SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode 37


__ADS_3

Yudi yang sudah sakau berjalan menghampiri Jenny yang menatapnya bingung.


Gadis itu mengernyitkan keningnya. Ia melihat ada kemiripan antara Yudi dengan Bima.


"Si-siapa Kau?" tanya Jenny dengan penasaran.


"Aku adiknya Bima" jawab Yudi yang yerus mendekatinya.


Mendengar nama Bima, gadis itu tersenyum tipis. Yudi yang sudah sakau dan tidak terkendali mendorong tubuh Jenny kembali ke atas ranjang.


Bukannya melawan atau meronta, Jenny membiarkan pemuda itu berbuat tabu kepadanya.


Sebab sudah beberapa hari ini Bima tak menyentuhnya dan Ia sudah kecanduan akan hal tabu tersebut, apalagi Yudi adalah adik adati Bima, dan tubuh Yudi hanya sedikit lebih pendek dari Kakaknya.


Akhirnya keduanya bergumul tanpa ada paksaan apapun, sebab Jenny juga mmebutuhkan hal yang sama.


Ningrum melirik jam di phonselnya, dan Jenny juga belum datang, kepalanya sedikit rada pusing.


Saat itu kang Yamink datang dan masuk ke ruangan kerjanya. "Hai, Mbak.." sapanya dengan tenang, namun itu juga membuat Ningrum merasa kaget.


"Kang Yamink.. Ngagetin saja" gerutu Ningrum.


Yamink hanya nyengir dan menorobos masuk ke dalam ruangan Ningrum, lalu duduk di disofa di sisi kiri sahabatnya.


Ia mengelurkan tabletnua, lalu membuka galeri foto dan memperlihatkannya kepada Ningrum.


"Mbak.. Ini ada beberapa gaun pengantin keluaran terbaru, mungkin saja Mbak ada minat. terus ini ada beberapa pakaian adat modern yang pastinya sangat cantik dan anggun untuk pengantinnya. Saya belum ada menawarkan kepada para jasa Make up manapun, dan Mbak yang baru saya tawarin" ucap Yamink menjelaskan.


Ningrum meraih tablet milik Yamink yang menympan banyak foto pakaian pengantin. Setelah memilahnya Ia tertarik dengan gaun berbahan brokat dengan ada banyak manik disetiap rajutannya.


"Yang ini berapa harganya, Kang?" tanya Ningrum penasaran, sebab gaun itu begitu indah.


Yamink melirik foto yang ditunjuk Ningrum.

__ADS_1


"Yang ini 5 juta, Mbak.. Kalau yang 3 juta" ucap Yamink memberikan informasi harga dari pakaian yang dipromosikannya.


Ningrum teringat akan uang yang dikirim Andy pada waktu itu. Ia tidak ingin uang itu habis sia-sia lagi.


"Baiklah, Kang.. Aku pesan gaunnya yang harga 5 juta, dan pakaian adat jawa modernnya ya.. Uangnya saya bayar cash saja, Kang" ucap Ningrum dengan cepat.


"Ok, deh Mbak.. Tetapi barangnya 2 minggu baru sampai ya, Mbak" ucap Yamink menjelaskan.


Ningrum menganggukkan kepalanya. Ia mengerti sistem jual beli dengan sahabatnya, sebab barang yang dipesannya akan diproses setelah ada uang muka, karena barang itu tempahan.


Meskipun Ia membayarnya cash, tetap saja barang itu baru diproses.


"Iya, Kang.. Seperti baru kenal saja" jawab Ningrum yang meraih phonselnya, lalu mentransfer sejumlah uang kepada Yamink.


"Ini bukti transfernya saya kirim ke WA ya kang" ucap Ningrum lalu mengirimlan bukti screenshootnya kepada Yamink.


Yamink yang menerima notif dari sebuah bank jika ada transfer masuk ke rekeningnya, lalu membukanya "Iya, Mbak..sudah masuk.. Siip deh" ucapnya, lalu menyimpan phonselnya.


Yamink melihat wajah Ningrum sangat kusut "Mbak.. Wajah kamu kenapa sih, kusut banhet, mirip kain belum disetrika" tanya Yamink yang merasa sangat penasaran.


"Kamu pernah mengenal Bima kan, Kang? Rahasia apa yang kamu simpan darinya?" tanya Ningtum dengan gelisah.


Yamink terdiam, haruskah Ia mengatakan jika Bima memilki hutanga kepadanya sebesar 15 juta rupiah dan belum dikembalikan hingga saat ini.


