
Ningrum tampak lelah, dan saat Ia sampai dikamar, Ia melihat Bima menggunakan celana boxer dan sedang memainkan phonselnya.
"Eh.. Sayang, sudah pulang, Ya" ucap Bima, laku beranjak dari ranjang dan menghapus pesan chat dengan cepat yang merupakan keahliannya.
Ia berjalan menyambut Ningrum, mengecup lembut kening sang istri seolah menjadika Ningrum wanita paling dicintai dan satu-satunya dalam kehidupannya.
"Capek, Ya Sayang.. Mas siapkan air hangat ya, biar urat-urat kamu tidak tegang" ucap Bima yang menutupi segala dosa dan perbuatannya dengan kata dan perbuatan manis yang membuat Ningrum semakin melayang.
Bima beranjak ke kamar mandi dan menghidupkan pemanas air, lalu membuka keran shower dan membuat air hangat untuk Ningrum membersihkan dirinya.
Setelah merasakan pencampuran air itu sudah cukup hangat, Bima menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi dan memanggil Ningrum yang tampaknya sudah mengenakan handuk.
"Sayang.. Air hangatnya sudah siap" ucap Bima dengan selembut mungkin dan membuat Ningrum begitu sangat tersanjung.
Ningrum berjalan menuju kamar mandi dan Bima masih berada disana.
"Makasih, Ya Mas" ucap Ningrum dengan senyum yang penuh bahagia.
Bima mengembangkan senyum palsunya, senyum penuh kebohongan dan manipulasi.
Ningrum membuka handuknya, lalu masuk kedalam buthub yang sudah terisi air hangat.
Bima mengahmpirinya, lalu ikut masuk kedalam buthub "Mandi bareng, Ya" ucap Bima dengan gaya sok romantisnya.
"Sini Mas pijatin, pasti kamu sangat lelah melakukan perjalanan seharian" ucap Bima yang mana kedua tangannya sudah memberikan pijatan lembut dipundak Ningrum.
Pijatan demi pijatan yang melenakan Ningrum, hingga tidak menyadari dibalik semua itu ada sebuah pengkhianatan besar yang tercipta.
Setelah selesai mandi, keduanya kembali ingin tidur, karena malam semakin larut dan Ningrum juga sudah sangat lelah.
__ADS_1
Saat Ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang, Ia merasakan mencium sesuatu yang sangat familiar, yaitu aroma cairan milik pria yang sepertinya tercecer disprei, serta aroma parfum yang pastinya itu bukan miliknya.
Namun Ia sudah sangat lelah dan tak sempat untuk memikirkan semuanya, Ia kngin segera tidur dan menjemput mimpinya.
Dimalam yang kelam itu, dua orang polisi mengepung sebuah rumah semi permanen dan tanpa ada perlawanan karena pemiliknya sudah terlelap tidur.
Polisi berhasil masuk kerumah dengan menangkap seorang pemuda yang sedang tertidur lelap diatas sofa dan ditemukan bukti sebuah timbangan electrik dan beberapa paket sabu disaku celananya dan pemuda itu tersentak kaget saat polisi memborgolnya dan Ia yang masih belum begitu sadar sepenuhnya.
Adi yang tertidur dilantai beralaskan tikar dan berjarak cukup jauh dari Yudi, karena Ia tidur didepan televisi. Ia terkejut saat melihat sang kakaknya Yudi diborgol polisi dan ditemukan beberpa paket sabu dalam saku celananya.
Ia hanya dapat menatap bengong dan melihat Ibunya menangis histeris melihat sang anak dibawa polisi.
Lalu malam itu menjadi sebuah penangkapan yang dramatis, karena Ibunda Yudi yang juga merupakan Ibu Bima menangis dan menahan para polisi karena tidak terima jika anak lelakinya dibawa polisi.
Hal tersebut membuat keheningan malam tiba-tiba menjadi ramai karena suara sirene mobil polisi yang meraung-meraung ditengah malam mengundang rasa penasaran bagi para tegangga, begitu juga dengan Andini dan Rendy yang merupakan satu gang dengan rumah orangtua Bima.
Andiini dan Rendy saling saling tatap, namun saat rasa penasaran Andini begitu kuat ingin melihatnya, Rendy menahannya, dan menarik Andini masuk kedalam selimut, sehingga membuat Andini tak dapat melihat kejadian apa yang sedang heboh diluar sana.
