SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode 64


__ADS_3

Bima menenteng kantong kresek berisi satu porsi soto ayam dan sebungkus rokok yang diberi oleh Nora barusan.


Ia membuka pintu mobil dan menyantabnya didalam mobil dengan lahab. Sebab dari malam tadi Ia belum makan dan tentunya Ia sangat kelaparan.


Setelah merasa kenyang, Ia menyulut sebatang rokok dan menghi-sapnya dengan dalam lalu menghembuskan asapnya dengan cepat. Asap memgepul didalam mobilnya, dan Ia tidak begitu perduli.


Sesaat bayangan Ningrum melintas dibenaknya. Ia merasa heran mengapa Ningrum akhir-akhir ini mulai membantahnya dan Ia merasa apakah pengaruh pelet pengasihnya terhadap Ningrum sudah memudar atau ada sebab lainnya.


Seketika Bima teringat akan pamannya. Ia harus bertemu dengan sang paman dan menanyakan hal tersebut. Ia tidak ingin Ningrum terus mendiamkannya, Ia harus membuat Ningrum kembali luluh padanya dan melupakan peristiwa penamparan kemarin.


Bima membuang puntung rokoknya dengan kasar dan melemparkan sisa makannya kedalam tong sampah.


Lalu dengan cepat Ia mengemudikan mobilnya dan menuju ke rumah pamannya yang memakan waktu selama satu jam perjalanan.


Selama perjalanan menuju rumah sang paman, Bima terus tak hentinya merafalkan mantra untuk meluluhkan hati Ningrum. Bagaimanapun Ningrum harus menjadi ATM-nya yang secara cuma-cuma dan Ia tidak ingin kehilangan semua fasilitas mewahnya dengan cepat.


Setelah menempuh perjalanannya yang cukup membuat sedikit lelah karena akses infrastruktur yang banyak kerusakan, sehingga memperlambat perjalanannya untuk sampai kerumah pamannya.


Bima memarkirkan mobilnya di depan halaman rumah pamannya, lalu bergegas memasuki rumah sang paman.


Tampak ada dua orang tamu yang sedang datang untuk berobat kepada pamannya, dan Bima memilih untuk menunggu tamu itu pulang terlebih dahulu.


Setelah tamu itu pulang, Bima bergegas masuk dan menghadap pamannya.


"Ada apa lagi?" tanya sang paman saat menatap Bima.


Bima menghela nafasnya dengan berat.


"Paman.. Aku bingung mengapa Ningrum mulai tampak membantah kepadaku dan mengungkit pemberiannya" ujar Bima dengan perasaan yang sedikit galau.


Sang Paman menatap Bima, lalu memejamkan kedua matanya, sedikit lama dan membuat Bima hampir merasa bosan.

__ADS_1


Sesaat sang paman membuka matanya, menatap lekat pada Bima.


"Sepertinya Ningrum memiliki sesuatu yang menjaganya yang berasal dari leluhurnya, namun Ia tidak menyadari jika sesuatu itu menjaganya. Sehingga terkadang Ia merasa sadar dan terkadang juga dapat terpedaya.." jawab Sang paman dengan nafas yang sangat berat.


Bima membolakan matanya. Ia tak percaya jika itu benar terjadi, maka itu akan membuatnya sangat terhalang untuk mendapatkan Ningrum kembali luluh padanya.


"Lalu apa yang harus saya lakukan, paman? Saya tidak mau kehilangan Ningrum dengan begitu cepat!" ucap Bima yang tak Ingin kehilangan fasilitasnya.


Sang Paman masih terdiam "Sepertinya kamu harus terus menerus membuat ritual dan yang membuat ajian semar mesem itu akan mendarah daging pada Ningrum" sang Paman menyarankan.


Bima makin gelisah. Bagaimana jika saja nantinya Ningrum tidak dapat ditaklukkannya, maka Oa akan kembali merangkak tanpa mobil dan rumah.


Sesaat Ia teringat akan Rendy. Salah satu rekan dan juga kini menjadi saingannya.


"Paman.. Aku ada seorang rekan. Ia bernama Rendy. Selama ini Ia begitu pendiam dan tidak pernah marah, namun mengapa Ia tiba-tiba bisa melawanku? Bukankah ajian semar mesem dapat meluluhkan semua orang? Mengapa Kepada Rendy tidak berhasil?" tanya Bima penasaran.


