, Cantikku, Mas baru selesai meetingnya dan ini akan segera kesana.." jawab Bima dengan nada yang terdengar begitu syahdu ditelinga Ningrum.
Seketika amarahnya menghilang dan kembali lega. Ia tidak tahu menhaoa Ia begitu mudahnya luluh dengan pria tersebut.
__ADS_1
Bima segera meluncur menuju ke rumah Andini untuk menghadiri acara resepsi pernikahan Rendy dan juga Andini yang saat ini sedang berlangsung.
Bima akan bersiakp patuh dan juga semanis mungkin dihadapan Ningrum, agar Ningrum terus mengalirkan hartanya kepada Bima. Baginya Ningrum tak lebih dari sumber tambang emas yang tak tak bisa Ia abaikan begitu begitu.