SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-142


__ADS_3

Badhi dan istrinya dibawa ke rumah sakit. Kecelakaan yang menimpa keduanya cukup parah. Pria itu mengalami patah tulang dibagian kaki pergelangan kaki hingga betis sebanyak tiga patahan.


Sedang sang istri mengalami luka parah dibagian wajah, sebab saat mobil mereka terbalik, kaca jendela mobil mengalami pecah dan mengenai wajah istrinya.


Kedua orang tersebut tak sadarkan diri. Ternyata harta warisan yang didalamnya ada hak anak yatim yang seharusnya ia jaga, menjadi petaka dan boomerang baginya.


Dalam kejadian itu, keduanya membutuhkan banyak darah, yang mana keduanya mengalami pendarahan akibat luka yang mereka alami.


Tidak ada keuarga yang menjenguk mereka dirumah sakit. Sebab keduanya baru beberapa hari dikota ini, dan datang dari kampung karena ingin mengambil harta warisan dari Gibran saja.


Ningrum tidak mengetahui siapa saja keluarga besar Gibran, sebab saat mereka menikah, Gibran sudah kehilangan kedua orangtuanya, dan pria itu merupakan anak tunggal.


Namun kehadiran Badhi yang tiba-tiba saja, membuat ia sangat terkejut, karena sesuatu yang sangat tidak disangka-sangka.


****


Ningrum berdiri diambang pintu pagar. Menatap pada ratusan sisiwa yang saat ini tampak berlarian karena waktu pulang sekolah telah tiba.


Dari arah kejauhan, tampak seorang gadis kecil sedang berlari kecil dihalaman sekolah menuju ke arahnya.


"Mama..!" serunya dengan wajah yang tampak ceria. "Lihat, Ma.. Luccy dapat nilai 10!" sembari memperlihatkan hasil ulangannya.


"Waaah.. Anak mama pintar!" jawab Ningrum, dengan wajah sumringah dan mengusap lembut ujung kepala Luccy.


"Hei, Lucc.. Itu mamamu, Ya? Bukannya mama kamu sudah meninggal dan Papa kamu juga? Kasihan sekali.kamu, Ya.. Jadi anak pembawa sial!" ucap seorang bocah empat tahun diatas Luccy.


Seketika senyum ceria itu menghilang mendengar ucapan dari seorang anak perempuan yang kini duduk dikelas 5 sekolah Dasar tersebut.


Ningrum melihat kearah bocah tersebut, dan ini merupakan pembullya bagi Luccy yang mana nantinya akan membuat gadis kecil tersebut akan merasa tidak nyaman sebab mendapat bully-an.


Ia merasa tersinggung dengan apa yang diucapkan oleh bocah tersebut, dan ini harus dihentikan, sebab jika didepan Ningrum saja ia berani membully, apalagi jika dibelakangnya, dan mereka juga satu sekolah yang sama.


Ningrum menghampiri anak perempuan tersebut dan menatapnya. "Nama kamu siapa?" tanya Ningrum mencoba mendekati anak tersebut.


Bocah itu membalas tatapan Ningrum dengan malas. "Kenapa Tante, penting, Ya?"jawabnya dengan nada yang tidak sopan.


Ningrum mencoba untuk tetap tenang agar tidak terpancing oleh jawaban si bocah.


"Sebenarnya tidak penting juga! Tetapi tante coba mengingatkan kepadamu, jika kamu berani sekali lagi mengatakan Luccy anak sial atau mengganggunya sehingga ia tidak nyaman disekolah ini, maka tante tidak akan segan untuk mengadukan hal ini kepada orangtuamu!" ancam Ningrum.


Anak itu mencebikkan bibirnya, seolah tidak takut akan ancaman yang diberikan oleh Ningrum. Tak berselang lama, tampak sebuah sebuah mobil berhenti dibelakang mobil Ningrum, kemudian anak itu beranjak menghampiri mobil tersebut dengan tatapan sinis.


Sesampainya didalam mobil, anak itu tampak berbicara kepada seorang wanita yang tak lain adalah mamanya.

__ADS_1


Tak berselang lama, wanita itu turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri Ningrum dengan langkah angkuh.


Ia membuka kacamata hitam yang dipakainya, kemudian menatap pada Ningrum. "Tadi anak saya mengadu jika kaku mengancamnya. Emangnya kamu punya masalah apa dengan anak saya?!" tanyanya dengan nada ketus.