Lalu pamannya kembali memejamkan kedua matanya, mencoba menembus dimensi lain pada Rendy yang disebutkan oleh Bima.


Hal tersebut membuat Bima kebingungan. Ia melihat jika dari sudut bibir pamannya mengalir darah segar yang dan sang Paman mencoba menyekanya.


Bima berusaha membantu sang Paman untuk duduk dan kembali pada tempatnya semula.


"Apa yang terjadi, Paman? Mengapa paman sampai terlempar dan terluka?" tanya Bima yang semakin penasaran.


Sang Paman mengatur nafasnya yang tersengal sembari memegangi dadanya yang terasa sangat sakit.


Bima mengerutkan keningnya dan Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


"Paman.. Apa sebenarnya yang terjadi?"


Sang Paman hanya meringis kesakitan dan mencoba mengontrol degub jantungnya yang memburu.

__ADS_1


"Ketahuilah, Bima.. Jangan pernah mengusik orang tersebut. Ia bahkan lebih berbahaya jika sampai Kau mengusiknya. Sama halnya dengan Ningrum, pria itu juga memiliki penjaga yang diturunkan dari leluhurnya, setiap perkataannya akan membawa kenyataan jika sampai menyumpahi seseorang, maka berhati-hatilah" pesan Sang Paman kepada keponakannya.


Bima mengerutkan keningnya tak percaya. Bagaimana mungkin bisa sangat ketepatan Ningrum dan orang bernama Rendy itu memiliki penjaga badan seperti yang diutarakan oleh sang paman.


Jika sampai benar Rendy memiliki penjaga badan warisan dari leluhurnya, maka ini akan membuatnya merasa akan kalah saing.


"Lalu apakah nantinya proyek yang dikerjakannya itu akan semakin berkembang dan mendapat banyak penawaran dari perusahaan?" kali ini Bima semakin penasaran.


Sang Paman menatap Bima dengan tatapan penuh makna.


"Dalam dirinya ada sebuah aura yang memperlihatkan sebuah cahaya ketulusan. Cahaya aurah energi positif yang membuat para karyawan perusahaan begitu menyukainya dan tentunya akan banyak penawaran kerja yang akan didapatnya"


Kembali sang paman menjelaskan semua tentang Rendy yang pastinya semakin membuat Bima merasa terasa panas telinga dan hatinya.


Ia tidak ingin Rendy akan menyainginya dan menjadi lebih sukses darinya, Ia harus dapat menghasut CEO ataupun karyawan perusahaan dibidang maintenent agar tidak lagi memberikan proyek kepada Rendy.


Bagaimanapun, Ia tidak ingin melihat Rendy terlihat sukses darinya, harus Ia yang lebih menonjol. Apalagi Ia melihat Rendy saat ini sudah dapat membeli rumah meskipun belum mewah, itu pertanda langkah awal jika suatu saat Rendy akan dapat membeli mobil, dan ini tidak boleh terjadi.


Maka Ia harus membuat Ningrum kembali luluh. Jika sampai Ningrum meminta cerai, maka Ia akan kehilangan mobil, dan tidak mungkin Ia harus naik motor. Apalagi motor sportnya juga sudah tidak ada, maka Ia akan kebingungan untuk naik apa saat bekerja.


"Aku harus kembali dapat meluluhkan hati Ningrum. Aku tidak mau jika harus hidup melarat lagi. Apalagi jika sampai Rendy dapat membeli mobil, ini sangat tidak dibiarkan"


Bima semakin gusar. Ia tidak menduga jika dibalik sikap tenang Rendy ada sesuatu yang begitu dahsyat tersimpan dalam dirinya dan Ia sendiri tidak menyadari jika diirnya memiliki kelebihan yang sangat luar biasa.


Semuanya yang ada pada Rendy membuatjya semakin iri dan dengki.


"Paman.. Aku harus membuat Ningrum kembali luluh padaku" rengek Bima dengan memelaskan wajahnya.


Sesaat Sang Paman mencoba mencari solusi dari permasalahn keponakannya.


"Kau harus menjaga sikapmu, jika sikapmu terus-terusan seperti ini, maka kemungkinan pengaruh penjaga ditubuh Ningrum akan semakin kuat mempengaruhinya, dan pernikahanmu akan terancam bubar!" ungkap Sang Paman.

__ADS_1


Seletika Bima tersentak mendengarnya. Ia tidak rela jika harus bercerai dengan Ningrum, Ia harus meluluhkan hati wanita itu.


__ADS_2