SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode 55


__ADS_3

Ningrum menyeberangi jalan. Dan tampak Andini sedang menunggunya, sepertinya Ia mengerti jika sahabatnya itu akan menghampirinya.


"Mau kemana, Mbak?" tanya Andini.


"Mau cari makan siang, kamu?" Ningrum balik bertanya.


Andini tersenyum sumringah "Sama, mau cari makan siang juga" jawab Andini.


"Ya sudah, Ayo kita barengan" ajak Ningrum.


Andini menganggukkan kepalanya dan kemudia mereka berjalan menuju penjual nasi padang yang ada di pinggir jalan.


"Ehh.. Kang Yamink tadi singgah ke salon, bawa pesananku, dan ngemil bakso mercon" ucap Ningrum sembari memasuki warung kaki lima penjual nasi padang dan duduk dikursinya yang yang disediakan.


Andini terperangah "Haah? Yaiyalah.. Itu baksoku yang dibawanya, dasae asem" omel Andini.


Seketika Ningrum tertawa terbahak "Masa, Sih?" tanya Ningrum masih menahan tawanya.


Andini memanyunkan bibirnya "sudahlah, mungkin Kang Yamink lagi ngidam" ucap Ningrum.


Seketika Andini membolakan matanya "Masa sih? Alhamdulillah deh kalau Kang Yamink dapat momongan" ucap Andini yang seketika hilang rasa kesalnya karena mendengar kabar bahagia tersebut.


Ningrum menoleh ke arah Andini "Kamu sudah ada tanda belum?" tanya Ningrum.


Andini tersenyum malu-malu "Kemarin tespack sih, sudah positif" jawabnya sungkan.


Sesaat Ningrum tersenyum lebar "Waaah.. Selamat ya Saay.. Bisa barengan sama istri Kang Yamink ini.." ucap Ningrum sumringah.


Lalu penjual nadi padang itu menghampiri "Mau pesan apa, Mbak?" tanya Pedagang tersebut.


"Saya pakai rendang daging, Pak" jawab Andini.


Saya juga, Pak.." jawab Ningrum.


"Baik, Neng.. " jawab si pedagang dan menyiapkan pesanan keduanya.

__ADS_1


Andini menuangkan air putih tang disediakan oleh pedagang tersebut, lalu meneguknya.


"Mbak, kamu belum ada tanda-tanda kehamilan juga?" tanya Andini menatap sahabatnya.


"Belum, Ndin.. Entahlah, apa memang aku yang bermasalah ya? Buktinya Riffky setelah menikah dengan janda tersebut istrinya sudah hamil lagi" ucap Ningrum dengan lirih. Ada raut wajah kesedihan di sana.


Andini menggenggam jemari sahabatnya "Yang sabar, Ya.. Mungkin belum rezeki kali, Mbak.. Atau juga Rabb memiliki rencana yang lain" jawab Andini mencoba membesarkan hati sahabatnya.


Ningrum hanya tersenyum miris menghadapi kehidupannya.


Dalam hal materi Ia tak pernah merasa kekurangan, namun dalam hal cinta dan juga rumah tangga Ia selalu dalam kemelut yang sangat rumit.


"Apakah aku mungkin tidak ditakdirkan untuk memiliki momongan?" ucap Ningrum, sembari melirik kepada Andini.


Andini tergagap mendengar ucapan sahabatnya yang tampaknya seperti orang berputus asa.


Dan obrolan mereka terhenti sejenak setelah pedagang nasi padang itu membawakan pesanan mereka.


"Ini, Mbak..pesanannya" ucap Pedagang itu dengan ramah. Lalu dijawab anggukan oleh keduanya.


"Makasih, Pak.." jawab Andini.


"Mengapa, Mbak? Tiba-tiba jadi pesimis seperti itu?" ucap Andini yang merasa jika sahabatnya itu seperti orang yang sangat pesimis dan tidak mempercayai takdir sang Rabb.


Ningrum menghela nafasnya dengan sangat lemah "Kamu tidak mengerti dengan apa yang mbak hadapi, Ndin.." jawab Ningrum, yang juga mulai menyuapkan makanannya.


Andini terdiam, menatap Sahabatnya penuh dengan rasa penasaran. Ada sesuatu yang selama ini disembunyikan oleh sahabatnya, namun Andini tidak dapat menebaknya apa.


"Apakah bisa berbagi cerita?" tanya Andini dengan sangat hati-hati, takut menyinggung perasaan sahabatnya.


