
Ningrum baru saja selesai memasak. Daging dendeng balado dan tumis kangkung sudah tersedia.
Saat Ia masih asyik mencuci piring di washtafell, Ia dikejutkan sebuah dekapan seseorang arah belakang sehingga membuatnya tersentak dan menjatuhkan piringnya.
Saat Ia menoleh, ternyata Gibran yang pulang tiba-tiba dari pekerjaannya.
"Ya Ampuuun, Mas. Ngagetin saja" ucap Ningrum dengan nafas tersengal karena ulah Gibran yang tiba-tiba saja mendekapnya.
"Kita belum bulan madu.. Ayolah.. Luccy lagi sekolah" bisik Gibran yang rasanya sudah terbakar hasratnya dari kemarin Ia tahan.
Ningrum terperangah mendengar ucapan Gibran yang rela pulang dari kantor hanya untuk hal semacam itu.
"Hah..??! Pulang dari kantor hanya untuk minta jatah doank, Mas?" tanya Ningrum tak percaya.
"Ayolah.. Biar Mas tambah semangat kerjanya" jawab Gibran yang tak lagi perduli pajaian Ningrum basah karena masih mencuci piring.
Ia menarik Ningrum dan menggiringnya ke kamar "Buruan! Nanti keburu Luccy pulang sekolah" ucap Gibran tak sabar.
Ningrum terpaksa mengikuti jejak Gibran karena pria itu sudah tampak sabar, dan saking tak sabarannya, Gibran menggendong tubuh ramping itu dengan begitu mudahnya naik ke lantai dua dimana kamar Ningrum berada
Sementara itu. Rendy hari ini tidak sedang bekerja. Ia memandang Andini yang masih menyiapkan sarapan mereka. Telur omelet dan lalapan mentimun menjadi teman sarapan mereka pagi ini bersama dengan nasi putih panas.
"Mas.. Ini sarapannya" ucap Andini menghidangkan telur omelet dalam wadah piring keramik beserta dengan lalapan irirsan mentimun.
Rendy menganggukkan kepalanya, lalu menyendokkan nasinya dan mengambil sepotong telur omelet yang sudah disajikan.
Rendy adalah salah satu pria yang tidak begitu rewel akan masalah makanan. Baginya apapun yang disajikan oleh Andini Ia akan memakannya dan tak pernah protes apapun.
Keduanya sarapan dengan lahab "Siap sarapan nanti kita jalan bentar, ya" ucap Rendy sembari menyuapkan suapan terakhirnya.
Andini mengerutkan keningnya "Maksudnya?" tanya Andini dengan penasaran.
"Ikut saja, ada seauatu yang mau Mas tunjukin" jawab Rendy sembari menyeruput teh hangatnya.
Andini menganggukkan kepalanya, lalu beranjak ke depan teras rumah untuk bersiap menunggu sang istri yang sedang menyelesaikan sarapannya.
Berselang 5 menit Andini keluar membawa cermin berukuran 30cm×30cm ke ruang tengah dan ingin memoles bibirnya menggunakan lipstik yang baru saja dibelinya dari Yamink waktu.
Rendy yang melihatnya merasa jika Andini terlalu lama berias.
"Sudahlah.. Jangan pakai lipstik segala, lagian siapa juga yang mau lihat!" ucap Rendy dengan nada cemburu. Entah mengapa saat Andini sedang mengandung Ia mudah merasa cemburuan dengan istrinya tersebut.
"Yaelah, Mas. Cuma lipstikan doank.. Bentar napa" jawab Andini. Lalu menyelesaikan polesan lisptiknya, bahkan tak sempat mengukir alisnya dengan pencil alisnya. Andini bergegas meraih hijab instannya.
"Hijabnya yang lebar dikit, jangan sampai batas dada gitu" ucap Rendy protes.
Andini mengerutkan keningnya. Sepertinya suaminya mulai tampak sifatnya yang diam tapi ternyata pencemburu.
"Iya.. Bentar.. Sekalian pakai mukena" jawab Andini mencoba menggoda Rendy yang terlihat semakin konyol.
Kemudian Andini kembali masuk ke dalam kamar dan menukar dengan hijab Syar'i-nya.
Ketika melihat Andini keluar dengan menggunakan hijab Syar'i, seketika Rendy tersenyum dan Mengunci pintu untuk segera pergi.
__ADS_1
"Nah.. Gitukan tambah, cantik.. Sudah tua itu jangan kebanyakan gaya" ucap Rendy saat Andini menaiki boncengan.
