SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode 35


__ADS_3

Yudi bergerak menuju ke rumahnya. Ia tau saat ini jika ke dua orangtuanya sudah tertidur dan pastinya jika Ia masuk ke dalam rumah tidak akan ada yang memergokinya.


Lalu Yudi mengendap-endap masuk ke dalam rumah dan dengan perlahan mencoba membuka pintu kamar ibunya. Yudi tau jika saat ayahnya belum pulang karena bermain judi di tempat pemilik bandar perjudian yang lokasinya tak jauh dari rumah mereka.


Ia memasuki kamar ibunya, dan menuju lemari pakaian, lalu mencari sesuatu yang Ia inginkan.


Setelah mendapatkannya Ia kembali menyelinap ke luar dan kembali ke rumah Ningrum melalui pintu gerbang yang tampaknya security penjaga pintu masuk sedang tertidur seaat.


Karena Ia berjalan kaki, dengan mudahnya Ia hanya merunduk dan memasuki portal yang menghalanginya.


Setelah berhasil melewati portal, Ia dengan cepat berjalan menuju ke rumah Ningrum, lalu berhasil masuk dan menuju kamar.


Saat Ia membuka pintu kamar, Ia melihat Ady sudah teridur lelap dan tentunya tidak akan mengetahui apa yang sedang dilakukannya.


Pemuda itu menyelipkan sesuatu dibawah lipatan pakaian, lalu menuju ranjang dan tertidur.


*****


Pagi menjelang. Semua sudah terbangun dan bersiap sarapan, kecuali Yudi yang tampaknya masih meringkuk diranjang empuk.


"Heei.. Yudi.. Bangun. Sudah siang masih molor, apa gak tau mau berangkat kerja?" hardik Bima dengan kesal.


"Aku gak masuk kerja hari ini, kepalaku sangat sekali" jawabnya, lalu menarik selimutnya.


Bima menggaruk kepalanya, sebab pekerjanya pada kabur, sednagkan pekerjaan harus selesai tepat waktu dari yang sudah ditargetkan.


"Tidak bisa.!! Kamu harus masuk hari ini, tidak ada orang pekerja" ucap Bima keceplosan.


Ningrum yang masih menata sarapan mendengar ucapan Bima dan mengerutkan keeningnya. Ia merasa aneh mengapa sampai tidak ada pekerja, sebab kemarin ada 10 pekerja yang mana Bima meminta uang kepadanya untuk mengurus tanda pengenal dari perusahaan untuk 10 orang pekerjanya dan kini ditambah lagi dengan Yudi dan juga Adi, jadi total 12 orang pekerja.


"Kepalaku lagi sakit, esok aku baru masuk kerja" bantah Yudi tak mau kalah.

__ADS_1


Seketika Bima meninju pintu kamar dengan sangat keras, dan itu membuat Ningrum tersentak. Sebab selama pernikahannya dengan Rifky, mantan suaminya utu tidak pernah meninju pintu atau dinding jika marah.


Namun Bima, Ia terlihat begitu sangat arogan dan tampak sifatnya setelah pernikahan mereka yang baru seumur jagung.


Bima kembali ke meja makan, lalu Ningrum ingin menanyakan tentang 10 pekerja yang tadi disebutkan Bima tidak lagi masuk kerja. Ningrum ingin menanyakan apa penyebabnya, tetapi belum sempat Ia bertanya, Ia mendengar suara Ibu mertuanya memanggil dari arah pintu luar.


Ady beranjak dari duduknya dan menuju ke depan pintu utama dan membukakan pintu.


Ibu mertua alias Ibunya Bima nyelonong masuk dengan wajah pucatnya.


"Bima.. Bima.. Tolong ibu, Bima" ucapnya tanpa menggiraukan atau menyapa Ningrum terlebih dahulu sebagai pemilik rumah.


Bima menatap pada Ibunya yang wajahnya tampak panik "Ada apa, Bu.? Bicara yang benar dan tenangkan dulu hati ibu" ucap Bima mencoba menenangkan hati ibunya.


Wanita itu tampak begitu gusar dan wajahnya penuh kekhawatiran.


Lalu Ia mencoba mengontrol degub jantungnya yang berdegub lebih kencang dan tak dapat Ia kontrol.