Andini membolakan matanya, sebab Ia melihat jika yang berada diatas bak mobil polisi itu adalah Yudi, adik Bima alias adik ipar dari sahabatnya Ningru.
Andini mengerutkan keninngnya, Ia merasa penasaran mengapa pemuda pengangguran itu sampai terciduk polisi.
Namun karena esok Ia akan kembali bekerja, maka Andini mencoba memjamkan matanya untuk tidur kembali.
Keesokan paginya, Bima dikejutakan oleh kedatangan ibunya kerumah Ningrum dengan menangis dan memberitahukan kepada Bima jika adiknya terciduk polisi dengan bukti kepemilikan sabu, dan saat ini sedang berada dikantor polisi.
Wanita itu merengek meminta agar Bima segera membebaskan Yudi dengan sejumlah uang tebusan sebelum Ia memasuki ranah penyidikan.
Ningrum mengerutkan keningnya yamg tak sengaja mendengar percakapab Ibu mertuanya dan juga suaminya yang membahas tentang adik iparnya itu.
__ADS_1
Ningrum mencoba beramah-tamah kepada ibu mertuanya, karena bagaimanapun itu tetap Ibu metuanya.
"Eh.. Ibu.. kapan datang?" tanya Ningrum dengan sopan, lalu menyalim tangan sang ibu mertua.
Dengan wajah sedih, ibu mertuanya menjawab dengan nada lirih "Sudah dari tadi, Rum.."
Lalu Ia melanjutkan tangisnya dan memohon kepada Bima untuk segera ke kantor polisi dan menebus Yudi dengan sejumlah uang 25 juta rupiah.
"Aku tidak punya uang segitu, Bu.. Kemarin sudah Aku setor untuk mengurus pajak CV yang baru kudirikan, dan juga membayar pelicin pegawai kantor agar diloloskan proyek baruku" jawab Bima dengan berusaha menjelaskan kepada ibunya.
Ibu Bima melirik pada Ningrum, lalu dengan wajah menghiba dan rengekan yang memmabukkan mencoba merayu Ningrum dan bersujud dikaki wanita itu.
Ningrum kebingungan dengan sikap mertuanya tersebut, dan Ia merasa sungkan jika sampai ada tetangga yang melihatnya, sedangkan Bima bersikap seolah menyetujui apa yang dilakukan oleh ibunya.
"Nak Ningrum, tolongin Ibu, tolong bebaskan Yudi dan tebuskan dengan uang 25 juta, agar Yudi tidak dipenjara" rengek ibu mertuanya, dan hal ini membuat Ningrum menjadi ambigu.
Bukannya Ia tidak ingin membantu, tetapi uang segitu Ia dapatkan dari usaha satu kali dalam menerima orderan jasa decor weeding yang juga menguras tenaganya.
"Tolonglah, Nak.." rengek Ibu mertuanya sembari memegangi kedua kaki Ningrum.
Ningrum mencoba menarik nafasnya dengan dalam, Ia berperang dengan fikirannya dan tanpa sadar, Ia menatap pada Bima, dan saat mata mereka beradu, seketika Ningrum melemah dan tak mampu menolaknya, tatapan itu begitu menghipnotisnya.
Lalu Ningrum menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, Bu.. Ningrum akan coba bantu, dan bangunlah" ucap Ningrum kepada ibu mertuanya.
Seketika raut wajah sang ibu mertua berubag cerah "terimakasih, Nak. Kamu sangat baik sekali" ucap Ibu mertuanya, lalu bangkit dari posisinya yang saat tadi bersujud dikaki anak menantunya.
Ningrum kemudian masuk kedalam rumah, Ia menaiki anak tangga dan menuju kamar ya dilantai dua, lalu mengambil kotak penyimpanan uangnya, dan membuka sebuah brankas kecil, mengambil sejumlah uang yang diminta oleh ibu mertuanya, dan kembali menutup brankas itu, lalu memyimpannya kembali.
__ADS_1
Ningrum menuju teras dimana ibu mertua dan suaminya sedang menunggunya, lalu Ia menyerahkan uang yang diminta oleh ibu mertuanya dan Bima membawa ibunya ke kantor polisi dan ingin menebus Yudi yang kini sedang menunggu ibu dan kakaknya.