Ningrum menatap Andini "Kamu tidak pernah tahu jika Mbak mengalami permasalahan datang bulan..? Dalam setahun mbak hanya 3 kali datang bulan" ucap Ningrum membuka rahasia dirinya.


Andini terperangah mendengarnya, Ia tidak pernah menduga jika sahabatnya mengalami masalah metabolisme yang cukup parah.


Bagaimana mungkin seorang wanita yang mormalnya setiap bulan mendapat tamu tersebut, sedangkan Ia hanya mengalami 3 kali dalam setahun..? hal sungguh langka.

__ADS_1


"Apakah Mbak melakukan pasang alat kontra- sepsi?" tanya Andini penuh selidik.


Ningrum menggelengkan kepalanya "Sejak awal menikah dengan Riffky sudah merencanakan ingin punya momongan, namun selama sepuluh tahun tak jua dapat apa yang diimpikan oleh pasangan yang sudah menikah" ucap Ningrum dengan senyum penuh kepedihan.


Andini menghela nafasnya dengan berat. "Bersabarlah, Mbak.. Mungkin belum saatnya, jika kelak Rabb sudah mengatakan 'Kun Fayakun' maka tidak ada sesiapapun yang dapat mencegahnya untuk dapat hadir ke dalam rahim, mbak" Andini mencoba membesarkan hati Ningrum.


Namun sahabatnya itu tampak tersenyum miris "Mbak divonis terkena kista.." ucap Ningrum dengan lemah.


Seketika Andini kembali tersentak kaget.. "A-apa? Bukankan orang yang terkena kista biasanya selalu pendarahan?" ucap Andini dengan rasa tak percaya.


"Mbak Gak tau persis.. Namun sejak sepuluh tahun yang lalu dan hingga kini, kista itu masih sebesar itu juga, dan dokter juga bingung itu sebenarnya apa, sebab tidak juga berkembang hingga kini" ucap Ningrum menjelaskan.


Andini semakin merasa iba mendengar penuturan sahabatnya. Bagaimana mungkin sahabatnya itu begitu sangat menderita dan menyimpan rahasia hidup yang sangat pahit.


Jika dilihat dari kehidupan luar, Ia tampak sangat fine and happy.. Apalagi hidupnya penuh bergelimang harta, tentu apa saja yang Ia inginkan akan terpenuhi dan dapat menjadi suatu kesenangan.


Namun siapa sangaka jika Ia sedang mengalami begitu banyak penderitaan yang Ia simpan dengan sendirinya.


Andini menyuapkan suapan terakhirnya dan meneguk air putih itu hingga habis.


"Bersabarlah, Mbak.. Allah lebih tahu apa terbaik buat hamba-Nya.. Maka kita harus berprasangka baik saja" ucap Andini mencoba menghibur hati sahabatnya.


Ningrum hanya dapat tersenyum dan menyuapkan suapan terakhirnya dan meneguk air putih lalu membayar makan siang mereka "Mbak traktir, ganti bakso kamu yang dicomot kang Yamink tadi" ucap Ningrum dengan tersenyum.


"Makasih, Mbak.." jawab Andini.


Lalu mereka pergi menuju tempat mereka masing-masing dan berpisah didepan kantor Andini bekerja, lalu Ningrum menyeberangi jalan dan menuju ke salonnya.


Andini memasuki kantor tempatnya bekerja, Ia menatap sahabatnya yang sudah berada didepan salon. Ia tidak pernah menduga jika sahabatnya mengalami permasalahan hidup yang sangat dramatis. Lalu bagaimana seandainya Ningrum tau jika suaminya yang kedua ini telah banyak membohongi kesucian pernikahan mereka?


Apakah itu bukan akan menambah beban bagi Ningrum? Andini tak mampu membayangkan seandainya sahabatnya itu mengetahui apa yang terjadi pada pernikahannya, dan Andini berharap jika sahabatnya itu kelak akan menemukan sebuah kebahagiaan yang entah itu darimana datangnya.


Andini menuju teller tempat Ia bekerja, karena beberapa menit lagi jam makan siangnya telah habis dan Ia akan bersiap-siap untuk memulai pekerjaannya.


Sementara itu, Ningrum menuju lantai dua rjang kerjanya, Ia melihat Jenny sedang berbalas chat entah dengan siapa, namun Ia tampak begitu sangat senang.

__ADS_1


Bahkan tanpa sadar Ia tertawa senang saat membuka balasan chat dari lawan chatnya.


Ningrum mencoba berfikir postif jika itu adalah pacarnya atau saudaranya atau juga temannya. Ningrum segera menapaki anak tangga untuk segera menuju ruang kerjanya.


__ADS_2