
Ningrum merasakan hatinya sangat kesal atas apa yang dikatakan oleh Nora wanita yang kini mendampingi Bima.
Wanita itu seolah-olah sedang menyindirnya karena tidak dapat memiliki keturunan.
Gibran memandang Ningrum yang tampak murung karena sindiran dua manusia tidak tau diiri tersebut.
"Luccy, kita pulang, Yuk.. Tante Ningrum terlihat sangat lelah malam ini" ucap Gibran kepadanya puterinya.
Luccy menatap pada Ningrum yang tiba-tiba saja merasa tidak bersemangat. Gadis kecil itu meraih jemari tangan Ningrum dan menggenggamnya lembut.
"Tante lagi capek, Ya?" tanyanya dengan tatapan yang begitu menyejukkan hati.
Ningrum hanya dapat mengulas senyum tipis yang tampak dipaksakan.
Luccy memahami apa yang terjadi pada wanita dihadapannya "Ok, papa.. Kita pulang sekarang.. Nanti kalau tante ada waktu lagi kita makan malam bareng lagi ya, Tan?" ucap Luccy dengan penuh semangat.
Ningrum menganggukkan kepalanya, lalu Luccy beranjak dari duduknya dan mendekap tubuh Ningrum.
Gibran hanya dapat memandang dengan bingung, bagaimana bisa Luccy semudah itu takluk dan manja kepada Ningrum. Selama ini Ia sudah membawa 3 orang wanita yang Ia kenalkan kepada gadis kecilnya, namun tak satupun yang dapat membuatnya nyaman, sehingga Gibran memilih untuk sendiri sampai akhirnya nanti Luccy akan menemukan seseorang yang akan menaklukkan hatinya.
Gibran mengantar Ningrum pulang. Saat Ningrum turun dari mobil, Gibran menghampirinya dan menatapnya dengan kikuk.
"Emmm... Terimakasaih sudah mau memenuhi keinginan Luccy untuk makan malam bersamanya" ucap Gibran salah tingkah.
Ningrum tersenyum dengan datar "Sama-sama, Aku juga senang bisa bercengkrama dengannya. Oh, Ya.. makasih ya sudah bantuin Aku tadi waktu di cafe tadi" ucap Ningrum.
"Tak masalah, itu hal yang biasa, dan masalah Bima jangan kamu terlalu fikirkan. Segala sesuatu itu akan ada balasannya masing-masing, percayalah.. Allah itu gak tidur!" ucap Gibran membesarkan hati Ningrum.
Ningrum menganggukkan kepalanya, lalu Gibran berpamitan, dan Ningrum menatap kepergian mobil Gibran, dengan lambaian tangan gadis kecil itu.
Setelah mobil Gibran dari pandangannya, Ningrum memasuki salonnya dan menapaki anak tangga menuju kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya ditepian ranjang.
Merasa bosan, Ningrum membuka laman akun media sosialnya. Tanpa sengaja Ia melihat unggahan dari akun Bima yang membuat sebuah postingan dengan Foto tespeck dan caption yang terkesan menyindirnya sebagai wanita mandul.
__ADS_1
Ningrum menarik nafasnya dengan berat, sejahat-jahatnya Riffky yang menduakannya dengan janda beranak tiga, namun tidak sejahat Bima yang selalin perbuatannya jahat, tetapi mulut dan jemarinya juga jahat.
Ningrum men-Scrool laman berandanya, lalu postingan yang lainnya muncul, sekitar sebulan yang lalu saat setelah penggrebekan dirumah Nora, keduanya tampak sedang healing kelokasi wisata dan pamer perhiasan.
Ningrum mengerutkan keningnya, dan entah mengapa jika Ia merasakan itu adalah uangnya yang telah di manipulatif oleh Bima. Ningrum tersenyum miris dan mendenguskan nafasnya dengan berat.
Merasa muak dengan laman beranda akun media sosial yang memperlihatkan tentang dua insan pecundang tersebut, Ningrum mematikan phonselnya, dan beranjak dari ranjangnya untuk membersihkan wajahnya dari sisa make up dan menyalin pakaian tidur.
Sementara itu, Bima merasa kesal dengan Gibran. Mengapa pria itu yang mendekati Ningrum, dan ini dapat menjatuhkan harga dirinya.
Karena tidak fokus saat mengendarai motornya, Bima tidak menyadari jika mereka telah diikuti oleh sepeda motor yang ditumpangi oleh dua orang dan setelah jalanan sunyi, mereka dihadang dengan menggunakan celurit.
