SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode 42


__ADS_3

Bima ankhirnya pulang ke rumah Ningrum. Ia memastikan jika wanita itu tak lagi marah padanya.


Ia masuk ke dalam rumah dan melihat Yudi masih menonton televisi.


Bima segera naik ke lantai dua dan membuka pintu kamar, ternyata tidak dikunci.


Ia melihat Ningrum sudah terlelap tidurnya, dan Ia dengan perlahan naik ke atas ranjang menghampiri Ningrum dan berbaring disisinya.


*****


Pagi menjelang. Ningrum mengerjapkan kedua matanya, melirik jam didinding dan tampak jarum pendek sedah menunjukkan pukul 6 pagi.


Ia menggeliatkan tubuhnya, dan tanpa sengaja lengannya menyentuh tubuh Bima yang tengah tertidur pulas disisinya.


Ningrum melirik sebentar, lalu beranjak dari ranjangnya dan menuju kamar mandi.


Ia membersihkan dirinya dan dengan cepat Ia menyalin pakaiannya, lalu berangkat ke salon tanpa membuat sarapan terlebih dahulu.


Ia sudah tidak semarah saat semalam, namun Ia masih merasa jengkel, apalagi Bima memecahkan lampu tidur seenaknya.


Salon masih sepi dan hanya ada Ia yang berada disalon, sebab waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi dan para pekerja masih belum datang.


Ningrum menapaki anak tangga dan memasuki ruangan kerjanya.


Ia merebahkan tubuhnya disofa. Ia tidak mengerti mengapa hati dan akalnya selalu tidak sinkron. Hatinya ingin memaafkan, namun akalnya merasa jika Ia sangat ingin ketenangan.


Bima terbangun dari tidurnya. Ia melihat Ningrum tak ada disisinya. Ia mengira jika Ningrum sedang membuat sarapan didapur, dan Ia bergegas membersihkan dirinya dikamar mandi, lalu menyalin pakaian kerjanya dan bergegas turun ke lantai dasar.


Sesampainya di dapur, Ia tak menemukan Ningrum. Bima merasa gusar "Apakah Ia masih marah dengan semuanya? Lalu Ia kemana?" guman Bima dengan penasaran.


"Apakah Ia sudah berangkat ke salon? Aku akan mencoba mencarinya ke sana" Bima mencoba menerka keberadaan Ningrum.


Sementara itu, Ia memanggil Yudi dan juga Ady.


"Yud.. Adi.. Bangun.. !!" teriak Bima sembari menggedor pintu kamar keduanya. tak berselang lama, Ady keluar dari pintu kamar dengan berpakain kerja, sedangkan Yudi masih meringkuk diatas ranjang.

__ADS_1


Dengan kesal Bima menarik Yudi agar bangun dan segera bekerja.


"Bangun, Kamu..!! Enak-enakan saja Kamu tiduran dan malasan, Ayo bangkit..!" omel Bima dengan kesal.


Dengan wajah masam, akhirnya Yudi beranjak bangkit dari tidurnya dan menuju kamar mandi, lalu mmebersihkan dirinya.


Ady pergi ke dapur dan membuat sarapan nasi goreng dari nasi sisa semalam di magic com dan membuat bekal juga.


Setelah mereka sarapan, lalu menuju salon Ningrum. "Kalian disini saja dulu, abang ada perlu" titah Bima kepada kedua adiknya.


Lalu Ia memasuki salon, dan tanpa sengaja berpapasan dengan Jenny yang saat ini sedang membersihkan stailkng kaca tempat menata obat-obatan dan peralatan salon.


Bima tampak tak memperdulikan senyum Jenny, padahal malam tadi mereka habis bercinta, namun Bima seolah-olah tak terjadi apapun diantara mereka, sebab Jenny tidak pernah peka jika Ia hanyalah sebagai pelampiasan semata.


Bima menapaki anak tangga menuju labtai dua tempat Ningrum bekerja. Ia tau jika Ningrum berada disana, sebab mobilnya terparkir dihalaman salon.


Bima membuka pintu ruang kerja dan melihat Ningrum duduk tersandar di sofa. Lalu Ia melangkah menghampiri wanita yang masih memejamkan matanya.


Ningrum melirik ke arah seseorang yang melangkah menghampirinya.


