
Gibran dan Yamink bertemu. Keduanya sedang duduk disebuah cafe.
"Ada apa, Mink? Kelihatannya serius banget" ucap Gibran dengan nada penasaran.
Keduanya sedang menikmati secangkir kopi latte yang baru saja dihidangkan dengan sepotong roti bakar.
"Bos.. Pernah ingat gak waktu itu aku mau kenalin sama seorang temenku? " tanya Yamink sembari menyeruput kopinya.
"Ya.. Emangnya siapa? Dan kamu terus menghilang" jawab Gibran.
Yamink meletakkan gelas kopinya, lalu menopang dagunya dengan kedua punggung tangannya.
"Wanita Itu Ningrum, Bos.. Dan aku menghilang karena tiba-tiba saja Ningrum menikah dengan Bima dan kejadiannya begitu sangat cepat" balas Yamink.
Gibran menyandarkan tubuhnya disandaran kursi dan menatap pada Yamink sahabatnya. Ia menarik nafasnya yang sangat berat, dan mencoba membuang segala permasalahannya.
"Aku menyukainya.. Sejak saat kami masih satu kampus bahkan satu kelas yang sama. Namun takdir membawa kami pada situasi yang berbeda" ucap Gibran dengan tatapan yang nanar.
Yamink dapat merasakan apa yang kini sedang dirasakan oleh Gibran, sahabatnya itu.
"Andaikan Ia menerima kehadiranmu, tetapi dengan perasaan dan alasan yang berbeda bagaimana?" tanya Yamink penuh selidik.
Gibran mengerutkan keningnya "Maksudnya perasaan dan alasan yang berbeda bagaimana?" cecar Gibra penasaran.
"Ningrum mau menikah denganmu, namun alasannya bukan karena kamu, melainkan karena Ia menyayangi Puterimu?" tanya Yamink dengan jelas.
Gibran terperangah "Maksudmu dia mau menikah denganku dengan alasan Luccy?" tanya Gibran tak percaya "Jika itu alasannya aku akan sangat senang sekali. Cinta diantara kami bisa tumbuh berjalan seiring waktu. Kapan Ia menyatakan itu padamu?" cecar Gibran tak sabar.
"Tak perlu dibahas itu kapan. Yang terpenting jika kamu benar tulus padanya, maka segeralah halalkan Ia untuk kamu dan juga Luccy" jawab Yamink.
Seketika wajah Gibran bersemu merah. Ia sudah sangat lama menantikan jal ini, dan orang yang paling berbahagia saat ini adalah Luccy tentunya jika sampai gadis kecilnya mendengar kabar tersebut.
"Jika benar adanya, dalam minggu ini Aku akan melamarnya" ucap Gibran cepat dan meyakinkan hatinya jika Ia bersungguh untuk Ningrum.
Yamink menganggukkan kepalanya "Baiklah. Aku akan sampaikan hal baik ini kepada Mbak Ningrum agar Ia bersiap memberitahu keluarganya" ucap Yamink dengan cepat.
Lalu keduanya menyeruput habis minumannya dan mencicipi roti bakar itu seadanya saja, lalu pergi meninggalkan cafe dan berpisah.
Gibran adalah orang yang paling bahagia saat ini. Hatinya sedang ditumbuhi bunga-bunga dalam keindahan cinta yang sedang bermekaran. Ia melajukan mobilnya menuju pulang ke rumah.
__ADS_1
Sesampainya dirumah, Ia bergegas menuju kamarnya. Ia belum mau memberitahu Luccy dan akan memberikan kejutan kepada gadis itu untuk saat waktunya tiba nanti.
Sementara itu, Yamink menyambangi Ningrum di rumah sekaligus salonnya itu.
Saat itu Ningrum sedang bersantai dengan menikmati kesendiriannya.
Ningrum bergegas turun kelantai dasar, lalu menemui Yamink yang sudah menunggunya di depan salon. Demi menghindari asumsi negatif, ke duanya memilih menyeberangai jalan dan duduk disebuah warung kaki lima yang menjual martabak Mesir.
"Ada apa, Kang? Sampai malam-malam nemuin saya?" tanya Ningrum sembari meletakkan bokongnya dikursi kosong plastik yang disediakan oleh akang penjual martabak.
Yamink ikut duduk dikursi kosong dan mengjela nafasnya.
"Kang.. Martabak dua porsi dibungkus saja" teriak Ningrum kepasa si akang penjual martabak.
"Ok, Mbak.." jawabnya cepat, lalu memasak pesananan Ningrum.