Seketika Andini membolakan matanya diaktain sudah tua "Enak saja bilang Adik sudah tua. Masih Abege tau!!" protes Andini karena Ia merasa memiliki postur tubuh yang masih terlihat masih Abege dan imut-imut, sembari mencubit pinggang Rendy-suaminya dari belakang boncengan.
"Aaaw.." Pekik Rendy kesakitan karena cubitan Andini. Lalu Ia nyengir karena berhasil menggoda istrinya dan Andini dapat melihat senyum nakal suaminya dari kaca spion, dan ternyata Rendy memiliki sikap jahil yang terpendam.
Lalu Ia mengemudikan motornya.
"Peluuk yang kuat pinggang, Mas.. Ntar kalau kamu tercecer dijalan yang susah siapa? Kan istri seperti kamu sangat langka dicari" ucap Rendy yang semakin membuat Andini kesal.
"Enak saja. Emangnya apaan langka? Gajah Sumatera tuh, yang langka" omel Andini dengan memanyunkan bibirnya.
Rendy tertawa geli mendengar jawaban istrinya yang tampak kesal Andini tau suaminya sedang tertawa geli dari tubuhnya yang terguncang menahan tawa.
"Ya kan langka. Kamu istri Soleha, tidak banyak menuntut dan juga menerima Mas apa adanya yang hanya seorang yatim piatu, dan menyejukkan pandangan serta menjadi tempat pengobat lelah saat Mas lelah pulang dari bekerja. Lalu dimana lagi akan Mas temui seorng istri seperti kamu?" ucap Rendy dengan begitu lembutnya.
Seketika Andini yang tadinya merasa dihempaskan kini merasa melayang bagaikan berada diawan dengan berjuta keindahan.
Dan tanpa mengatakan apapun Ia mengeratkan dekapannya dipinggang Rendy dan menyandarkan kepalanya dipunggung sang suami.
Motor melaju membelah jalanan kota yang tampak ramai oleh berbagai kesibukan warganya.
Andini tercengang saat melihat Rendy berhenti didepan seberang salon Ningrum. Ya, tidak berhadapan langsung, ada tiga bangunan yang menjadi jarak, namun Ia tetap bisa menatap salon itu dari depan tempat Ia dan Rendy berhenti.
"Ayo. Turunlah.. Kalau mau peluk yang hangat dan panas ntar dirumah ya, Sayang" ucap Rendy yang kembali datang sifat jahilnya.
Andini kembali mencubit gemas pinggang suaminya. Sepertinya Ia harus mulai terbiasa dengan sikap Jahil Rendy yang mulai tampak nyata.
"Ayo, Masuk" ucap Rendy sembari merogoh kunci dari saku calananya.
"Mas sewa ruko ini, Ya?" tanya Andini penasaran.
Rendy hanya diam dan belum ingin memberitahu Andini yang sebenarnya.
Andini mengekori Rendy dari arah belakang. Andini mengingat jika dahulunya ruko ini disewa seorang penjual bakso saat Ia masih bekerja di Bank dan Ia salah satu pelanggannya.
"Menurut Adik, yang mana mau direnovasi dan rubah bentuknya" tanya Rendy meminta pendapat istrinya.
Andini mengerutkan keningnya "Kalau renovasi dari pemilik ruko atau dari kita dananya, Mas?" tanya Andini yang jiwa kalkulatornya mulai beraksi.
"Emm.. tergantung, sih.. kalau yang direnovasi itu karena untuk kepentingan kita ya kita yang harus menanggungnya" jawab Rendy.
"Wah.. Banyak sekali biaya yang akan dikeluarkan jika begini, Mas" ucap Andini.
Rendy hanya tersenyum dengan mencolek dagu sang istri.
"Ini untuk kamu, Sayang.. Ruko ini sudah Mas beli, karena kamu berniat untuk berdagang dan ingin dekat dengan sahabat kamu" ucap Rendy.
Seketika Andini membolakan matanya menatap tak percaya.
"Beneran, Mas? Kamu beli ruko ini? Tanya Andini tak percaya"
Rendy menganggukkan kepalanya "Iya.. Apa mas pernah bohong sama kamu?" ucap Rendy sembari menatap kedua bola mata sang istri yang tampak masih tak percaya.
__ADS_1
Andini tak dapat menyembunyikan rasa haru dan bahagianya, lalu mendekap suaminya "Kamu ya, Mas.. Emang paling bisa buat Adik terkejut" ucap Andini dengan lirih. Air matanya tak dapat Ia bendung, ada cinta dan bahagia dihatinya saat sang suami diam-diam memberikan kejutan kepadanya.