Ningrum menghela nafasnya. Ternyata prilaku anak dengan orangtuanya sama saja, ibarat buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya.


"Saya tidak memiliki masalah apapun dengan anak anda. Akan tetapi dia tiba-tiba menciptakan masalah untuk anak saya!" jawab Ningrum.


"Masalah apa yang ia ciptakan, sehingga kamu mengancamnya?!" ucapnya dengan nada seolah meremehkan.


"katakan pada puterimu agar belajar sopan santun pada orang yang lebih tua, dan ajarkan tatakrama agar tidak membully orang sembarangan. Saya hanya mengingatkan, jika sampai saja ia berani sekali lagi membully anak saya atau bahkan menyentuhnya dengan niat pembully-an, maka saya akan membawanya ke lembaga hukum, saya tidak perduli ia masih anak-anak, sebab orangtuanya seolah mendukung perbuatan tidak terpuji anaknya.!" ucap Ningrum dengan nada ancaman.


"Ciiih, lancang sekali anda.! Anda tidak tahu siapa yang menjadi menjadi lawan anda bicara saat ini. Bagaimana mungkin seorang anak kepolisian dapat terjerat hukum, mimpi kamu!" cibirnya dengan sangat merendahkan.


Ningrum tersenyum datar. "Oh,Ya.. Coba saja kalau bisa! Mungkin anda berfikir dapat membeli hukum atau juga memutarbalikkan fakta dan membuat hukum semena-mena!" jawab Ningrum sembari membawa Luccy memasuki mobil dan meninggalkan wanita yang tampak angkuh tersebut.


Luccy memandangi Ningrum yang saat ini tampak fokus sedang menyetir.


Ningrum melirik ke arah gadis kecil itu, kemudian mengusap lembut ujung kepalanya. "Selagi mama masih hidup, tidak akan mama biarkan siapapun mencoba menyentuhmu!" Ucap Ningrum dengan tegas.


Luccy mengembangkan senyum dibibirnya. Baginya Ningrum adalah mood boosternya, begitu juga sebaliknya.


"Ma.. kapan kita ziarah ke makam papa?"


Gadis kecil itu tampak bahagia. Ia seolah bermimpi mendapatkan Ningrum dalam hidupnya.


Sementara itu, Nora masih berbalas serang dengan Elly di unggahan akun media sosialnya. Sebab Nora mengunggah postingan seorang ipar yang menjadi benalu dirumahnya. Jelas saja itu membuat Elly merasa jika itu adalah dirinya yang sedang disindir oleh Nora.


Keduanya sama-sama tersulut emosi, dan hal itu sampai terbaca oleh Ningrum.


Ia mengerutkan keningnya, kini Nora akhirnya merasakan bagaimana benalunya keluarga itu, dan semuanya belum seberapa jika dibandingkan dengan apa yang diterima oleh Ningrum.


"Ternyata tidak ada penyesalan bagiku kehilangan orang seperti Bima. Sebab bukan hanya dia yang merugikan, tetapi juga keluarganya ikut menjadi benalu," guman Ningrum dalam hatinya, sembari menggulir layar phonselnya.


Nora tampak mondar-mandir didalam kamarnya. Setelah berperang di media sosial dengan akun adik iparnya. Ternyata hal itu membuatnya sangat lapar.


kemarin ia hanya membeli beras satu kilo, dan untuk hari ini hanya tinggal satu sendok nasi saja.


Perutnya terasa melilit dan tentunya sangat lapar.


Nora menghubungi Bima, akan tetapi tidak diangkat juga, hal ini membuat Nora semakin kesal.


Reza masih tertidur didalam buaian. Ia tidak memiliki sepeser uangpun. Akhirnya ia nekad berbelanja ke warung depan, sebab warung sebelah sisi kirinya sudah bangkrut karena diserang oleh senjata Bon para warga, sehingga mengharuskannya gulung tikar.

__ADS_1


Nora berjalan ke warung depan. Ia terlihat ragu, namun semua sudah tidak dapat ia tahan lagi, sebab perutnya sudah sangat lapar.


Sesampainya diwarung tersebut, ia menemui pemilik warung yang saat ini dalam kondisi sepi.


"Eh, Mbak Nora.. Mau beli apa, Mbak?" tanya Mbok Inem bukan pelayan seksoy, sebab ia hanya wanita bertubuh tambun dengan berbagai timbunan lemak dimana-mana.


