SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-87


__ADS_3

Ningrum terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan kedua matanya, memandangi sekelilingnya, dan Ia tahu jika ini bukan kamarnya.


Hatinya kembali sakit, saat mengingat jika rumahnya telah hilang begitu saja oleh pria brensek yang pernikahannya hanya seumur jagung, namun menguras habis hartanya.


Ningrum menyeka air matanya, lalu bernjak dari ranjang, dan menuju kamar mandi.


Setelah membersihkan dirinya, Ia bergegas mencari Andini dan tampaknya sedang membuat sarapan. Ia tak ingin berlama dirumah dirumah sahabatnya, sebab ini tahu jika sahabatnya sedang hamil muda dan sangat rentan dengan segalanya, maka Ningrum tidak ingin menambah beban bagi sahabatnya.


"Ndin.. Mbak pulang, ya.. Makasih banget sudah diberi numpang tidur malam ini" jawab Ningrum dengan hati yang masih sangat pilu.


"Buru-buru banget, Mbak.. Nginap sini saja dua tau tiga malam lagi agar hati mbak lebih tenang.." jawab Andini yang sudah menyelesaikan sarapannya.


Ningrum menggelengkan kepalanya "Mbak Mau urus surat cerai sekarang juga, Ndin.. Mbak tidak ingin lagi melihat Bima dalam kehidupan, Mbak" ucap Ningrum dengan hati yang sangat nelangsa.


Andini meletakkan sarapan yang baru selesai dimasaknya diatas meja makan sederhana yang dibuat oleh suaminya sendiri.


Kemudian Ia mengahampiri Ningrum yang tampak wajahnya masih sembab karena menangis semalaman.


"Kamu yang kuat, Mbak.. Akan ada hikmah dibalik setiap kejadian yang menimpa hamba-Nya. Jika ini jalan yang terbaik, maka segeralah proses perceraiannya, dan bawa semua bukti untuk membuat hakim memutuskan perceraian kalian" ucap Andini mencoba menguatkan sahabatnya, Ia memeluk Ningrum yang kini dalam kondisi sangat rapuh.


Ningrum terisak di pundak Andini, Ia merasa beruntung mendapatkan sahabat yang dapat mengerti akan perasaan dan hatinya saat ini, bahkan keluarganya belum mengetahui hal yang menimpanya. Ia akan sangat malu jika sampai keluarganya tau kalau rumahnya telah terjual dan itu ulah Bima, suami yang baru saja menikahinya beberapa bulan yang lalu.


"Mbak, permisi dulu, Ndin.. Mau urus syarat-syarat perceraian dikantor pengadilan dan juga membereskan barang-barang Mbak dirumah lama" ucap Ningrum mencoba tegar.


"Sarapan dulu, Mbak? Ini sudah saya siapin" ucap Andini menawarkan.


Ningrum tersenyum miris "Amkasih, Ndin.. Mbak belum lapar, ntar sarapan dijalan saja "ucap Ningrum, lalu berpamitan dan melangkah keluar dari rumah sahabatnya.


Andini mengikutinya hingga sampai depan teras. Memandang kepergian Ningrum dengan hati yang nelangsa.


Setelah Ningrum hilang dari pandangannya, Andini kembali masuk kedalam rumah, dan melihat Rendy suaminya baru saja kemuar dari pintu kamar dan akan bersiap berangkat bekerja.


"Sarapannya sudah Andin siapin dimeja makan, Mas.." ucap Andini kepada Rendy

__ADS_1


Rendy menganggukkan kepalanya "Mbak Ningrum.gak dipanggil sekalian buat sarapan bareng" ucap Rendy yang berjalan menuju dapur.


"Mbak Ningrum baru saja pergi, katanya mau mengurus surat perceraiannya dengan Bima secara sah di penagadilan agama" jawab Andini.


Sesaat Rendy mengerutkan keningnya "Baguslah.. Mudah-mudahan Ia mendapatkan pengganti yang lebih baik" ucap Rendy sembari menarik piring kosong dan menyendokkan nasi goreng kedalam piringnya.


Andini mendenguskan nafasnya dengan berat "Koq bisa ada ya, Mas? Manusia sejahat Bima?" ucap Andini sembari menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.


"Ya ada.. Bima contohnya" jawab Rendy dengan santai.


Andini memutar bola matanya malas, jawaban Rendy itu hanya membalikkan pertanyaannya saja.


Sementara itu, Ningrum yang saat sedang melewati rumah Nora memalingkan wajahnya. Hatinya sangat sakit saat membayangkan Bima ditemukan dirumah seorang janda yang membawa sebgian uang hasil penjualan rumah miliknya.


