
Gibran pulang ke rumah Ningrum saat hari mulai senja, sebab banyak berkas yang harus diperiksanya.
Ningrum meyambutnya dengan senyum termanisnya. Lalu Ia membawa tas kerja dan mengikuti Gibran ke kamarnya.
Sesampainya dikamar, Ia membantu membuka jas dan juga sepatunya.
Setelah menyimpannya, Ningrum meminta Gibran untuk segera membersihkan diri, sebab Ia sudah menyediakan air hangat untuk Gibran.
Malam menjelma. Mereka makan malam bertiga dengan perasaan yang bahagia. Luccy adalah orang yang paling bahagia karena merasakan memiliki keluarga yang lengkap dan sudah sangat lama diimpikannya.
Setelah selesai makan malam, mereka bercengkrama diruang keluarga sembari menonton acara televisi. Tak berselang lama, Luccy mulai memgantuk dan tertidur dipangkuan Ningrum.
Gibran mengangkat puterinya yang tertidur dan memindahkannya ke kamar tamu yang bersebelahan dengan kamar Ningrum.
Ningrum mematikan televisi dan mengekori Gibran naik ke atas kamar.
Setelah meletakkan tubuh Luccy diatas ranjang, keduanya segera pergi dan memasuki kamar mereka.
Sesampainya didalam kamar. Mereka menaiki ranjang dan Ningrum memilih ditepiannya dan duduk bersandar disandaran ranjang.
"Sayang.! Bagaiamana jika esok kita pindah ke rumah Mas saja? Masalah salon pergi pagi dan pulang sore. Sebab rumah Mas sayang jika tidak ditempati. Dan salon ini menjadi tempat bisnis kamu saja!" ucap Gibran dengan hati-hati.
Ningrum menoleh ke arah Gibran. Lalu memandang lurua ke depan.
Mungkin yang dikatakan oleh Gibran ada benarnya, apalagi rumah Gibran sangat luas dan sangat disayangkan jika tidak ditempati. Sedangkan salonnya bisa digunakan untuk tempat bisnisnya.
"Baiklah.. Aku sekarang sudah menjadi istri Mas Gibran. Maka apapun yang Mas inginkan selagi masih dijalan yang benar, maka Aku harus mengikutinya," ucap Ningrum dengan senyum termanisnya.
Seketika merasa sangat tersanjung saat Ningrum begitu patuh terhadapnya.
Keduanya saling menatap nakal dan sepertinya akan melanjutkan reguhan bulan madu mereka.
__ADS_1
"Luccy libur sekolah nanti, kita akan berbulan madu sekaligus liburan ke Swiis. Mas sudah mengajukan cuti dan kita akan menikmati bulan madu penuh kesan yang tidak akan kamu lupakan seumur hidupmu" ucap Gibran sembari mengecup lembut ujung kepala Ningrum.
Kali ini Ia merasakan jika pernikahannya penuh dengan keindahan dan tiada kebohongan didalamnya. Ia berharap ini adalah pernikahan terakhirnya hingga sampai maut yang memisahkan.
Sementara itu, Sumi sedang memasak mie instan. Sedangkan Nora, sehabis mandi sore tadi langsung masuk kamar dan tidak keluar-keluar lagi.
Sepertinya Ia tampak begitu tak senangnya dengan kehadiran ibu dan ayah mertuanya.
Barang-barang yang dimiliki oleh Sumi masih bertumpuk didepan teras dan tidak berani memasukkannya.
setelah memasak mie instan, Sumi menyajikannya diatas meja makan dan mereka bertiga menyantab makan malam mereka menggunakan nasi putih beserta mie instan.
"Dik..dik Nora.. Sini makan malam," teriak Bima kepada Nora. Namun tak ada sahutan dari Nora. Sumi mengambil mangkuk kaca kecil dan memisahkan mie tumis buatannya dan telur omelet yang di potong kecil -kecil agar cukup untuk makan mereka berempat.
Nora tidak ingin makan bersama dengan mertuanya. Ia memilih untuk memakannya nanti saja saat mertuanya sudah selesai makan, lalu Ia akan makan setelah mereka.