Dengan kondisi tersentak karena kaget, Bima tidak dapat mengendalikan motornya dan menabrak trotoar hingga terjatuh.
Buuuuum..braaaak..
Sepeda motor terseret beberapa meter dan Bima beserta Nora terlempar dari sepeda motor tersebut.
Bukannya merasa iba, kedua begal itu justru mengambil sepeda motor Bima dan mengancam Nora untuk memberikan perhiasannya.
Dengan merampas paksa, begal itu membawa motor dan perhiasan yang dipakai oleh Nora, lalu kabur dan meninggalkan keduanya dalam kondisi terluka.
Bima menggerutu dan mengerang kesakitan, sebab sepeda motor dan perhiasan yang dibelinya dari uang penjualan rumah Ningrum raib begitu saja.
Keduanya mengerang kesakitan ditepi trotoar, lalu dengan terpaksa mencegah angkot untuk pulang sampai ke rumah.
Keduanya sampai disimpang rumah kontrakan mereka, lalu berjalan tertatih menuju rumah kontrakan karena beberapa bagian tubuh mereka terluka dan terutama pada kaki.
Sesampainya dirumah kontrakan, Nora merasakan tubuhnya sangat sakit dan mengerang meminta Bima mengurutnya. Tentu saja Bima mengerutu, sebab Ia juga merasakan sakit disekujur tubuhnya.
"Bang.. Urutkan pinggang saya, ini sakit sekali" ucap Nora kepada Bima yang saat ini juga sedang merintih kesakitan.
"Apa kamu tidak lihat kalau aku juga terluka?" sergah Bima dengan tatapan kesal.
__ADS_1
"Oh.. Kamu berani sekarang sama aku?!" ucap Nora dengan tatapan tajam.
Bima memasang wajah kesal "Iyaa.. Iya..!!" ucap Bima dan beranjak dari tempatnya lalu menghampiri Nora dan mulai memijat Nora dengan terpaksa.
Nora tersenyum sinis, sebab dapat merundukkan pria tersebut.
Setelah satu jam lamanya, akhirnya Bima meeas lelah dan Nora sudah tertidur pulas.
Bima kemudian membaringkan tubuhnya dan berfikir esok naik apa ke proyek, sebab motornya sudah dibawa begal.
Mungkin Ia harus terpaksa berboncengan dengan Nora untuk pergi ke kantin. Sepeda motor itu sudah tidak begitu lagi bagus, namun semua terpaksa.
****
Keesokan paginya Bima merasakn tubuhnya sangat sakit. Semua itu akibat kecelakaan malam tadi yang menimpanya, dan tubuhnya terhempas diaspal jalanan sehingga membuat urat dan otot tubuhnya menjadi keram.
Nora ternyata mengalami hal yang sama, dan parahnya kakinya tidak dapat di gerakkan. Nora merengek kesakitan dan meminta Bima untuk mengurutnya.
"Bang... Urutkan dulu kakiku, ini keram sekali dam tidak dapat ku gerakkan!!" ujar Nora dengan rengekan sekaligus perintah.
Bima tak dapat membantah apapun yang dikatakan oleh Nora. Akhirnya Ia memijat kaki Nora.
"Selesai pijat, buatkan sarapan, Bang.. Aku ini lagi mengandung anakmu.!!" ucap Nora.
Bima hanya dapat mendenguskan nafasnya dan mau tidak mau harus melakukan apa yang dikatakan oleh Nora.
Setelah memijat kaki Nora, Bima membuat sarapan dengan memasak mie instan lalu Ia memberikannya kepada wanita yang dinikahinya secara sirri itu.
Setelah menyiapkan sarapan untuk Nora, Bima meminta kunci motor karena Ia harus ke proyek hari ini untuk penandatangan proyeknya yang roboh waktu itu.
Meskipun merasa gengsi karena menaiki motor yang bebek yang tidak keren, namun Ia tidak memiliki pilihan lain, sebab tidak ada kendaraan lain yang dapat dikendarainya selain motor milik Nora.
Sesampainya di parkiran, Ia tanpa sengaja berpapasan dengan Rendy, namun Ia bersikap acuh tak acuh dan berjalan tertatih menuju proyeknya. Bima tidak ingin menegur Rendy sebab motor yang dikendarainya sudah tidak keren lagi, dan tentunya itu membuat harga gengsinya semakin rendah.
__ADS_1