Ningrum menunju rumahnya yang sekarang sudah bukan lagi miliknya. jika Ia ingin rumah itu kembali menjadi miliknya, maka Ia harus menyediakan uang sebesar 1.5 Milyar, sebab Julian tidak akan melepaskannya karena Ia tahu harga rumah itu jika dijual kembali.


Saat memasuki rumah itu, hatinya sangat begitu sangat sakit. Ia mengemasi barang-barangnya dan hajya diberi penangguhan waktu beberapa hari saja oleh Julian.


Sementara ini Ningrum akan tinggal disalonnya sekaligus tempatnya bekerja, ia tak memiliki pilihan lain.


Setelah mendapatkan semua berkas yang dibutuhkannya, Ia menuju pengadilan agama, lalu mendaftarkan perceraiannya dengan alasan tidak memberikan nafkah selama pernikahan mereka 3 bulan berturut-turut.


Setelah itu, Ia merasakan perutnya sangat perih, sebab Ia belum sarapan sedari tadi.


Ningrum mencari mini market untuk membeli camilan dan untuk mengganjal perutnya sementara waktu.


Ia memilih beberap biskuit dan susu evarposi, lalu menuju kasir dan mengantri. Sesaat sebuah tangan mungil menarik ujung pakaiannya.


Merasa penasaran, Ia melirik ke arah Seseorang yanga menariknya, dan Ia terperangah "Luccy? sama siapa disini?" tanya Ningrum dengan senyum sumringah, seketika Ia melupakan sejenak permasalahannya.


"Sama sopir, Tante. Sebab papa bekerja" ucap Gadis mungil itu dengan senyumnya yang sangatbmenyejukkan hati.


"Belanja apa? Sini, masukin keranjang tante, biar kamu gak capek ngantri" ucap Ningrum menawarkan.

__ADS_1


Lalu gadis itu menganggukkan kepalanya, menyerahkan beberapa bungkus makanan ringan dan juga beberapa kotak susu siap minum.


"Luccy tunggu diluar ya, Tante" ucap Gadis kecil itu, dan Ningrum menganggukkan kepalanya.


Lalu Lucy menunggu didepan teras minimarket yang terdapat beberapa buah meja dan kursi tempat pelanggan yang ingin bersantai sejenak.


Setelah mendapatkan antriannya, Ningrum memisahkan belanja Lucyy dengan miliknya, lalu membayarnya dan segera keluar dari minimarket.


Sesampainya diluar, Ia melihat Luccy sedang menunggunya "Nih, belanjaan kamu" ucap Ningrum sembari menyerahkan kantong plastik berwana putih tersebut.


"Makasih, Tante" ucap Luccy sembari tersenyum sumringah.


"Sama-sama, Sayang" lalu Ningrum ikut duduk dikursi kosong dengan meja yang sama bersama. Luccy. Mereka menikmati makanan ringan yang mereka beli.


Gadis itu memperhatikan mata Ningrum yang sembab "Tan.. Mata tante kenapa sembab begitu? Tante habis nangis, Ya? Siapa yang sudah buat tante nangis?" cecar Luccy dengan penuh penasaran.


Ningrum gelagapan mendengar pertanyaan dari Luccy, bahkan Ia tidak menyadari jika sedari tadi berpergian tanpa kacamata hitam dengan mata yang sembab seperti itu.


"Oh.. ini tada waktu tante lagi cuci piring terkena cipratan sabun cairnya, jadi mata tante perih dan tante kucek, jadinya seperti ini" jawab Ningrum berbohong.


Luccy hanya menganggukkan kepalanya, mencoba memepercayai jawaban Ningrum meskipun terdengar mengada-ada.


"Tan, kapan aku boleh main ke rumah tante? Tanya Luccy dengan penuh harap.


Mendengar kata rumah, hati Ningrum kembali berdenyut menahan sakit. Ia mencoba menahan bulir bening itu agar tak terjatuh diujung sudut matanya.


"Nanti, ya Sayang... Saat ini tante lagi ada banyak pekerjaan, kalau sudah lapang waktu akan tante bawa main kerumah.." jawab Ningrum dengan setenang mungkin, agar gadis kecil itu tak mengetahui jika hatinya saat ini sangat rapuh.


Luccy menganggukkan kepalanya, dan saat bersamaan, sopir itu memanggilnya "Nona Luccy, kita harus pulang, bentar algi jadwal les bahasa Inggris" ucap Sopir itu mengingatkan.


Lalu Luccy menganggukkan kepalanya.


"Luccy duluan ya, Tan" ucap Luccy, lalu menyalim tangan Ningrum.

__ADS_1


Ningrum menganggukkan kepalanya, lalu membelai lembut ujung kepalanya gadis tersebut.


__ADS_2