SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-91


__ADS_3

Sebulan kemudian...


Ningrum mulai menata hatinya. Ia mencoba melupakan semua kenangan pahitnya bersama Bima. Ia kembali membuka salonnya dan menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya.


Bayangan Bima baginya hanyalah sebuah mimpi buruk yang harus Ia buang dan tidak perlu dikenang lagi.


Saat Ia sedang sibuk dengan pekerjaannya, phonselnya berdering, dan satu panggilan masuk dari 'Andy', Ningrum mengangkatnya, sebab pria ini sudah lama menghilang.


Ningrum mengangkatnya "Ya, Hallo" ucap Ningrum tak bersemangat.


"Lemas banget jawabnya" ucap Andy dari seberang telefon dengan panggilan suara.


Ningrum terdiam, menghela nafasnya dengan berat "Kamu apa kabarnya?" tanya Ningrum lirih. Mantan kekasihnya semasa kuliah dulu bagaikan jelangkung yang datang tidak diundang dan pergi tanpa diantar.


Namun setidaknya Andy bukanlah pria brengsek seperti Bima yang hanya dapat memberikan luka dihatinya.


"Alhamdulillah baik.. Kamu lagi ngapain?" tanya Andy dengan suara yang begitu sangat lembut dan membuat hatinya bagaikan tersiram embun pagi, menyejukkan.


"Masih berbenah, aku baru pindahan" jawab Ningrum jujur.


Sektika Andy terdiam "Pindahan maksudnya? Rumah kamu kenapa emangnya?" tanya Andy dengan rasa penasaran.


Tanpa sadar Ningrum tersedu. Entah mengapa Ia lebih terbuka kepada Andy untuk menceritakan segala masalah dan keluh kesahnya.


Andy terdiam, dan mencoba menjadi pendengar setia saat ini.


"Bahkan Ia mengataiku Mandul!" ucap Ningrum diakhir kalimatnya.


Terdengar Andy menghela nafasnya dengan berat. "Sudah.. Kamu, jangan menangis lagi, ntar tambah jelek" ucap Andy dengan berkelakar, namun sebenarnya hati juga sakit.


Terdengar Ningrum masih tersedu dengan perasaannya yang sangat hancur.


"Ningrum.."


"Ya.." jawab Ningrum lirih.


"Maukah Kau menemuiku? Aku akan mengirimkan ongkos untukmu, Aku menjemputmu dibandara" ucap Andy mencoba mengatakan keinginnannya.


Ningrum terdiam. Entah mengapa Ia merasakan hatinya sangat berat jika harus meninggalkan Pulau Sumatera bagian Utara untuk menyeberang ke Kalimantan.


"Jika kamu mengatakan, Ya.. Maka akan ku kirimkan uang itu hari ini juga, bahkan jika kamu membawa kekuargamu sekalipun!" Andy mencoba meyakinkannya.

__ADS_1


Sesaat Ningrum semakin bingung. Sedangkan menikah dengan Bima yang satu pulau saja membuatnya sedikit takut, apalagi harus menuju ke Kalimantan pulau yang sangat jauh dan tentunya Ningrum membayangkan jika andainya Ia mengalami kegagalan rumah tangga berikutnya, Ia akan merasa kesulitan untuk kembali pulang.


Ningrum masih terdiam, dan tak meberikan jawaban apapun, lama keduanya dalam keheningan.


Lalu Andy menghela nafasnya dengan berat. "Ya, sudah.. Kamu istirahat dulu, ya.. Jangan pernh memikirkan orang itu lagi, setiap perbuatannya akan mendapatkan balasannya, tidak cepat, tidak juga lambat, namun balasan sang Rabb itu pasti.. hanya waktu saja yang menjawabnya" ucap Andy, lalu mengakhiri panggilannya.


Ningrum terdiam, lalu hening. Sesaat notif pesan masuk ke rekeningnya, tertera angka nominal 20 juta, dan Andy kembali menghilang.


Ningrum memandang pesan masuk tersebut.


"Mengapa Ia setelah mentransfer uang langsung menghilang? Apakah Ia sesungguhnya sudah memiliki istri?" guman Ningrum menduga-duga.


Sesaat suara ketukan dipintu ruang kerjanya "Ya, masuk" ucap Ningrum.


Lalu pintu dibuka, dan tampak Sary menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


"Bu, ada tamu yang mencari ibu" ucap Sary memberitahu.


Ningrum mengerutkan keningnya, Ia mengira jika itu adalah para pelanggan yang akan memakai jasa WO-nya, lalu Ia menganggukkan kepalanya.