"Emm.. A-anu, mbok.. itu..!" ucap Nora tergagap, sebab ia merasa gengsi untuk mengatakan jika ia akan berhutang.


"Lha, ngomong yang jelas, toh--mbak!" sela Mbok Inem yang merasa ikutan bingung dengan Nora.


"Boleh ngutang beras, gak-mbok?" ucap Nora mencoba menghilangkan rasa gensinya, sebab rasa lapar sudah menderanya.


Mbok Inem mengerutkan keningnya. Bagaiamana mungkin seorang Nora yang sehari-harinya berpenampilan selalu stylist dengan gaya ibu-ibu sosialita, dan setiap hari selalu mengunggah kesombongan dan pamer harta seolah paling wow, tetapi mengutang diwarung.


"Gak salah denger, Mbak.. Tetapi punya mobil, masa iya bisa beli bahan bakar gak bisa beli beras?" ledek Mbok Inem yang tidak Seksoy.


Nora membolakan matanya, sebenarnya ia sangat kesal dengan ucapan Mbok Inem, akan tetapi ia memang sangat lapar saat ini.


"Ya, Ampuun....Mbok! Ini ngasih hutang apa gak, sih?" ucap Nora kesal, karena kepalanya juga sudah pusing kekurangan asupan oksigen sebab belum makan seharian.


Mbok Inem menggelengkan kepalanya. Ia bingung melihat Nora, sudah mau ngutang tapi masih saja sombong, namun ia juga tidak tega, sebab tidak lucu jika Nora sampai mati kelaparan karena tidak diberi hutang beras.


"Ya, sudah! Mau ambil berapa kilo? Jangan luoa bayar kalau sudah punya uang, sebab warung saya ini hanya warung kecil, untungnya tidak seberapa. Ingat Mbak.. Hiroshima dan Nagasaki hancur karena Bom, warung hancur karena Bon!" sindir Mbok Inem.


Nora terperangah mendengar pribahasa yang diucapkan oleh Mbok Inem yang dianggapnya sebagai hal yang mengada-ngada saja.


"Beras 5 kg, mie instan enam bungkus dan telor 5 butir, Mbok!" ucap Nora.


Mbok Inem dengan cepat mencatat apa yang dipesan oleh Nora, dan menuliskannya dalam buku dosa, kemudian menyiapkan pesanan Nora.


Setelah selesai ia menyerahkannya kepada Nora. "Ini, Mbak.. Totalnya 135 ribu" ucap Mbok Inem sembari menuliskan total hutang Nora dalam sebuah buku khusus untuk hutang dengan nama buku dosa.


"Ini buku kenapa dinamain buku dosa-sih, Mbok!" tanya Nora sembari melirik mbok Inem yang sedang menuliskan total bon-nya, ia takut jika saja tiba-tiba mbok Inem mengubah angkanya menjadi bertambah.


Mbom Inem nyengir mendengar pertanyaan Nora yang mana bukan hanya dia saja yang bertanya tentang hal tersebut.


"Lha, kan emang ngutang itu buat dosa. Pas mau ngutang wajahnya melas, eh-pas ditagih pakai jurus amnesia, atau juga juga jurus ngilang yang nagalahin ninja, bisa juga pakai nurung lebih galak dari yang ngutangi! Nah.. Kan jadinya, dosa-toh" jawab Mbok Inem.


Nora mendengus kesal. Baru saja ia mengutang, tapi mbok Inem sudah buat kesal dan ia memilih untuk cepat pulang, karena perutnya sudah sangat keroncongan.


"Ngeselin banget tuh, mbok Inem.. Tapi masa bodohlah..yang penting aku dapat ngutang hari ini." Nora mempercepat jalannya dan ia takut jika Reza terbangun, sebab ia tinggalkan dalam buaian seorang diri.


Sementara itu, Bima baru saja turun dari atas lantai 7 dengan tubuh yang sangat kotor karena posisi lokasi proyek yang sangat berdebu. Ia melihat phonselnya dan puluhan panggilan tak terjawab diaplikasi si hijau yang berasal dari Nora.

__ADS_1


Bima mendenguskan nafasnya dengan berat, ia menutup layar phonselnya kembali, sebab ia tahu, jika itu ia menghubunginya kembali, maka itu akan membuatnya kena semburan naga dari Nora.


__ADS_2