
Ningrum menghubungi Andini. Ia berniat ingin memberitahu jika dalam minggu ini Gibran akan datang melamarnya dan meminga Andini untuk datang menghadiri acara lamaran tersebut.
Phonsel Andini berdering saat Ia baru saja selesai mandi. Melihat panggilan masuk yang berada didalam layar phonsel tersebut tampak nama Ningrum sahabatnya.
Ia yang masih mengenakan handuk langsung menyambar phonselnya dan menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.
"Hallo, Mbak.." ucap Andini sembari beranjak menuju lemari pakaian untuk mencari daster yang akan dikenakannya.
"Iya, Ndin.. Kamu lagi ngapain? " tanya Nkngrum dengan nada suara yang tampak bahagia.
"Lagi mau ganti pakaian, Mbak. Baru siap mandi" jawab Andini.
"Oh, begitu. Mbak mau ngabarin kalau dalam minggu-minggu ini Mbak mau dilamar sama Mas Gibran, nanti tanggal dan harinya mbak kabari, dan kamu harus datang" ucap Ningrum menjelaskan.
"Oh, Ya? Jawab Andini dengan nada bahagia "Syukurlah.. Semoga pernikahan yang ketiga ini membawa kebahagiaan buat Mbak" ucap Andini dengan tulus.
Andini tidak menyadari jika Rendy sudah berdiri diambang pintu kamar dan menguping pembicaraan ke duanya.
"Aamiin.. Semoga saja Ya, Ndin" ucap Ningrum penuh harap.
Rendy berjalan mengendap tanpa suara, lalu mendekap sang istri dari belakang yang membuat Andini sampai tersentak kaget.
"Mas!! Ngagetin saja" omel Andini dengan kesal. Jantungnya rasanya mau copot saat tiba-tiba ada orang yang mendekapnya dari belakang.
"Kamu kenapa, Ndin?" tanya Ningrum penasaran.
"Gak ada apa-apa, Mbak.. Kaget saja tiba-tiba mas Rendy muncul dikamar" jawab Andini.
"Ouuh.. Ya sudah.. Mbak pamit dulu, Ya" ucap Ningrum dengan cepat.
"Iya, Mbak." jawab Andini sembari menutup layar phonselnya.
Ia menoleh ke arah Rendy yang masih mendekapnya "Mas, ngagetin saja, kalau Andin punya penyakit jantung apa gak bahaya?!" omelnya.
Rendy menyodorkan smoothies mangga yang dibawanya "Nih.. Satu cup saja.. Ntar kamu kembung double kalau banyak-banyak" ucap Rendy, sembari melepaskan dekapannya.
Andini meraihnya sembari nyengir, dan langsung menyeruputnya.
"Kamu itu, kalau lagi tidur, tau apapun didalam kamar itu tutup pintu dan kunci pintu dari dalam. Kalau tiba-tiba ada orang masuk dan berniat jahat bagaimana?" kini Rendy yang berbalik mengomel dan membuat Andini terdiam.
Andini menatap suaminya dengan tatapan sendu, satu jurus yang membuat Rendy akan luluh"Iya, Maaf.. Gak akan diulangi lagi" jawab Andini.
Rendy mengacak rambut basah Andini, lalu mengecup ujumg kepalanya "Ya, Sudah.. Tapi ingat pesan, Mas.. Jangan sampai teledor lagi" ucapnya dengan nada yang sangat lembut.
Andini menganggukkan kepalanya, lalu mengenakan pakaian dasternya dan duduk ditepian ranjang.
__ADS_1
"Tadi siapa yang nelfon?" tanya Rendy, sembari menyimpan berkas BA-nya ke dalam tas dan memasukkannya ke dalam laci nakas.
"Mbak Ningrum.. Katanya dalam minggu ini Pak Gibran mau melamarnya, dan Mbak Ningrum sudah menerimanya" jawab Andini, lalu menyeruput Smoothiesnya.
"Haah?! Beneran?!" ucap Rendy setengah kaget.
Andini mengerutkan keningnya, tak biasanya suaminya itu kepo.
"Emmm.. Tumben kepo.. Kenapa emangnya?" tanya Andini penasaran. Seketika Rendy tertawa, entah mengapa Ia merasa sangat lucu hari ini.
"Gak ada sih, cuma saja Mas merasa heran tadi kenapa Pak Gibran bertingkah aneh. Bawaannya senyum mulu dan bahkan BA pekerjaan tanpa periksa langsung ditandatangani, berarti ini penyebabnya" jawab Rendy sembari membuka pakaiannya untuk mengganti pakaian santai.
Andini mengehela nafasnya. Kirain suaminya kesambet apaan sampai tiba-tiba kepo.