"Aku baru bertemu Pak Gibran. Dalam minggu ini Ia akan datang melamarmu, mungkin sekaligus menghalalkanmu" jawab Yamink sanagt hati-hati.
Ningrum terperangah mendengar berita yang dibawakan oleh sahabatnya. Ia tidak menyangka jika Gibran akan secepat itu menanggapinya.
"Harap jangan menolak lagi, Mbak.. Mungkin ini jalan buat Mbak untuk meraih kebahagiaan" Yamink mencoba meyakinkan sahabatnya.
Yamink bernafas lega. Ia berharap jika sahabatnya kelak akan menemukan kebahagiaan dengan menikah bersama orang yang tepat.
Ningrum merasakan merasakan sesuatu yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya. Rasa bahagia dalam hatinya karena akan dapat bertemu setiap saat oleh Luccy.
Pesanan Ningrum datang, Ia membayarnya "Kang.. Ini bawa buat mbak Syafitri" ucap Ningrum, sembari menyodorkan boks berisi martabak tersebut.
"Banyak banget, Mbak. Makasih, Ya" ucap Yamink dengan wajah yang tulus.
Ningrum menganggukkan kepalanya, Lalu Ia berpamitan untuk pulang karena sudah hampir menunjukkan pukul 10 malam.
Lalu keduanya berpisah dan Ningrum kembali naik ke kamarnya.
Saat bersamaan, masuk sebuah notif dari pesan teks atas nama Gibran "Hai.. Selamat malam. Bisa ngobrol sebentar?" tulis pesan tersebut.
Ningrum sedikit ragu juga malu, entah apa yang kini sedang dirasakannya.
"Ya.." balasnya singkat.
__ADS_1
Sesaat phonselnya berdering, Ningrum mengangkat panggilan suara yang masuk "Ya, Hallo" ucap Ningrum lirih. Layaknya seorang remaja yang baru pertama kali mengenal apa itu cinta, Ia tampak malu-malu menyambut panggilan dari Gibran.
"Ya.. Hallo.. Kamu sudah tidurkah?" tanya Gibran dengan nada yang begitu tenang.
"Baru saja akan tidur"
"Maaf, Jika aku menggangu waktu istirahatmu" jawab Gibran.
"Tak mengapa.. Apakah ada hal penting yang akan dibicarakan?"
Gibran menghela nafasnya dengan berat "Ya.. Ada sesuatu yang ingin Ku tanyakan kepadamu:
Ningrum terdiam. Meskupun sebenarnya Ia tahu apa yang akan dibicarakan oleh Gibran, namun Ia tetap penasaran dan ingin mendengarnya langsung dari Gibran.
"Seminggu lagi Aku datang melamarmu, dan sekaligus menikahimu.. Apakah Kau bersedia?" tanya Gibran dengan hati-hati, Ia takut jika ini akan ditolak kembali oleh Ningrum.
Deeeeegh..
Jantung Ningrum bergemuruh. Ia sedikit gugup mendengar pertanyaan itu, meskipun Ia sudah mendengarnya dari Yamink sahabatnya, namun tetaplah gugup saat pertanyaan itu ditanyakan langsung ileh Gibran.
"Em... A-aku.." suaranya tercekat ditenggorokan, bagaikan ada sesuatu yang menghalanginya keluar dari mulutnya.
"Jika kamu belum siap, Aku akan memberikan waktu untukmu, dan aku tidak ingin memaksanya" Gibran merasakan jika Ningrum masih ragu padanya.
"A-aku bersedia" jawab Ningrum lirih.
Seketika suasana hening, Gibran tak percaya akan jawaban Ningrum yang baginya seakan bermimpi.
"A-apa? Apakah aku tidak salah mendengarnya?" tanya Gibran dengan rasa tak percaya. Seketika dunia bagaikan berputar dan bunga-bunga bertaburan dimana-mana.
"Ya.. Aku menerima lamaran, Kamu" jawab Ningrum dengan tegas.
"Aku akan mempersiapkan segalanya dengan segera" ucap Gibran bersemangat. Ia seolah ingin berlonjak dari ranjangnya dan melompat kegirangan.
"Ya.. Aku tunggu niat baik kamu" jawab Ningrum kembali.
Gibran semakin merasakan tubuhnya seolah melayang dengan ucapan Ningrum yang telah membuatnya begitu sangat bahagia.
Mereka mengakhiri panggilannya dan larut dalam fikiran mereka masing-masing. Mereka berharap jika mereka akan menemukan cinta dan kebahagiaan dalam pernikahan mereka yang akan mereka bina.
__ADS_1