Yamink takut jkma Ia menceritakannya akan menjadi beban yang semakin bertambah dan itu Ia tidak ingin terjadi kepada sahabatnya.


"Hanya kenal sekilas saja, Mbak" jawab Yamink berkilah.


Kebiasaan buruk Bima itu ialah mengutang dan tak ingin bayar serta doyan selingkuh juga. Namun Yamink tidak ingin Ningrum semakin terbebani, karena igu akan memperburuk kesehatan sahabatnya.


"Aku permisi dulu ya, Mbak.. Mau temui penjahitnya agar barang pesanan Mbak segera diproses" ucap Yamink berpamitan dan beranjak dari duduknya.


"Iya, Kang" jawab Ningrum lirih dan Ia terpaksa harus menelan kembali fikirannya.

__ADS_1


Yamink berlalu dan akan menemui penjahit langganannya untuk menempah pakaian dan gaun yang dipesan sahabatnya.


Setelah kepergian Yamink, Jenny belum juga kembali, Ia semakin gusar dan berusaha menghubungi pekerjanya tersebut.


Phonsel berdering dan Jenny mengangkatnya "Hallo, Bu.." jawabnya sembari menahan nafasnya yang tersengal karena Yudi masih menggarapnya.


Dua insan yang sama gatalnya itu masih bermandikan peluh dan seakan dunia milik mereka, bahkan Yudi tak perduli menanamkan benihnya kepada Jenny yang sudah tak sadar dengan apa yang dilakukan oleh Yudi kepadanya, karena masih mengangkat telefon dari Ningrum.


"Kamu kenapa lama sekali?" tanya Ningrum sesikit kesal.


"Maaf, Bu.. Saya singgah makan dulu.. Maaf ya, Bu.. Perut saya lapar sekali" jawab Jenny berbohong dan menutup mulutnya agar suara rintihannya tidak terdengar oleh Ningrum.


Ningrum menghela nafasnya dengan kasar "Ya sudah.. Buruan." omel Ningrum dan segera memutuskan sambungan telefonnya.


Jenny tersentak saat mengetahui jika Yudi menanamkan benih didalam rahimnya.." Heeei.. Mengapa kamu menanamnya?" ucap Jenny panim, Ia tidak mau mengandung.


"Kamu beli pil KB saja langsung ke apotik" jawab Yudi yang tak mau dipersalahakan apalagi dituntut tanggungjawab jika sampai Jenny mengandung.


"Oh..siaaalll..!" maki Jenny.


Setelah merasakan dapat menuntaskan hasratnya, Jenny segera membersihkan tubuhnya dikamar mandi dan memunguti pakaiannya, sedangkan Yudi terkapar diatas ranjang dengan sprei yang acak-acakan dan cairan miliknya berceceran di sprei.


Jenny segera beranjak pergi dan meninggalkan Yudi. Ia seperti orang sakau yang menginginkan pergumulan kapanpun dan dimanapun. Semenjak kesuciannya direnggut oleh Bima, Ia menjadi gadis liar yang selalu membutuhkan sentuhan itu.


Ia mengambil srmua barang yang diminta oleh Ningrum dan singgah ke apotik seperti yang diperintahkan oleh Yudi, membeli obat pencegah kehamilan dan segera meminumnya.


Setelah merasa aman, Jenny segera kembali ke salon dan menuju lantai dua tempat dimana Ningrum sudah menunggunya dan memberikan barang yang diminta sang majikan.


"Lama banget.." ucap Ningrum sedikit kesal.


"Maaf, Bu..tadi belum sarapan, dan perut saya laper banget, trus tiba-tkba sakit perut" jawab Jenny dengan berbagai alasan klasik.


Ningrum menatapnya malas, namun Ia mencium aroma Jenny seperti pernah Ia kenal, tapi dimana Ia mencoba mengingatnya, namun saat ini memorynya sangat penuh dengan beban fikirannya, dan Ia tidak ingin mencari tau.

__ADS_1


Jenny berpamitan untuk turun ke lantai dasar, karena sudah banyak langganan yang menunggu dan melihat Sary serta dua rekannya tampak kewalahan karena ada beberapa antrian.


Jenny merasakan kini memiliki tempat penyaluran hasratnya jika Bima tak lagi menyentuhnya, Ia tersenyum misterius dan melanjutkan pekerjaannya.


__ADS_2