"Sayang.. Kamu masih marah sama Aku, Ya?" tanya Bima dengan lirih.


Ningrum hanya menghela nafasnya dengan berat dan masih memejamkan matanya.


Bima mencoba selembut mungkin untuk merayu Ningrum, sebab Ia membutuhkan uang saat ini untuk merekrut pekerja baru yang membutuhkan biaya untuk membuat kartu nama sebagai sayarat ijin memasuki lokasi perusahaan.


"Sayang.. Udah donk, marahnya.. Mas lagi butuh uang untuk merekrut pekerja baru" ucap Bima yang sudah kepalang tanggung karena waktu terus berjalan.


Ningrum menghela nafasnya, dan beranjak bamgkit dari sofa, lalu tampa menoleh ke arah Bima Ia duduk dikursi kerjanya, dan mulai mengerjakan pekerjaannya yang semalam tertunda.


Bima merasa jengkel dan juga kesal karena Ningrum mengabaikannya.


"Sayang, kamu kenapa sih? Cuekin aku terus?" ucap Bima dengan nada mulai ketus.


"Tinggalkan aku sendiri, Mas.. Aku lagi malas untuk ribut.." jawab Ningrum dengan lirih.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan uang merkrut pekerja?"tanya Bima.


Ningrum gak menggubria ucapan Bima, Ia terus menggunting pita yang akan dijadikannya sebagai pengikat bukket.


"Mas yang kerja,maka Mas yang berfikir. Bukankah Aku sudah investasi 150 juta sesuai yang Mas minta" jawab Ningrum tanpa menoleh ke arah Bima.


Bima membolakan matanya "Apakah kamu fikir uang segitu cukup buat modal proyek dan gaji anggota?!" tanya Bima dengan nada mulai tinggi.


Ningrum menoleh ke arah Bima "Jika begitu carilah modal itu sendiri, mengapa harus mendesakku?" jawab Ningrum yang mencoba untuk mengontrol emosinya.


"Jadi Kamu gak mau tolongin, Mas?!" tanya Bima penuh penekanan.


Ningrum hanya diam saja, tanpa jawaban apapun. Hal tersebut membuat Bima semakin kesal, dan Meninju sofa hingga rusak.


Ningrum membolakan matanya "Tolong ya, Mas.. Jangan pernah merusak barang yang Aku beli" ucap Ningrum mengingatkan. Ia sangat tidak suka jika Bima sedang marah selalu merusak barang apa saja yang ada dihadapannya, dan itu tampak menjadi kebiasaannya.


"Kenapa? Hah..! Kamu juga bisa aku banting jika aku mau..!" jawab Bima dengan kesal.


Seketika Ningrum membolakan matanya, Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bima.


"A-Apa..? Coba ulangi, Mas?" ucap Ningrum dengan nafas yang menderu dan ingin rasanya meledak.


Bima gelagapan. Ia tersudut dengan ucapannya "Eemm...ma-maaf, Mas khilaf" kilah Bima yang tak ingin kehilangan sumber mata uangnya.


Bulir bening dimata Ningrum rasanya ingin tumpah saat ini juga, namun Ia mencoba menahannya dan tidak ingin Bima melihatnya.


Ningrum mencoba merapatkan gerahamnya dan menahan bulir itu jatuh dsri sudut matanya "Tolong tinggalkan aku, Mas.. Aku ingin sendiri..." ucap Ningrum yang rasanya saat ini tidak ingin melihat wajah Bima.


Pria egois itu akhirnya mencoba mengalah dan memilih pergi sebelum Ningrum melakukan hal yang lebih membuatnya akan kehilangan lebih banyak lagi.


Bima keluar dari ruang kerja Ningrum dengan perasaan berkecamuk. Ia sangat kesal karena tidak mendapatkan hasil yang diinginkannya.


Kini kepalanya pusing karena Ia membutuhkan uang. Transferan yang pernah di kirim Ningrum kepada mulai menipis habis karena Ia gunakan untuk game online dan taruhan judi bola.


Ia menuruni anak tangga denga perasaan hang sangat kalut dan bingung ingin mencari hutangan uang kemana lagi. Ia memasuki mobil dengan sangat marah dan memutar akalnya untuk melakukan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2