Nora berselancar di dunia maya. Lalu membuat postingan dengan caption "Punya mertua cuma bisa nyusahin saja!" tulisnya dalam unggahannya. Ia menumpahkan segala kekesalannya yang sudah tidak dapat Ia bendung lagi.
Perlahan matanya mulai mengantuk dan Ia tertidur pulas.
Setelah jauh berjalan dan waktu menunjukkan pukul 10 malam. Ia melihat rumah Kontrakan Bima sudah sangat sepi. Namun mobil Bima tak tampak di depan rumah. Sepertinya Bima sedang keluar rumah.
Yudi mencoba membuka pintu rumah, dan ternyata tidak dikunci.
Ia melihat Jika ayah dan ibunya sudah tertidur pulas dan begitu juga Nora.
Dengan mengendap-endap Yudi menuju ke dapur. Sesampainya didapur, Ia membuka tudung saji dan menyantab habis semua hidangan yang masih tersisa. Setelah merasa kenyang Ia pun pergi dengan cepat agar tidak ketahuan.
Sekitar pukul 11 malam. Nora terbangun dari tidurnya dan merasakan perutnya sangat lapar.
Nora beranjak dari ranjangnya dan menuju ke dapur. Saat bersamaan, Bima baru saja pulang dari membeli kawat las untuk pengerjaan proyeknya besok.
__ADS_1
Bima memasuki rumah dan melihat ayah neserta ibunya tidur diruang tamu karena kamar rumah kontrakan milik Bima hanya ada satu saja. Sehingga membuat keduanya harus tidur diruang tamu menggunakan alas kasur tipis dan Bima tidak dapat melakukan apapun.
Tiba-tiba saja terdengar suara dentingan yang sangat kuat dari arah dapur.
Praaaaaannnkk..
Suara dentingan seperti piring yang dibanting dan Bima serta Sumi dan Johan yang sedang tertidur pulas hingga tersentak terbangun.
"Ada apa, Dik?" tanya Bima yang bergegas menuju ke dapur.
sesampainya didapur, tampak Nora sedang berdiri dengan wajah masam dan pecahan piring keramik yang berserakan dilantai.
"Ada apa ini, Dim?!" tanya Bima dengan penasaran.
"Ada apa?!" ucap Nora membeo. "Coba Abang Lihat?! Tidak ada sebutir nasipun yang tersisa! Aku sangat lapar!! Biasanya kita masak 3 sukatan saja cukup hingga dua hari! Sekarang 3 sukatan tak cukup sehari !! Sergah Nora yang sengaja meninggikan nada bicaranya agar Sumi mendengarnya dan merasa jika kehadiran mereka hanyalah membawa petaka dalam rumah tangganya.
Sumi merasa bingung, sebab seingatnya tadi Ia merasa menyisihkan Mie tumis dan juga nasi serta telur omelet untuk Nora. Namun mengapa tiba-tiba bisa habis begitu saja.
"Bapak tadi ada mentong ngabisin nasi yang Ibu sisihakan, Ya?" tanya Sumi dengan nada lirih agar tidak didengar oleh Nora yang tampak sedang mengomel di dapur.
Johan menggelengkan kepalanya. "Bapak gak ada makan ke dua kali, Lho, Buk!" jawab Johan berbisik.
"Lha.. Koq bisa nasi sama lauknya habis? Apa ada orang yang diam-diam masuk dan makan tanpa kita sadari?" Sumi berguman lirih.
Keduanya saling pandang. "Bisa jadi, Yudi?" bisik Johan kepada Sumi.
Seketika Sumi terperangah mendengar ucapan dari suaminya. Jika benar, maka Yudi sudah membuat mereka selalu dalam masalah.
"Dasar, anak itu tidak ada berhentinya selalu buat masalah!" guman Sumi dengan nada kesal.
Sumi tak tahu harus mengatakan apa lagi, sebab Nora sudah terdengar menyindirnya dan membuatnya sangat sakit hati dengan segala ucapnnya yang begitu tajam mengalahkan tajamnya silet.
__ADS_1
"Adik gak mau tau!! Belikan adik nasi bungkus, Bang!" ucap Nora dengan nada kesal dan meradang.
Karena tak ingin mendengar ocehan Nora, akhirnya Bima memilih untuk membelikan nasi Padang permintaan Nora.