"Katakan tunggu sebentar" ucap Ningrum dengan tenang.


Sary menganggukkan kepalanya, lalu beranjak turun.


"Tantee.." teriaknya dengan berlari dan mendekap erat pinggang rampingnya.


Ningrum terperangah "Luccy.."


"Luccy kangen, Tan.. Kenapa tante tidak pernah main ke rumah Luccy?" cecar gadis kecil itu.


Ningrum mencoba tersenyum "Maafin Tante, akhit-akhir tante sibuk.. Kamu bagaimana dengan les-nya?" tanya Ningrum.


"Lumayan, Tan.."


Lalu seseorang berdiri diruang tamu tersebut.


"Gibran..?"


Pria itu tersenyum tipis. "Maaf mengganggumu, tetapi Luccy terus merengek meminta untuk diantar kemari, katanya kangen sama kamu" ucap Gibran, Ia takut jika Ningrum salah faham padanya.


Ningrum menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Tan.. Malam nanti Luccy mau ajak tante makan malam, habis Isya Luccy jemput, Ya.. Mau ya, Tan?" rengek Luccy dengan tatapan penuh harap.


Ah.. Tatapan itu, siapa yang tega untuk menolaknya. Lalu Ningrum menganggukkan kepalanya, dan seketika Luccy mengeratkan pelukannya.


"Maksih ya Tante.." ucap Luccy yang tampak kegirangan.


Lalu Gibran mengingatkan Luccy jika jadwal mengajinya sebentar lagi "Sayang.. Pulang, Yuuuk.. Bentar lagi kamu akan jadwal mengaji"


Luccy menoleh ke arah papanya, Ia masih ingin berlama bersama Ningrum, namun Ia juga harus mematuhi Papanya.


Masih mendekap pinggang Ningrum, Ia menengadahkan kepalanya, memandang Ningrum.


Kemudian Ningrum membelai rambut itu dengan lembut dan menganggukkan kepalanya "Turuti kata Papa, kamu harus pinter ngajinya, agar dapat mengirimkan doa kepada Mama" ucap Ningrum dengan begitu tenang.


Setelah mendengarkan ucapan Ningrum, Luccy akhirnya menuruti ucapan Papanya dan mereka berpamitan pulang.


"Maafin, Luccy.. Ia tidak biasa menyukai seseorang, namun denganmu Ia merasa nyaman" ucap Gibran, dan berlalu pergi.


Ningrum terdiam, Ia tidak menduga jika Luccy bagaikan terkena maghnet dengannya. Ningrum mengantar keduanya hingga kedepan pintu salon.


Gadis kecil itu melambaikan tanganya saat mobilnya meninggalkannya.


Ningrrum memberikan senyum termanisnya, hingga mobil itu menghilang diperempatan jalan.


Gadis itu begitu manis, membuat Ningrum merasakan cinta sang gadis kecil yang membuat hatinya sedikit berwrna.


Sementara itu, Luccy tampak kegirangan saat Ningrum mau diajaknya makan malam. Ia sudah tak sabar menanti saat malam nanti.


"Pa.. Tante Ningrum cantikkan? Kita bawa pulang saja, buat mama Luccy" ucap Gadis kecil itu asal.


Gibran membolakan matanya "Kamu fikir tante Ningrum itu boneka yang bisa dibawa pulang sembarangan" omel Gibran kepada puyerinya yang belum mengerti dengan apa yang baru saja diucapkkannya.


"Gak boleh dibawa pulang ya, Pa?" tanya Luccy penasaran dan berwajah sedih.


"Boleh sayang , namun ada syarat yang harus dipenuhi untuk dapat membawa pulang Tante Ningrum ke rumah, salah satunya ya Papa harus menikahi Tante Luccy dahulu.." Gibran mencoba menjelaskan.


Luccy masih belum mengerti dengan apa yang dijelaskan papanya "Kalau begitu ya nikahi saja tante Ningrum, Pa" ucap Luccy cepat.


Gibran tersenyun miris. Ia masih kesulitan untuk menjelakskan kepada puterinya tebtang hal-hal orang dewasa.


"Iya, nanti.. Kalau Tantenya mau" jawab Gibran asal.

__ADS_1


"Horeee.. Luccy dapat mama baru..!" teriak gadis kecil itu dengan kegirangan.


Gjbra menggelengkan kepalanya dan merasa khawatir andai apa yang dikhayalkan oleh Puterinya, sebab andai apa yang diinginkan Luccy tiba-tiba tidak sesuai dengan ekspektasi, maka itu akan membuat sang gadis kecilnya kecewa.


__ADS_2