"Kapan rencananya?" tanya Rendy lagi.
"Belum tau.. Nanti dikabari kapan pastinya" jawab Andini.
Rendy menganggukkan kepalanya dan mengerucutkan bibirnya.
"Oh, begitu.. Semoga dilancarkan segala urusannya dan sampai hari H" ucap Rendy.
Andini tersenyum tipis mendengar ucapan suaminya "Aamiin.." jawabnya.
"Waalaikum salam.. Apa kabar, Nak?" tanya suara pria senja dari seberang telefon.
"Alhamdulillah baik,Yah.. Kabar Ayah dan Ibu bagaimana?" tanya Ningrum balik.
Sebenarnya hatinya sangat bingung untuk memulai kata dari mana. Sebab Ia takut jika keluarga akan mencemoohnya, apalagi mengetahui jika duda yang akan Ia nikahi memiliki anak dan pastinya akan banyak rentetan pertanyaan yang datang.
"Alhamdulillah kami semua baik-baik saja" jawab Pria senja itu.
Ningrum mengehela nafasnya, mencoba menetralkan detak jantungnya berdegub lebih kencang dan rasa keberaniannya seketika menciut saat suara ibunya ikut terdengar di tinganya.
"Ningrum.. Kamu bagaimana kabarnya?" tanya suara lembut penuh kerinduan itu.
Ningrum tak dapat menahan air matanya. Ia merasakan kerinduan kepada wanita itu. Ingin rasanya Ia mendekap tubuh tua itu, namun jarak yang cukup jauh memisahkan mereka. Delapan jam perjalanan dalam menempuh ke kampung halaman dan Ia sendiri jarang pulang.
"Ibu.. Kabar Ningrum baik-baik saja. Ibu bagaimana?" tanya Ningrum dengan nada lirih.
"Alhamdulillah baik, Nak.. Kamu disana jaga kesehatan, jaga diri dan juga jaga shalat" ucap Wanita itu dengan nada lemah.
Ningrum semakin merasakan jiwanya meronta ingin mendekap wanita itu dengan segenap rasa yang sembunyikannya. Ya.. Iya diperantauan seorang diri. Hanya Yamink dan juga Andini yang menjadi temannya.
Mereka berdua yang menjadi teman sekaligus keluarga baginya.
__ADS_1
"Bu.. Ningrum mau memberi kabar kalau besok ayah dan Ibu Ningrum jemput untuk datang ke kota" ucap Ningrum.
"Lho.. Memangnya ada apa, Nak?" tanya wanita itu penasaran.
Ningrum terdiam sejenak. Ia mencoba menenangkan hatinya.
"Ningrum mau me-menikah lagi, Bu.." ucap Ningrum terbata. Ia mencoba memberanikan dirinya mengatakan hal tersebut meskipun sangat berat.
"A-apa? Kamu mau menikah lagi?" wanita itu mengulangi ucapan Ningrum.
"Ya, Bu.." jawab Ningrum singkat.
"Apakah kamu sudah memikirkannya?" tanya Wanita mencoba mengingatkan.
"Ya" jawab Ningrum lirih.
Seketika suasana tampak hening, tak ada apapun yang dapat diungkapkan.
"Ibu dan Ayah bersiap, Ya.. Besok akan ada mobil yang menjemput" ucap Ningrum mengingatkan.
Sesaat Wanita senja itu masih belum dapat menjawab ucapan Ningrum.
"Bu.." ucap Ningrum.
"Ya.."
"Besok, Ibu dan Ayah bersiap, Jangan lupa" ucap Ningrum sekali lagi.
"Ya" jawab wanita itu lemah.
"Ya, Sudah ya, Bu.. Assalammualikum" ucap Ningrum mengakhiri panggilan telefonnya.
"Waalaikum salam" jawab wanita itu lirih, lalu smabungan telefon terputus.
Wanita senja itu menatap pada suaminya. "Kita bersiap, besok ada mobil yang menjemput dan kita akan berangkat ke kota" ucap wanita itu menatap pada suaminya.
"Haah..! Memangnya ada masalah apa?" tanya Pria itu penasaran.
"Ningrum akan menikah lagi" jawabnya.
"Yang benar saja, Bu?" tanya pria senja itu seolah tak percaya.
"Ya, mau bagainamana lagi, Pak? Mungkin sudah begitu takdir hidup anak kita, ya dijalani saja bagaimana takdir itu membawa kehidupannya. Semoga saja ini pernikahan terakhirnya yang membawa pada kebahagiaan" ucap wanita dengan satu tarikan nafasnya.
Pria senja itu hanya bisa mengamini ucapan dari istrinya.
__ADS_1