"Tapi rukonya belum bagus. Masih banyak perlu renovasi dimana-mana" ucap Rendy sembari mengecup lembut ujung kepala Andini yang terbalut oleh hijabnya.
"Ini saja sudah sangat bersyukur buat Adik, Mas. Masalah renovasi bisa kapan saja kalau dana sudah ada" ucap Andini dengan penuh kebahagiaan.
Rendy membalas dekapan sang istri "Kamu sebutin saja apa yang mau direnovasi. Masalah dana jangan kamu fikirkan, sebab Mas yang akan merenovasinya sendiri. Adik lupa ya kalau Mas ini seorang fitter" ucap Rendy mengingatkan istrinya.
Seketika Andini menengadahkan kepalanya dan tersenyum meledek suaminya.
Diseberang sana, Ningrum harus terkapar lemah karena tenaganya terkuras habis oleh Gibran yang seolah bertahun lamanya sudah tidak merasakan manis madunya cinta, sehingga Ningrum yang menjadi tempat pelampiasannya.
Gibran mengenakan kembali pakaian kerjanya setelah mandi dengan terburu-buru dan berkejar dengan waktu, sebab Ia sudah ditunggu diruang meeting.
" Makasih ya, Sayang.." ucap Gibran sembari mengecup ujung kepala Ningrum, lalu bergegas pergi.
Setelah kepergian Gibran, Ningrum melirik jam diphonselnya dan tampak waktu menunjukkan pukul 11 siang yang artinya Luccy sudah pulang sekolah, sebab Ia masih kelas satu Sekolah Dasar.
Ningrum beranjak dari ranjangnya dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah selesai mandi, Ia mengenakan pakaiannya dan menuruni anak tangga menuju lantai dasar, lalu ke garasi untuk mengambil mobilnya.
Ningrum memutar mobilnya untuk menjemput Luccy dan tampak diseberang jalan motor milik Andini terpakir di delan sebuah rukonyang sudah beberapa bulan kosong tersebut.
Saat melintas didepan ruko itu, tanpa sengaja Oa melihat Andini dan Rendy masih berpeluukan. Lalu Ia menghentikan sejenak mobilnya dan menurukan kaca mobilnya dan mengklakson keduanya hingga tersentak kaget.
Andini terburu-buru melepaskan dekapannnya dari Rendy dan menghampiri sahabatnya.
" Eh, Mbak ngagetin saja.!" imel Andini.
"Abisnya siang-siang keq teletubies pelukan begitu, keliatan dari sini, tau..!!" balas Ningrum.
Andini cuma nyengir doank.
"Kapan kamu mulai dagang?" tanya Ningrum tak sabar.
"Belum tau, Mbak.. Masih banyak yang mau direnovasi" jawab Andini.
"Oh.. Ya sudah.. Mbak jalan dulu, ya... Mau jemput Luccy dari sekolah.. Nanti kita lanjutkan lagi ngobrolnya" ucap Ningrum berpamitan.
"Ok, Mbak.. Hati-hati, Ya.." ucap Andini.
"Ningrum membalas dengan senyum, dan mengemudikan mobilnya meningalkan Andini.
Tak berselang lama, Mobil Ningrum sampai disekolah dan berhenti didepan pintu pagar. Dari kejauhan tampak Luccy mengejarnya "Mamaaaa.." teriaknya penuh dengan kenahagiaan saat melihat Ningrum menjemputnya dan menyambutnya.
Tampak teman-teman sekelasnya memperhatikannya "Apa liat-liat.. Ini mamaku, cantikkan?!" ucapnya sembari memamerkan Ningrum kepada teman-temannya.
Ningrum hanya tersenyum kikuk melihat Luccy yang tampak begitu membanggakannya.
Lalu Ia membawa Luccy masuk ke dalam mobil dan membawanya pulang.
"Tadi ada PR tidak dari guru?" tanya Ningrum kepada Luccy.
__ADS_1
"Ada, Ma.. PR matematika dengan Agama. Nanti mama bantu Luccy mengerjakannya, ya??" ucap Luccy dengan penuh semangat.
Ningrum menganggukkan kepalanya sembari mengacak rambut Luccy, lalu mengemudikan mobilnya menembus kemacetan kota karena jam pulang anak sekolah serta jam istirahat yang mana banyak warga mencari makan siang dan menjemput anak sekolah.