SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-101


__ADS_3

Luccy mengeratkan genggaman jemarinya yang lemah.


"Tante tinggal disini temani Luccy, Ya?" ucap Gadis kecil itu memohon.


Ningrum menganggukkan kepalanya dan menatap gadis itu penuh janji dan harapan.


"Kamu janji harus sembuh, ya.." ucap Ningrum.


Luccy tersenyum tipis, namun raut wajahnya tampak begitu cerah, dan perlahan Ia mengatupkan kembali matanya karena proses obat yang membuatnya kantuk.


perlahan genggaman dijemari tangan Ningrum melemah, yang menadakan jika gadis kecil itu sudah terlelap dalam tidurnya.


Gibran hanya menatap semua itu dari sisi ranjang sebelah kanan. Ia bingung harus mengatakan apa kepada Ningrum, Ia juga merasa segan karena harus merepotkannya.


"Terimakasih sudah mau datang, dan sekali lagi maaf karena merepotkan kamu. Tetapi aku sudah merasa bingung harus melakukan apa saat Ia terus menyebut namamu" ucap Gibran dengan jujur.


Ningrum hanya membalas dengan senyum tipis. Ia juga tak mengerti mengapa merasa begitu terikat dengan gadis kecil itu.


Ningrum menatap mata yang terpejam dan tampaknya mulai tenang. Ia kembali membelai ujung kepala sang gadis dengan begitu lembut. Sesaat terdengar suara dengkuran yang begitu halus dan menandakan Ia sudah benar nyaman dengan kondisinya.


Ditempat lain. Bima masih berurusan dengan CEO untuk membahas tentang proyeknya. Dan salah satu karyawan yang harus menandatangani proyek itu sedang tidak hadir karena anaknya mengalami demam tinggi, Bima terpaksa menangguhkan penawaran kerjanya.


Ia berjalan menuju plant-4 dan melihat Plant-2 tempat Rendy mendapatkan proyek baru sedang melakukan fabrikasi material yang telah dirancang. Ia tak melihat keberadaan Rendy, sepertinya Rendy sedang tidak berada diproyek, namun para pekerjanya dapat diandalkan dan dipercaya sehingga mereka mengerjakan pekerjaan itu tanpa diawasi oleh Rendy.


Bima mengerutkan keningnya karena begitu mudahnya Rendy mengatur para pekerja proyeknya, bukan seperti pekerjanya yang harus Ia awasi setiap saat.


Bima mempercepat langkahnya menuju lokasi proyeknya. Ia menapaki anak tangga menuju lantai delapan tempat Ia akan nantinya mengerjakan proyek itu jika mendapat persetujuan dari harga penawaran yang diajukannya. Saat melintasi lantai demi lantai, banyak para cleaning service yang bekerja mengangkut pupuk yang berceceran dilantai dan akan dibawa ke tempat penampungan dan nantinya akan diangkut menggunakan kompeor.


Saat Ia sampai di lantai 8, para karyawan banyak yang sudah turun ke lantai dasar karena waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore dan waktunya mereka pulang untuk beganti shif.


Bima memperhatikan sekelilingnya dan melihat lokasi kerjanya yang pastinya akan penuh pertimbangan tentang harga yang diajukan.


Saat bersamaan, seorang cleaning wanita baru saja keluar dari toilet dan Ia terkejut saat menatap Bima ada dilantai yang sama dengannya, dan kondisi yang sangat sunyi karena pergantian shif.

__ADS_1


Bima yang juga terkejut dan tak menyangka jika ada seorang cleaning service yang bertugas membersihkan ceceran pupuk yang berserakan itu sepertinya habis mandi dan bersalin pakaian.


Sebab sudah menjadi hal umum bagi cleaning service bagian pengangkut ceceran pupuk jika dari rumah membawa pakain khusus untuk dilokasi bekerja, dan setelah selesai bekerja mereka menggantinya dengan pakaian yang dipakai untuk pergi. Bahkan mereka akan bersolek dan secantik mungkin agar tidak terlihat seperti pekerja cleaning.


Bima yang melihat kesempatan dalam kesempitan mencoba menyapa wanita itu.


Si wanita tersenyum malu-malu dan merundukkan kepalanya.


"Siapa namanya?" tanya Bima sok ramah dan mulai tebar pesona.


"Sella, Om.." jawab wanita itu.