Bima menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia sangat bingung, sebab uangnya sudah tinhhal menipis dan untuk persediaan membeli bahan bakar mobilnya saja selama untuk seminggu ini. Sedangkan semalam Ia sudah mengeluarkan uang untuk pinjaman gaji pekerja dan itupun membuat pekerjanya mogok kerja karena hanya diberi pinjaman gaji 200 ribu untuk seminggu


"Aku tidak punya uang untuk saat ini, Bu. progres pekerjaanku saja masih terbengkalai" ucap Bima yang juga pusing dengan permasalahan ibunya.


Wanita itu tampak sangat muram "Masa kamu tega sih? Apa kamu gak takut jika rumah kita satu-satunya disita Bank?" tanya Ibunya dengan wajah mendung.


Ningrum serba salah dengan perdebatan ibu mertua dan juga suaminya.


Namun untuk membantunya Ia seolah sangat berat, sebab baru kemarin Ia mengekuarkan uang 25 juta rupiah untuk mengeluarkan Yudi dari tahanan polisi.


Ady hanya terdiam, andai Ia punya uang, tentu sudah membantu ibunya, namun Ia tidak memiliki uang sepeserpun saat ini.


"Ibu sih, kenapa pakai hilang segala uangnya" ucap Bima yang tak tau lagi harus berbuat apa.

__ADS_1


Seketika wanita paruh baya itu menatap pada Ningrum, dengan tatapan menghiba dan memelas. Ningrum yang ditatap seperti itu tampak bingung dan serba salah.


"Nak Ningrum, tolong bantu ibu Nak..? Ibu tidak tau lagi kemana harus meminta tolong" ucap Ibu mertuanya dengan tatapan menghiba.


Ningrum serba salah. Ia tidak tahu harus menjawab apa, namun Ibu mertuanya tampak menghiba dan meminta agar Ningrum bergerak hatinya untuk membantunya.


"Nak Ningrum.. Tolonglah, bantu ibu. Ibu tidak ingin rumah ibu disita Bank.. Jika itu terjadi, kemana ibu harus tinggal?" ucap sang ibu mertuanya dengan memelas.


Ningrum menarik nafasnya, dan menghelanya dengan sangat berat.


"Memangnya berapa angsuran Bank-nya?" tanya Ningrum dengan sangat berat. Sebenarnya Ia tidak ingin lagi terlibat masalah keluarga suaminya, namun ini terpaksa karena jika seandainya rumah itu tersita Bank, maka Ia juga yang akan repot nantinya.


"Dua juta, Nak" ucap Sang Ibu mertua dengan lirih.


Ningrum terdiam sejenak, lalu meletakkan piring kosong di atas meja makan dan beranjak naik ke lantai dua kamarnya untuk mengambil sejumlah uang yang diminta oleh ibu mertuanya.


Tak berselang lama, Ningrum turun dari kamarnya dan menuju ke dapur tempat dimana ibu mertuanha menunggunya.


Ningrum menyerahkan uang tersebut dalam sebuah amplop berwarna coklat muda.


"Ini, Bu... Uangnya. Semoga bisa membayar hutang angsuran Bank ibu" ucap Ningrum dengan lirih.


Wajah wanita paruh baya itu tampak begitu sumringah "Makasih ya, Ningrum.. Maaf jika ibu merepotkan kamu" ucapnya, sembari berpamitan pergi untuk segera pulang ke rumah.


Ningrum menatap kepergian ibu mertuanya dengan perasaan yang tak mampu Ia lukiskan, Ia merasa semakin lama kehidupan rumah tangganya penuh dengan drama yang sangat menyita fikirannya.


Ady merasa sangat sungkan kepada kakak iparnya. Andai saja Ia memiliki uang, tentu Ia akan membantu ibunya.


"Makasih ya, Sayang.. Kamu sudah bantuin Ibu" ucap Bima dengan nada semanis mungkin.


Ningrum hanya dapat membalas ucapan Bima dengan senyum tipis. Ia merasa sangat tidak bersemangat, Ia kehilangan selera sarapan paginya.

__ADS_1


"Mas. Aku berangkat dulu ke salon, ada pekerjaaan yang harus aku selesaikan" ucap Ningrum berpamitan tanpa sarapan.


__ADS_2