Si wanita cleaning yang mulai terpesona oleh Bima mulai memanfaatkan situasi.. Apalagi sudah menjadi rahasia umum bagi para cleaning service sering kedapatan ngamar ditoilet bersama karyawan perusahaan ataupun pekerja kontraktor yang hanya dibayar dengan 50 ribu atau sebutan uang pulsa.


Sella yang menilai Bima adalah kontraktor berduit mulai memasang wajah genit, mengharapkan dapat menggaet pria didepannya dan mendapatkan ATM berjalan nantinya.


"Sendirian saja Nih, Om?" ucap Sella dengan nada genit.


Bima mulai melihat gelagat yang membuka peluang untuk berme-sum ria.


Sella tersenyum sembari mengedipkan matanya. "Asalkan sesuai bayarannya, Om" balas Sella.


Bima yang masih memiliki simpanan uang dari Anton berfikir jika hanya 50 ribu dan menci-cipi barang baru tidak ada masalahnya.


"Baiklah, uang pulsa saja, Ya" jawab Bima.


Sella tanpa menjawab bergegas menuju toilet dan diikuti oleh Bima.


Lalu mereka memasuki toilet dan berme-sum ria disana. Meskipun Bima patuh pada Nora, namun sikap me-sumnya tak dapat ditaklukkan sebab hanya berlaku saat dirumah saja.


Sementara itu, Nora masih menunggu Bima yang seharusnya sudah pulang sedari tadi. Namun tampaknya terlambat beberapa menit, dan Nora menganggap jika Bima belum selesai mengurus proyek barunya.


Dan apa yang dilakukan Bima saat ini adalah karma bagi Nora yang dahulu juga menjadi duri dalam kehidupan rumah tangga Ningrum, dan sekarang Ia akan kena getahnya atas segala perbuatan yang dulu pernah merusak kebahagiaan oranglain.

__ADS_1


"Kenapa Mas Bima lama banget sih? Ini sudah telat banget. Apalagi ada seauatu yang sangatt penting?" guman Nora gelisah.


Sementara itu, Bima masih bercinta ditoilet dengan cleaning service yang hanya dibayar 50 ribu saja.


Setelah menuntaskan hasratnya, Bima memberikan uang 50 ribu kepada Sella dan mereka berpisah bagaikan hanya membeli nasi bungkus saja, selesai makan tinggal buang bungkusnya.


Nora menghubungi Bima, Ia ingin memastikan jika Bima sedang diperusahaan atau mengarah pulang.


Bima mengangkatnya "Hallo, Mas.. Kamu sudah pulang atau masih diproyek?" tanya Nora dengan penuh penekanan.


"Emm.. Masih diproyek sayang. Sebab ada hang salah ukur dan harus ada perbaikan harga penawaran" jawab Bima berbohong dan mencoba meyakinkan Nora dengan sikap dan gayanya yang membuat Nora meyakini aoa yang diucapkannya.


"Oh. kalau pulang bawa sate ya" ucap Nora.


"Iya Sayang" jawab Bima dengan cepat.


Lalu Nora memutuskan panggilan telefonnya dan menantikan kehadiran Bima sampai dirumah dengan sebungkus sate.


Bima melangkah menuruni anak tangga dengan wajah sumringah karena baru saja mendapatkan santapan barang baru.


Saat berada dilantai 4, kakinya tergelincir saat menuruni anak tangga dan terjatuh menggelinding dilantai 4 dan membuat kakinya terkilir.


"Aaaarrgh..." teriak Bima yang merasakan sakit dipergelangan kakinya.


Ia kemudian memaksa berjalan dan terjinjit-jinjit menahan ngilu. Ia harus melewati 4 anak tangga lagi dan ini sangat menyakitkan baginya.


Ia mengerang ke sakitan, sedangkan kondisi plant sudah sangat sepi karena seluruh pekerja sudah pulang dan pergantian shift sekitar setengah jam lagi.


Sembari menahan sakit, Bima mencapai lantai dasar dan rasa ngilu itu semakin kuat dan membuatnya meringis.


Ia terus berjalan menuju parkiran dengan jalan terpincang dan saat bersamaan, Ia berpapasan dengan Mbak Raini.


Mbak Raini hanya memandang dengan wajah sinis "kenapa tuh orang jalan sambil pincang gitu?" guman Mbak Raini dalam hatinya.

__ADS_1


"Apaa? Lihat-lihat!!" ucap Bima dengan ketus karena melihat tatapan Mbak Raini yang sinis padanya.


Mbak Raini hanya mengerucutkan bibirnya dan mengendarai motornya lalu meninggalkan Bima.


__ADS_2